Satu kemalangan memunculkan kemalangan yang lain. Anin Prameswari ternoda oleh pria tidak dikenal, dan membuat ia menyetujui pernikahan bersama seorang pria yang nyatanya adalah sahabatnya sendiri. Mampukah sang sahabat mencintai Anin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saka Syok
Jam makan siang berlangsung. Anin meminta sopirnya untuk mengantar ke sebuah hotel Cipta bersama sang asisten, Sinta karena mereka ada janji bersama rekan kerja di sana. Anin membaca pesan dari Dama, tetapi ia enggan untuk membalasnya. Saat ini prioritas Anin, adalah bekerja untuk menafkahi dirinya dan juga buah hati yang akan lahir.
"Selamat datang, Nona," ucap seorang wanita cantik, bertubuh langsing yang menyambut Anin di lobi hotel.
"Nona Sandra?" terka Anin.
"Betul. Kita langsung saja ke restoran. Makan siang dulu, baru kita membahas masalah pekerjaan.
Anin dan Sandra menuju meja yang sudah dipesan sebelumnya. Di sana sudah menunggu atasan Sandra, yaitu Andre.
"Saya Andre. Wakil dari perusahaan Horrizon Corp," ucap pria berwajah oriental sembari mengulurkan tangan.
"Anin Prameswari dan ini asisten saya, Sinta, " sembari menyambut uluran tangan Andre.
"Silakan duduk," kata Andre. "Kita makan siang dulu."
Selepas makan siang bersama, Andre dan Anin membahas masalah pekerjaan mereka. Anin bersedia menanamkan modalnya untuk pembangunan rumah sakit di luar kota yang akan dibangun oleh perusahaan milik Andre.
"Saya rasa sudah cukup pertemuan kita kali ini. Saya akan meminta Sandra untuk membuat surat perjanjiannya," kata Andre.
"Saya akan tunggu kabar baiknya, " sahut Anin.
Keempatnya saling berjabat tangan. Anin dan Sinta pergi dari hadapan Andre, tetapi Anin berhenti melangkah saat melihat Dama di hadapannya.
"Masih menganggap aku suamimu?" tanya Dama.
"Sinta, kamu pulang pakai taksi saja, ya."
"Tidak! Sinta, kamu pulang dengan sopir. Anin biar aku yang antar," ucap Dama dengan meraih tangan Anin dan membawanya masuk ke dalam lift.
Rupanya Dama sudah mengikuti Anin saat istrinya keluar dari perusahaan. Pria itu sengaja menyewa kamar hotel untuk mengajak Anin bicara secara pribadi.
"Kamu mau bawa aku ke mana?''
"Kenapa sikapmu kekanak-kanakan, Anin? Kamu pindah tanpa bilang-bilang padaku?"
Anin berdecak, "Sebenarnya yang kekanak-kanakan itu siapa? Beberapa hari kamu tidak pulang ke rumah. Padahal kamu bilang sendiri untuk hidup berdampingan."
Pintu lift terbuka, Anin keluar dengan diikuti Dama. "Dona tidak ingin aku pulang. Kamu tahu sendiri dia hamil, kan?"
Anin berhenti melangkah dan membalik diri menghadap Dama. "Lalu aku? Kamu tidak peduli akan perasaanku? Aku tahu anak dalam kandunganku bukan anakmu. Tapi setidaknya berikan kami kasih sayangmu, Dama!"
"Aku akan berusaha."
Anin menggeleng, "Pergilah, Dama! Cukup sampai di sini saja hubungan kita. Aku akan mengurus surat perpisahan."
"Papaku masih berharap kita bersama."
"Itu papamu dan bukannya kamu. Aku juga perlu bahagia," kata Anin.
Anin menekan tombol lift, lalu masuk ke dalam kotak besi yang membawanya turun ke lantai dasar. Dama mengusap wajahnya kasar. Ia tidak ingin berpisah dari Anin karena papanya dan juga karena keluarga Anin yang ikut membantu perkembangan perusahaan. Jika mereka berpisah, artinya hubungan itu akan memburuk. Bisa saja akan berdampak pada perusahaan yang dipimpin oleh papa Dama.
"Apa aku tidak salah dengar, Surya?" tanya Saka. "Anin bilang bayi di dalam kandungannya bukan anak dari suaminya. Apa itu anakku?"
"Saya tidak tahu, Tuan," jawab Surya.
Saka dan Surya kebetulan ada di hotel yang sama. Saka akan mengadakan temu janji di hotel itu bersama temannya, dan pergi berganti pakaian di salah satu kamar yang ia sewa. Namun, ia tidak menyangka akan bertemu sepasang suami istri yang bertengkar dan mendapati kenyataan yang membuat dirinya syok.
Bersambung
🤣🤣🤣🤭