Zayn adalah korban bully di sekolah dan di lingkungan rumahnya.
suatu hari Zayn yang sedang dikerjai oleh Clara dan teman-temannya di sebuah rumah kosong yang terlihat tua. Mendadak Zayn dapat melihat hantu setelah terjatuh dari kursi saat hendak mengambil sepatunya yang tersangkut di lampu hias yang tergantung di ruang tamu rumah kosong tersebut.
Zayn yang terjatuh itu pingsan dan setelah siuman, Zayn mendadak dapat melihat hantu cantik si pemilik rumah kosong itu.
Maudy. Ya, nama hantu cantik itu adalah Maudy.
Setelah pertemuan itu keduanya menjalin hubungan pertemanan.
Awalnya pertemanan itu tidak ada ketulusan karena saling ingin memanfaatkan.
tetapi apa jadinya kalau mereka berdua menjadi saling jatuh cinta karena terbiasa bersama?
"Kenapa lo jadi hantu?" tanya Zayn.
"Karena gue masih penasaran sebelum dendam gue terbalas."
"Lalu, setelah terbalas apa yang akan lo lakukan?"
"Gue hilang dari dunia ini, karena itulah perjanjian nya saat dulu gue nolak untuk dibawa ke alam selanjutnya," jawab Maudy.
"Deg," jantung Zayn seolah berhenti berdetak saat mendengar itu.
bagaimana kisah percintaan antara hantu dan manusia kali ini? yuk simak kaka semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Galau
Zayn mengambil gelas yang berada di meja lalu bersiap melemparkan gelas itu ke lukisan Maudy tetapi diurungkan nya karena Zayn tidak ingin lukisan itu menjadi rusak.
"Aaaa!" teriak Zayn seraya membanting gelas itu membuat gelas itu pecah dan belingnya berserakan.
Hadi menggelengkan kepala.
"Bekas muntah bos aja belum kelar udah ditambahin lagi kerjaannya," gumam Hadi dalam hati.
Setelah itu Zayn keluar dan entah kemana tujuannya kali ini, ternyata tujuannya adalah rumah Maudy.
"Hahahaa," Zayn menertawakan dirinya yang bodoh, bahkan sekarang Zayn tidak lagi kuliah karena yang ada di otaknya itu adalah Maudy, Maudy dan Maudy.
Zayn yang merasa silau itu mencari kacamata hitamnya di dalam jok motor lalu kembali mengendarai motornya dan berhenti tepat di depan pagar rumah Maudy.
Zayn memasang telinganya karena mendengar suara berisik dari dalam seperti orang yang sedang bertengkar.
"Tapi kaya bukan suara Maudy? Kalau suara Maudy kan cempreng-cempreng sedep gitu, terus ini suara siapa minta tolong?" kata Zayn yang berbicara sendiri.
Zayn segera masuk ke rumah Maudy lalu Zayn mengikuti sumber suara itu yang sekarang berada di dapur dan Zayn sangat terkejut membulatkan matanya tak percaya kalau Samuel sudah bersimbah darah di lantai.
"Pembunuhan?" tanya Zayn menatap Marina yang masih dengan pisaunya.
"Tolong, jangan berteriak! Dia yang menyiksaku lebih dulu!" kata Marina seraya menyodorkan pisau yang ada ditangannya membuat Zayn takut dan kemudian Zayn berlari keluar dari rumah Maudy, Zayn berteriak.
"Sudah ku katakan jangan berteriak!" teriak Marina dari belakang Zayn seraya mengayunkan pisau ke punggung Zayn, beruntung Zayn dapat menghindari itu segera banyak orang yang berkumpul.
****
Marina sudah diborgol dan sekarang sudah berada di dalam mobil polisi, tak berhenti wanita itu menangis.
"Kamu jahat, Sam. Kamu jahat!" kata Marina dalam hati.
Flashback on
Pagi tadi, Marina mencari Samuel ke rumah hantu untuk menanyakan apa yang dikatakan oleh Clara semalam.
