Akibat perbuatan ibu tirinya, Aya harus rela meninggalkan semua harta yang dimiliki ayahnya dan angkat kaki keluar dari rumah tanpa membawa apapun.
Tak pernah mendapatkan kasih sayang dan selalu di sisihkan membuat Aya melampiaskan semua masalahnya dengan alkohol yang bisa membuatnya melupakan sejenak semua masalah yang menimpanya.
Akibat alkohol ia pun membuat kesalahan satu malam dengan seorang pria yang tak di kenal, yang membuat Aya terjerat dengan seorang pria yang tidur bersamanya.
Tak hanya itu, Aya yang salah satu mahasiswi di universitas swasta, harus pasrah saat mendapat skor akibat perbuatannya sendiri.
Bagaimana nasib Aya setelah semua mimpi dan harapannya hancur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Keesokan harinya Aya mulai mengalami morning sicknees, disaat yang tak tepat karena Aya tidak ingin orang lain tahu tentang kehamilannya yang bisa membahayakan janinnya, namun mual itu tak dapat ditahan.
Disaat tak terduga Mr.G, panggilan yang Aya berikan karena tak tahu namanya. Datang ke kamar Aya dan melihat Aya yang mual-mual di kamar mandi.
"Ada apa denganmu, apa kau sedang sakit?" tanya Mr. G sambil mengusap punggung Aya tanpa rasa jijik.
"Aku tidak papa, mungkin masuk angin saja." jawab Aya .
" Kalau sudah selesai, ayo cepat kembali berbaring di ranjang, biar aku perintahkan anak buah ku untuk memanggil dokter." titahnya berusaha memberi perhatian.
"Gak usah, aku baik-baik saja, mungkin butuh istirahat saja."
"Baiklah, kamu istirahat saja nanti aku bawakan bubur buatmu." Mr G pun pergi meninggalkan Aya, membuat Aya sedikit lega karena Mr G tidak curiga.
Aya nampak pucat, dan tubuhnya terasa lemas, karena baru pertama kali Aya mengalami morning sicknees ditempat yang salah.
Seharusnya disaat-saat seperti ini ada suami yang menjaga dan merawatnya, namun ini malah melewati masa-masa awal kehamilannya dalam kondisi tertekan.
"Mas Elang, cepat jemput aku, Aku tak berdaya dan tak punya cukup tenaga untuk mencari jalan keluar agar bisa kabur, sekarang aku hanya bisa menunggu, mas cepat datang." ucap Aya memanggil suaminya.
Tak butuh waktu lama, Mr G kembali lagi membawakan semangkuk bubur, dengan kebiasaannya yang akan selalu memaksa Aya untuk makan.
"Ni sayang, aku bawakan bubur untukmu, makanlah selagi hangat." Mr G memberikan bubur tersebut pada Aya.
"Letakkan saja di meja, kenapa anda repot-repot mengantarkan makanan sendiri kesini, yang lain kan banyak yang bisa disuruh." saut Aya dengan ketus.
"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Aku gak mau disaat rencana ku mulai berhasil kamu kacaukan begitu saja."
"Apa maksudmu, apa yang kau rencanakan sebenarnya?"
"Kita tunggu tanggal mainnya saja sayang, sekarang makan buburnya, biar aku suapi" Mr G mencoba menyuapi Aya, namun mulut Aya dikatupkan rapat-rapat sambil menggeleng.
"Mau makan atau mau ditambah hukumannya." bentak Mr G.
"Gak mau, aku gak mau dihukum lagi, sakit." Mr G beberapa kali sudah menghukum Aya karena tak menuruti keinginannya dengan mengikat tangan Aya seharian.
"Kalau begitu ayo dimakan!" Mr G menyuapi Aya bubur, dan Aya pun terpaksa menerima suapan dari Mr G.
"Gadis pintar, setelah selesai aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Tanpa terasa Aya menghabiskan semangkuk bubur yang Mr G suapkan. Setelah selesai Mr G mengeluarkan kain yang dia pakai untuk menutupi mata Aya.
"Kenapa mata ku ditutup, mau dibawa kemana aku?" tanya Aya takut sekaligus bingung karena tak dapat melihat apa-apa sedangkan Mr G tak bersuara. Secara tiba-tiba tubuh Aya dibopong keluar kamar oleh Mr G.
"Mau dibawa kemana aku, tolong lepaskan." Aya hanya bisa meronta -ronta dan Mr G pun tak bersuara hanya terdengar langkah kaki yang berjalan.
Tak lama kemudian langkah itu berhenti dan Aya di letakkan dalam posisi duduk disebuah kursi dan kemudian penutup matanya dibuka.
