Norin Inayah adalah wanita cantik berusia 30 tahun dan belum menikah. Berasal dari desa yang merantau ke kota dan bekerja di salah satu pabrik garmen terbesar di kota itu.
Norin wanita yang baik dan sabar namun memiliki sikap dingin khususnya pada kaum pria, hal itu karena ia trauma pada masa lalunya hingga Norin menutup rapat hatinya sampai bertahun tahun lamanya. Dan
olokan " perawan tua " pun sering ia dapatkan dari orang orang di sekitarnya.
Apakah akan ada pria yang dapat meluluhkan hati Norin ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
" jangan coba coba anda menyentuh barang pribadi milik saya lagi apapun itu." kata Shin. Mata sipitnya masih tetap menatap tajam pada Norin.
Norin masih menundukkan wajahnya, ia sangat menyesal sekali telah lancang menyentuh barang pribadi orang lain. Norin juga bingung kenapa ia sekarang memiliki rasa penasaran terhadap urusan orang lain terutama pada managernya itu, padahal sebelumnya Norin tidak pernah peduli tentang urusan pribadi beberapa manager sebelumnya.
" cepat kemasi barang barang anda, kita check out sekarang." kata Shin lalu beranjak pergi ke luar kamar meninggalkan Norin yang masih menunduk.
" duuhh Noriiinn, kenapa kamu begi banget sih, kenapa harus kepo sama urusan pribadi si manusia sombong itu." gumamnya sambil mengusap wajah polosnya dengan kasar.
Norin turun menaiki lift ke lantai lobi sendirian sambil menenteng banyak paper bag di kedua tangannya. Sampai di sana ia menoleh kiri dan kanannya mencari cari dimana managernya itu menunggunya akan tetapi, ia tidak menemukan batang hidungnya. Norin kebingungan apa yang harus ia lakukan, hendak menghubunginya tapi ia tidak memiliki nomer ponsel managernya itu.
satu jam berlalu, Norin masih saja menunggu managernya yang entah ada dimana, sampai ia terduduk lemas di undakan anak tangga yang ada di teras hotel.
Tanpa Norin sadari ia menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata yang keluar masuk hotel tersebut.
Norin menengadahkan wajahnya ke atas langit yang sudah terlihat mendung sekali, sepertinya sebentar lagi hujan akan turun membasahi bumi.
Sama halnya dengan Norin, matanya sudah berkaca kaca bersiap menumpahkan cairan bening ke pipi mulusnya.
" pria itu benar benar meninggalkanku, apa semarah dan sebenci itu sampe ia tega ninggalin aku seperti ini."
Norin menumpukan wajahnya di kedua lututnya, ia menangis menumpahkan rasa campur aduk di dalam hatinya, marah, kesal, sedih itu yang ia rasakan saat ini.
Namun kemudian, ia mengangkat wajahnya dan mengusap kasar air matanya. " untuk apa menangis ngga ada gunanya, tenang Norin masih banyak cara menuju Roma". gumam Norin menyemangati diri sendiri.
" aku pulang naik kendaraan umum aja kali ya, tapi dimana terminalnya."
Norin mencari cari orang untuk bertanya mengenai dimana letak terminal itu tapi, tidak satupun ada yang tahu. Norin hampir putus asa namun tanpa sengaja ia melihat seorang security berdiri di pintu ke luar masuk hotel, lalu ia menghampirinya.
"permisi pak, boleh saya tanya kalau terminal umum dimana ya ?" tanya Norin pada seorang security tersebut.
" oh, mba mau ke terminal, kalau dari sini naik angkot nomer 003 mba, biasanya angkot itu lewat di seberang jalan sana." jawab satpam tersebut sambil menunjuk suatu tempat yang biasa di lewati oleh angkot jurusan ke terminal.
" begitu pak, terima kasih banyak ya pak, saya permisi dulu." kata Norin.
kemudian Norin beranjak pergi dari hotel itu menuju jalan raya yang jaraknya lumayan jauh jika berjalan kaki.
Norin terus melangkahkan kakinya hingga sampai di tepian jalan raya. setelah itu, ia mendekati trotoar penyeberangan jalan. namun, belum sempat sampai pada trotoar hujan deras turun lebih dulu.
Norin mencari cari tempat berteduh namun, ia tidak menemukannya lalu, dengan terpaksa ia melanjutkan langkahnya lagi hingga sampai di trotoar.
Norin membuang nafas beratnya setelah berlari kecil menghindari hujan namun tetap saja bajunya basah kuyup.
Kemudian Norin menyeberangi trotoar hingga sampai ke seberang jalan, ia berteduh di sebuah halte kecil sambil menunggu angkot itu datang.
hujan disertai angin di tambah dengan baju yang basah kuyup membuatnya merasa kedinginan luar biasa, Norin menggigil kedinginan namun ia tahan saja.
Hingga akhirnya sebuah angkot yang di tunggu itu datang dan berhenti tepat di hadapannya." alhamdulilah." ucapnya dengan rasa syukur.
Dua puluh menit kemudian, Norin sudah tiba di terminal umum, ia mencari toilet umum untuk mengganti bajunya yang basah terlebih dahulu.
" ada untungnya juga pria itu membelikan aku baju banyak, bisa ku pakai dalam keadaan darurat seperti ini." ucapnya.
Sementara di suatu tempat, seorang pria tampan tengah memaki sopir pribadinya dengan kasar.
