Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Makan Malam di Sarang Macan
Mobil Rolls-Royce Phantom hitam itu membelah jalanan eksklusif menuju kawasan Menteng. Di
kursi belakang, keheningan terasa begitu pekat, hampir mencekik. Arkan Narendra berulang
kali membenarkan letak dasi sutranya, sementara matanya melirik tajam ke samping.
Di sebelahnya, Kiara Sabitha duduk dengan tenang. Gadis itu tidak lagi mengenakan jas lab
longgar. Malam ini, ia dibalut gaun satin berwarna hijau zamrud sederhana namun memeluk
tubuhnya dengan pas, kontras dengan kulitnya yang putih bersih dan glowing tanpa cela akibat
perawatan formula buatannya sendiri. Tidak ada raut ketakutan di wajahnya, padahal mereka
sedang menuju kediaman utama keluarga Narendra—tempat di mana para serigala bisnis
berkumpul.
"Ingat, Kiara. Nenekku, Madam Amalia, bukan orang tua biasa yang bisa kamu kelabui
dengan senyuman manis," suara Arkan memecah kesunyian, berat dan penuh penekanan. "Satu
kesalahan kecil, dia akan tahu kita berbohong. Dan taruhannya adalah posisiku sebagai CEO."
Kiara menoleh, menatap Arkan dengan binar mata yang jernih namun menantang. Push-
and-pull di antara mereka kembali memanas hanya lewat tatapan.
"Tuan Arkan yang terhormat," Kiara tersenyum tipis, merapikan sedikit tatanan
rambutnya. "Daripada mencemaskan saya, lebih baik Anda pastikan sisa kemerahan di rahang
Anda tertutup rapat oleh skin primer yang saya buat tadi. Jika Nenek Anda melihat kulit Anda
tidak stabil, dia akan tahu Anda sedang dalam tekanan ekstrem."
Arkan mendengus, namun diam-diam mengagumi ketenangan gadis ini. Kiara tidak
defensif, dia justru menyerang balik dengan fakta yang logis.
Begitu mobil berhenti di depan rumah megah berarsitektur kolonial itu, pintu dibukakan.
Arkan turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Kiara. Kiara menyambutnya.
Sentuhan hangat tangan Arkan yang kokoh sempat membuat jantung Kiara berdesir tipis,
namun ego dan misinya langsung mengambil alih kendali.
Mereka melangkah masuk ke ruang makan mewah bersuasana formal. Di ujung meja
panjang, duduk seorang wanita tua dengan rambut perak disanggul rapi. Tatapan matanya
setajam elang, memancarkan otoritas mutlak. Dia adalah Madam Amalia. Di sisi kiri meja, duduk
dua orang yang membuat napas Kiara sempat tertahan: Hendra, paman Arkan yang licik, dan...
**Rania**, sepupu tiri Kiara yang dikirim oleh PT Mega Estetika untuk mendekati keluarga
Narendra. "Jadi, ini gadis lab rendahan yang berani mengaku sebagai calon tunanganmu, Arkan?"
Hendra langsung membuka serangan dengan nada meremehkan bahkan sebelum mereka duduk.
Rania ikut menimpali dengan senyum sinis, "Nenek Amalia, saya tahu betul siapa wanita
ini. Kiara adalah anak buangan dari keluarga Sabitha yang tidak punya modal apa-apa.
Bagaimana mungkin dia pantas bersanding dengan Arkan? Dia pasti punya niat terselubung."
Atmosfer ruangan mendadak drop hingga ke titik beku. Arkan hendak membuka suara
untuk membela investasi kontraknya, namun Kiara dengan kecepatan tak terduga menaruh
tangannya di atas lengan Arkan, menahannya. Kiara mengambil panggung penuh.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Madam Amalia," Kiara membungkuk
hormat dengan postur tubuh yang sangat anggun, mengabaikan gonggongan Rania dan Hendra.
"Saya tahu kedatangan saya mengejutkan. Tapi jika dinilai dari 'modal', saya membawa sesuatu
yang tidak bisa dibeli oleh PT Mega Estetika dengan seluruh aset mereka."