Ternyata Aya sedang ada di sebuah tempat yang indah dengan pemandangan tanaman hijau yang merambat di seluruh dinding.
"Dimana ini?"
"Aku fikir kamu akan bosan dikamar terus, jadi aku bawa kemari apa kamu suka?" tanya Mr G.
Sebelum Lila dibawa ternyata tempat dimana Lila akan dibawa sudah ada kamera tersembunyi dan sudah terhubung dengan panggilan video Elang, disisi lain Elang hanya bisa melihat Aya dari kejauhan.
"Aku suka, ini tempat yang indah dan menyenangkan, mataku jadi terang setelah lama hanya memandang dinding kamar tempat penyiksaan ku."
"Senang aku mendengarnya, kalau kamu menyukainya" Mr G mencium punggung tangan Lila.
"Aku ingin kamu selalu disisi ku, menemaniku dan akan ku pastikan kau bahagia disamping ku" Mr G terus menerus merayu Aya yang memang disengaja agar Elang yang melihatnya cemburu.
Aya tak menyadari rencana licik Mr G. Disisi lain Elang mulai panas melihat pengandangan istrinya digoda pria lain.
"Sabar Lang, ini hanya jebakan yang disengaja untuk memancing mu" Davan mencoba menenangkan Elang yang mulai panas.
"Benar yang dikatakan Davan, sekarang yang terpenting Aya dalam keadaan baik-baik saja." ucap Jonatan sambil menepuk pundak Elang.
"Apa kalian tak melihat istriku sedang tidak baik, lihat wajahnya sangat pucat" ucap Elang sambil menunjuk wajah Aya yang ada di layar ponselnya.
"Tunggu sebentar, sepertinya aku pernah melihat tempat itu" Elang mulai memutar otaknya mengingat -ingat tempat yang terasa tak asing buatnya.
Cukup lama Elang mengingat-ingat tepat itu akhirnya diapun ingat. "Iya, aku baru ingat tempat ini adalah rumah peninggalan papa. Tapi rumah ini sudah lama tidak pernah aku datangi. Davan, Jonatan kita harus pergi ke suatu tempat aku sudah menemukan keberadaan Aya sekarang." ucap Elang dan segera bergegas.
"Tapi bagaimana dengan pesan orang yang ingin membantu kita." tanya Davan sembil mengikuti Elang.
"Kita pikirkan diperjalanan, sekarang ayo kita berangkat sebelum terlambat."
Dengan buru-buru mereka pun bersiap pergi mengikuti Elang, yang diyakini Aya ada disana.
Elang seperti memiliki semangat baru yang membara, saat dia mendapatkan sedikit jejak, walaupun belum tentu Aya ada di sana.
Sedangkan Mr G masih menggoda Aya.
"Aku akan menikahi mu besok malam, jadi bersiaplah sayang" ucap Mr G ditelinga Aya dan itu membuat Aya seperti disambar petir disiang hari
"Tidak, aku tidak mau menikah dengan mu, itu tidak akan terjadi." saut Aya yang masih syok
"Dengarkan aku, Tak ada yang bisa melawan ku, pria brengsek itu tak mungkin bisa menembus pertahanan ku, jadi jangan berharap banyak padanya" ucap Mr G yang sangat tegas dengan wajah mereka yang sangat dekat. Mr G mengangkat dagu Aya dan Aya berusaha memalingkan wajahnya, tak berani melawannya, hanya air mata yang menetes disudut matanya.
"Hai kenapa menangis, seharusnya kamu bahagia sebentar lagi akan menjadi istri ku. Baik lah kamu harus kembali ke kamar mu untuk merenungkan semua ucapanku, tapi tetap saja kamu akan menjadi milikku." Mr G kembali menutup mata Aya dan membopongnya kembali ke kamar.
Setelah sampai kamar Aya pun di kunci kembali dalam kamar dan ditinggalkan Mr G sendirian.
"Buka pintunya, bebaskan aku, aku tidak ingin menikah denganmu, lepaskan aku." teriak Aya sambil menggedor-gedor pintu yang terkunci.
Tubuh lemas dan terduduk dilantai sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.
"Lepaskan aku, aku tidak bisa menikah, aku masih punya suami, Mas Elang selamat kan aku, aku tidak ingin Poliandri, Mas Elang tolong." nada bicara Aya pun mulai melemah bercampur tangis yang tak dapat dicegah.
Tangis Aya tak terbendung lagi, pikiran Aya begitu kacau, otaknya tak mau berfikir jernih, yang ada hanya ketakutan membayangkan ucapan Mr G, yang seperti sungguh-sungguh akan niatan nya menikahi Aya.
To be continued ☺️☺️☺️