NovelToon NovelToon
Anak Kembar Mafia

Anak Kembar Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:62.3k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.

Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.

"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."



Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Begitu melihat ayahnya pulang, Yasmin hendak menemuinya dengan hati berdebar, rasa rindu membuatnya lupa bahwa sebelumnya pernah ditendang dari rumah ini. Namun, Yasmin berharap beliu akan memaafkan dan melupakan yang telah terjadi.

Yasmin tersenyum tipis menatap sosok ayahnya yang berkumis tebal, tubuh masih tetap tegap, wajah tidak berubah banyak justru semakin berwibawa. Berjalan angkuh, tangannya menenteng koper kecil. Enam tahun lamanya tidak melihat sosok itu, tapi di dalam hatinya sudah berusaha melupakan yang terjadi dan berharap masa lalu benar-benar berlalu.

"Ayah..." lirih Yasmin yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

Dengan langkah lambat, Yasmin mendekat, menundukkan kepala dengan rasa hormat sambil mengulurkan tangan kanan untuk bersalaman dan mencium punggung tangan ayahnya seperti dulu.

Namun, punggung tangan Yasmin justru menyapu udara kosong. Ayahnya tiba-tiba melengos, menoleh ke arah lain seolah tak melihat keberadaan putrinya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tidak sepatah kata sapaan pun terucap, tidak ada senyum sedikit pun yang terulas di bibir. Ia melewati Yasmin begitu saja seolah tidak mengenal, terus melangkah menuju pintu dan langsung masuk ke dalam rumah.

Yasmin menurunkan tangannya yang masih menggantung di udara. Harapan yang tadi membuncah seketika runtuh. Ia berdiri mematung di tengah halaman, tidak terasa air matanya mengalir. Kini hatinya diselimuti kekecewaan yang lebih dalam daripada saat pertama kali diusir dari rumah ini.

"Apa benar aku ini anak kandung Ayah?" Tanyanya dalam hati, lalu melangkah berat masuk ke rumah. Ketika hendak menyusul Fatir dan Fathia terdengar keributan dari kamar orang tuanya sangat jelas karena pintu tidak seluruhnya tertutup.

"Siapa yang mengizinkan anak yang tidak tahu diuntung itu masuk ke rumah ini, Bu?!" Tandas Amir keras bagai palu yang menghantam dada Yasmin. Lebih sakit daripada saat diusir dulu.

"Sudahlah Yah! Yasmin itu anak kita, Ayah jangan kejam!" Jawab Maryam tidak kalah keras.

"Aku tidak punya anak yang hanya bisa membuat malu orang tua!" Teriak Amir, berakhir dengan pintu kamar mandi yang ditutup dengan kencang.

Yasmin masuk ke kamar, menatap anak-anaknya yang masih pulas. Ia gigit bibirnya untuk mencegah suara tangisnya agar tidak di dengar Fatir dan Fathia. Jika mereka sedang tidak tidur ingin rasanya pergi saat ini juga.

"Kita tidak diterima di sini sayang..." gumamnya lirih, dengan tubuh bergetar karena menangis ia bersandar di tembok.

Deerttt... deerttt.. deerttt

Saat sedang merenungi nasibnya yang buruk, hpnya bergetar, Yasmin mengusap air matanya sembari beranjak ambil handphone di atas meja.

"Halo, ada apa?" Tanya Yasmin ketus. Pria yang tidak lain Marco menjadi pelampiasan.

"Loh, kok tanyanya gitu..." terdengar tawa Marco nan jauh di sana.

Yasmin sama sekali tidak menjawab, hatinya kini sedang kecewa karena harapannya untuk mencairkan hati ayahnya sia-sia.

"Bagaimana perjalanan kamu? Jam berapa tiba di Bandung? Lalu, apakah Ayah dan ibumu tidak marah lagi kepadamu?" Tanya Marco sedikit mencecar, tapi Yasmin hanya menjawab baik, dan lancar, kemudian matikan handphone.

