Cinta bisa membuat pertemanan, lalu mampu membuat ikatan itu hancur berantakan. Ketika dia diberi pilihan, ia harus memilih siapa? Kekasih atau teman? Pilihan berat, bukan?
Widya, Karin, dan Kartika bersahabat baik sejak duduk di bangku SMP. Kehadiran Harsa, Edo, dan Zakir mengenalkan mereka pada cinta. Bisakah cinta itu menguatkan tali persahabatan mereka? Atau justru karena cinta persahabatan mereka hancur berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eska'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Epilog
...Hey, Gengs!...
...Kita sampai di akhir bab, ya....
...Kuy, baca dulu! ☺...
...***...
Seperti biasa, pagi ini Nathan menjemput Widya untuk berangkat sekolah bersama. Widya sudah memantapkan hati untuk meminta maaf pada Karin dan Kartika. Ia ingin persahabatan itu terjalin kembali seperti dulu.
“Gue yakin lo bisa lakuin yang terbaik. Gue selalu ada di samping lo.” Nathan meyakinkan Widya sebelum Widya memasuki kelas Kartika dan Karin.
Dengan langkah penuh keyakinan, Widya menghampiri Karin dan Kartika. Sedangkan Nathan hanya menunggu di depan kelas. Karin yang menyadari kehadiran Widya menatapnya datar, sedangkan Kartika segera memeluk sahabatnya itu.
“Lo baik-baik aja, ‘kan?”
Widya tersenyum menanggapi kekhawatiran Kartika. “Gue baik,” jawabnya singkat sembari mengurai pelukan dari Kartika. Kini pandangannya tertuju pada sosok Karin yang diam dan acuh terhadapnya. “Rin, gue mau bicara. Lo bisa kasih waktu sebentar?”
Karin bergeming, menatap Widya dengan pandangan yang sulit diartikan. Widya mengambil duduk di bangku depan Karin, meski Karin tidak memberikan respons.
“Gue minta maaf, Rin, Tik.” Widya menatap kedua sahabatnya penuh harap. “Gue tahu, gue salah. Gue egois. Gue lebih mentingin perasaan gue daripada perasaan lo, Rin. Gue juga mengabaikan nasihat dari lo, Tik. Maafin gue!” pinta Widya dengan butiran bening yang sudah memupuk di mata indahnya. “Sekarang gue udah kena batunya akibat keegoisan gue. Gue nyesel, Rin, Tik. Bisakah kalian berdua kasih kesempatan buat gue memperbaiki semuanya? Gue pingin kita bersahabat kayak dulu lagi.” Widya tertunduk mengusap sudut matanya yang mulai basah.
Kartika segera memeluk sahabatnya kembali. “Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, karena memang kita diciptakan tidak ada yang sempurna dan semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.” Kartika menatap sendu Widya yang mulai sesenggukan. Pandangannya kini beralih pada Karin yang sejak tadi tidak merespons apa pun. “Bukan begitu, Rin?”
Karin tetap bergeming, membuat nyali Widya merasa ciut. Ia tahu sudah melakukan kesalahan yang besar pada sahabatnya itu. Widya mengusap pipinya yang sudah basah, lalu menatap Karin yang melihatnya dengan wajah datar. “Gue sadar, kesalahan gue mungkin begitu fatal bagi lo, Rin. Tapi percayalah, gue bener-bener nyesel dan ingin memulai semua dari awal, tapi, jika menurut lo itu nggak mungkin, gue bisa apa? Makasih untuk persahabatan kita selama ini. Makasih untuk semuanya, Rin. Gue bakal selalu berdoa semoga lo dan Tika bahagia,” ucapnya sendu.
Widya beranjak dari duduknya, sekali lagi, ia menatap lekat wajah Karin, kemudian berbalik pergi meninggalkan Karin dan Kartika. Sebelum Widya sampai di ujung pintu, langkahnya terhenti kala mendengar suara yang ia tunggu. “Lo pikir persahabatan kita sedangkal itu? Lo pikir kasih sayang gue sebagai sahabat setipis itu?”
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, tiba-tiba tubuhnya terasa dipeluk dari belakang. Sosok itu tersedu memeluknya erat. Suaranya bergetar karena tangis. “Maafin gue, Wid! Gue yang egois. Gue yang nggak bisa ngertiin lo. Gue bukan sahabat yang baik, harusnya gue bahagia saat lihat sahabat gue bahagia, bukan sebaliknya. Maafin gue!”
Widya berbalik, menatap wajah yang tengah tersedu itu, kemudian membalas pelukannya. Mereka menangis berdua sambil berpelukan. Kartika yang melihat Karin dan Widya pun terharu. Melangkah mendekat untuk bergabung dalam pelukan hangat persahabatan itu. “Gue sayang sama kalian,” ucapannya tulus.