"Kenapa emangnya? Kan kamu juga ikut menikmati uang yang Danesh kirim!" kata Samuel dengan santainya, pria itu sedang duduk dan membaca koran yang sudah tersimpan dua puluh tahun lamanya.
Koran itu memberitakan kesuksesan Maudy dan rencana pernikahan dengan dirinya sendiri.
"Sayangnya dia terlalu pintar sehingga aku harus menyingkirkannya agar aku dapat memiliki hartanya, beruntung masih tersisa rumah ini jadi aku tidak menjadi gelandangan!" gumam Samuel dalam hati.
Sementara itu, Marina menatap tajam pada Samuel yang terlihat mengabaikannya.
Marina merebut koran yang berada di tangan Samuel.
"Jadi benar kamu menjual Clara?" tanya Marina seraya meremas koran tersebut.
"Iya dan itu sudah terjadi, seandainya gadis itu mau kembali pada prostitusi Danesh yang berada di Singapura tidak akan hidup kita susah seperti!" kata Samuel menatap istrinya lalu Samuel harus merasakan panas di pipinya karena Marina menampar Samuel dengan sangat keras.
Dan pertengkaranpun terjadi.
"Berani sekali kamu?" teriak Samuel seraya berdiri.
Samuel menarik rambut Marina menyeretnya ke belakang, Samuel berniat akan menyiram Marina menggunakan air panas.
"Apa aku harus melenyapkan satu orang lagi?" gerutu Samuel.
"Apa? Apa kamu pernah membunuh? Katakan? Apakah calon istrimu dulu yang meninggal karena gosip bunuh diri itu?" teriak Marina seraya mendorong Samuel.
"Hah, pandai juga kamu! Bisa langsung menebak dengan benar!" kata Samuel.
Marina mendorong Samuel sehingga membuat pria tamak itu membentur meja makan.
Samuel mengambil pisau dapur, mengayunkan pisau itu pada Marina dan Marina berhasil menghindari itu.
Marina mengambil pisau yang lain untuk melindungi dirinya sendiri dan saat Samuel kembali mengayunkan pisau untuk Marina, lelaki itu tersandung kakinya sendiri dan mengenai pisau yang berada di tangan Marina.
Dan saat Marina berada di tengah kebingungannya, Zayn masuk dan melihat itu.
Flashback off
****
Zayn dimintai untuk menjadi saksi dan Zayn pun mengiyakan, Zayn mengatakan apa yang diketahuinya.
Setelah dari kantor polisi, Zayn memutuskan untuk pulang, karena sudah beberapa hari ini Zayn tidak pulang.
"Dari mana kamu? Kenapa Ibu cari kamu ke kafe nggak ada?" tanya Sulasih yang melihat anaknya baru saja masuk rumah.
"Urusan, Bu!" kata Zayn seraya menyisir rambut menggunakan jari jemarinya.
"Halah, urusan apa? Kuliah aja enggak kamu? Kamu kenapa sih? Bukannya kemaren kamu boncengin cewek? Itu calon kamu?" tanya Sulasih yang terus mencerocos, bagaimana tidak mencerocos, mumpung anaknya berada di depan mata, begitulah pikir Sulasih.
"Zayn bingung mau jawab yang mana, yang jelas perempuan kemarin itu bukan siapa-siapa Zayn," jawab Zayn kemudian pergi meninggalkan Sulasih yang sedang menyiapkan makan siang di meja makan.
Lalu Sulasih harus menghentikan aktivitasnya karena mendengar suara orang mengetuk pintu, Sulasih segera membukanya.
"Eh kamu, mau ngapain?" tanya Sulasih.
"Wita bawa puding buat Tante sekeluarga," kata Wita seraya memberikan puding tersebut.
"Kamu tau aja kalau Zayn di rumah? Ngawasin ya?" tanya Sulasih seraya menerima puding tersebut.
"Anu, Tan. Kan motornya abang ada di luar," kata Wita yang berhasil dibaca isi otaknya oleh Sulasih.
