NovelToon NovelToon
Dear Imamku

Dear Imamku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:775.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Riska Yusuff

●_●

Mencintai secara sepihak memang menyakitkan, tapi Allah mempunyai rencana lain. Allah mempersatukanku dengannya dengan takdir yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku memang memiliki raganya tapi tidak dengan hatinya, Allah memang mempersatukan aku dengannya tapi tidak dengan hati kami.

Hingga akhirnya kata "Ana Uhibbuka Fillah" itu terucap dari bibir indahnya. Kata terindah yang pernah kudengar dari sosok Farzan. Kata yang dapat mengalahkan seribu kata cinta.

Allah selalu memiliki rencana indah setelah kesusahan yang kita lewati. Bersabar, tidak ada kebahagiaan yang abadi, tidak ada penderitaan yang abadi, jika Allah berkehendak, selalu ada cinta di dalamnya.

Selasa 2 November 2018.

Np : (Teypo bertebaran,)
Budayakan add di library ya*_* 💞



●_●●_●●_●



Soal cinta atau tidak itu tergantung hati, dan hati saya berkata iya. -Farzan Rayhaan Shakeil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Yusuff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan

●_●

بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

-

-

-

-

-

💜

  “Kak Farzan tidak marah lagi? “

●_●

      “Adibah di mana? “ tanyaku ke Jihan setelah sampai di ruang itu. Demi Allah, aku sangat panik.

     Sendari tadi jantungku tidak pernah berhenti untuk berdetak dengan cepat, aku semakin khawatir dengan Adibah, bagaimana keadaannya?

     Jihan menatapku dengan ibah. “Aku sarankan, kakak gak usah masuk dulu. Adibah pasti sangat terpukul sekarang, biarkan dia sendiri. “ Aku bisa mengerti dengan jelas apa maksud perkataan Jihan barusan, tidak! Ini salahku, aku penyebabnya, tidak mungkin aku membiarkan dia sendiri.

    Sesak sendiri rasanya, aku melaknat perkataanku waktu itu! Demi Allah aku sangat menyesal telah mengucapkan kalimat bodoh itu, aku bodoh!

    Kulihat Abdul mendekati Jihan, kemudian mengusap punggungku. "Jihan benar, Zan. Seharusnya kamu di sini saja dulu, nanti setelah waktunya tepat, kamu boleh masuk, tapi untuk saat ini kamu juga tenangkan dirimu dulu. "

     “Tidak, disaat dia memiliki masalah, seharusnya aku ada di dekatnya bukan membiarkan dia sendiri. Aku memang baru ada di kehidupan Adibah, tapi aku bisa mengetahui apa yang dia inginkan. In shaa Allah, semuanya akan membaik. "

     “Aku tahu Adibah kak, dia lebih tidak suka kalau dia di kasihani, saat kakak masuk nanti, aku takutkan kalau dia beranggapan kalau kakak kasihan ke dia, Adibah orangnya mudah tersinggung, “ jelas Jihan dengan pandangan menatap sepatunya. Seperti Adibah, dia enggan untuk menatap lawan jenisnya, kecuali mahramnya.

     “In Shaa Allah, tidak. “ Setelahnya, aku melangkah masuk ke ruangan Adibah.

     Selama berjalan, aku selalu mengerutuki diriku sendiri andai saja bisa aku yang menggantikan posisi Adibah di sana. Belum melihatnya saja sudah membuatku hilang semangat.

     Aku baru saja membuka pintu ruangan itu, sumpah tiba-tiba seluruh badanku mendadak kaku untuk bergerak, kurasa dengan jelas kalau air mataku saat ini sedang mengalir. Melihat keadaan Adibah yang seperti sekarang membuatku harus terdiam di tempat. Pandangannya kosong menatap langit gelap, dengan tangan yang masih setia memegang perutnya, ya Allah, kenapa sesakit ini? Dari dulu, dia sangat menginginkan kehadiran seorang anak di hidup kita, tapi sekali lagi kenapa seperti ini? Anak kami harus pergi bahkan sebelum aku mengetahui kabarnya.

     Jika seseorang pria menangis, percayalah masalah yang dihadapi pasti sangat sulit. Aku tidak mengatakan kalau akulah manusia yang paling menderita, hanya saja aku salah satu manusia yang mengalami penderitaan itu.

     Mungkin saat ini, air matalah yang dapat menjelaskan segalanya, termasuk hal ini.

     Aku terus menatap punggung Adibah yang sedang duduk sambil terus menatap keluar jendela, entah apa yang dia pikirkan, entah bagaimana pula mimik wajahnya. Dengan langkah gontai aku mendekatinya, ada rasa takut dan kasihan sekarang bercampur.

     Saat berada di belakangnya, pelan-pelan aku memegang pundaknya. Adibah menatapku, awalnya wajahnya kusam, mungkin setelah melihat aku, dia berusaha untuk tersenyum. “Kak Farzan? “ katanya. Subhanallah, dia masih bisa tersenyum disaat kehilangan.

     Tak sanggup lagi untuk berbicara, aku cuma menganggukkan perkataan Adibah tadi. Untunglah, sebelum mendekati Adibah, air mataku sudah mengering .