Menjelang ashar, anak-anak belum juga bangun, Yasmin keluar kamar dengan mata bengkak. Ia ke dapur hendak membuat teh hangat untuk menghangatkan perutnya yang terasa kembung, mungkin karena hanya makan sepotong bakwan ketika sarapan pagi tadi. Walau di rumah ini banyak makanan dan Ibunya terus mengingatkan untuk makan, tapi ia tidak berselera.

"Mau apa Neng? Bibi buatkan," Bibi segera meninggalkan pekerjaan lain hendak ambil alih cangkir anak majikannya, tapi Yasmin menjauhkan cangkir di tangannya.

"Cuma mau membuat teh Bi. Biar saya sendiri saja," Yasmin tersenyum getir. Mungkin bibi mengira bahwa dirinya masih putri pria paling kaya di kota ini. Padahal itu dulu, nyatanya sejak 6 tahun yang lalu ia tidak lebih dari gembel.

Selesai membuat teh, ia membawanya ke ruang tengah, tapi langkahnya berhenti sejenak ketika ayahnya sedang duduk di sana. Namun, itu tidak lama, ia mendekati ayahnya, kesempatan ini akan dia gunakan untuk berbicara empat mata dengan ayahnya.

"Ayah mau teh, atau kopi? Yasmin buatkan ya," ucapnya lembut setelah meletakkan tehnya di atas meja sebelah kiri ayahnya.

Tetapi hati Yasmin lagi-lagi kecewa karena bukan jawaban yang ia mau, sang ayah justru bangkit dari duduknya hendak melangkah pergi.

"Ayah, tunggu dulu," Yasmin berdiri dengan cepat memegang lengan Amir, menatap pria itu lekat, tapi Amir tidak sedikitpun melirik dirinya.

"Sekarang aku mau tanya, Ayah benar-benar mau membuang aku?" Yasmin berderai air mata, tapi tidak lantas membuat ayahnya bergerak.

 "Belum cukupkah Ayah menghukumku? Selama berbulan-bulan hidup di jalanan seperti gelandangan? Tidur di emperan toko, memakan sisa makanan yang kadang orang buang, atau meminum air keran untuk menahan lapar. Kaki ini bengkak, punggungku nyeri hampir tidak tahan, tapi aku terus berjalan dan berhenti setiap bertemu orang mengemis pekerjaan, tapi mereka dengan kejam mengusirku karena mereka jijik dengan penampilan aku karena beberapa hari tidak mandi! Berkali-kali aku berpikir untuk menyerah, tapi ada nyawa lain yang bergantung padaku, Yah. Lihat Yah, tolong lihat tangan anakmu yang kapalan ini!" Yasmin mengguncang lengan ayahnya yang masih berdiri seperti patung.

"Diam!!!" Satu kata jawaban dari Amir, berteriak kencang.

"Tidak, aku tidak akan diam!" Yasmin pun akhirnya berteriak, mungkin bisa dikatakan seumur hidup baru sekali ini berani melawan orang tuanya, walau setelahnya duduk bersimpuh di kaki ayahnya.

"Ayah membuang aku karena malu dengan tetangga padahal bukan sepenuhnya salah, tapi apakah Ayah tidak lebih malu seandainya tetangga melihat putri seorang konglomerat menurut orang-orang sekitar sini. Seharusnya Ayah lebih malu melihat aku tidak mampu membayar biaya bidan atau rumah sakit, dan memilih melahirkan di sebuah gubuk reyot di pinggir kali, hanya dibantu seorang tukang urut tua yang kebetulan lewat?" Yasmin tergugu mengingat semua itu.

"Tanpa obat, tanpa alas yang layak, aku menahan sakit yang luar biasa sendirian. Kehidupanku semakin berat, hingga rela melakukan pekerjaan apa saja yang penting halal, walau tidak dipandang orang, mengangkat barang berat, mencuci pakaian orang lain hingga jari-jariku pecah-pecah, bahkan setelah pulih sedikit, aku membawa kotak semir sepatu, duduk di pinggir jalan menunggu orang yang menyuruhku menyemir sepatu mereka demi uang receh untuk membeli nasi."