Widya, Karin, dan Kartika semakin mengeratkan pelukan. Nathan yang melihat itu semua dari luar ikut tersenyum penuh haru. “Akhirnya,” batin Nathan sebelum melangkah mendekat ke arah ketiga gadis itu. “Gue juga mau gabung, dong! Lumayan, ‘kan, dapat pelukan gratis dari ketiga cewek tercantik di Sekolah Tunas Harapan.” Merentangkan kedua tangan, Nathan siap bergabung, sebelum akhirnya pukulan maut menyapa bahunya.
“Lo nggak bisa seenaknya gitu, Bro!” pungkas Harsa.
Suara Harsa mengalihkan atensi ketiga gadis yang tengah berpelukan haru itu. Ternyata bukan hanya Harsa yang ada di sana. Formasi lengkap tim Harsa ikut memasuki kelas Karin dan Kartika. Harsa menatap lekat wajah kedua gadis yang kini menjadi mantan pacarnya. “Brengsek lo! Gue belum bikin perhitungan, ya, sama lo—“ Suara Kartika terpotong oleh bekapan tangan Widya di mulutnya. Kartika berusaha melepas tangan Widya.
Harsa menatap lekat Kartika, “Sorry, Tik. Lo bisa bikin perhitungan sama gue setelah gue selesai ngomong sama kalian bertiga. Gue pasrah kalo lo mau gebukin gue. Yah ... meski sebenarnya gue udah remuk, sih, dihajar sama begajul satu itu.” Harsa melirik ke arah Nathan membuat Nathan memutar bola mata.
“Gue belum puas gebukin lo,” ucapnya sinis.
Harsa hanya tersenyum menanggapi ocehan Nathan. Kini, pandangannya tertuju pada ketiga gadis itu. “Rin, Wid, Tik, gue minta maaf! Gara-gara gue persahabatan kalian jadi hancur. Gue bener-bener nyesel. Dan gue harap, kita masih bisa berteman seperti dulu,” tuturnya lembut.
Karin dan Kartika masih bergeming, lalu keduanya saling pandang sebelum perhatian mereka beralih pada Widya yang menyambutnya dengan anggukan kepala seraya tersenyum manis, tanda jika ia telah memaafkan Harsa. “Gue juga minta maaf. Pangkal masalah ini adalah gue. Gue yang menyebabkan semuanya jadi runyam. Gue bener-bener minta maaf, tulus dari hati yang terdalam. Terutama buat Lo, Wid.” Edo ikut menyahut seraya menatap sendu wajah Widya. Masih tersisa bengkak di mata indah itu.
“Kita lupain semuanya, ya! Kita mulai dari awal lagi persahabatan kita. Gimana?” Widya melihat satu persatu dan mereka mengangguk setuju. Nathan pun ikut tersenyum lega. Usai sudah permasalahan pelik di usia remaja mereka. Semua yang pernah terjadi bisa menjadi pelajaran berharga untuk mereka semua.
“Love or Friends? Dan ternyata, kita semua memilih persahabatan. Bagi kita, persahabatan ini terlalu indah jika harus hancur karena cinta. Suatu hari nanti, kita pasti akan menemukan cinta kita masing-masing. Dan teruntuk lo—Harsa, terima kasih. Makasih untuk semuanya, kebahagiaan sekaligus kesakitan yang pernah lo kasih, akan gue simpan rapi dalam ingatan. Gue akan kubur dalam perasaan ini, setidaknya gue sama lo udah pernah mencoba untuk menjadi kita. Bukan! Lebih tepatnya, mungkin gue yang mencoba untuk bisa menjadi kita karena nyatanya, perasaan lo cuma buat Karin. Sekarang semuanya pure friends, just friend, not love!” batin Widya sembari memandang wajah teman-temannya yang tengah tertawa bahagia. Rasa sakit itu masih ada, tetapi ia akan berusaha melupakan semua, termasuk cintanya.
***
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa mereka sudah berada di penghujung masa SMA. Kebersamaan mereka pun benar-benar murni hanya sebatas sahabat. Cindy yang merasa bersalah terhadap Widya mulai menjauh sejak persahabatan Widya dan Karin membaik. Ia tidak lagi sebangku dengan Widya karena diusir Nathan.
Senyum mereka terukir sempurna tatkala hasil ujian akhir keluar. Mereka lulus dengan nilai yang memuaskan. Widya berada di peringkat satu pararel, disusul Harsa, Nathan, Zakir, Karin, Kartika, dan Edo. Mereka bertujuh mengukir prestasi yang membanggakan. Widya, Nathan, Harsa, dan Zakir sering mengikuti lomba untuk mewakili sekolah dan selalu pulang dengan piala di tangan. Karin dan Kartika tak kalah membanggakan, mereka selalu menjadi perwakilan sekolah saat lomba kesenian. Sedangkan Edo selalu mewakili sekolah di bidang olahraga.
