Dendam memang bisa membuat siapapun terlihat tak memiliki hati, seperti seorang pria muda dengan kesuksesan dan harta yang berlimpah. Karena rasa dendam di masa lalu ia menculik seorang gadis tak bersalah di hari pernikahannya.
"Kau hanya akan mendapatkan siksaan seumur hidupmu, mulai hari ini." Tekan seorang pria dengan setelan jas dan kemeja putih yang terlihat sempurna di tubuhnya.
Akankah sang gadis tahan dengan siksaan yang pria itu berikan padanya?
Gak update setiap hari, tapi diusahakan ✨
Follow Instagram aku
@Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkapkan perasaan
Diandra mengusap kepala Aryan yang terbaring di sebelahnya, sejak kemarin dirinya dirawat tak semenit pun Aryan meninggalkan dirinya. Bahkan semalam Aryan sampai tidak tidur demi menjaga Diandra dirumah sakit.
Diandra memposisikan tubuhnya duduk bersandar di bangsal, ia masih betah mengusap kepala Aryan. Pria yang berstatus sebagai suami sekaligus ayah dari bayi yang ada di dalam kandungannya. Apakah ia bodoh karena mencintai pria yang menyiksanya atau ia tidak tahu diri karena berani mencintai pria yang keluarganya di hancurkan oleh keluarga Diandra?
"Aryan, aku tidak tahu bagaimana tanggapan mu nantinya. Nantinya ketika kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Entah apa yang kau pikirkan ketika tahu aku menginginkan ada bersamamu selamanya. Aryan, aku diperbudak oleh perasaanku sendiri, selama 4 bulan menjalani pernikahan membuat pikiranku dipenuhi olehmu." Ucap Diandra pelan seraya sesekali menyeka air matanya.
"Aku tahu sejak awal pernikahan kita hanya demi balas dendam, namun tak adakah cinta sedikitpun di dalam hatimu? tak adakah kasih sayang tulus tanpa iming iming tanggungjawab pada anak dalam kandunganku? perhatian yang kau berikan selama 2 bulan belakangan membuatku yakin untuk memperjuangkan rumah tangga kita. Semoga setelah anak kita lahir, kamu bisa menyadari perasaan ku, Aryan." Sambung Diandra panjang.
Tak beberapa lama, dokter masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa Diandra. Sebenarnya dokter sudah mengatakan jika Diandra diperbolehkan pulang kemarin, tapi Aryan menolaknya dengan alasan takut terjadi sesuatu nanti dan memilih untuk menginap dirumah sakit selama 1 malam.
Aryan terbangun ketika merasakan pergerakan dari Karin, ia membuka mata dan langsung terkejut melihat dokter dan suster ada disana tengah memeriksa Diandra.
"Maaf tuan, kami mengganggu tidur anda." Ucap suster mundur sedikit membiarkan Aryan yang ingin keluar dari ruangan tanpa pamit.
"Suami nyonya terlihat sangat mencintai istrinya, anda sangat beruntung nyonya," ucap dokter tersenyum membuat Diandra ikut tersenyum.
"Semoga saja semua ucapan mu itu benar dok," batin Diandra tersenyum getir.
Setelah mengurus administrasi, Aryan membawa Diandra pulang. Diperbantukan oleh kursi roda, ia membawa istrinya sampai ke parkiran diikuti suster yang mendorong kursi roda Diandra.
Sesampainya di mobil, terlihat Roy sudah menunggu mereka. Pria itu membantu memasukkan barang ke bagasi sementara Aryan membantu Diandra bangun dari kursi roda dan berpindah ke mobil.
"Terimakasih banyak sus," ucap Aryan datar kemudian langsung masuk dan menutup pintu mobilnya.
Selama perjalanan tidak ada kata yang terucap dari Diandra maupun Aryan, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Aryan tak henti mengusap layar ponselnya sementara Diandra diam memandangi jalanan dimana kendaraan berlalu-lalang.
Diandra merasakan tenggorokannya terasa kering, ia meraih sebotol air kemudian meminumnya agar rasa hausnya bisa teratasi. Aryan melihat sebentar pada Diandra, tadi pagi ia mengalami mimpi yang seperti kenyataan. Di dalam mimpi itu terdengar Diandra mengungkapkan perasaannya, mengatakan banyak cinta untuknya namun setelah beberapa saat barulah ia tersadar jika semua itu hanya mimpi.
"Bagaimana bisa aku berpikir bahwa Diandra mencintaiku, sementara aku adalah pria yang menyiksanya siang dan malam. Memang perlakukan ku selama ia hamil berbeda tapi rasa sakit hatinya tentu masih ada," batin Aryan menarik nafas kemudian menghembuskan nya pelan.
Lalu bagaimana perasaanmu sendiri Aryan? apakah kamu mencintai Diandra? terkadang pertanyaan seperti ini muncul di benak Aryan, ia akan gelagapan jika ditanya mencintai Diandra atau tidak. Perasaan yang ia sadari terhadap Diandra hanyalah rasa tanggungjawab pada anak mereka, namun ketika berpikir Diandra bersama orang lain muncul perasaan tidak rela dalam dirinya.
Seperti tempo hari ketika Oma dan Opa nya bertanya soal perasaan dan meminta dirinya untuk membiarkan Diandra bahagia bersama mantan kekasihnya Andi, seketika Aryan langsung panas dingin. Sungguh tidak rela jika melihat Diandra bahagia bersama orang lain bukan dirinya.
"Tidak, ini bukan perasaan cinta. Mungkin saja perasaanku ini adalah insting anakku yang tidak mau berjauhan dari ibunya," batin Aryan menepis semua pikirannya tentang mencintai Diandra.
"Ekhmmm, apakah bahan dirumah masih ada?" tanya Aryan seketika membuat Diandra menoleh padanya.
"Aku belum memeriksanya," jawab Diandra kembali fokus menatap keluar jendela.
"Roy, kita mampir ke supermarket." Ucap Aryan yang kemudian dilaksanakan oleh Roy. Pria itu memutar setir sampai mereka tiba di salah satu supermarket didekat sana.
Tanpa bertanya pada Diandra, Aryan segera turun begitupun dengan Roy. Ia tidak mungkin ada dalam 1 mobil yang sama dengan Diandra dengan posisi mobil yang berhenti.
Sementara Diandra, ia menatap punggung tegak Aryan dengan tatapan sendu. Andai mereka bisa menjalani pernikahan normal seperti orang-orang maka hidup Diandra akan bisa bahagia. Ditinggal orang terkasih sejak kecil membuat Diandra haus kasih sayang setelah beranjak dewasa, seperti sekarang ini.
"Nak, kamu doakan semoga bunda dan ayahmu akan bisa selalu bersama ya." Ucap Diandra mengusap perutnya dengan lembut.
BERSAMBUNG............