NovelToon NovelToon
KONTRAKAN BERHANTU [ END ]

KONTRAKAN BERHANTU [ END ]

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Rumahhantu / Roh Supernatural / Hantu / Tamat
Popularitas:440.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: siyuk sie

(Novel Kedua = KOS-an BERHANTU)

Bagas melompat senang karena berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai staff accounting di salah satu pabrik gula sesuai dengan cita-citanya. Meski lokasinya berada di pedesaan, tidak menyurutkan semangatnya sama sekali. Sebenarnya, Bagas mendapat fasilitas tempat tinggal atau mess namun sengaja ia tolak. Bagas lebih memilih tinggal di kost atau kontrakan karena menurutnya, lebih nyaman dan bebas. Sungguh keputusan yang akan ia sesali seumur hidup. Sebab inilah awal mula dari serentetan pengalaman mistis di luar nalar yang menimpanya hingga meninggalkan trauma berkepanjangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 - SELAMAT TINGGAL

Semua orang tengah gelisah menanti Andre siuman. Tak satu pun dari mereka yang terlelap. Semua terjaga bahkan kyai Ali juga. Beliau terlihat berdoa sepanjang malam. Tasbih tak pernah lepas dari tangannya hingga adzan subuh berkumandang. Kyai Ali menghela napas dalam dan sesaat kemudian, seorang santri mengabarkan bahwa Andre telah meninggal. Seketika tangis kembali pecah. Suasana sedih menyelimuti seisi ruangan. Ibu Andre sampai pingsan. Keadaan riuh seketika.

Ayahnya Andre tak mampu lagi menahan emosinya. Ia marah sembari memaki-maki pak Hasan. Bahkan kyai Ali pun tak mampu menenangkannya.

"Nyawa dibalas dengan nyawa!" seloroh ayah Andre.

Kyai Ali terkejut sembari terus berusaha membujuk agar ayah Andre kembali tenang.

"Kurang ajar kamu Hasan! aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang!"

"Sabar pak sabar, lebih baik sekarang kita urus jenazah Andre! Lekas dimandikan lalu disolatkan."

Ayah Andre menurut meski kemarahan masih bercokol di sudut hatinya. Wajahnya merah padam, raut kecewa, sedih sekaligus amarah tergurat jelas di wajahnya. Jenazah Andre lekas dimandikan lalu disolatkan. Setelah itu, ambulance disewa untuk mengantarkan jenazah Andre menuju peristirahatan terakhir di kampung orang tuanya. Entah berapa kali ibunya dan Andini pingsan. Sungguh pemandangan yang memilukan.

Berita kematian Andre tersebar dengan cepat. Teman-teman sekantor Andre satu persatu datang ke rumah duka. Bagas dan Juan menjadi sasaran tanya banyak benak yang merasa penasaran. Namun karena pihak keluarga meminta untuk dirahasiakan maka Bagas dan Juan berkilah bahwa Andre meninggal disebabkan sakit yang ternyata telah lama diderita. Keesokan paginya, Bagas dan Juan barulah berpamitan pulang karena harus masuk kerja.

"Kasihan sekali ya Andre padahal orangnya periang dan ramah."

"Benar-benar tidak terduga."

"Sebelumnya terlihat sehat."

"Umur rahasia Tuhan."

"Semoga amal ibadahnya diterima."

Demikianlah segelintir ucapan para karyawan pabrik yang masih membahas perihal kematian Andre membuat hati Bagas dan Juan kian teriris-iris rasanya.

"Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi karena kalian berusaha keras menutupinya maka aku tidak akan membongkarnya," ucap Bian sembari duduk di antara Bagas dan Juan.

"Apa maksudmu?" tanya Bagas.

"Hemm ... sudah kukatakan kalau aku tahu."

"Tahu apa?"

"Andre, dia mati karena dijadikan tum.."

"Husst!!! diamlah kalau kamu sudah tahu!"

Bian menghela napas panjang.

"Kenapa juga kalian menolak bantuanku waktu itu?"

"Buto milikmu juga mengganggu kami."

"Hem... sekarang Andre sudah meninggal. Apa kalian tidak ada penyesalan?"

"Tentu saja ada dan sejujurnya aku sangat marah."

"Mau kubantu membalas pak Hasan?"

"Memangnya apa yang mau kamu lakukan?"

"Kalian tinggal duduk diam, memantau dan tunggu saja kabar kematiannya sampai ke telinga kalian!"

"Ngawur kamu!"

"Kenapa, apa bedanya dengan yang dia lakukan kepada Andre?"

"Aku tidak mau terlibat dengan hal-hal semacam ini."

"Kematian Andre ini sungguh tidak adil. Niatku tulus membantu kalian."

"Tidak dengan cara seperti ini."

"Lalu cara apa yang paling baik?"

Bagas terdiam.

"Sudah kuduga, pikirkan saja dulu, temui aku jika sudah diputuskan!" ucap Bian mengakhiri perbincangan.

***

Bagas dan Juan sudah tidak pulang ke kontrakan lagi. Mereka pergi begitu saja dan belum berniat untuk berpamitan kepada pak Hasan. Kesedihan masih menyelimuti hati mereka hingga tiga hari setelah kepergian Andre. Mungkin kesedihan itulah yang akhirnya terbawa ke dalam mimpi Bagas.

Dalam mimpinya, ia melihat Andre tengah duduk di batang pohon yang tumbang. Bagas sedikit terkejut saat melihatnya sekaligus merasa senang. Dalam benaknya dipenuhi tanya, apakah ini nyata dan apakah Andre hidup kembali.

"Gas kemarilah!" pinta Andre tanpa menoleh seolah sudah tahu jika Bagas berdiri di dekatnya.

"Kamu.. kamu beneran Andre kan?"

