Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.
Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Langkah yang Dijaga Hati
Pagi itu, udara masih segar saat Dika bersiap berangkat lagi ke kediaman Tuan Suryo. Sebelum melangkah keluar gerbang, ia sempat menoleh ke arah jendela kamar Kirana yang masih tertutup, seolah berharap bisa melihatnya sekilas. Namun ia segera menggeleng pelan, menenangkan hatinya — tugas yang harus diselesaikan hari ini membutuhkan pikiran yang jernih dan fokus.
Sesampainya di tempat tujuan, Dika langsung melanjutkan pengamatannya. Ia membawa peta sederhana dan sekantong kecil tanah yang diambil dari beberapa titik berbeda. Di bawah naungan pohon rindang, ia duduk dan mulai mencatat hasil pengamatan, sesekali membalikkan telapak tangan untuk merasakan kelembapan tanah, atau menatap ke langit mengira-ngira arah angin dan curah hujan yang biasanya turun di daerah itu.
Belum lama ia bekerja, datanglah seorang pria paruh baya yang merupakan kepala kebun di tempat itu. Namanya Pak Rasyid. Wajahnya terlihat ramah, namun ada pandangan yang sedikit meremehkan saat melihat Dika yang masih muda dan berpakaian sederhana.
“Jadi, kamu orang yang dikirim keluarga Wijaya untuk mengatur kebun ini?” tanyanya sambil berdiri menyilang dada. “Sudah berapa lama kamu menangani lahan seluas ini? Jangan sampai rencanamu hanya teori di atas kertas saja, tapi tidak bisa diterapkan di lapangan.”
Dika tidak tersinggung mendengar nada bicara itu. Ia menoleh dengan tenang, lalu tersenyum sopan. “Saya mengerti kekhawatiran Bapak. Memang pengalaman saya belum sebanyak Bapak yang sudah bertahun-tahun mengurus kebun ini. Itu sebabnya saya ingin belajar banyak dari Bapak juga, bukan hanya memberi perintah. Saya hanya ingin menyusun rencana yang sesuai dengan kondisi tanah dan airnya, supaya hasilnya lebih baik tanpa merusak apa yang sudah ada.”
Jawaban yang tenang dan tidak sombong itu membuat Pak Rasyid sedikit terkejut. Ia terbiasa dengan orang-orang yang datang dengan sikap angkuh hanya karena membawa nama besar. “Baiklah, tunjukkan saja apa yang sudah kamu temukan. Kalau masuk akal, saya akan bantu sepenuhnya.”
Sepanjang hari itu, Dika bekerja bersama Pak Rasyid. Ia menjelaskan satu per satu alasannya: mengapa bagian timur lebih cocok untuk tanaman buah yang butuh banyak sinar matahari, mengapa saluran air harus dipindahkan sedikit ke arah selatan agar tidak menggenangi akar pohon, dan mengapa sebaiknya membiarkan beberapa semak liar di bagian pinggir sebagai penahan tanah agar tidak longsor saat hujan lebat.
Semua penjelasannya masuk akal, didasari pengamatan langsung, bukan hanya dugaan semata. Lama-kelamaan sikap Pak Rasyid berubah menjadi hormat dan percaya.
Sore harinya, saat Dika kembali ke rumah Wijaya, langkahnya terasa ringan namun pikirannya masih teringat pada kejadian hari itu. Ia sadar: kepercayaan tidak hanya didapat dari satu keluarga saja, tapi harus dibuktikan lagi di hadapan orang baru yang belum mengenal karakternya.
Begitu masuk ke halaman, ia melihat Kirana sudah menunggu di teras, memegang sebuah payung kecil seolah bersiap mengantarnya ke ruang dalam jika hujan turun.
“Bagaimana hari ini? Apakah semuanya berjalan lancar?” tanyanya segera, matanya menatap wajah Dika seolah ingin membaca apakah ada kesulitan yang dihadapi.
“Berjalan baik, meski di awal sempat diragukan karena usia dan penampilan saya,” jawab Dika sambil tersenyum tipis. “Tapi saya sadar, itu hal yang wajar. Orang tidak akan percaya hanya dengan mendengar nama baik saja, tapi harus melihat bukti nyata dari apa yang kita kerjakan.”
Kirana mengangguk mengerti, lalu mengajaknya duduk sejenak di bangku teras. “Memang begitu. Jalan yang kita pilih ini memang terjal — bukan hanya karena harus bekerja keras, tapi juga karena harus terus membuktikan diri kepada orang yang baru kita temui. Tapi lihatlah, setiap kali kamu membuktikan ketulusan dan kejujuran, cahayanya makin terlihat, bukan?”
Suasana sore itu terasa tenang, hanya terdengar suara burung yang pulang ke sarangnya dan angin yang berhembus lembut. Dika menatap wajah Kirana, lalu berkata dengan suara yang lebih lembut dari biasanya:
“Kalau saja saya tidak punya prinsip yang saya pegang, mungkin saya sudah tergelincir di tengah jalan. Tapi ada satu hal yang membuat saya semakin kuat untuk terus berjalan lurus — selain untuk ibu dan amanah yang diberikan, saya juga ingin menjadi orang yang pantas untuk bisa berdiri di sampingmu, meski hanya dalam pandangan yang jujur dan tulus.”
Wajah Kirana memerah samar, namun ia tidak memalingkan wajah. Sebaliknya, pandangannya menjadi lebih lembut dan penuh keyakinan.
“Dika, dengarkan saya,” ucapnya pelan namun tegas. “Bagi saya, pantas atau tidaknya seseorang tidak dilihat dari seberapa luas tanah yang dimiliki atau seberapa banyak emas yang disimpan. Saya melihatnya dari hatinya, dari caranya berjalan saat menghadapi kesulitan, dan dari ketulusan yang tidak pernah berubah meski sudah dipercaya banyak orang. Dan selama kamu tetap menjadi dirimu sendiri seperti ini… maka tidak ada jarak yang terlalu jauh untuk dilalui.”
Kata-kata itu terasa seperti air sejuk yang menyegarkan hati Dika yang kadang merasa terbebani oleh perbedaan kedudukan mereka. Ia merasa didukung, bukan hanya sebagai pekerja yang bisa diandalkan, tapi sebagai manusia yang dihargai keberadaannya.
Malam itu, saat menulis di buku catatannya, ia menuliskan satu kalimat yang menjadi pengingat bagi dirinya sendiri:
“Jalan terjal membuat kaki lebih kuat, dan ujian yang datang membuat hati lebih jernih. Selama cahaya ketulusan tetap menyala, dan ada keyakinan yang sama di hati orang yang kita sayangi, maka langkah apa pun akan terasa lebih ringan untuk ditempuh.”
Namun, di balik ketenangan itu, jauh di luar sana, kabar tentang keberhasilan Dika dan kedekatannya dengan Kirana mulai terdengar oleh pihak-pihak yang selama ini menganggap kehadirannya sebagai gangguan. Tanpa mereka sadari, tantangan baru sedang bersiap menyapa, kali ini datang dari arah yang tidak mereka duga