Madam Amalia menyesap tehnya, matanya menyipit tertarik. "Oh ya? Apa yang dibawa oleh
seorang gadis dari laboratorium kecil?"
"Masa depan Narendra Cosmetics," jawab Kiara lantang tanpa ragu. Ia menatap Rania
dengan tatapan merendahkan yang sangat elegan. "Saya mendengar PT Mega Estetika baru saja
meluncurkan produk serum retinol baru yang diklaim 'revolusioner'. Tapi... apakah Nenek
tahu mengapa kulit Rania malam ini harus menggunakan *foundation* tebal berlayer-layer?"
Semua orang di meja makan tertegun. Rania langsung panik, wajahnya memerah.
"K-kamu bicara apa?!" gertak Rania gagap.
"Kulit Anda mengalami purging parah dan mikro-inflamasi akibat formula retinol yang
tidak stabil dari perusahaan Anda sendiri," ulas Kiara dengan nada sains yang dingin namun
mematikan. "Sebaliknya, lihatlah kulit Arkan malam ini. Sangat prima dan siap menghadapi
media besok pagi, berkat formula penstabil barrier yang saya formulasikan khusus untuknya.
Saya tidak membawa modal uang, Madam Amalia. Saya membawa otak, sains, dan satu-
satunya formula yang bisa menyelamatkan Narendra Group dari kegagalan peluncuran
produk besok pagi."
Arkan yang duduk di samping Kiara hampir saja tersenyum. Sial, gadis ini benar-benar lihai
melakukan face-slapping (tamparan muka) secara verbal tanpa perlu meninggikan suara. Dia
menghancurkan kredibilitas Rania dan PT Mega Estetika sekaligus dalam tiga kalimat.
Madam Amalia menatap Kiara lekat-lekat selama beberapa detik, lalu beralih menatap
Arkan yang tampak tenang dan berwibawa di samping Kiara. Kehadiran Kiara terbukti
membuat posisi Arkan terlihat lebih kuat, bukan melemah. "Cukup," suara Madam Amalia mengetuk meja. Hendra dan Rania langsung bungkam.
Wanita tua itu menatap Kiara dengan binar apresiasi yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
"Kamu punya nyali yang besar, Gadis Muda. Dan kamu tahu cara membaca aset."
Madam Amalia berdiri, menandakan makan malam formal telah selesai sebelum hidangan
utama bahkan sempat mendingin. Ia menatap Arkan.
"Arkan, jika besok pagi konferensi pers produk barumu sukses besar dan saham kita naik
sesuai analisismu... aku akan merestui hubungan kalian. Tapi jika gagal, kamu tahu
konsekuensinya." Setelah mengatakan itu, Madam Amalia melangkah pergi meninggalkan
ruangan.
Hendra dan Rania pergi dengan wajah pucat dan penuh amarah yang tertahan. Begitu
ruangan kembali sepi, Arkan langsung menarik Kiara ke sudut pilar besar, mengunci tubuh gadis
itu di antara kedua lengannya yang kekar.
Jarak mereka kembali terkikis habis. Arkan menunduk, menatap dalam ke mata Kiara yang
berkilat puas.
"Kamu benar-benar gila, Kiara Sabitha," bisik Arkan, suaranya serak namun terdengar
berbahaya. Ada percikan emosi baru di matanya—rasa kagum yang bercampur dengan
dominasi pria yang tertantang. "Kamu baru saja menjadikan konferensi pers besok sebagai
panggung hidup dan mati kita berdua."
Kiara menahan napas sejenak karena kedekatan fisik mereka yang terlalu intim, namun ia
tidak mundur. Ia justru sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Arkan.
"Kalau tidak ekstrem, namanya bukan bisnis, Tuan Arkan," bisik Kiara balik, membalas
permainan tarik ulur itu dengan sempurna. "Sekarang, lepas tangan Anda. Kita punya waktu
delapan jam untuk menyempurnakan serum besok pagi."