IG. suliani_cucu
Rasa cinta yang kuat terhadap lelaki yang tak pernah memandangnya merupakan hal berat untuk Fatimah, apa lagi saat lelaki tersebut memilih untuk menikahi Kakak kandungnya.
Hal itu membuat Fatimah kecewa, sampai-sampai dia tak ingin mengenal lagi yang namanya lelaki.
Akan tetapi, nasib seakan mempermainkan hidupnya. Kakeknya yang sedang kritis memintanya untuk menikah dengan lelaki yang tak dia kenal sama sekali.
Akankah kisah rumah tangganya berakhir bahagia?
Ataukah akan menjadi siksaan yang tiada akhir untuknya?
Kepoin kuy..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Dipermainkan
Matanya langsung membulat sempurna, kala melihat foto-foto yang dikirimkan oleh Albert. Bahkan mulut Fatimah langsung menganga, tapi dengan cepat dia menutup mulutnya.
"Masih mau mempertahankan suami kamu itu?" tanya Albert.
Fatimah hanya terdiam sambil melihat foto-foto yang Albert kirimkan, tak lama air matanya langsung luruh. Hatinya sangat sakit, padahal baru saja tadi malam Rudi berkata jika dia sangat mencintai Fatimah.
Rasa cinta yang dia rasa untuk Audy seakan sudah tidak ada, namun... apa ini?
Albert memperlihatkan foto-foto Rudi yang sedang menjemput Audy sebelum mereka pergi ke kota B, bahkan di sana terlihat Audy begitu senang saat keluar dari loby apartemen miliknya.
Albert juga memperlihatkan video saat Audy membawa koper kecil kala dia menemui Rudi, awalnya memang Rudi terlihat menatap Audy dengan tatapan tak suka. Tapi, setelah Audy mencium bibirnya, Rudi dengan mudahnya terhanyut.
Fatimah merasa jijik saat melihat Rudi yang berciuman dengan Audy, bahkan di dalam video tersebut terlihat dengan jelas jika mereka berciuman di pinggir jalan.
"Menangislah, jika itu akan membuat perasaanmu lebih baik." Albert memberikan tisu pada Fatimah, dengan senang hati dia mengambilnya dan menyusut air matanya.
"Terima kasih," katanya seraya terisak.
"Ck! Aku kira wanita yang selalu terlihat tegar sepertimu tidak akan menangis," kata Albert.
"Hey?! Aku hanya manusia biasa, tentu saja aku sedih melihat lelaki yang sudah menjadi suamiku pergi dengan wanita lain. Padahal dia bilangnya mau keluar kota untuk bisnis, nanti malam juga sudah pulang." Fatimah terlihat memukul tangan Albert, namun dia tak merasa kesakitan sama sekali.
Albert malah terkekeh, dia bahkan menggelengkan kepalanya karena merasa lucu saat melihat Fatimah menangis.
"Kamu masih percaya sama dia?" tanya Albert.
Fatimah terlihat diam saja, tapi mulutnya tak lama kemudian berucap dengan lirih.
"Entahlah, aku bingung. Aku kira dia serius dengan ucapannya," kata Fatimah.
"Sekali lelaki labil ya tetap labil, omongan lelaki kaya gitu ngga bisa dipercaya. Kalau kamu ragu akan ucapanku, kamu bisa buktikan sendiri. Dari koper yang wanita itu bawa, aku yakin mereka akan pergi selama dua hari. Bekerja sekaligus berlibur, kan enak tuh gituan di kota B. Dingin, pengennya pasti gituan aja." Albert terlihat meringis, karena Fatimah telah mencubit tangannya.
"Bahasa kamu itu loh, kaya udah pernah ngerasain aja." Fatimah terlihat mencebik kesal.
Albert tersenyum mendengar ucapan Fatimah, dia besar di Amerika, tentu saja pernah merasakannya.
"Aku bukan pria munafik, Arra. Aku pernah pacaran dan aku pernah melakukannya dengan pacarku," ucap jujur Albert.
Fatimah langsung melotot kala mendengarkan ucapan Albert, dia sungguh kesal dengan lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Kamu tadi ngajakin aku nikah, bukan?" tanya Fatimah.
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Albert dengan keningnya yang berkerut dalam.
"Rugi kalau aku nikah sama kamu!" Fatimah terlihat melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir yang sudah mengkrucut sempurna.
"Kenapa rugi? Aku tampan, kaya, apa pun yang kamu minta pasti aku kasih. Bahkan cinta dan kesetiaanku hanya akan aku berikan padamu, kurang?" tanya Albert.
"Iissh! Bukan itu, aku masih perawan. Sedangkan kamu udah pernah gituan, rugi akunya kalau malam pertama sama kamu." Fatimah mengambil berkas yang ada di atas mejanya, lalu memberikannya pada Albert.