" f**k you, bodoh sekali kenapa anda begitu ceroboh tidak mau mengeceknya terlebih dahulu, kalau sudah begini terus bagaimana ? kita harus segera sampai di hotel anda tau itu." bentak Shin pada sopir.
" m maaf tuan saya benar benar lupa." jawab sopir itu sambil menundukkan kepalanya.
Shin membuang puntung rokoknya ke sembarang tempat, ia kesal sekali pada sopirnya itu, bagaimana bisa sang sopir lupa mengenai ban serep mobil. dan sekarang ban mobilnya kempes di tengah jalanan yang sepi.
" apa gadis itu sedang menungguku di hotel." gumam shin sambil menyandarkan bokongnya di flat depan mobilnya.
Norin menaiki bus jurusan kota dimana ia tinggal, sepanjang jalan Matanya menatap pemandangan yang di lalui bus itu namun fikirannya menerawang kemana mana.
" siapa wanita yang menelpon itu ? pacarnya, tunangannya atau istrinya ? bisa jadi salah satunya, makannya dia marah besar takut wanitanya mengira dia berselingkuh, ya aku mengerti sekarang."
Shin tiba di hotel, kemudian ia bergegas menaiki lift menuju ke kamar yang sudah ia booking sebelumnya. Shin membuka pintu kamar itu namun tidak ada siapa siapa di sana, ia memanggil manggil nama Norin tapi tidak ada jawaban.
Shin bergegas ke lobby menemui resepsionis tapi mereka bilang mereka tidak bertemu dengan Norin. Kemudian Shin keluar lobby menuju teras hotel, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah tetap tidak menemukan dimana Norin berada.
Sepasang mata memperhatikan gerak gerik Shin yang seperti sedang mencari seseorang lalu, ia menghampiri Shin yang masih mengedarkan pandangannya.
" permisi tuan maaf jika saya boleh tau tuan sedang mencari siapa ?" tanya seorang pria muda berseragam security tersebut.
Shin menoleh pada pria itu. " oh ya pak benar sekali saya sedang mencari seorang wanita, dia memakai penutup kepala berwarna maron, wajahnya cantik dan tinggi badannya sekitar dada saya, apa bapak melihatnya ?"
" maksud tuan wanita itu memakai hijab berwarna marun ?" tanya security itu.
" ya mungkin itu namanya." kata Shin.
" dua jam yang lalu ada seorang wanita dengan ciri ciri seperti tuan katakan tadi, dia duduk di undakan itu cukup lama, namun setelah itu dia bertanya pada saya mengenai dimana terminal berada dan wanita itu sekarang pergi ke terminal tersebut tuan."
" apa terminal ?" tanya Shin dengan kaget kemudian dia bergegas pergi menemui sopirnya tanpa mengucapkan terima kasih pada security tersebut.
Shin meminta sopirnya untuk mengantarkannya ke terminal tersebut. tiba di sana ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru terminal itu namun Norin tidak di temukan, ia mengusap wajahnya dengan kasar. " maaf." kata Shin lirih.
Shin merasa menyesal kenapa ia tidak memberi tahu terlebih dahulu kepergiannya yang secara mendadak itu, dan ia juga menyesal kenapa tidak meminta nomer ponsel Norin terlebih dahulu agar sewaktu waktu bisa dihubungi.
sepanjang perjalanan pulang Shin diam termenung di mobilnya. " apa aku sudah keterlaluan membentaknya, apa aku sudah membuatnya sakit hati ?" gumamnya dalam hati.
Empat jam berlalu, akhirnya Norin telah tiba di kota dimana ia tinggal, Norin menaiki angkot menuju rumahnya namun angkot tersebut hanya bisa mengantarnya sampai pada pintu komplek saja. kemudian Norin melanjutkannya dengan berjalan kaki sambil menenteng Paper bag di kiri kanan tangannya.
di tengah langkahnya Norin bertemu dengan sekelompok ibu komplek yang tengah mengobrol, Norin berhenti dan tersenyum pada mereka.
" wah, mba Norin dua hari ngga lihat mba pergi pulang kerja, sekali ketemu mba Norin bawa tentengan banyak begitu dari mana mba ?" tanya Bu Wati.
" oh, iya bu dua hari yang lalu saya ke Bandung, biasa urusan pekerjaan." jawab Norin.
" wah, hebatnya mba Norin ini, udah cantik, mandiri, terus punya jabatan tinggi lagi di kerjaannya, saya salut sama mba Norin." kata Bu Wati memuji Norin membuat dua wanita di dekatnya mendelikkan matanya tidak suka dengan pujian Bu Wati itu.
" ah Bu Wati biasa aja kok, yaudah saya pulang dulu mari Bu." kata Norin lalu beranjak pergi.
" ih Bu Wati sampe segitunya muji perawan tua itu, biasa aja kali ngga ada hebat hebatnya." kata wanita bertumbuh tambun.
" bener Bu Retno, saya yakin jabatan dia tinggi pasti dapat lobi lobi jual diri, lagi pula dia itu cuma lulusan SMA mana mungkin bisa jadi manager." kata Bu Nuning menghina Norin.
" jangan suudzon Bu Nuning ngga baik lho, lagi pula nasib orang itu ngga ada yang tau ke depannya, siapa tau mba Norin naik jabatan itu karena kinerjanya yang bagus." Bu Wati menimpali ucapan Bu Nuning yang pedes itu.
" hilih udah ah saya mau pulang dulu, ngga ada untungnya ngomongin perawan tua itu." kata Bu Retno sambil beranjak pergi.