Menjadi cantik dan berprestasi bukan sebuah jaminan memiliki kehidupan yang baik. Alina gadis yatim piatu berparas cantik juga salah satu primadona kampus dengan banyak prestasi harus menerima takdirnya yang buruk.
Alina tidak menyangka bahwa akibat dari cinta satu malamnya yang tidak di sengaja bersama Presdir kejam bernama Revan menuai hinaan dan hujatan dari orang disekitarnya karena telah berbadan dua...
Diharapkan untuk pembaca agar bijak dalam menanggapi tulisan ini 😁😁😁
bagi yang belum cukup umur jangan intip intip ya..☺️☺️☺️🌺🌺🌺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinyfillah☺☺, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melihatmu (Part2)
Tidak ada lagi ucapan lain yang bisa Alina ucapkan untuk bayinya. Ia hanya diam menangis sambil menundukkan kepalanya seakan air mata adalah perwakilan perasaannya saat ini. Dipandangnya wajah peri kecilnya yang tertidur dan sesekali menggerakkan tubuhnya matanya ditutup karena harus difototerapi juga.
Ia sangat ingin memeluk dan mencium putri kecilnya itu tapi apa daya semua harus ia tahan bagi Alina ini merupakan terberat dan baginya sama dengan waktu ia kehilangan kedua orangtuanya. Ia hanya bisa membelai lengan si kecil sambil sesekali memberi ciumannya melalui jarinya dan di tempelkan ke pipi si kecil airmatanya terus saja mengalir hatinya benar-benar terluka karena bukan ini yang di inginkan oleh Alina.
"Maaf." Ucap Alina merasa bersalah. "Maaf." Ucap Alina lirih. Hanya kata itu yang mampu Alina ucapkan. Ada banyak yang ingin dia katakan tapi lidahnya keluh ia merasa tidak mampu kalau harus mengutarakannya pada putri kecilnya. Batinnya tersiksa saat ini, sementara ia harus kuat.
"Neng, jangan terlalu larut dalam kesedihan berdoa dan sholat itu yang penting." Ibu Ani menasehati. "Neng Alina masih masa nifas boleh Nak Revan yang sholat doakan putri kecil kalian." Ucap Ibu Ani.
"Iya bu..Ibu benar Alin nggak boleh terlalu larut, seharusnya Alin berdoa agar Allah memberikan kesembuhan untuk anakku." Ucap Alina.
"Iya bu Insha Allah. Lin berhubung disini ada ibu dan kamu juga sudah lihat anak kita aku mau bilang ke kamu setelah si kecil sehat aku ingin membawamu kembali ke Indonesia. Aku ingin kita menikah menghalalkan hubungan ini. Maukah kamu menikah denganku Alina?" Ucap Revan melamar Alina.
"Ini apa gak terburu-buru?" Ucap Alina. "Bagaimana bisa dia melamarku di rumah sakit dalam situasi seperti ini. Apa dia tidak pernah berpikir untuk melamarku ditempat yang pemandangan indah dan suasana yang romantis. Dasar pria tidak romantis.. Hmmm.." Batin Alina.
"Aku tahu kamu pasti ragu, tapi aku ingin kamu tahu aku cinta sama kamu Lin benar-benar cinta. Bukan hanya karena ada si kembar di antara kita atau karena rasa bersalahku selama ini tapi karena kamu Lin. Aku yang nggak bisa hidup tanpa kamu nggak bisa menghilangkan kamu dari pikiranku, apapun yang aku lakukan selalu saja memikirkan kamu. Aku gelisah waktu kamu hilang begitu aja, aku bahkan seperti orang gila cari kamu dibandara." Ucap Revan terhenti karena Alina langsung memeluknya.
"Iya aku mau menikah dengan Kak Revan." Ucap Alina tersenyum. "Sudahlah terima saja paling tidak ini momen langka melihat Revan berusaha terlihat romantis." Batin Alina
"Terima kasih. Terima kasih Alina.. Aku pikir kamu akan menolaknya karena belum siap." Ucapnya bahagia sambil menghapus bulir air mata kebahagiaan dipelupuk matanya. "Huuuffftt... Syukurlah.... Tidak menolakku." Ucapnya sambil menarik nafas lega.
"Mana ada. Aku kan juga cinta sama Kak Revan mana mungkin aku menolak menikah, sementara kita sudah memiliki si kembar. Aku orang yang paling rasional Kak Revan." Ucap Alina masih memeluk Revan.
"Ya kau memang wanita yang paling rasional bahkan aku yang Revan tidak menyangkanya." Ucap Revan tersenyum bahagia. "Sepertinya aku mulai memahami sifatmu yang satu ini." Ucap Revan teringat sesuatu.