Albert terlihat tersenyum dengan sangat manis, dia mengambil berkas dari Fatimah tanpa berniat untuk membukanya.
"Tapi, setidaknya aku tidak munafik. Tidak seperti suamimu itu, dia pun sama sudah pernah melakukan itu sebelum menikah sama kamu. Malah parahnya, dia buntingin anak orang pas udah nikahin kamu." Albert menatap lekat wajah Fatimah, dia ingin tahu reaksi dari Fatimah.
"Sudahlah, aku tak mau membahasnya lagi. Sekarang kita bahas saja urusan kerja sama kita," kata Fatimah.
"Oke, Nona cantik." Albert langsung membuka berkasnya dan mulai membacanya dengan seksama.
"Aku sudah bersuami, Al. Gelarku bukan Nona lagi," protes Fatimah.
"Tapi kamu masih perawan, dan yang paling penting. Aku menunggu Jandamu," ucap Albert sambil mengerling nakal.
"Ya Tuhan, selamatkan aku dari rayuan buaya buntung!" kesal Fatimah.
"Hey, aku lelaki tampan. Enak sekali kau memanggilku buaya buntung," keluh Albert.
"Hem, buntung karena ngga ada ekornya. Kalau ada ekornya aku pasti akan panggil kamu buaya rawa," ucap Fatimah seraya tertawa dengan lepas.
Awalnya Albert ingin membalas ucapan Fatimah, namun saat melihat tawa di bibir Fatimah, dia mengurungkan niatnya.
Dia tidak ingin merusak tawa yang terukir indah di bibir Fatimah, lebih baik diam mengalah dikatakan Buaya buntung daripada melihat Fatimah bersedih kembali.
"Tertawalah Arra, karena itulah yang aku ingin lihat dari dirimu. Jangan pernah memikirkan lelaki brengsek itu lagi, aku jamin kamu akan merasa bahagia jika kamu melepaskan lelaki brengsek itu," ucap lirih dalam hati Albert.
"Ra," panggil Albert.
"Apa?" tanya Fatimah.
"Bolpoinnya mana?" tanya Albert.
"Untuk apa?"
"Untuk menandatangani berkas ini, rasanya aku tak perlu memeriksanya lagi. Karena aku pasti akan setuju dengan apapun yang tertulis di sini, karena aku percaya padamu," kata Albert.
"Bacalah terlebih dahulu dengan teliti, jangan asal tanda tangan saja," kata Fatimah.
"Tidak usah, aku percaya padamu. Kamu tidak akan mungkin merugikan orang lain," kata Albert.
Fatimah hanya menggedikkan kedua bahunya, kemudian dia mengambil bolpoin dan menyerahkannya kepada Albert.
"Silahkan ditandatangani Tuan Albert Atha Reymond," ucap Fatimah.
"Oke, Nona Cantik," balas Albert.
Albert lalu menandatangani berkas yang diberikan oleh Fatimah, setelahnya dia tersenyum manis kepada Fatimah.
"Jangan tersenyum seperti itu!" kata Fatimah.
"Memangnya kenapa, kalau aku tersenyum?" tanya Albert
"Aku risih melihat senyuman kamu itu," ucap Fatimah.
"Kamu harus terbiasa dengan senyumku yang menawan ini, karena jika kamu nanti bercerai dengan suami kamu. Senyuman ini akan selalu kamu lihat di setiap hari-hari kamu," kata Albert.
"Jangan mulai, Al. aku sudah tidak mau membahas itu lagi," kata Fatimah.
"Baiklah kalau begitu, Bagaimana kalau kita pergi saja untuk meninjau lokasi tempat pembuatan cafenya?" tawar Albert.
"Baiklah," kata Fatimah.
Menurutnya akan lebih baik jika pergi bersama Albert untuk meninjau lokasi pembangunan Caffe'nya, daripada dia mendramatisir keadaan hatinya yang kini sedang terluka.
Terus terang saja saat ini dia benar-benar kecewa kepada Rudi, baru saja dia mendapatkan perlakuan yang istimewa dari Rudi, tapi sudah harus kecewa.
Dia kira itu adalah awal yang baik untuk hubungan mereka, tapi saat melihat foto dan video yang diserahkan oleh Albert kepadanya, hati Fatimah langsung menciut.
Dia pun jadi bertanya dalam hatinya, apakah hubungannya akan terus bertahan? Atau berhenti di sini saja? Sanggupkah dia menemui keluarganya dan menceritakan yang sebenarnya?
Melihat Fatimah yang hanya diam saja, Albert langsung mengelus lembut punggung tangan Fatimah.
"Mau jadi pergi atau mau ngelamunin pria brengsek itu?" tanya Albert.