NovelToon NovelToon
ALEXA ● Blood Of Love

ALEXA ● Blood Of Love

Status: tamat
Genre:Manusia Serigala / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Penyeberangan Dunia Lain / Tamat
Popularitas:5.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Margaret R

🛑 COBA BACA DULU 10 PART jamin nagih 😁😁😁

Karena ancaman kedatangan Iblis di Blood Moon. Alexa Aegis, putri pertama klan Penyihir harus merelakan dirinya menikahi Alexander Ostrander, pertemuan pertama mereka tidaklah meninggalkan kesan baik.

Sementara dia lebih bisa berteman dengan Ahiga, putra kedua dari Kekuatan Warewolf yang ikut bergabung. Alexander yang asing baginya tiba-tiba berada di didekatnya sepanjang waktu. Sementara ternyata dalam klannya sendiri dia punya begitu banyak wanita yang siap menumpahkan darah satu sama lain

Akankah cinta bisa menemui mereka.

🌸

Ini adalah The Light Protector Witch Series
Terdiri dari 7 Book
BOOK 1 . ALEXA ● Blood Of Love
BOOK 2 . AURORA ● The Blood Moon
BOOK 3 . SOFIA ● The Cursed Diamond
BOOK 4 . APOCALYPSE ● The Faith of Love
BOOK 5 . NEW ERA ● The Next Leader
BOOK 6 . CARA ● Rewriting The Star
BOOK 7 . ALENA ● The Dragon Hatcher (On going)

🛑Book 2+3+4 ada di AURORA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34. Trauma

Aku membuka mataku. Aku meringkuk didalam selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Seluruh tubuhku terasa sakit. Dan kepalaku masih terasa berat. Kulihat jam sudah jam 7 malam.

Bayangan apa yang dilakukan Leonard terhadap tubuhku membuatku mengigil, marah dan ketakutan. Memaksaku memejamkan mata kembali dan  merasakan diriku sangat malu, benci, marah, kesal bercampur satu saat mengingat sentuhannya yang membuat tubuhku tak bisa melawannya dan dorongan primitif kepuasan yang timbul membuatku jijik pada diriku sendiri.

 

Aku tak tahu perasaan yang kini kurasakan, rasanya kebas, air mataku mengalir lagi dan aku terisak begitu hebat berjam-jam kemudian, aku menangis sampai air mataku kering dan aku tak bisa menangis lagi. Aku sangat membenci diriku, mengutuki kebodohanku sendiri,  yang membiarkan diriku lengah akan bahaya. Dan aku menerima akibatnya sekarang.

 

Aku hanya berbaring dalam ketelanjanganku. Aku ingin mati saja, tapi darahku mengelegak ketika mengingat wajah Leonard bangsat itu. Aku tidak akan mati sebelum bisa membuatnya memohon dibawah kakiku. Aku tidak bisa bergerak, membiarkan diriku tenggelam dalam tangis panjang dikamar sepi gelap ini.

 

Beberapa telepon masuk dari Daniel dan Alexander tak kuperdulikan. Aku belum bisa bicara dengan siapapun. Bahkan aku tak bisa menghadapi diriku sendiri. Aku termenung lama kemudian. Berpikir apa yang telah terjadi. Dan bagaimana aku sekarang paham apa perkataan Alexander padaku.

 

Kau adalah sumber kekuatanku, tapi kau juga adalah kelemahan terbesarku.

 

Disamping meja nakas tempat tidur aku menemukan sebuah surat. Darahku langsung mendidih begitu membaca isinya.

 

Alexa sayang ...

Kutinggalkan kau disini, aku harus mengucapkan terima kasih untuk kebersamaan kita yang berkesan.

Jika kau  mengucapkan satu katapun kepada Alexander tentang kejadian ini. Videomu ini akan menyebar keseluruh dunia. Menghancurkan semua orang yang kau kenal, termasuk bisnis keluargamu dan Alexander calon suamimu.

Jadi demi kebaikanmu sendiri.

Turuti kata-kataku. Aku akan merahasiakan video ini. Kau ingin melihatnya? Kutinggalkan padamu di USB ini. Dan sebagai ganti rahasia yang aku jaga ini aku akan meminta sesuatu padamu nanti.

Jangan mencoba untuk melawanku. Leonard.