"Maksud Kak Revan?" Melepas pelukan. "Kanapa si kecoak busuk ini tertawa apanya yang lucu, dasar kumat lagi gilanya." Umpat Alina dalam hati
"Hahaha... Aku ingat waktu aku suruh kamu nginap tiga bulan dipenginapan. Kata resepsionisnya, keesokan paginya kamu langsung meninggalkan penginapan dan mengambil kembali semua pembayaran selama tiga bulan itu." Ucap Revan sambil tertawa kecil.
"Aku memang mengambilnya tapi tidak pernah menggunakannya sampai saat ini!" Sanggah Alina cemberut dan tak menyangka. "Lagi pula Kak Revan kan membayarnya untuk biaya menginapku selama tiga bulan! Itu artinya secara tidak langsung Kak Revan memberikannya untukku, dan sudah jadi hakku pula untuk mengambilnya atau tidak." Ucap Alina lagi membela diri. Merasa dirinya tak bersalah karena yang ia ambil sudah diberikan untuknya.
"Ya.. Ya kau selalu benar." Ucap Revan kehabisan kata-kata. "Gadis yang cerdik, memang pantas menjadi istriku." Batin Revan.
"Aku memang selalu benar kak." Ucap Alina tersenyum. Kembali mendekati bayinya. "Sayang cepat sembuh ya nak. Papa akan mengajak kita pulang setelah kau sembuh." Ucap Alina memegang jari-jari kecil bayinya. "Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga yang utuh. Nak mulai sekarang mama dan papa akan bersama selamanya." Ucap Alina pada bayinya. Ia merasa sangat bahagia akhirnya anaknya tidak akan menjadi anak yang tidak memiliki ayah.
"Karena kamu sudah menerimaku, Alina lalu bagaimana dengan sumpah yang dulu kau ucapkan?" Ucap Revan.
Ia tahu seharusnya tak membahas ini tapi masalah sumpah ini harus diselesaikan saat ini juga agar tidak menimbulkan masalah baru dalam rumah tangga mereka kedepannya. Karena Revan memahami bahwa akar dari permasalahan kenapa Alina sejak dulu menolaknya ialah karena sumpah serapah yang terpaksa Alina ucapkan agar dirinya mempercayai Alina saat itu.
"Untuk sumpahku yang sebelumnya, kuserahkan pada Allah Yang Maha Mengetahui segalanya." Ucap Alina lagi. "Aku adalah orang yang berpegang teguh pada pendirian, tapi jika aku terus keras kepala memegang keteguhanku bagaimana dengan si kembar untuk saat ini mereka memang tidak bertanya tapi suatu saat ketika mereka sudah besar pasti akan banyak pertanyaan dari mereka sendiri dan mereka juga pasti di ejek-ejek anak orang lain karena tidak memiliki papa.
"Kau benar dulu aku tidak berpikir panjang dan membiarkanmu menderita. Aku salah telah membuatmu bersumpah, dan aku sendiri yang memintamu untuk menariknya." Ucap Revan sendu. "Sudah semestinya kau membenciku dulu." Ucap Revan lagi.
"Iya kau memang pantas dibenci karena dulu kau benar-benar brengs*k. Tapi itu untuk Kak Revan yang dulu kalau yang sekarang berbeda. Alina harap selamanya Kak Revan seperti ini." Ucap Alina.
"Aku memang seperti ini Alina. Dulu aku tidak mengenalmu dengan baik, aku mengira kau sama seperti wanita yang lainnya, yang datang melemparkan dirinya padaku dan ternyata aku salah besar. Tidak seharusnya aku menghakimi seseorang sebelum tahu asal-usulnya." Ucap Revan merasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Karena sekarang sudah jelas, semoga tidak ada masalah lagi kedepannya dalam kehidupan rumah tangga kalian. Insha Allah tidak terjadi lagi kesalahan seperti sebelumnya mulai sekarang masalah apapun yang kalian alami nanti kedepannya harus mencari solusi yang baik dan memikirkannya matang-matang." Ucap Bu Ani menasehati keduanya.
" Iya bu Insha Allah.." Ucap Alina.
"Semoga ini awal yang baik untuk kehidupan kalian nanti." Ucap Bu Ani ikut bahagia untuk Alina dan Revan.
.
.
.
^bersambung_^
Maaf ya banyak yang typo karena author bikinnya tengah malam. Kalau siang nggak bisa mengetik maklum ibu rumah tangga. Maaf juga karena updatenya masih nggak menentu tapi author selalu berusaha yang terbaik untuk para pembaca setia novel ini.
Jangan lupa beri LIKE, KOMENTAR, HADIAH dan juga VOTE kalian sebagai penyemangat agar author berusaha yang lebih baik lagi untuk para pembaca. Dan terima kasih karena sudah mendukung novel yang biasa-biasa ini.
Semoga kedepannya bida semakin lebih baik lagi.
I LOVE READER SETIAKU 😍😍😍😘😘😘
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu