Cerita di bumbui 21++. Harap bijak dalam membaca❤
Albian Yunanda, terlahir dengan segala kesempurnaan dan kekayaanya, namun tidak prihal asmara. Sebab, lelaki berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit, bahwa Aluvi Tiana alias Vivi wanita yang sangat dirinya cintai justru tega berkhianat dengan menjalin hal tak terpuji dengan Narendra, sahabat Bian sendiri. Vivi rela memberikan seluruh jiwa dan raganya demi Rendra sementara statusnya sebagai tunangan Bian.
Hal itulah yang menimbulkan luka yang amat dahsyatnya dan memakasa Bian harus membalas rasa dan luka hati yang kini dirinya rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan Bian Dan Senyum Vivi
🕊
Kecewa sedih marah dan benci, kini menjadi satu memenuhi perasaan Bian. Pria tampan itu terkejut luar biasa saat mendengar pengakuan Amira, sebab wanita paruh baya itu menyimpan rahasia tentang hidupnya sekian lama.
Bian duduk di lataran gedung rumah sakit dengan menundukan kepalanya, bagi Bian air mata yang terjatuh haram hukumnya, namun sudah hampir dua kali dirinya menangis lirih di dalam hati, hanya beberapa tetes air mata saja cukup menggambarkan betapa sakitnya hati Bian. Pria tampan itu pernah kecewa luar biasa, saat mendapati Vivi rela menyerahakan kehormatanya kepada Rendra yang tak lain sahabatnya sendiri, dan kini dirinya kembali terluka saat mendengar penjelasan Amira tentang hidupnya. Penjelasan bahwa dirinya kehilangan kedua orang tuanya karena kecerobohan suami wanita yang sangat di hormati selama hidupnya yang tak lain ayah kandung Vivi.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa......
Teriaknya menggema dari atas gedung rumah sakit dimana dirinya kini mendudukan tubuh.
"Bunuh diri," gumanya dalam hati.
Bian mengingat ucapanya kepada Vivi tadi.
"Ohhh.. Tentu tak akan pernah terjadi, aku belum ingin mati sebelum mematahkan kedua kaki Rendra dengan tanganku sendiri," gumamnya lirih.
Bian memegang dadanya yang terasa sesak luar biasa.
"Tahan... Tahan, jangan menangis Bian," pria tampan itu menenangkan dirinya sendiri.
Di tatapnya langit yang terlihat indah malam itu, dengan kerlap kerlip Bintang yang menambah pesona indahnya langit malam.
"Wooooooy Bintang.... Kenapa kau selalu bersinar? rasanya aku begitu iri denganmu," ucapnya sendu.
Ucapan demi ucapan, harapan demi harapan dirinya lontarkan. Bahkan kata-kata itu terdengar antara curhat marah atau pun kecewa.
"Ma... Pa.... Apakah dari atas sana kalian memandangiku, apa kalian di atas sana turut berduka atas ke hancuranku, apa kalian melihat betapa sakitnya hati dan batinku," gumamnya lagi, lirih benar-benar lirih bahkan nyaris tak terdengar.
Sejak tadi, ada sepasang mata yang menyaksikan ke marahan Bian, namun tak mendekat. Amira membiarkan anak muda yang sangat dirinya sayangi itu meluapakan kekesalan dan kekecewaanya.
"Semoga hatimu lebih lega, dan kau bisa menerima kenyataan yang memang menyakitkan," batin Amira.
Melihat Bian tak akan bunuh diri membuat Amira lega. Wanita paruh baya itu paham, Bian bukan orang yang mudah menyerah karena keadaan, Amira mundur perlahan dan menjahui keberadaan Bian, membiarkan anak muda itu sendiri dulu, memang jalan terbaik.
🕊
"Haaaaaaah....!" Bian membuang nafas kasar.
Sorot matanya seketika saja tertuju pada sosok pria yang baru saja turun dari motor. Gerak gerik pria itu cukup mencurigakan, bahkan Bian seperti mengenali motor yang di gunakan pria itu. Bukan hanya gerak geriknya, pakaian serba hitam di lengkapi topi dan masker penutup wajah membuat Bian kian curiga. Posisinya yang kini ada di lantai atas membuatnya leluasa menyaksikan gerak gerik orang tersebut.
