Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 21
Seminggu berlalu dengan kegiatan monoton Amelia. Setelah kejadian dia dan Hanan yang berselisih perkara gantungan kunci disusul dia yang tak sengaja memergoki kakaknya dan pria itu dalam posisi intim, gadis itu berusaha menghindari pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
Amelia melakukan tugasnya setiap hari dan setelah selesai dia akan mengurung diri di kamar, menunggu sampai Rosa memanggilnya jika ada sesuatu yang bisa dia lakukan.
Hari itu menjadi hari yang suram bagi Amelia, itu karena Rosa bilang Jetro akan bergabung dengan mereka untuk makan malam. Dari awal keberadaan Jetro bagai noda membandel di kehidupan Amelia, melihatnya selalu berhasil membuat asam lambung naik.
“Mbak, kenapa tidak mengajak pria itu makan di luar saja? Memangnya tidak bosan setiap hari memakan masakanku?” Amelia benar-benar berharap kakaknya akan berubah pikiran.
“Eh, justru itu. Masakanmu adalah yang terbaik. Aku ingin Jetro merasakan juga betapa enaknya masakan adikku.”
Gagal sudah.
Bahu Amelia tampak lemas. Entah dengan cara apa lagi dia harus menjungkirbalikkan rencana kakaknya. Apakah dia harus mengacau agar makan malam itu segera berakhir. Namun, jika dia melakukannya, justru akan mengundang kemarahan lain dari Hanan sang pemilik rumah.
Amelia hanya bisa pasrah dan saat malam menjelang, dia mulai sibuk di dapur memasak makanan terbaik yang dia bisa agar pria psikopat itu tak memiliki celah untuk mengkritiknya apa lagi sampai membuatnya terlibat masalah.
Gadis itu benar-benar melakukan semuanya dengan hati-hati hingga membuat Rosa terkekeh ringan.
“Kenapa kamu tampak begitu gugup? Masakanmu selalu yang terbaik. Lagi pula jika nanti makanannya tidak sesuai selera Jetro, dia tidak akan mengomentari kasar. Dia selalu menjadi pria yang lembut.”
“Jangan coba-coba menghiburku.”
Amelia ingin meraung sekarang juga.
Gadis itu tak menanggapi kalimat kakaknya lebih jauh dan fokus pada sayuran di tangannya yang harus dipotong-potong.
Satu per satu makanan mulai tersaji tepat jam tujuh malam. Saat Amelia keluar dari dapur bersama Rosa, dia bisa melihat Hanan dan Jetro yang bercengkerama di ruang tamu.
“Aku tidak sabar mencicipi masakan adikmu.” Jetro tampak semringah menatap Rosa.
“Dan aku tidak sabar ingin menyingkirkanmu.”
Itu hanyalah keinginan terpendam di sisi tergelap hati Amelia yang tak akan pernah dia realisasikan. Bahkan sebelum dia merencanakannya, Jetro mungkin akan lebih dulu memotong garis kehidupannya.
“Tentu saja. Kamu tidak akan kecewa, aku jamin itu.” Rosa tampak percaya diri, meski bukan dia yang memasak, tapi sebagai orang yang selalu mencicipi masakan Amelia, rasanya tak akan pernah gagal.
Setelah berkali-kali menguatkan diri, Amelia akhirnya bergabung untuk makan malam yang terasa seperti sidang penghakiman. Awalnya dia mencoba mencari banyak alasan agar bisa kembali ke kamarnya, tapi Rosa tak membiarkannya lolos begitu saja.
“Baiklah, mari kita mulai makan malamnya.”
Setelah berbicara, Rosa tak menahan diri lagi untuk menyendok beberapa lauk di meja yang kali ini lebih banyak dari sebelumnya.
Ruang makan diselimuti keheningan, menyisakan denting sendok yang beradu dengan piring. Untuk sesaat mereka fokus dengan makanan masing-masing. Amelia sendiri hanya berpura-pura menyendok makanannya, pada dasarnya dia sama sekali tak memiliki nafsu untuk itu.
“Bagaimana rasanya, Je? Enak, ‘kan.” Rosa menatap penuh harap pada temannya itu.
“Enak, tidak berlebihan jika kamu terus memuji masakan adikmu. Rasanya bisa disandingkan dengan buatan chef bintang lima.” Jetro mengangguk pelan.
Reaksi Jetro benar-benar membuat Rosa senang. “Lihat, ‘kan, Jetro menyukainya. Seperti kataku, masakanmu tidak pernah gagal.”
Amelia menaikkan sedikit pandangannya dan berdehem pelan. Dia benar-benar sedang memaksakan diri sekarang ini.
Persetan dengan reaksi pria itu. Dia ingin segera pergi dari ruang makan ini.
“Ada apa memangnya, Sa?”