     “Kak Farzan tidak marah lagi? “ dia kembali bertanya. Dia masih mempertanyakan hal itu, seandainya aku yang berada di posisinya, percayalah mungkin aku tidak akan sesanggup dia.

    Aku segera memeluk tubuhnya dengan erat. “Katakan apa yang ingin kamu katakan Adibah. Apa kamu mau marah? Katakan, aku siap mendengar semuanya. "

     Secara jelas, aku bisa dengar kalau Adibah menangis. “Seharusnya Dibah yang ... bil ... bilang seperti itu kak ... Dibah yang selalu ... bicara kasar sama kak Farzan. Dibah juga ... gak bisa jaga ... ke ... kesehatan Dibah, Dibah ... juga tahu kalau Dibah sangat ... kekanak-kanakan kak! Maaf, “isaknya. Dia terlihat sangat sulit untuk berbicara.

     Aku menarik dagu Adibah. “Lihat aku. “ Adibah menatap manik mataku. “Kamu tega membuat setiap langkahku di kutuk seribu malaikat hanya karena membuatmu menangis? “ tanyaku, kemudian dia menggeleng.

     “Kita gagal punya anak kak Farzan. “

     “Ussttt! “Aku memajukan jari telunjukku. “Allah memiliki rencana yang indah untuk kita. Kalau kamu bilang seperti itu lagi, kupastikan kamu tidak melihat keberadaanku lagi. “

     “Kak Farzan mau ke mana? “ tanya Adibah dengan suara ingus yang menjadi irama setiap perkataanya.

    “Aku akan pergi jauh dari kamu dan tidak akan kembali lagi. Aku tidak bercanda Adibah.”

    “Kenapa harus pergi? “

    “Karena aku tidak sanggup untuk melihatmu sedih, apalagi aku tahu penyebabnya adalah aku sendiri, tidak mungkin aku membiarkan diriku berada di depanmu. Ataukah aku akan menjauh dari kehidupan ini.”

     Kulihat Adibah menarikku untuk memeluknya. “Jangan bilang seperti itu! Adibah gak suka! “ tegasnya.

     “Maafkan atas perkataanku waktu itu, Adibah. “ Adibah tidak merespon perkataanku. “Adib-“

     “Bukankah seseorang masih bisa rujuk saat masih talak pertama?”

     “Aku mau rujuk denganmu, “ ucapku. Kemudian mengeratkan pelukanku. Seakan-akan aku tidak mau berpisah dengannya. “Maafkan aku Adibah, maaf,” lirihku.

     “Aku tidak akan memaafkan, kak Farzan.”

    “Kenapa? “

    “Kalau kak Farzan pergi lagi, Dibah sumpah tidak akan memaafkan diri Dibah sendiri. Dibah juga sama seperti kak Farzan, Dibah akan pergi jauh.”

    “Kenapa juga harus menjauh? “

     “Karena Dibah tidak bisa menjadi yang terbaik di hidup kak Farzan, karena itu kak Farzan pergi.”

     “Aku jan-“

     “Dibah tidak perlu janji kak Farzan yang Dibah inginkan kesadaran kak Farzan, jangan katakan janji kembali, aku tidak mau, hanya karena janji itu kak Farzan harus menanggung dosa.”

     Entah, rasanya mendadak bisu, aku cuma bisa tenang sambil memeluknya, merasakan betapa berharganya momen bersama dia.

    “Tapi, “ ucapnya. Kemudian Adibah melepaskan pelukannya dariku, padahal tadi aku berharap untuk berlama-lama di posisi itu. “Kak Farzan pernah janji tentang ... Hemm ... Resepsi pernikahan kita.” Ma shaa Allah, dia terlihat sangat cantik dengan pipi yang merona.

     Aku mendekati kepala Adibah kemudian mencium keningnya. “Makanya sembuhlah cepat, agar kita bisa merayakan resepsi pernikahan kita.”

    “Akad nikah? Kak Farzan pernah janji kalau akan melakukan resepsi pernikahan dan juga akad, kata kak Farzan kali ini berdasarkan rasa cinta. Kak Farzan pernah bilang seperti itu kan? “ ucapnya yang diakhiri dengan kebiasaannya, memegang bibirnya, kebiasaan yang sering dilakukannya.

     “Kamu mencintaiku? “

     “Ih kak Farzan! Aku tidak akan meminta menikah kembali dengan kak Farzan kalau aku tidak cinta kak Farzan. “

     “Alhamdulillah kalau begitu. “

     “Terus kak Farzan juga cinta kak sama aku? “

     Aku mengerutkan keningku. “Mungkin. “

     Adibah menggigit bibir bawahnya kemudian mengalihkan pandangannya.  Apa dia marah? “Kak Farzan jahat! “ Benar, dia marah, tapi marahnya tidak seperti orang lain, aku suka dia seperti ini.

     Sumpah aku tidak sanggup untuk menahan tawaku. “Aku cinta kamu.”

     “Serius? “ tanyanya dengan antusias. “Dibah udah yakin kalau kak Farzan pastinya sayang smaa Dibah. “ Adibah tertawa dengan tangan yang sudah menarik pipiku.

