Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Seharusnya itu dulu
Tatapan Pak Wawan kini beralih kepada kedua anaknya Rido dan Emi.
Kedua anak itu terlihat begitu dingin, bahkan kemarahan masih terlihat dari sorot mata keduanya.
"Emi! Rido! Sini nak peluk ayah" Pintanya dengan mata yang sudah sembab.
Emi dan Rido nampak masih mematung di tempatnya. Aisyah mengerti perasaan kedua adiknya, pastinya mereka masih marah dan kecewa atas perbuatan ayahnya selama ini yang menghilang tiada kabar kembali. Namun tatapan Aisyah juga beralih kepada ayahnya yang nampak menangis dan juga sangat merindukan kedua anaknya itu.
Kehadiran Aisyah sungguh berperan penting di dalam keluarganya. Hanya dia yang bisa mengerti semuanya. Perasaan yang selalu tidak bisa melihat keluarganya merasa sedih dan menderita.
"Emi! Rido!" Seru Aisyah lembut.
Kedua orang di panggil pun hanya tersenyum tipis melihat sang kakak.
Aisyah pun menghampiri mereka berdua, lalu memeluk kedua adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkanlah ayah. Ikhlaskan semua yang sudah terjadi. Maafkan lah ia, agar ayah bisa kembali ke jalan yang benar" Aisyah sembari berkata dengan masih memeluk kedua adiknya.
Setelah di rasa cukup, Aisyah pun melepaskan pelukannya. Dan benar saja, Emi dan Rido segera menghamburkan pelukannya kepada sang ayah yang masih terbaring. Sungguh mengharukan, suara tangis mereka pun pecah disana. Saling beradu memecahkan rindu yang menggebu.
"Maafkan ayah nak. Maafkan ayah" Ucap Ayahnya dengan penuh penyesalan.
Setelah beberapa saat, mereka sudah kembali seperti biasa. Melepaskan rindu dengan saling mengobrol dan bercerita banyak hal.
Pak Wawan merasa bangga sekaligus merasa sedih karena telah membuat anak-anaknya menderita selama ini.
"Seandainya waktu bisa ku ulang kembali, aku tidak ingin menceraikan istriku saat itu. Wanita yang aku telantarkan dan aku sakiti" Batin Pak Wawan menyesali. Tatapannya terpaku kepada sosok wanita yang berada di dekat jendela ruangannya. Wanita yang masih bersikap dingin kepadanya saat ini. Namun Pak Wawan juga menyadari bahwa kesalahannya terlalu fatal, dan ia mengurungkan niatnya untuk mengajak mantan istrinya itu untuk rujuk kembali.
"Aisyah!" Seru Pak Wawan kepada anaknya.
Aisyah yang sedang asyik dengan handphonenya sedikit menoleh, "Ada apa yah?" tanya Aisyah.
"Ayah ingin bicara empat mata bersama ibumu" Ungkapnya.
Aisyah pun mengalihkan pandangannya kepada sang ibu, lalu kembali menatap sang ayah dengan senyuman manisnya.
"Baik Yah" Jawab Aisyah menyetujui. Aisyah pun membawa adik-adiknya keluar terlebih dahulu. Namun sebelum itu, Aisyah berpamitan terlebih dahulu kepada ibunya.
"Bu, ayah ingin bicara. Kami keluar dulu ya" Ujar Aisyah.
Setelah kepergian anak-anaknya, Bu Hesti berkata dengan kasar, "Apa lagi yang ingin kau bicarakan. Bukankah kau sudah senang melihat penderitaan anak-anak mu selama ini berjuang melawan garis kehidupan yang kau buat"
"Apa masih Kurang kau menyakiti kami?" Bu Hesti berujar dengan penuh amarah.
"Tenang dulu Hesti. Aku benar-benar menyesali itu. Karena itu aku ingin meminta maaf langsung kepadamu dan juga anak-anak" Jawab Pak Wawan.
"Apa kau tidak lihat, anak-anak sangat senang hari ini?"
"Walaupun kita sudah tidak bersama lagi. Kita harus menjadi orang tua yang selalu hadir untuk anak kita" Lanjut Pak Wawan.
"Cih, Seharusnya kau katakan itu dulu. Sekarang sudah terlambat, anak-anak bahkan sudah bisa mengurus dirinya sendiri saat ini. Bahkan kau yang sudah menyakitinya pun, masih saja anak-anak ku yang mengurus segalanya" Ujar Bu Hesti. ia pun berlalu begitu saja meninggalkan mantan suaminya itu. Tidak ingin berlama-lama disana, karena tidak ingin tersulut emosi yang akan. membuatnya kembali merasa marah.
.
.
.
.
.
Bersambung
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