Kusobek kertas itu hingga berkeping-keping. Aku ingin membunuh laki-laki itu sekarang juga, dengan tanganku sendiri. Tapi aku sadar aku tidak punya kekuatan untuk itu.

 

Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak bisa membiarkan diriku menjadi sumber kelemahan Alexander lagi. Aku tak boleh kalah oleh Leonard brengsek itu. Dan aku tahu caranya menjadi kuat. Kupakai kembali pakaianku yang berserakan dengan tangan gemetar.

 

Kuraih ponselku. Rentetan panggilan masuk dari Alexander, Ibu dan Daniel. Apa yang harus kujawab. Aku berpikir sebentar. Sebelum aku menelepon sahabatku Louise.

 

"Louise..." suaraku masih bergetar karena terlalu banyak menangis.

 

"Alexa...? Ada apa? Kenapa kau meneleponku malam-malam begini?" Tampaknya Louise sudah tertidur, ini jam satu malam.

 

"Bisa kau membantuku... aku perlu bantuanmu. Bisa aku membuka vortex ke apartemenmu?" aku mulai terisak kembali.

 

"Kau kenapa? Kau menangis?!...datanglah kesini...!" Louise panik mendengar isakanku.

 

Aku berdiri dan membuka vortex. Tampaknya auraku tak terpengaruh kondisi tubuhku yang sedikit kacau karena pengaruh obat bius.

 

Aku masuk ke ruang tamu apartment Louise. Louise yang tampaknya sudah sempat tertidur terbelalak saat melihatku masuk.

 

"Ya Tuhan Alexa, apa yang sebenarnya terjadi..." dia memelukku dan aku menangis  lagi dipelukkan sahabatku itu.

 

"Louise bisakah kau membalas telepon Ibu dan Daniel, katakan aku tertidur ditempatmu. Aku tak bisa menghadapi mereka sekarang."

 

"Baiklah...aku akan mengambilkanmu susu hangat. Kau sudah makan?" aku menggeleng.

 

"Tunggu sebentar... "

 

Louise membawakanku susu dan spageti yang sudah dihangatkan. Sebelum dia pergi menelepon Ibu dan Daniel di kamar lain. Aku memaksakan diri untuk meminum susu hargat itu dan makan. Tapi semua bayangan akan kejadian tadi sore terus berputar dikepalaku. Aku menyerah untuk makan.

 

Aku membalas pesan Alexander. Mengatakan kalau aku kelelahan dan tertidur di tempat Louise. Panggilan masuk berbunyi sedetik kemudian begitu pesanku terbaca.

 

"Alexa...?"

 

"Iya...maaf aku tertidur, ...bisakah kita bicara kembali besok..." Suaraku tercekik. Aku hampir menangis lagi karena mendengar suaranya.

 

"Kau dimana? Kau baik-baik saja?" Alexander tampaknya menyadari ada yang salah.

 

"Aku di tempat Louise..."

 

"Kenapa kau disana?" Alexander mengejarku.

 

"Bisakah kita bicara besok Alex. Kumohon..." Aku harus menyudahi telepon ini sebelum aku terisak lagi.

 

"Aku akan tiba di London besok malam. Kau jelas sedang tidak baik-baik saja?"

 

"Tidak, aku hanya kelelahan... aku pergi, besok kita bicara lagi." aku langsung mematikan telepon Alexander. Dan kembali terisak menyedihkan.

 

Louise yang datang langsung memelukku.

 

"Alexa, apa yang terjadi padamu..." aku terus menangis dan terbata-bata menceritakan kejadian yang kualami. Rasanya aku tak punya tenaga lagi untuk bercerita. Louise memelukku erat mendengar ceritaku yang tercampur tidak jelas dengan isakanku. Mataku sudah bengkak karena terlalu banyak menangis. Bahkan tanpa sadar aku jatuh tertidur  saat menangis karena kelelahan dan pengaruh obat bius yang masih tersisa.

 

 

Aku terbangun dengan mimpi buruk dan Louise membangunkanku dengan paksa. Napasku memburu dan tubuhku berkeringat dingin karena bermimpi Leonard mendatangiku lagi dan aku kembali tak bisa melawannya.

 

Aku tak bisa tidur lagi padahal aku sangat kelelahan, aku duduk memandangi langit temaram pagi dari jendela besar apartment Louise. Memaksa diriku masuk ke bathtub dan membersihkan diriku, dan kemudian kembali terisak karena teringat kejadian yang sudah kulalui. Entah kapan aku bisa melupakannya, mungkin tak akan bisa seumur hidupku, itu akan membekas dalam ingatanku meninggalkan trauma seumur hidupku.