     Benar salut dengan dia, di saat dia dengan mudahnya menyembunyikan masalahnya hanya karena tidak mau kalau seseorang ikut larut dalam masalahnya, dan juga tidak mau di kasihani. Tapi tunggu, pipiku sangat sakit karena ulah Adibah, tapi tak masalah lagian pelakunya adalah dia, kalau boleh setiap hari atau setiap saat bolehlah.

     Aku beribu ucapan terima kasih kepada Allah, karena memperlihatkan deretan bintang yang sangat indah, dengan cahaya bulan yang juga ikut membantu memberikan kesan yang indah untuk langit ini. Tidak seperti kemarin, dengan awan langit yang berwarna kemerahan, aku kira saat itu akan hujan tapi aku terlalu ngantuk hingga ketiduran, dan paginya tidak juga merasakan hujan turun.

     Bersama dengan Adibah di rumah sakit ini membuatku untuk kembali merasakan indahnya alam sekitar yang dulunya sangat jarang kunikmati.

●_●

"Jika seorang wanita menangis karena disakiti pria, maka setiap langkah pria tersebut dikutuk oleh para malaikat -Ali bin Abi Thalib"

●_●

1
Nur Ariska Ariska
lah itu namaku thor😂...
Nur Ariska Ariska
hee!.. jangan fitnah anda!...
Riska Yusuff
Ya Allah sakit hati banget. Belum dapat royalti sedikitpun eh novelku malah gak terdaftar di akunku bahkan royalti yang dulunya 1jutaan tiba2 hilang semua tulisan didlmnya juga hilang
Riska Yusuff
😍😍😍😍
Ari Pakusmanto
Aku ga pernah baper dengan jalan cerita baik itu buku, novel ataupun film. Karena selalu ada reason, selalu ada logika. Logika itu menjelaskan setiap tindakan dari segi alasan maupun efeknya. Logika yang benar didampingi hukum baik agama maupun negara atau perundangan. Jadi dengan penggambaran seseorang yang mampu menghadapi masalah sekian lama terus tiba2 kabur. WTF. Sekali lagi bukan baper tapi aneh aja dengan pola pikir, karena sejatinya hidup itu gampang pola pikir kita yang mempersulit.
Ari Pakusmanto
Poin pentingnya adalah letakan yang benar itu diatas perasaanmu. Karena terkadang kebenaran itu datang dengan penuh kepahitan meski tak selamanya begitu. Yang benar dalam Islam itu selalu lebih tinggi dari kepala, buka hanya sekedar tentang rasa apalagi dilema.
Wachidul Qohar Al Anshori
ceritanya bagus,episede sedik tapi tiap episode banyak/panjang.....
sy sukaa....👍👍👍tuk penulis
lanjutkan berkarya
Wachidul Qohar Al Anshori
woowww......bagus critanya.....lanjuuttt
Silvi Nur fauziah
klw di kasih jodoh kaya farzan, sumapah saya tidak mw sama sekali, walaupun dia terbilang sempurna... emosinya terlalu meledak2, keputusan yg di ambil terlalu tergesah2, lalu trlalu gampang menyimpulkan sesuatu ke arah negatif, bukannya tabayun trlebih dlu,
Berkisah membangun Peradaban
hampir bagaimana sih...Adibah sudah celaka, difitnah lagi..Farzan farzan ...kau ini laki laki macam Apa sih...
Berkisah membangun Peradaban
parah ini...Kasus Fauzi belum disampaikan ke Farhan...tokoh tokohnya labil semua...seperti Authornya..,kwkwkwk
Berkisah membangun Peradaban
Cobalah kalau menukil kata kata hikmah itu pada tempatnya...jangan ngawur...
Berkisah membangun Peradaban
Tokoh tokoh utamnya bodoh bodoh semua...
Berkisah membangun Peradaban
author author....parah nie...Kejahatan Fauzi belum terungkap ....Alur ceritanya membingungkan ..comot ayat dan hadist ngawur ndak sesuai kondisi...hadeeh...
Berkisah membangun Peradaban
kenapa ini ya...masalah Fauzi kok berlarut larut..jangan jangan Author suka karakter Fauzi....kwkwkww
Berkisah membangun Peradaban
kwkwkkwkw...parah ini Adibah ...masa mau cerita aja ndaa jadi jadi... author author..parah...
Berkisah membangun Peradaban
Ini Authornya yang psikopat....ada dendam dengan Adibah. .....qi..qi...qi...
Berkisah membangun Peradaban
Betapa bodohnya Farzan ....percaya Fauzi dan tidak mempercayai Istrinya...betapa bodohnya Adibah yang masih mau jalan berdua dengan Fauzi...betapa bodohnya Farzan yang tidak bisa mengambil keputusan dan sikap....semua tokohnya oranh oranh bodoh....kwkwkwkwk
Berkisah membangun Peradaban
memang bodoh ini Authornya...adibah mengulang kesalahan yang sama.
Berkisah membangun Peradaban
kwkwkw...lagi pergi berdua dwngan Fauzi...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!