Ghea Adisti Biantara dan Alvino Sanjaya pernah menjalin hubungan cinta monyet yang kebablasan saat keduanya masih duduk di bangku SMA. Hingga sebuah kesalahpahaman membuat cinta monyet mereka menjadi kandas, ditambah Ghea yang berpindah kota setelah lulus SMA, membuat Ghea dan Alvin putus kontak sama sekali.
Tahun berganti dan Alvin tak sengaja bertemu kembali dengan Ghea namun di posisi yang serba sulit karena Alvin yang sudah memiliki kekasih sedangkan Ghea yang masih menunggu Alvin demi menjelaskan kesalahpahaman yang pernah terjadi diantara mereka di masa lampau.
Hingga suatu malam, Ghea melakukan satu kesalahan yang membuatnya harus mengandung anak dari Alvin. Namun karena Ghea sadar bahwa Alvin akan segera menikah dengan kekasihnya, jadi Ghea memilih untuk pergi dan tidak memberi tahu Alvin tentang kehamilannya.
Di satu sisi, Alvin yang baru saja kehilangan calon istrinya karena sebuah kecelakaan mendapat tugas dari Galen untuk mencari Ghea yang tiba-tiba menghilang dan tak bisa dihubungi
Akankah Alvin bisa menemukan Ghea kembali?
Dimana sebenarnya Ghea bersembunyi, dan bagaimana nasib Ghea beserta anak Alvin yang ada di kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBERATAN
Ghea masih berada di toilet bandara dan baru saja mengganti bajunya yang tadi basah kuyup.
Ghea mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dan segera melepaskan kartu SIM dari dalam ponsel yang mati tersebut.
Ghea mematahkan kartu SIM itu menjadi dua bagian, lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada di dalam toilet.
Keputusan Ghea sudah bulat sekarang.
Ghea akan pergi jauh dan memulai hidup baru bersama calon anaknya di tempat yang baru.
Ghea akan melupakan Alvin, meskipun itu mustahil.
Namun Ghea akan tetap berusaha melupakannya.
Dan Ghea tidak akan memberitahu siapa-siapa tentang keberadaannya setelah ini.
"Ghe sudah selesai?" Tanya Lily yang juga baru keluar dari salah satu bilik di dalam toilet.
"Iya, sudah! Jawab Ghea tergagap seraya kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Ayo masuk ke ruang tunggu!" Aja Lily selanjutnya pada Ghea yang hanya mengangguk. Dua wanita itupun segera kembali ke ruang tunggu bandara, menyusul Juna dan Alsya yang sudah terlebih dulu duduk di sana.
"Kau tidak menghubungi keluargamu, Ghe?" Tanya Lily seraya menyodorkan ponselnya pada Ghea. Tadi Lily sempat melihat Ghea yang membuang kartu SIM dari ponselnya.
"Tidak, Ly! Aku ingin menenangkan diri dulu," tolak Ghea yang segera mengembalikan ponsel Lily.
Lily memilih untuk tak memaksa lagi dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
****
"Saya ingin pernikahan Alvin dan Tiara dipercepat saja, agar Alvin bisa menjaga Tiara sesuai janjinya pada mendiang ayah Tiara dan tidak berapling pada wanita lain," ucap Bu Rita yang merupakan ibu kandung dari Tiara.
Saat ini, Mami Viola dan Papi Alex memang sedang berada di dalam kamar perawatan Tiara dan semua anggota keluarga Tiara juga ada di sana.
Tadinya Mami Viola dan Papi Alex hanya ingin menjenguk Tiara. Namun yang terjadi, Bu Rita malah membahas tentang pernikahan Alvin dan Tiara dan minta untuk segera mempercepatnya.
"Bukankah akan lebih baik jika kita menunggu Tiara pulih dulu, Bu Rita?" Usul Papi Alex seraya mengeratkan dekapannya pada Mami Viola yang benar-benar keberatan dengan rencana pernikahan ini.
Alvin putranya satu-satunya dan harus menikah dengan Tiara, lalu menghabiskan seumur hidup untuk merawat Tiara.
Rasanya tak adil sekali!
"Iya, setelah Tiara pulih, saya mau pernikahan mereka secepatnya dilaksanakan!" Tukas Bu Rita tetap keras kepala.
