NovelToon NovelToon
Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Syawal Musa

Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 Makan Malam di Sarang Macan

Mobil Rolls-Royce Phantom hitam itu membelah jalanan eksklusif menuju kawasan Menteng. Di

kursi belakang, keheningan terasa begitu pekat, hampir mencekik. Arkan Narendra berulang

kali membenarkan letak dasi sutranya, sementara matanya melirik tajam ke samping.

Di sebelahnya, Kiara Sabitha duduk dengan tenang. Gadis itu tidak lagi mengenakan jas lab

longgar. Malam ini, ia dibalut gaun satin berwarna hijau zamrud sederhana namun memeluk

tubuhnya dengan pas, kontras dengan kulitnya yang putih bersih dan glowing tanpa cela akibat

perawatan formula buatannya sendiri. Tidak ada raut ketakutan di wajahnya, padahal mereka

sedang menuju kediaman utama keluarga Narendra—tempat di mana para serigala bisnis

berkumpul.

"Ingat, Kiara. Nenekku, Madam Amalia, bukan orang tua biasa yang bisa kamu kelabui

dengan senyuman manis," suara Arkan memecah kesunyian, berat dan penuh penekanan. "Satu

kesalahan kecil, dia akan tahu kita berbohong. Dan taruhannya adalah posisiku sebagai CEO."

Kiara menoleh, menatap Arkan dengan binar mata yang jernih namun menantang. Push-

and-pull di antara mereka kembali memanas hanya lewat tatapan.

"Tuan Arkan yang terhormat," Kiara tersenyum tipis, merapikan sedikit tatanan

rambutnya. "Daripada mencemaskan saya, lebih baik Anda pastikan sisa kemerahan di rahang

Anda tertutup rapat oleh skin primer yang saya buat tadi. Jika Nenek Anda melihat kulit Anda

tidak stabil, dia akan tahu Anda sedang dalam tekanan ekstrem."

Arkan mendengus, namun diam-diam mengagumi ketenangan gadis ini. Kiara tidak

defensif, dia justru menyerang balik dengan fakta yang logis.

Begitu mobil berhenti di depan rumah megah berarsitektur kolonial itu, pintu dibukakan.

Arkan turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Kiara. Kiara menyambutnya.

Sentuhan hangat tangan Arkan yang kokoh sempat membuat jantung Kiara berdesir tipis,

namun ego dan misinya langsung mengambil alih kendali.

Mereka melangkah masuk ke ruang makan mewah bersuasana formal. Di ujung meja

panjang, duduk seorang wanita tua dengan rambut perak disanggul rapi. Tatapan matanya

setajam elang, memancarkan otoritas mutlak. Dia adalah Madam Amalia. Di sisi kiri meja, duduk

dua orang yang membuat napas Kiara sempat tertahan: Hendra, paman Arkan yang licik, dan...

**Rania**, sepupu tiri Kiara yang dikirim oleh PT Mega Estetika untuk mendekati keluarga

Narendra. "Jadi, ini gadis lab rendahan yang berani mengaku sebagai calon tunanganmu, Arkan?"

Hendra langsung membuka serangan dengan nada meremehkan bahkan sebelum mereka duduk.

Rania ikut menimpali dengan senyum sinis, "Nenek Amalia, saya tahu betul siapa wanita

ini. Kiara adalah anak buangan dari keluarga Sabitha yang tidak punya modal apa-apa.

Bagaimana mungkin dia pantas bersanding dengan Arkan? Dia pasti punya niat terselubung."

Atmosfer ruangan mendadak drop hingga ke titik beku. Arkan hendak membuka suara

untuk membela investasi kontraknya, namun Kiara dengan kecepatan tak terduga menaruh

tangannya di atas lengan Arkan, menahannya. Kiara mengambil panggung penuh.

"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Madam Amalia," Kiara membungkuk

hormat dengan postur tubuh yang sangat anggun, mengabaikan gonggongan Rania dan Hendra.

"Saya tahu kedatangan saya mengejutkan. Tapi jika dinilai dari 'modal', saya membawa sesuatu

yang tidak bisa dibeli oleh PT Mega Estetika dengan seluruh aset mereka."

