Tepat di hari pernikahan Aaron.
Zianca dan Aaron akhirnya di pertemukan kembali setelah berpisah selama bertahun-tahun. Ternyata kini Zianca tengah menjalin hubungan dengan kakak laki-laki Aaron, Lucas pria dingin dan misterius itu kini sangat mencintai dan terobsesi dengan sosok Zianca. Namun di balik hubungan Zianca dan Lucas, ada rahasia besar di dalamnya.
Setelah kembali bertemu, Zianca dan Aaron perlahan memperbaiki hubungan pertemanan mereka. Namun, siapa sangka jika Aaron masih menaruh hati padanya. Lucas yang menyadari hubungan antara Aaron dan Zianca yang tampak tak biasa itu mulai terganggu, ia mulai bersikap semakin posesif dan over-reaction terhadap Zianca, bahkan ia sampai menyakiti Zianca tanpa ia sadari.
Perselisihan semakin memanas di antara ketiganya, hingga akhirnya Lucas sadar jika Zianca selama ini tidak mencintainya, melainkan ingin membalas dendam padanya atas kemaatian kakak perempuannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunita tri maryadi Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Ulah Aaron
Zianca termenung menatap kotak hp dan laptop di atas meja kamar guest house nya, ia bahkan sulit menerima hadiah itu. Bahkan ia yakin Louis pasti sudah pergi dari negara ini. Serta dalam waktu kurang dari seminggu, ia juga akan segera berangkat ke Jerman.
Zianca merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia meringkuk dalam kesedihan. Masalah keluarganya bahkan belum juga usai. Ia hanya berharap akan segera mengakhiri semua permasalahan di keluarganya sebelum ia berangkat.
Selama 4 hari berturut-turut Zianca di sibukkan dengan berbagai tes dan persiapan menjelang keberangkatan. Bahkan ia hanya bertemu Fina sesekali karena mereka mendapat jadwal tes yang berbeda. Zianca hanya selalu di temani oleh Pak Cahyadi. Meski ia belum menggunakan ponselnya, ia selalu membuat janji dengan Pak Cahyadi, sehingga tidak sulit untukknya menemui Pak Cahyadi.
Hari ini adalah hari kelulusan Zianca, ia berencana akan datang ke sekolahnya, untuk mengambil surat rekomendasi bukti telah lulus.
Zianca berdiri cukup lama di pintu kelas Aaron. Hingga seseorang menepuk pundaknya ringan.
"Hai.." sapa Dion ramah.
"Ehh.." Zianca tampak salah tingkah.
"Aaron udah nggak sekolah disini lagi.." jelasnya tersenyum simpul.
"I..iya.. Aku tau.." angguk Zianca pelan lalu segera pergi.
Selama di kelasnya Zianca hanya termenung, bahkan Fina dan Puput yang tampak heboh tak lagi ia hiraukan.
"Zi.. Lo nggak deg-degan apa? Gue deg-degan banget !!" seru Fina bersemangat.
"Ya deg-degan lah.." sahut Zianca mengiyakan.
"Lo pasti sedih ya Aaron udah pindah keluar negeri.." goda Puput.
"Nggak kok.. Lagian aku juga bakal keluar negeri kan.." elak Zianca.
"Iya sih.. Hmm.. Aku pasti bakal kangen banget sama kalian berdua.. Lo ngapain sih Fin ikut-ikutan Zianca segala?? Si Aaron juga, ngapain sih mesti nawar-nawarin lo beasiswa ke Jerman??" gerutu Puput keceplosan tanpa ia sadari.
Sontak Fina mencubit keras pinggang Puput hingga ia meringis kesakitan.
"Awh !! Sakitttt tau.." pekiknya kesakitan.
Zianca yang mendengar ucapan Puput menatapnya kaget, matanya membulat dan tampak kaget.
"Lo bilang apa? Aaron ngapain??" tanya Zianca meyakinkan.
"Hmm.. Zi.. Ntar deh gue jelasin semuanya.." timpal Fina menenangkan.
"Jelasin ke gue sekarang !!" bentak Zianca marah, membuat teman-teman mereka melihat ke arah mereka bertiga.
"Hmm.. Sebenarnya.. Gue di tawarin beasiswa sama Aaron.. Dia minta kita berdua buat ikutan ke Jerman, tapi lo tau kan Puput nggak bakal di bolehin.. Akhirnya gue yang bakal ikutan sama lo.. Jadi Aaron bantuin gue buat dapatin beasiswa ke Jerman nya.."
"Cih.. Udah aku duga ini semua ulah dia.." gumam Zianca menyeringai.
Fina dan Puput saling menatap canggung satu sama lain.
"Ternyata feeling gue benar.." imbuhnya lagi menggeleng kepalanya dengan ekspresi penuh kekesalan.
"Soal apa??" celetuk Puput tidak peka.
"Tiba-tiba semua biaya adm keperluan gue buat ke Jerman di balikin sama Pak Cahyadi, bahkan gue dapet duit saku 25 juta.. Pak Cahyadi bilang gue dapet beasiswa dari pemerintah sebagai murid berprestasi.. lo tau kan, gue nggak sehebat itu buat dapetin beasiswa dengan nilai besar kayak gini.. Gue juga sempat searching soal beasiswa itu tapi nihil, pemerintah nggak ada ngeluarin beasiswa apapun tahun ini.." jelas Zianca panjang lebar.
"Terus sekarang gimana?" tanya Fina bingung.
"Gue nggak yakin Fin.." geleng Zianca pelan.
"Please ! Jangan lo bilang, lo mau batalin buat berangkat kesana.. Lo tau kan? Gue benar-benar cuma ngandalin lo doang.. Bahasa inggris gue aja mentok di one two three doang.. Apalagi bahasa jerman.." seru Fina ketakutan.
Zianca hanya diam tak bergeming. Sementara Fina tampak di landa rasa panik.
"Zi.. di luar gerbang sekolah ada kakak lo tuh nyariin.." seru teman sekelas Zianca dari arah pintu luar kelas.
"Kakak gue??" tanya Zianca meyakinkan.
"Iya.. Kak Mikha kan namanya??" tanya pria itu lagi meyakinkan.
Zianca hanya menganggul cepat. Ia segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju luar sekolah.
Kaka gak ada akhlak