 

"Alexa, kau baik-baik saja?" Louise yang khawatir mengetuk pintu kamar mandiku untuk memastikan keadaanku.

 

"Aku baik... aku akan keluar sebentar lagi." aku mengangkat diriku keluar dari bathtub. Mencoba beralih dunia. Aku harus menopang diriku sendiri. Mencoba berjuang menang dari orang yang ingin menghancurkanku.

 

"Louise, bisa aku pinjam pakaianmu... Aku tidak ingin memakai pakaian lamaku. Aku akan ke Pyrenees untuk persiapan regu peyembuh. Aku perlu mengalihkan pikiranku." Louise segera memberikan pakaian legiunnya.

 

"Kau yakin mau ke sana. Aku bisa menemanimu hari ini...kita bisa jalan-jalan."

 

"Aku tak apa...ini sudah minggu terakhir persiapan pertempuran."

 

"Alexa, kau harus memberitahu Alexander. Kau tak boleh diam dan menyembunyikan kejadian ini." Louise berdiri melihatku dipintu kamar.

 

"Aku tahu... aku akan melakukannya setelah perang ini berakhir Louise. Aku tak mau masalah ini membuat konsentrasi Alexander terpecah dan jika keluargaku tahu maka akan timbul peperangan antar klan. Aku harus menyelesaikan ini sendiri sampai perang ini berakhir Louise."

 

"Bagaimana kau menyelesaikannya...?"

 

"Dengan menjadi jauh lebih kuat..."

 

"Caranya?" Louise mendesakku. Aku memandangnya dengan tak yakin. Mungkin aku tahu caranya. Tapi aku tak yakin bisa melakukannya tanpa alasan yang kuat.

 

"Aku belum yakin."

 

"Alexander tidak selemah yang kau kira Alexa. Dia sudah melewati banyak hal. Kau harus membiarkannya bertindak." Mungkin Louise benar. Tapi aku akan membahayakan perang ini jika aku bercerita, dia akan mengamuk dan seseorang akan mati.

 

Pikiranku terbagi seharian. Setengah pekerjaanku tidak berjalan dengan baik. Akhirnya aku menyerah dan menjalankan meditasi. Aku sudah belajar sihir pikiran, aku mampu  mempengaruhi pikiran seseorang untuk mematuhi perintahku. Aku harus bertemu Leonard lagi dan memaksanya mematuhiku. Kuputuskan itu cara yang terbaik yang bisa kuambil.

 

Apakah tidak berbahaya menemuinya sendiri. Jelas berbahaya, fisiknya lebih kuat dariku. Aku bahkan akan kehilangan kontrol mantra pikiran jika dia bisa menghindar dari jebakan pikiranku dengan mengalihkannya ke kekuatan fisik. Aku harus kuat secara fisik. Buntu! Aku tidak memiliki cara menghadapi tanpa mengandalkan bantuan Alexander.

 

Aku sampai ke Mansion Alexander jam sembilan malam. Dia bergegas dari Grenoble untuk menemuiku di London.

 

"Alexa..." dia menyebut namaku dan aku langsung memeluknya saat kami bertemu. Rasanya aman berada dalam pelukannya. Sesaat seperti beban kesedihan dipundakku terangkat. "Kita harus bicara, kau sudah makan..." aku mengangguk.

 

"Katakan apa yang terjadi?" dia tidak membuang waktu menanyaiku saat kami sudah berdua.

 

"Alex,..." air mataku langsung mengalir karena kembali teringat kejadian yang menimpaku semalam.

 

Alex dengan cepat memelukku. "Sesuatu telah terjadi padamu...katakan Alexa, siapa yang menyakitimu." Pelukan Alex membuatku terisak hebat, tak kusangka aku sama sekali tidak bisa berbohong padanya.

 

"Aku ingin minta sesuatu, kau berjanji akan mengabulkan dua permintaanku!" aku berkata-kata sambil terisak.

 

"Katakan..."

 

"Aku ingin pertukaran darah dan perjanjian darah sebelum perang dimulai..." Alexander membelalak memandangku. Dia terdiam lama.

 

"Kenapa kau meminta ini sekarang?"