Cindy yang tidak lagi bergabung dengan kelompok Widya pun nilainya merosot. Pernah Widya merasa heran akan perubahan sikap Cindy yang menjauhinya tanpa sebab, tetapi Nathan selalu meyakinkan Widya, jika ia tidak memiliki salah apa pun dan meminta gadis itu untuk tidak memikirkannya.
***
Hari yang ditunggu tiba, mereka semua merayakan kelulusan. Widya, Karin, dan Kartika tampak cantik dengan balutan kebaya berwarna senada –biru langit, hanya desainnya saja yang berbeda. Harsa, Nathan, Edo, dan Zakir sampai tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari ketiga gadis itu. Begitu juga tatapan siswa yang lain.
“Tumben lo keliatan cantik,” ejek Zakir pada Kartika.
“Resek, lo! Dari dulu gue udah cantik, lo aja yang baru nyadar.” Kartika tersenyum remeh, “Kenapa? Terpesona lo sama gue? Sorry, ya, gue nggak doyan sama lo!” Kartika balas mengejek Zakir yang terlihat melongo mendengar penuturan Kartika.
“Gue? Terpesona sama lo?” Zakir menunjuk hidungnya sendiri, “Dunia bisa kiamat, Neng,” lanjutnya sambil beranjak pergi.
Widya, Karin, Harsa, Nathan, dan Edo hanya tertawal melihat tingkah Zakir dan Kartika.
“Lo cantik banget, Wid. Pingin rasanya gue bilang langsung sama lo, tapi itu nggak mungkin. Seenggaknya tidak untuk saat ini, tapi suatu hari nanti, gue akan perjuangkan lo lagi, Wid. Meski momen kebersamaan kita terbilang singkat, tapi asal lo tahu, itu sungguh berkesan buat gue. Nggak ada cewek sebaik lo, selembut lo, semandiri lo. Bagi gue, lo teramat sempurna. Cinta lo pantas buat gue perjuangin. Dan jika saat itu tiba, gue nggak akan pernah kecewain dan sakitin lo lagi. Gue bakal buat hari-hari lo bahagia. Gue janji, Wid. Ini janji seorang Harsa Mandala,” batin Harsa.
Ia memandang Widya penuh kekaguman. Entah sejak kapan perasaan cinta itu mulai tumbuh. Mungkin di saat mereka sudah tidak saling memiliki. Perlahan Harsa mulai menyadari itu semua. Menyesal? Pasti. Tetapi, Harsa tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Biarlah saat ini ia berjalan di tempat. Menikmati setiap momen kebersamaannya bersama sahabat-sahabatnya. Ia tidak ingin salah melangkah lagi. Mereka semua terus bersenda gurau sambil menikmati acara yang disuguhkan.
“Gue seneng kalo lo bahagia, Wid. Senyum dan tawa lo itu seakan menjadi penawar bagi hati gue yang suram. Gue akan selalu berusaha bikin lo bahagia, Wid. Gue janji!” batin Nathan. Pandangannya tidak pernah lepas dari sosok Widya.
Suka cita mewarnai SMA Tunas Harapan dengan pelepasan siswa-siswi yang lulus di tahun ini. Mereka bertujuh selaku siswa-siswi berprestasi ditunjuk MC untuk naik ke atas panggung. Memberikan persembahan terakhir untuk sekolah yang mereka banggakan. Sebuah lagu mereka nyanyikan bersama. Lagu klasik yang berjudul sebuah kisah klasik dari band lawas SO7 berhasil menghentak SMA Tunas Harapan. Ketujuh siswa-siswi itu tersenyum puas melihat wajah-wajah bahagia yang terlihat.
Tangis haru nan bahagia mewarnai hari ini. Semuanya saling berpelukan. Saling melepas dengan rasa bangga. Hari ini adalah hari terakhir mereka menjejakkan kaki di SMA Tunas Harapan. Suatu hari nanti mereka semua akan merindukan masa ini. Masa yang menjadi kenangan terindah bagi mereka. Masa SMA yang tidak terlupakan.
...***...
Gimana endingnya?
Nggak gantung, 'kan?
Happy ending, 'kan?
Sampai jumpa di season selanjutnya, ya. Ikuti terus kisahnya, biar jadi readers best of the best versi para author.
Jangan lupa follow akun eskaer lainnya :
IG : @eskaer10
tiktok : @eskaer_skr
Facebook : Eskaerskr
Bye bye
aku dari awal curiga ama cindy terus
tamu tdk akan masuk kalau tuan rumah tdk buka pintu
dasar buaya betina