Papi Alex tak mampu berkata-kata lagi, dan raut kekecewaan nampak jelas di wajah Mami Viola. Sementara Alvin juga hanya diam dan tak berbicara sepatah katapun.
Pemuda itu hanya duduk di samping ranjang perawatan Tiara dan menggenggam erat tangan Tiara, meskipun pikiran Alvin sedang memikirkan gadis lain saat ini.
Ghea!
Alvin tak berhenti memikirkan Ghea sejak kembali dari taman dan batin Alvin terus bertanya-tanya tentang hal penting yang hendak disampaikan oleh Ghea.
Ghea mau menyampaikan berita penting apa sebenarnya?
Kenapa Ghea tak mau menyampaikannya lewat telepon?
Apa ini ada hubungannya dengan malam saat Alvin dan Ghea sama-sama mabuk itu?
"Vin," panggil Tiara lirih yang sedari tadi juga hanya diam.
Alvin masih sibuk dengan lamunannya dan tak mendengar panggilan lirih Tiara.
"Alvin!" Tiara sedikit menyentak tangan Alvin hingga akhirnya pemuda itu kaget dan lamunannya buyar seketika.
"Apa?" Jawab Alvin tergagap.
"Kau melamun?"
"Tidak!" Kilah Alvin cepat.
"Aku hanya mengantuk," sambung Alvin lagi sedikit mencari alasan.
"Yaudah, nanti kalau mami dan papi kamu pulang, kamu ikut pulang saja, Vin! Toh kata dokter aku juga udah membaik dan besok udah boleh pulang," ujar Tiara memberikan saran untuk Alvin.
"Alvin!" Panggil Mami Viola seray memberikan kode pada Alvin agar menghampirinya.
"Ada apa, Mi?" Alvin buru-buru mendekat ke arah sang Mami.
"Kamu ikut pulang dulu nanti, dan tidak usah menemani Tiara malam ini. Sudah ada banyak anggota kekuarga Tiara yang menjaganya. Besok pagi kamu bisa datang lagi kesini," bisik Mami Viola yang sedikit merasa kesal pada ibunya Tiara.
Alvin menatap sejenak pada Tiara sebelu menjawab permintaan Mami Viola.
"Iya, Mi! Rencananya Alvin memang ingin pulang sore ini dan kembali lagi besok pagi, " jawab Alvin akhirnya sedikit berbisik.
"Saya memohon dengan sangat, Pak Alex! Agar pernikahan Alvin dan Tiara bisa cepat dilaksanakan. Tiara juga sudah bisa pulang besok," ucap bu Rita lagi sebelum Mami Viola dan Papi Alex berpamitan.
"Tentu saja, Bu Rita! Nanti saya akan membicarakan semuanya dengan Alvin dan dengan istri saya."
"Saya juga akan menghubungi Bu Rita lagi nanti. Yang terpenting Tiara pulih dulu," tutur Papi alex yang seolah malah memberikan harapan. Terang saja, hal itu semakin membuat Mami Viola berekspresi tidak senang.
"Kami pamit pulang dulu, Bu Rita! Semoga Tiara lekas sembuh dan lekas bisa pulang ke rumah," pamit Mami Viola akhir mengakhiri basa-basi Papi Alex yang tak selesai-selesai.
Alvin segera menghampiri Tiara dan tersenyum pada gadis tersebut.
"Aku pulang dulu," Alvin mengecup kening Tiara.
"Bye!" Alvin melambaikan tangan dan segera mengikuti Mami Viola dan Papi Alex yang sudah terlebih dahulu keluar dari kamar perawatan Tiara.
****
"Mami tak mengerti dengan jalan pikirannya Bu Rita yang terus saja memaksa Alvin untuk segera menikahi Tiara!"
"Alvin pasti akan menjaga Tiara, tapi tak harus menikahinya juga!" Mami Viola tak berhenti menggerutu sejak mobil Papi Alex meninggalkan rumah sakit.
"Tapi Alvin sudah berjanji pada mendiang ayahnya Tiara,,kalau ia akan menjaga dan menikahi Tiara, Vi! Jadi Bu Rita hanya menagih janji yang pernah Alvin ucapkan tersebut!" Sergah Papi Alex yang masih beruaha meredam emosi sang istri.
"Tapi seharusnya Bu Rita itu juga memikirkan tentang masa depan Alvin! Dan tidak egois seperti itu!"