 

"Karena aku tak mau menjadi kelemahanmu." Aku menatapnya, dia menggelengkan kepalanya.

 

"Apa yang terjadi semalam Alexa...Katakan padaku sekarang, apa yang sudah membuat kau berpikir kau adalah kelemahanku. Apa yang terjadi!?" Alexander memegang erat lenganku dan mengoncangkan tubuhku. Dia sangat penasaran tentang apa yang terjadi. Tapi aku tak akan memberitakunya sebelum dia memenuhi keinginanku.

 

"Aku mau pertukaran darah Alex...aku akan bicara kalau kau memenuhi dua permintaanku. Bukankah kau mencintaiku." kutekankan kalimatku sekali lagi. Ini cara satu-satunya untuk bisa menghadapi Leonard.

 

"Aku mencintaimu, kau tahu dengan jelas. Tapi itu adalah keputusan seumur hidup. Kau tak bisa melalukan itu karena dorongan emosi seperti ini. Dan jelas kau melakukannya karena ada sesuatu yang telah terjadi kemarin, bukan karena kau memutuskan hidup bersamaku. Bagaimana jika kau menyesal!" aku langsung menangis hebat karena kata-katanya.

 

"Tolong Alexa, jangan menangis lagi." Alexander memelukku, "Apapun yang terjadi kau harus percaya aku bisa menyelesaikannya...Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri." dia memandang mataku saat mengatakannya.

 

"Kau tak akan meninggalkanku sendiri..."

"Aku bersumpah demi arwah kedua anakku... Aku tak akan membiarkanmu sendirian ...." Alex membawaku ke pelukannya lagi. Aku memeluknya erat dan dia mencium keningku dan mengelus punggungku.

 

"Sekarang tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi..." dia menatap lurus mataku. Aku mencari kata yang harus kuucapkan.

 

"Kemarin...Leonard... dia ... dia ..." pegangan Alex di lenganku menegang mendengar aku menyebut nama Leonard.

 

"Kenapa dengan Leonard! Katakan ....!"

 

"Dia mengajakku makan siang, ... dia menaruh sesuatu dalam minumanku ...dan ..." air mataku tumpah tanpa bisa kutahan, Alexander membelalak menunggu kata-kataku. "dia ...." aku tak sanggup melanjutkan perkataanku. Tangisku sudah pecah. Aku menubrukkan wajahku ke dada Alexander yang sesaat membeku, sebelum dia memelukku dengan erat.

 

"Keparat itu menyentuhmu... " aku cuma bisa menangis mendengar kata-kata Alexander.

1
Siti Fatimah
bukannya sebelumnya josefina y,kok jadi katarina?
Lisna
horreeeee👏👏👏🥰🥰🥰🥰
Lisna
ach love sakebon pokok namah thor🥰🥰🥰🥰🥰
Lisna
makin seru thor👍🥰🥰🥰🥰🥰
Lisna
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Lisna
aseeek,seru thor👍🥰🥰🥰🥰
Murdiyanti Soemarno
Luar biasa
Mediana Emkasari
many many many love for U😍
Mediana Emkasari
di aplikasi sebelah, saya kehilangan sharing session spt ini.. berbagi info atas semua hal baru yg sudah anda explore 🙏..
padahal ini plus point.anda dari author lain, jeung..😍
Cicak Speed
yaap drama Seth kelarr,..Yesss Evan menang dgn strategi nya....
Cicak Speed
keep fighting cara demi paman Clayton ehh atau Franco sayang
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
kayaknya Adam Davis dehh
Fatimah Ajja
bukannya nama naganya Mag y kalau nggak salah?
Nurul Hayati
kedua kali baca ini
makasih othor karyamu menambah wawasan dan pengetahuan
palupi
👍
💜Ilalang Senja💜
salam cinta dan sayang untuk Author syantik,💟🖤🤎💛🩵🩷💙♥️💚🧡❤️💜💟THANK YOU
💜Ilalang Senja💜
💟💜❤️🧡💚♥️💙🩷🩵💛🤎🖤💟
💜Ilalang Senja💜
Paman Evan....kau nakal 🤩🤩🤩😍😍😍
💜Ilalang Senja💜
tepuk tangan untuk Author terLOVE selaluu 💟💟💟💟💟💟💟
💜Ilalang Senja💜
🔥💛🩵🩷💙♥️💚🧡❤️💜🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!