"Iya, matamu itu masih sehat. Ini benar aku Andre."

"Kamu masih hidup Ndre?"

Andre hanya tersenyum tanpa memberi jawaban yang jelas.

"Kamu ini cengeng Gas, ngapain mikirin aku sampai segitunya?"

Seketika itu juga Bagas menitikan air mata.

"Kamu gila ya? kita sudah berbulan-bulan tinggal bersama, sudah seperti saudara sendiri. Bagaimana bisa aku tidak secengeng ini?"

"Kamu percaya takdir kan?"

"Jangan samakan dengan takdir. Apa yang menimpamu sungguh tidak adil."

"Ikhlaskan saja! semua memiliki waktunya sendiri di dunia."

"Bicara apa kamu? sekarang ini kamu ada di sini, di depanku, kamu nyata dan hidup."

Sekali lagi Andre tersenyum.

"Terima kasih banyak ya Gas!"

"Terima kasih apa? ini semua terjadi karenaku, seandainya aku tidak mengajakmu tinggal di kontrakan maka tidak akan terjadi hal semacam ini."

"Bukan salahmu, jangan menyiksa diri dengan menyalahkan diri sendiri! aku bersedia tinggal di sana bahkan saat aku tahu betapa angkernya kontrakan itu, aku masih bersedia. Apa yang menimpaku bukan salahmu melainkan akibat dari keserakahan manusia yang menginginkan kekayaan secara instan."

Bagas terdiam tak mampu menjawab. Air matanya kian deras mengalir.

"Laki-laki harus kuat Gas! jalanmu masih panjang. Jangan terpuruk terlalu lama!"

"Ayo pulang Ndre! kamu boleh tinggal di mana saja yang kamu mau. Di mess atau di kos an bersama denganku. Kos ku aman, tidak angker seperti kontrakan."

"Bagas, salah satu tujuanku menemuimu adalah untuk mengucapkan selamat tinggal."

"Apa, kamu mau ke mana?"

"Selamat tinggal Bagas, terima kasih untuk semuanya!"

"Ndre.. Andre.. Ndre...!!!!"

Bagas terbangun sembari terus memanggil-manggil nama Andre. Ketika kesadarannya kembali, tak mampu ia bendung rasa sedihnya. Bagas menangis sejadi-jadinya. Malam terasa begitu sunyi seolah turut bersedih, iringi tangis yang tak kunjung berhenti.

***

Keesokan harinya Dewi, pacar Bagas datang ke kos-an untuk menengok Bagas. Dia mengkhawatirkan kekasihnya sebab dia tahu betul betapa dekatnya Bagas dengan Andre. Dewi pun mengerti betapa kehilangannya Bagas sebab ia telah menganggap Andre seperti saudara sendiri.

"Yang.."

Bagas langsung memeluk kekasihnya dan tanpa sungkan menangis dalam pelukannya. Bagas mencurahkan seluruh isi hatinya dan juga menceritakan perihal mimpinya.

"Sabar ya, Andre sendiri sudah memintamu untuk mengikhlaskan!"

"Sulit sekali rasanya, aku juga tidak menyangka akan sesakit ini."

"Bagaimana keadaan Andini?"

"Aku belum tahu kabar terbarunya."

"Bagaimana kalau kita menjenguknya?"

"Hemm.. boleh saja."

Bagas lekas menghapus air matanya lalu bersiap untuk menuju rumah Andini. Sepanjang perjalanan, Dewi seringkali menguatkan Bagas dan memintanya untuk tak menangis saat bertemu dengan Andini nanti. Bagas mengangguk menyetujuinya.

Hal.mengejutkan berikutnya adalah Andini, ketika Bagas dan Dewi sampai di sana. Andini hanya berdiam diri di kamar, enggan menemui mereka. Alhasil, Bagas dan Dewi diantarkan masuk ke kamar Andini. Ternyata, Andini mengalami pukulan mental berat akibat kematian Andre hingga membuatnya seperti orang linglung. Tatapannya kosong sembari terus menitikan air mata. Sesekali bibirnya memanggil nama Andre tanpa menghiraukan kedatangan Bagas dan Dewi.

"Beginilah keadaan Andini sekarang," tutur ibunya sembari mencoba menahan air mata yang hendak menerobos pelupuk.

Bagas dan Dewi saling memandang seraya menghela napas dalam.

😔 Bersambung... 😔

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
suka
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tamat... itulah tipu muslihat iblis dan sebangsa'y, yg banyak menjerumuskan manusia. disini kita bisa mengambil pelajaran, jika segala sesuatu pasti ada konsekuensi'y..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
serba salah jadi'y..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
😭😭😭
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
ngeri bener di kintilin mulu ma poci👻
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
dihh ngeri juga ya, masa Juan di taksir demit sih🤔
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
nah kan, ternyata memedi👻👻
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
dasar, temen gak ada akhlak🙄
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
haduhhh, kalo aku bisa semaput deh kaya'y..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
pantesan aja, wong itu bekas rumah dukun tho..
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
duh, ko ngeri ya😣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
untung ada pak Harun yg jadi wasit😅
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
padahal jan di berantakin ya, kalo bisa mah justru bantuin tu Bagas ma Andre beres² kontrakan🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
walau pun tau novel ini dah end, tapi tetep aja gatel pen ikut komen🤭
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣🤣 ada² aja kamu Andre
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
untung gak kena tampol sama Bagas ya, tu demit. seenak'y aja nongol depan muka orang😆
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
kaya'y tu demit pemalu deh, masa yg nampak cuma tangan doang😅
mampir kak..
Zxr_MinZea⁰⁸
Nama Ku Andini :)
dream
Alurnya bagus, sederhana, mestinya dapet
dream
Yeay.... bukan buru2 di tolongin....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!