"Kalau soal menjaga dan merawat, mereka juga punya lusinan maid di rumahnya yang bisa merawat Tiara! Jadi tidak usahlah sok-sokan menyuruh Alvin untuk segera menikahi Tiara demi bisa segera merawat Tiara!"
"Mami tidak ikhlas jika seumur hidup Alvin hanya akan dihabiskan untuk merawat Tiara, Pi! Alvin juga berhak menikah dengan wanita yang sempurna yang bisa memberikan Mami cucu!" Emosi Mami Viola semakin tak terkendali sekarang. Alvin yang duduk di belakang kemudi memilih diam dan tak menyahut.
Saat ini, pikiran Alvin juga sudah bercabang ke banyak masalah. Belum selesai masalah Ghea, sekarang sudah bertambah masalah Tiara.
"Mami tenang dulu, oke! Nanti kita akan memberikan pengertian pada Tiara setelah Alvin dan Tiara menikah," Papi Alex masih terus mencoba menenangkan sang istri.
"Jadi Alvin dan Tiara akan menikah dalam waktu dekat, Pi?" Alvin akhirnya angkat bicara.
"Kau sendiri yang sudah berjanji pada mendiang Ayah Tiara, Vin! Jadi terima saja!" Jawab Papi Alex ketus.
Alvin tak bertanya atau menyahut lagi.
Ya,
Semua memang salah Alvin yang sangat mudah mengobral janji pada semua orang.
Pada Ghea, pada Tiara, pada mendiang ayah Tiara, dan sekarang semuanya harus Alvin pertanggungjawabkan.
Mobil yang membawa keluarga Sanjaya itu akhirnya sampai di ruman kecil mereka.
Mami Viola turun paling duluan dan membanting pintu mobil, lalu menghilang dengan cepat masuk ke dalam rumah.
Sementara Alvin yang hendak keluar dari mobilnya, mencari-cari ponselnya yang tidak berada di saku.
"Vin, kau cari apa?" Tanya Papi Alex yang melihat sang putra tampak kebingungan.
"Ponsel Alvin, Pi! Papi lihat, nggak?" Jawab Alvin yang masih mencari-cari di dalam mobil.
"Nggak lihat sejak tadi. Mungkin kamu titipin di tas Mami." Papi Alex menerka-nerka.
"Masa, sih?" Alvin garuk-garuk kepala dan langsung menyusul Mami Viola masuk ke dalam rumah.
Alvin melihat tas sang mami yang tergeletak di sofa dan segera memeriksanya. Namun tetap saja, Alvin tak menemukan ponselnya.
Dimana ponsel Alvin?
"Papi coba hubungi ponselmu masih tersambung, Vin! Tapi tidak ada yang mengangkat," Lapor Papi Alex yang sudah menyusul masuk ke dalam rumah.
"Bisa pinjam ponsel Papi?"
Papi Alex segera memberikan ponselnya pada Alvin.
Alvin menghubungi nomor Tiara dan agak lama sampai akhirnya telepon dari Alvin diangkat.
"Halo, Om Alex,"
Rupanya yang mengangkat kakaknya Tiara.
"Ini Alvin, Kak!" Ucap Alvin cepat.
"Oh, Alvin. Tiara sudah tidur, Vin. Ada apa, ya?"
"Maaf, Kak! Alvin cuma mau tanya, apa ponsel Alvin tertinggal disana?" Tanya Alvin to the point.
"Sebentar."
Hening sejenak di seberang telepon, sepertinya Kakak Tiara sedang mencari keberadaan ponsel Alvin.
"Tidak ada, Vin,"
Jawab Kakak Tiara pada akhirnya.
"Oh, yaudah, Kak! Mungkin Alvin lupa taruh. Alvin tutup dulu teleponnya." Pamit Alvin akhirnya.
Alvin mencoba menghubungi ponselnya sekali lagi, dan kali ini sudah tidak aktif.
Dimana ponsel Alvin?
.
.
.
Mbuh gak eruh
Sekedar mengingatkan kalau Mami Viola itu masih satu klan dengan Papa Hans Abraham yang emosional. (Yaiyalah! Adek kandungnya 😑)
Baiklah, keluarga mereka memang hobi mencak-mencak.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
terimakasih author 👍👍👍😍😍😍😍