"Hmmm... Kenapa aku mengenali motor yang di gunakanya, sepertinya tak asing," ucap Bian lirih. "Aaah, sudahlah, orang yang memiliki motor gede seperti itu banyak sekali, kenapa juga aku harus curiga," tambah Bian lagi, berusaha menepis sesuatu yang mangganjal di pikiranya kini.
Bian beranjak dari duduknya lalu membawa langkahnya menuju ke tempat sang istri berada.
Pelan-pelan, Bian membuka pintu dan memastikan siapa yang ada di dalam sana.
"Apakah Vivi sendiri, atau ada mama bersamanya?" tanya dalam hati.
Senyum terpancar dari wajah Amira dan Vivi saat mendapati Bian kembali dan masuk ke dalam ruangan istrinya di rawat.
"Ma, bisakah tinggalkan kami berdua saja..!" pinta Bian tanpa ragu.
"Baiklah, mama keluar," jawab Amira datar dan segera beranjak pergi.
Amira menepuk pelan bahu pria muda itu. Karena bagitulah Amira selama ini, saat Bian sedih atau berada dalam tekanan, dirinya akan menepuk bahu pelan pria muda tersebut.
"Kau hebat dan kau kuat, kau bukan orang lemah dan hatimu terlalu baik. Marahlah jika kau ingin marah, tapi jangan benci mama!" bisik Amira pelan dan segera pergi dari hadapan Vivi dan Bian.
"Istirahalah, Bi...! Kau lelah dan sekarang sudah jam 3 pagi, kau belum istirahat sama sekali," seru Vivi pada seseorang yang berstatus suaminya itu.
Bian hanya diam, tak ada senyum apa lagi jawaban, dirinya segera duduk di samping Vivi dan menatap dalam-dalam wanita yang amat di cintai sekaligus dirinya benci.
"Kenapa kau tak jujur kepadaku, dan menceritakan semua sejujur mungkin, sakit pasti, tapi setidaknya aku tak hancur dua kali, hancur karena pengkhiantanmu yang berusaha menyimpan rahasia yang kau dan mamamu sembunyikan, dan kenyataanya rahasia itu tetap terungkap dan aku tetap hancur," ujar Bian dengan sorot mata yang kian tajam.
Vivi hanya membisu, tak ada jawaban atas pertanyaan itu.
"Apa kau ingin menjadi pembohong seumur hidupmu..?!" cetus Bian lagi.
Vivi tersenyum, sebab, lagi-lagi memang tak ada jawaban atas semua pertanyaan Bian.
Melihat senyum itu membuat Bian semakin geram, dirinya meraih tangan Vivi dan mengenggamnya sangat erat dan begitu erat.
Tapi Vivi tetap tersenyum.
Bian kian mengeratkan genggamanya, bahkan tanganya sediri sudah terasa begitu sakit.
Namun Vivi tetap tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum...?! Bian heran seraya terus menggenggam erat tangan sang istri.
"Sakit karena cengkramanmu, tak lebih sakit dari apa yang kau rasakan saat ini. Genggamlah sampai kau puas, aku tak akan mengelaknya," ujar si cantik.
"Haaah....!"
Secara spontan Bian melepaskan cengkramanya. Ucapan Vivi membuatnya tak berdaya.
🌷
🌷
🌷
🌹Semoga betah ya di karya ambyarku yang masih banyak kekuranganya❤.
🍌Terima kasih🍌
.
🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊
kalo bisa coba di ubah jgn kasar SM wanita.
hmm cinta itu bukan hanya sekadar aku dan kamu namun bagaimana caranya agar aku dan kamu menjadi kita, bagaimana caranya agar aku dan kamu bukan lagi 2 melainkan 1, dan aku dan kamu apa lagi kak 😂😂😂😂😭😂
aku dan kamu dan kita selamanya gitu wae ya 🏃♀🏃♀
gak balas komen ini sombong
🛴😂💨💨💨💨