Madam Amalia menyesap tehnya, matanya menyipit tertarik. "Oh ya? Apa yang dibawa oleh

seorang gadis dari laboratorium kecil?"

"Masa depan Narendra Cosmetics," jawab Kiara lantang tanpa ragu. Ia menatap Rania

dengan tatapan merendahkan yang sangat elegan. "Saya mendengar PT Mega Estetika baru saja

meluncurkan produk serum retinol baru yang diklaim 'revolusioner'. Tapi... apakah Nenek

tahu mengapa kulit Rania malam ini harus menggunakan *foundation* tebal berlayer-layer?"

Semua orang di meja makan tertegun. Rania langsung panik, wajahnya memerah.

"K-kamu bicara apa?!" gertak Rania gagap.

"Kulit Anda mengalami purging parah dan mikro-inflamasi akibat formula retinol yang

tidak stabil dari perusahaan Anda sendiri," ulas Kiara dengan nada sains yang dingin namun

mematikan. "Sebaliknya, lihatlah kulit Arkan malam ini. Sangat prima dan siap menghadapi

media besok pagi, berkat formula penstabil barrier yang saya formulasikan khusus untuknya.

Saya tidak membawa modal uang, Madam Amalia. Saya membawa otak, sains, dan satu-

satunya formula yang bisa menyelamatkan Narendra Group dari kegagalan peluncuran

produk besok pagi."

Arkan yang duduk di samping Kiara hampir saja tersenyum. Sial, gadis ini benar-benar lihai

melakukan face-slapping (tamparan muka) secara verbal tanpa perlu meninggikan suara. Dia

menghancurkan kredibilitas Rania dan PT Mega Estetika sekaligus dalam tiga kalimat.

Madam Amalia menatap Kiara lekat-lekat selama beberapa detik, lalu beralih menatap

Arkan yang tampak tenang dan berwibawa di samping Kiara. Kehadiran Kiara terbukti

membuat posisi Arkan terlihat lebih kuat, bukan melemah. "Cukup," suara Madam Amalia mengetuk meja. Hendra dan Rania langsung bungkam.

Wanita tua itu menatap Kiara dengan binar apresiasi yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.

"Kamu punya nyali yang besar, Gadis Muda. Dan kamu tahu cara membaca aset."

Madam Amalia berdiri, menandakan makan malam formal telah selesai sebelum hidangan

utama bahkan sempat mendingin. Ia menatap Arkan.

"Arkan, jika besok pagi konferensi pers produk barumu sukses besar dan saham kita naik

sesuai analisismu... aku akan merestui hubungan kalian. Tapi jika gagal, kamu tahu

konsekuensinya." Setelah mengatakan itu, Madam Amalia melangkah pergi meninggalkan

ruangan.

Hendra dan Rania pergi dengan wajah pucat dan penuh amarah yang tertahan. Begitu

ruangan kembali sepi, Arkan langsung menarik Kiara ke sudut pilar besar, mengunci tubuh gadis

itu di antara kedua lengannya yang kekar.

Jarak mereka kembali terkikis habis. Arkan menunduk, menatap dalam ke mata Kiara yang

berkilat puas.

"Kamu benar-benar gila, Kiara Sabitha," bisik Arkan, suaranya serak namun terdengar

berbahaya. Ada percikan emosi baru di matanya—rasa kagum yang bercampur dengan

dominasi pria yang tertantang. "Kamu baru saja menjadikan konferensi pers besok sebagai

panggung hidup dan mati kita berdua."

Kiara menahan napas sejenak karena kedekatan fisik mereka yang terlalu intim, namun ia

tidak mundur. Ia justru sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Arkan.

"Kalau tidak ekstrem, namanya bukan bisnis, Tuan Arkan," bisik Kiara balik, membalas

permainan tarik ulur itu dengan sempurna. "Sekarang, lepas tangan Anda. Kita punya waktu

delapan jam untuk menyempurnakan serum besok pagi."

1
Syawal Musa
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!