Seolah mengerti keresahan Amelia, Jetro justru bertanya dan memancing pembahasan yang dihindari gadis itu.
“Dia terlalu gugup saat memasak tadi. Sepertinya karena selama ini Amel hanya memasak untuk kami. Jadi, saat tahu orang lain akan memakan masakannya, dia sedikit khawatir hasil kerja kerasnya tidak akan sesuai seleramu.”
“Aku tidak menyangka adikmu akan segugup itu, tapi ini memang enak.” Jetro tersenyum menatap Amelia yang mengalihkan langsung pandangannya.
Keduanya terlibat percakapan yang begitu hangat, menyisakan Amelia dan Hanan yang menyimak pembicaraan mereka.
Suasana yang terasa hangat itu mendadak sunyi saat Rosa tiba-tiba terdiam sembari memegang tenggorokannya. Wanita itu kesulitan bernapas hingga nyaris limbung dari kursinya.
“Sa!” Hanan dan Jetro berdiri bersamaan.
“Mbak?” Amelia tak kalah panik, tapi melihat kedua pria itu yang berada di dekat Rosa membuatnya tak berani mendekat.
Ketiganya dilanda kepanikan yang sama. Hanan sigap menggendong istrinya itu. Tanpa pikir panjang membawanya ke rumah sakit.
Amelia masih tak tahu apa yang terjadi padahal sedari tadi kakaknya itu baik-baik saja. Dia berusaha menggali ingatannya tentang apa yang salah. Apakah masakannya menjadi penyebab semua ini.
Amelia mati-matian mengingat bahan apa yang digunakan untuk makan malam kali ini, tapi dia telah memeriksa dan memastikan berkali-kali semua bahan aman. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah menunggu pemeriksaan di rumah sakit, tapi gadis itu berharap semoga saja ini bukan karenanya.
Tangan gadis itu mengepal erat, berusaha mempertahankan kewarasannya hingga tiba di rumah sakit.
Sampai Rosa selesai ditangani, tak ada siapa pun yang bersuara, terutama Amelia yang sama sekali tak memiliki keberanian untuk sekedar menaikkan pandangannya. Dia duduk jauh dari kedua pria yang senantiasa menanti di depan ruangan kakaknya.
Hatinya merasa was-was akan hasil pemeriksaan kakaknya.
“Dengan keluarga pasien?”
Ketiga orang yang menunggu itu langsung berdiri dan menunggu penjelasan sang dokter.
“Saya suaminya, Dok.” Hanan maju pertama kali.
“Dari hasil pemeriksaan, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan makanan yang dikonsumsi oleh Nyonya Rosa. Seperti daging yang belum matang sempurna yang berpengaruh pada fungsi hatinya Untuk lebih lengkapnya kami akan menjelaskannya setelah hasil pemeriksaan sudah keluar sepenuhnya.”
Amelia meremas jarinya satu sama lain. Dia yakin bahwa masakannya sudah aman dan tidak akan menimbulkan hal fatal bagi kakaknya. Dia sudah memastikan itu berkali-kali dan rasanya pun tak ada yang salah.
“Sepertinya kita punya pelakunya di sini. Rosa hanya mengonsumsi masakanmu malam ini. Apa kau punya penjelasan tentang ini?” Jetro langsung menyasar pada Amelia.
Gadis itu menaikkan pandangannya dan dihadapkan dengan tatapan intimidasi dari dua pria di depannya.
“Aku sudah memastikan bahan makanannya aman dan prosesnya juga sesuai dengan yang seharusnya.” Amelia mulai membela diri.
“Tapi jelas-jelas malam ini Rosa hanya makan masakanmu. Bagaimana kami bisa mempercayaimu saat kau penuh dengan iri hati dengan kakakmu sendiri.” Jetro terus memojokkan Amelia.
“Aku benar-benar tidak melakukannya.” Tangan Amelia bergetar menahan gejolak emosi di dalam hatinya. Bahkan sekedar menaikkan suaranya saat emosinya tak stabil dia tak mampu.
“Bagaimana pun kau mengelak, bukti sudah ada di depan mata. Kau mencoba mencelakai Rosa lagi dan lagi. Kau ini benar-benar manusia atau bukan?” Hanan tidak tahan dan ikut menghakimi Amelia hanya bermodal perasaan bencinya selama ini.
“Sudah kubilang aku tidak melakukannya. Aku tidak punya alasan untuk itu.”
“Tidak punya alasan? Kau memiliki lebih banyak alasan untuk itu. Dengan semua yang dimiliki oleh Rosa, tapi kau tidak memilikinya—alasan untuk mencelakai kakakmu sendiri.”
“Cukup, apa kamu bodoh? Aku bahkan bisa membunuhnya sejak dulu jika aku menginginkan kakakku sendiri mati.”
Suara tamparan menggema di lorong rumah sakit tepat setelah Amelia menyelesaikan kalimatnya.