Senja, seorang perempuan yang mencari kebenaran atas apa yang terjadi dalam keluarganya.
Ayah dan adiknya meninggal di hari yang sama, sedangkan Ibunya selama 3 tahun tidak dapat mengenalinya karena hilang ingatan.
Selain mencari siapa penyebab kehancuran keluarganya, Senja dihadapkan dengan kisah cinta yang mewajibkan dia harus memilih antara dokter Sandi atau pengusaha Rama Permana.
Apakah Senja akan menemukan orang yang menyebabkan Ayah dan adiknya meninggal?
Dan siapakah cinta sejati Senja??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Venny 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Rama 1
"Kamu, mau apa kamu?" tanyaku kaget.
"Ssstt... Aku cuma mau ngasih ini ke kamu, siapa tau kamu butuh kan,"
"Marko, aku udah bawa kok ada di tas," jawabku. Iya dia Marko, dia ngasih aku kacamata hitam yang aku tau harganya mahal banget.
"Gak apa-apa ini hadiah buat kamu, yang penting kamu bawa aja ya,"
"Iya, makasih Ko. Aku keluar duluan ya," aku meninggalkan Marko disana, dan segera ku masukan kacamata dari Marko ke tas kecilku.
Terdengar suara Mas Ilyas yang sedang mengabsen peserta.
"Marko, Marko udah datang belum?" ucap Mas Ilyas.
Aku segera berlari menuju Rama, dengan mengatur nafasku, ku berusaha tersenyum santai pada Rama.
"Kamu dari mana?" tanya Rama.
"Aku tadi dari toilet," ucapku lirih.
"Gue Marko, barusan gue di toilet sorry," sahut Marko pada Mas Ilyas.
"Kamu dari toilet, Marko dari toilet, kalian gak ngobrol dulu di dalem kan?" selidik Rama.
"Rama apaan sih, Marko masuk toilet setelah aku, aku gak ada ngobrol apa-apa sama dia, orang aku langsung kesini nyamperin kamu." Jawabku cemberut.
"Iya-iya becanda ah, gitu aja ngambek," goda Rama.
"Abisnya kamu sih gitu ngomongnya,"
"Udah-udah maafin aku ya sayangku," Rama hendak memeluk, tapi ku tangkis ringan tangannya.
"Malu tau," ucapku lirih dengan mata melotot.
Rama hanya cengar cengir tak berkutik, sesekali tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Ya ampun dia konyol sekali.
Setelah absen dan berdoa, kami segera memulai perjalanan. Rasanya seperti ini ke luar kota memakai motor, baru kali ini aku merasakannya.
Sepanjang perjalanan, Rama terus saja mengobrol, ya meskipun ada obrolannya yang sedikit gak aku mengerti karena suara angin mengalahkan suara Rama.
Tanganku melingkar di pinggangnya, sesekali kepalaku bersandar di bahunya. Dan tangan kiri Rama memegang tanganku yang berada di atas perutnya. Semua orang pergi bersama pasangannya, kecuali Edwin dan Cecep yang saling berboncengan.
Tak terasa 3 jam perjalanan kami pun sampai dengan selamat di sebuah villa daerah Lembang Bandung. Kami memakai 2 villa untuk rombongan, karena touring kali ini tidak semua anggota ikut serta.
Aku bergegas membersihkan tubuhku, dan setelah itu aku membuatkan teh dan cemilan bersama Metta, pacar baru Marko yang juga mantan pacarnya Mas Ilyas. Aku membawanya ke halaman villa yang disana berkumpul anggota komunitas.
"Wah apaan nih?" tanya Edwin.
"Ini aku sama Senja bikin cemilan sedikit," ucap Metta.
"Makasih ya," ucap semua.
Aku menuju belakang villa, ternyata kota Bandung bisa terlihat disana, indah sekali. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Kulihat ternyata Marko sudah berada tepat di sebelah kiriku, aku sempat kaget karena aku gak mau orang-orang berfikiran macam-macam tentang aku dan Marko.
"Kenapa kamu kesini?" tanyaku.
"Aku cuma mau mengingat masa sekolahku sama kamu dulu," jawabnya santai.
"Aku permisi," aku berlalu hendak masuk ke villa tapi tanganku ditahan oleh Marko.
"Tunggu Senja, aku cuma mau kamu tau perasaanku."
"Perasaan apa? kita dari dulu gak ada hubungan apa pun kan?"
"Aku gak bisa lupain kamu Senja, aku mau kamu jadi pacar aku,"
"Gila kamu! aku udah punya Rama, dan kamu punya Metta, apalagi?"
