Alisya Silvia, anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia baru lulus dari universitas swasta di Jakarta dan ia berencana akan bekerja di luar kota. Tapi entah ayahnya akan menyetujuinya atau tidak.
Semua di luar dugaannya, ketika Alisya memberitahukan keinginan ini pada ayahnya, beliau tidak meresponnya sama sekali. Beliau malah ingin menjodohkannya dengan laki-laki yang tak pernah ia maupun keluarganya kenal sebelumnya. Dan itu hanya karena perjanjian di masa lalu, perjanjian masa lalu mendiang Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Tidur Baru
"Mas, bisa mampir dulu ke pasar tradisional ? Aku mau membeli bahan makanan, tidak ada stok apapun di rumah." tanya Alisya saat mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Herman.
"Kenapa tidak ke supermarket saja, kan lebih terjamin kwalitasnya." Fino menjawab tanpa menoleh karena ia sedang fokus mengemudi.
"Aku sudah terbiasa belanja ke pasar tradisional, sudah punya langganan juga di sana, kalau kwalitas sama saja kok mas."
"Oh begitu, ya sudah terserah kamu saja."
Kemudian Fino melajukan mobilnya ke pasar tradisional yang tidak jauh dari rumah mertuanya.
***
Sesampainya di pasar, Fino memarkirkan mobilnya, lalu mereka turun dari mobil, namun Fino tidak mau ikut ke dalam pasar bersama Alisya, ia memilih diam di parkiran.
"Kamu beneran nggak mau ikut ke dalam mas ?" tanya Alisya lagi saat hendak berjalan meninggalkan Fino.
"Iya." menggeleng, Fino tertangkap memberi pandangan jijik saat melihat ke dalam pasar yang kotor dan becek.
Fino memang baru pertama kali menginjakkan kaki di pasar tradisional seperti ini, terlihat dari ekspresi wajahnya yang enggan sekali masuk ke dalam.
Akhirnya Alisya masuk sendiri dan mulai belanja bahan makanan. Mulai dari ayam, daging, ikan dan sejenisnya, serta tak lupa aku membeli beberapa jenis sayuran dan bumbu-bumbunya.
Setelah dirasa cukup untuk stok satu minggu, Alisya bergegas kembali ke parkiran. Kedua tangannya penuh dengan kantong belanjaan.
"Lumayan berat juga." gumam Alisya.
Sesampainya di depan, Fino melihat Alisya kesulitan berjalan karena kantong belanjaan yang penuh di kedua tangannya, akhirnya Fino menghampiri Alisya dan mengambil alih semua kantong belanjaannya.
"Maaf Sya, aku nggak tahu kalau ternyata kamu belanja sebanyak ini ? Kalau tahu, tadi aku paksain ikut masuk." ucap Fino setelah mereka masuk ke dalam mobil. Merasa bersalah karena membiarkan Alisya menenteng banyak sekali kantong belanjaan.
"Tidak apa-apa mas, aku sudah biasa kok." tersenyum. Walaupun sebenarnya Alisya merasa kesal juga, karena tadi ia benar-benar kesulitan untuk berjalan.
"Lain kali aku akan coba ikut masuk, biar kamu nggak perlu menenteng belanjaan sebanyak tadi." Alisya mengangguk tersenyum.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Herman. Hanya membutuhkan waktu 15 menit, akhirnya mereka sampai di rumah Herman.
***
Kemudian Alisya membawa masuk belanjaan tadi dan memasukkannya ke dalam kulkas. Setelah itu membantu Fino membawa masuk barang-barang miliknya.
Saat membuka pintu kamar hendak menyimpan barang-barang milik Fino, Alisya dikejutkan dengan isi kamarnya yang sekarang. Kamarnya terlihat lebih mewah dengan adanya tempat tidur baru yang ukurannya sedikit lebih besar dari yang sebelumnya. Bukan hanya tempat tidur tapi almari miliknya juga diganti dengan yang lebih bagus, ukurannya sama namun tidak terlalu memakan tempat karena model pintunya digeser.
Alisya mengernyitkan dahi.
Jadi ternyata ini alasan mas Fino meminjam kunci rumah tadi, kenapa tidak bilang-bilang dulu sih ? Memang sih terlihat lebih mewah tapi jadi lebih sesak juga sepertinya.
"Apa kamu suka dengan suasana kamar barunya ?" tanya Fino, mendahului Alisya masuk ke dalam kamar.
Ehm..
Melihat sudah rapi begini, gimana bisa menolaknya ? nggak baik juga kan menolak rezeki.
"Kenapa Sya ? Kamu nggak suka yah ? Kalau nggak suka nanti aku kembalikan lagi seperti semula."
"Bukan begitu mas, aku suka, tapi sepertinya ini sedikit berlebihan."
Sedikit lebih sesak juga sepertinya.
"Tidak berlebihan kok, aku sengaja mengganti tempat tidur yang ukurannya lebih besar agar kamu bisa tidur lebih nyaman di sampingku. Terus soal almari, baju aku kan kebanyakan setelan kemeja dan jas, otomatis harus digantung, makanya aku menggantinya dengan model seperti ini." membuka almari, menunjukkan isinya, memperlihatkan banyak tempat untuk menggantung kemeja dan jas.
"Emm begitu, iya mas aku suka sama kamarnya, kelihatan lebih mewah." tersenyum ceria, padahal dalam hati masih sebal karena kejutan yang tidak sesuai ekspektasi. "Terimakasih ya mas."
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Aku jadi ikut senang mendengarnya." Fino membelai rambut Alisya, lalu mencium puncak kepalanya lembut. Alisya tersenyum malu.
Setelah itu Alisya merapikan barang-barang milik Fino. Memasukkan pakaiannya ke dalam almari, menyusunnya dengan rapi, agar memudahkannya juga dalam setiap kali menyiapkan baju untuk Fino. Setelah selesai ia hendak pamit pada Fino untuk pergi ke dapur untuk memasak, karena sebentar lagi Herman pasti pulang.
"Mas, ini sudah selesai aku rapihkan, aku mau ke ... " Alisya tidak melanjutkan kalimatnya, karena saat ia berbalik iq melihat Fino sudah terlelap di tempat tidur barunya.
Hem, sepertinya kasur baru membuatnya lebih nyaman, baru sebentar tidak diajak ngobrol saja sudah terlelap begitu, mendengkur pula. hihi.
Alisya melepas sepatu yang dikenakan Fino, ia melakukannya dengan perlahan agar tidak mengganggu tidurnya.
"Sebaiknya aku segera ke dapur dan memasak, sebelum ayah pulang dan sebelum mas Fino bangun." ucap Alisya pelan.
Alisya bergegas pergi ke dapur untuk memasak. Sebelum mulai memasak ia membersihkan ayam, daging dan ikan yang tadi ia dibeli, jadi mempersingkat waktu memasak di lain hari.
Setelah selesai memasak, ia pergi mandi terlebih dahulu.
Mas Fino aku bangunkan nanti saja deh, lagian ayah juga belum pulang, sekalian menunggu ayah juga.