"Wita permisi, Tan. Wita ada kuliah," kata Wita merasa dingin karena Sulasih tak sehangat waktu itu sebelum beradu mulut dengan Widuri.
"Udah nggak usah berharap lagi sama Zayn, Zayn udah ada calon!" seru Sulasih dan Wita hanya menengok tanpa berkata apapun.
Sulasih menutup kembali pintu itu dan membawa puding itu masuk, Sulasih menatap puding buah itu.
"Antara racun atau pelet," gumam Sulasih.
Lalu wanita itu membayangkan Zayn dan dirinya terkena pelet, membuat Zayn dan dirinya menjadi tunduk kepada keluarga Widuri.
Wanita yang merasa curiga dengan puding itu akhirnya memilih untuk membuang puding tersebut.
"Loh, kok dibuang, Bu?" tanya Zayn yang baru turun dari tangga sudah rapi dengan kemeja dan celana jeans nya.
"Iya nggak apa-apa, udah kamu nggak usah urusin itu, kembalikan piring ini aja ke Wita!" perintah Sulasih seraya mengulurkan piring itu.
"Zayn kan laki-laki, Bu. Udah gede lagi masa disuruh balikin piring sih, entar Yaya ajalah," kata Zayn.
"Zayn, ini perintah bukan masalah kecil atau besar, masalahnya kamu nurut enggak sama Ibu?"
Mau tidak mau Zayn pun menerima piring itu, Zayn berjalan kaki ke rumah sebelah.
"Permisi!" seru Zayn di depan pagar Wita.
Dengan cepat Wita membuka pintu dan melihat Zayn yang berada di balik pagar.
"Abang, ada perlu apa?" tanya Wita seraya membuka pintu itu.
"Balikin piring," kata Zayn seraya memberikan piring.
"Kok cepet banget, Bang. Memangnya udah dimakan?" tanya Wita yang ingin terus mengajak Zayn berbicara.
"Enggak!" jawab Zayn jujur.
"Oh, mungkin dipindahin terus disimpan dulu," pikir Wita.
****
Wita yang melihat Zayn sudah kembali menaiki motornya pun memanggil Zayn.
"Ada apa?" tanya Zayn seraya memakai helmnya.
"Ada yang mau Wita bicarakan," kata Wita seraya berjalan mendekati Zayn.
"Buruan, gue mau pergi!" kata Zayn.
Terlihat wajah Wita yang memerah seperti tomat. Wita berniat mengutarakan apa yang dirasakannya.
"Abang, Wita suka sama abang!"
Setelah mengatakan itu, Wita pun menjadi sangat malu dan semakin deg-degan.
"Maaf Wita, mending kamu cari cowok lain!"
"Kenapa, Bang?" tanya Wita seraya menahan stang motor Zayn.
"Udah ada yang lain di hati aku!" jawab Zayn seraya menyingkirkan tangan Wita dari stang motornya.
"Abang, Wita itu nyata, Wita itu ada, akan selalu menemani Abang sampai akhir hayat bukan seperti wanita itu yang akan hilang bila kita bacakan ayat kursi!" kata Wita tanpa sadar, setelah itu Wita menutup mulutnya.
"Apa maksud kamu?" tanya Zayn seraya turun dari motornya.
"Bukan apa-apa!" kata Wita seraya menghindar dari Zayn. Segera Wita berlari masuk pagar rumahnya dan Zayn terus mengejar namun Wita sudah mengunci pagar itu.
"Wita, tau apa kamu? Cepat katakan!" bentak Zayn seraya menggenggam besi pagar rumah Wita.
"Wita nggak tau apa-apa, Bang. Wita cuma tau mencintai Abang!" seru Wita yang kemudian segera masuk ke rumahnya.
"Gue yakin dia tau sesuatu!" geram Zayn.
Bersambung.
Jangan lupa untuk terus dukung karya Author ya readers sayang.
Klik love, like, vote dan rate limanya, kalau berkenan silahkan berikan gift. Terimakasih 😇