"Aku gak cinta sama Metta, aku gak bisa lupain kamu,"
"Cukup! tolong kamu jangan ganggu aku lagi," aku melepaskan kasar tanganku dari tangan Marko, lalu aku meninggalkan Marko sendiri disana.
Aku kembali ke villa, dan mendapati Raisa sedang duduk di sofa. Aku hendak ke kamar, tapi Raisa memanggilku, dan menyuruhku untuk duduk di sofa karena ada yang ingin dia bicarakan denganku.
"Ada apalagi?"tanyaku ketus.
"Aku cuma mau tanya sama kamu, gimana perasaan kamu pada Sandi sekarang?"
"Maaf aku tadi udah bilang kan sama kamu, kalau aku gak mau membahas Sandi lagi, itu udah jadi masa lalu aku." Tanpa mendengarkan Raisa menjawab pernyataanku, aku segera pergi ke kamar dan merebahkan tubuhku di kasur.
Rasanya aku tidak menikmati hidup disini, karena ada Sandi, Raisa, dan Marko yang selalu saja mengganggu. Aku dihantui rasa was-was ketika mereka mendekatiku, aku takut Rama terpancing emosi karena ulah mereka.
Malam harinya, kami semua mengadakan acara bakar ikan dan ayam di depan villa. Sekarang giliran para laki-laki yang menyiapkan makanan. Aku merasa setiap gerak gerikku diawasi seseorang, iya entah itu Sandi atau Marko, yang jelas mereka berdua selalu menatapku, aku sedikit risih dan tak nyaman. Sesekali mereka berdua sering menghampiriku, seperti kali ini aku sedang mencuci piring di dapur, tiba-tiba Sandi menghampiri. Dia hendak membantuku membereskan dapur, meskipun aku sudah melarangnya, namun Sandi tetap melakukannya. Sampai Rama melihat aku dan Sandi sedang membereskan dapur berdua.
"Ekhem..." Rama menghampiri.
Aku kaget, iya kaget nanti Rama malah jadi curiga sama aku. Aku segera menghampiri Rama, tanpa berkata apa-apa. Aku tarik tangan Rama menuju ruang tamu, aku tau saat ini Rama pasti sedang marah dan dia gak akan bisa menerima apapun alasan dariku.
Kami duduk di sofa ruang tamu, masih dengan kebungkaman dari kami berdua. Aku mengusap punggung tangannya, dia menatapku.
"Ngapain sih kamu berduaan sama dia?" tanya Rama.
"Aku lagi cuci piring, dianya aja yang nyamperin aku."
"Kamu tolak dong!" nada Rama meninggi.
"Ram, kalau kamu tau aku udah nolak bantuan dari dia, tapi semakin aku tolak semakin dia mau bantuin aku, yaudah aku biarin aja. Kamu gak percaya sama aku?" aku sedikit membentak.
"Apa kita pulang malam ini juga ke Jakarta?"
"Apaan sih Rama, ini gak penting ya kita bahas, dengerin aku kalau kita pulang sekarang berarti kamu kalah dari Sandi." Tegasku.
"Aku gak mau aja dia deket-deket kamu," Rama mulai luluh.
"Yang jelas aku gak akan tertarik buat dia deketin, kamu kayak bocah ah aku gak suka," rengekku.
"Abisnya aku takut kamu diambil lagi sama dia,"
"Gak akan bisa! dan aku gak akan mau,"
"Oke-oke, mulai sekarang aku yang akan deketin kamu ya, aku gak akan biarin siapa pun deketin kamu." Jelasnya.
"Aku gak mau kamu posesif gitu please, sewajarnya aja bisa kan Rama sayang." aku mengelus pipinya dan sedikit mencubit pipinya itu.
"Aduh, kenapa dicubit sih?" rintih Rama.
"Gemes, kalau kamu cemburu tuh tingkat ketampanannya bertamabah ternyata." Aku terkekeh.
"Jadi aku harus cemburu terus sama kamu gitu?"
"Ya janganlah, lama-lama aku gak tahan dicemburuin kamu."
Kami berdua tertawa terbahak, dan aku tau diseberang sana Sandi sedang melihat aku dan Rama.
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘
Dapat salam dari "Blue Eyes" & "Jalan Cerita Cinta" ❤
slm dr wedding agreement
salam dari "wanita seribu luka"
Semangat update nya thor ✨
Salam dari Serendipity dan CEO’s Love Secret 💕
Jejak : CINTA SEORANG BOS MAFIA.
🤭🤭🤭
Semangat author
【Judul】
Perfect Mask
【Genre】
Comedy, Psychological, Romance, School Life, Teen.
【Note】
Aku akan sangat menghargai Kritik dan Sarannya