Yasmin bukan ingin kekayaan ayahnya, ia hanya ingin hubungannya dengan keluarga kembali hangat seperti dulu.

"Yasmin... sudah Nak..." Maryam yang baru keluar dari kamar mendekat, lalu duduk di lantai memeluk putrinya yang masih terisak-isak.

Yasmin berhenti sejenak, menatap ibunya dengan pandangan yang penuh luka.

"Biar saja Bu, Ayah sudah benar-benar membuang aku. Sebaiknya aku pergi saja," Yasmin bangkit dari kaki ayahnya hendak ke kamar membangunkan Fatir, lebih baik pergi daripada tidak dianggap.

"Yasmin... jangan sayang... Ibu tidak mau kamu pergi dengan cara seperti ini, Nak," ibu Maryam menahan tubuh Yasmin, lalu berpaling ke arah suaminya.

"Ayah, cegah Yasmin Yah. Aku tidak mau kehilangan anak kita lagi," pinta nya di sela-sela isak tangis.

 "Bundaaaa... Bunda tidak boleh nangis, siapa yang nakal sama Bunda..." Fatir dan Fathia yang berlari dari kamar tiba-tiba memeluk tubuh ibunya. Membuat wajah Amir yang sama sekali tidak merespons akhirnya menoleh ke arah anak-anak kecil yang tampak sedih melihat bundanya menangis.

...~Bersambung~...

1
Sri Devi Oktaviani
kirain ada yg ditampar bunyi plak 🤭
Les Tary
apa pelayan itu Rina yg sudah dipecat dulu😍😍
Eka ELissa
plak....suara di gplok apa...gimna Mak...😀😀😀klau jatuh kan hrus nya...brack....gtu.....🤣🤣🤣🤣
Buna Seta: Pokoe ngunu kui, bayanno dewe 🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
loh jangan berat hati Bu dengan senang hati gitu
Teh Yen
Yasmin masih bersabar d berbesar hati menerima semua wanita di masa lalumu engg tau kalau suatu hari nanti Yasmin tau kamu mafia ke mana yah 🤔
Teh Yen
udh gila kali tuh cewek satu yah hadeeuuh beresin Napa sama ank buahmu Marco
🌷💚SITI.R💚🌷
gmn menjauhkanybdr kamu yasmin..udh cewey marcopolo itu segsmbreng di mana aja ada di setisp sudut kota dan desa pasti ada,,dan ga semudah itu jg menyungkirkny..sekarang kami yg hrs sisp mental kshor bathin de..pokoky msh banyak rahasisy.
Les Tary
Marco emang payah sekelas Mafia kakap asal gelap celop aja apalagi sekelas Rina🤭🤭
Eka ELissa
nah loh.....
bingung....tu...Marco mo jawab apaan....
Lia siti marlia
nah bagus yasmin kamu harus tegas sama marco🥺🥺🥺
🌷💚SITI.R💚🌷
hadeeh klu wanita udh gila harta dan nsfsu ga mikir bahsya dan baik tdky
Hera sasuwe
riweh nih masa lalu marco buat gregetan sampe emosi
Lisa Halik
lagi thor makin penasaran...sudah bagi gift juga
Lia siti marlia
waduh c rossa udah berani ngancam pake senjata siap siap kamu di kulitin sama marco rossa😂
ardiana dili
lanjut
Eka ELissa
alah ....ngimpi kwe Ross....
jgn kan knyataan dlm mimpi juga Marco GK bkln blik Karo kwe tau....🤣🤣🤣🤣🫣
Eka ELissa
waduh siapa lagi ini yass......
bnyak bgt ....bikin syok nya....dri kmrin 🤣🫣
Les Tary
Marco emang Rossa sudah kamu janjiin apa bisa senekat itu
Lisa Halik
gift menyusul thor...semangat updatenya
Teh Yen
ini pasti cewek yg kmr Dateng ke rmh Marco yah ,,.ktnya udh d usir Marco kok dia balik lagi sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!