Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-033
Elis kembali fokus pada pekerjaannya. Ia benar benar ingin segera meninggalkan bangunan itu. Bulir bulir keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Perasaan lapar dan kram pada perutnya membuat sekujur tubuh Elis lemas.
“Dela, bu Wita diruangannya kan? Aku ingin ijin pulang duluan, aku nggak bisa tahan, perutku kram sekali,” ucap Elis pada Dela.
“Kayaknya bu Wita sudah jalan duluan tadi. Kamu ijin ke head teller aja deh coba, lagian ini sudah mendekati jam pulang,” ujar Dela.
“Ya, aku ke dalam dulu.”
Elis memasuki ruang karyawan menemui Adena.
Wajahnya mulai terlihat pucat, ia berjalan sedikit menahan perih pada bagian bawah perutnya.
“Kak Adena, Elis ijin pulang duluan ya. Perut Elis sakit banget nih,” ucap Elis dengan suara lemah.
“Ya Allah lis, kamu ampe pucat gitu. Ya udah kamu bisa pulang duluan,” ucap Adena memberi ijin.
Elis langsung menuju meja kerjanya mengambil tas dan ponselnya kemudian pergi ke ruang istirahat karyawan.
Telpon Khafi dulu. Dia pasti sedang dalam perjalanan ke sini.
Elis pun menghubungi Khafi.
“Tuuut tuuut.” Pada nada tut kedua Khafi sudah mengangkat ponselnya.
“Nur, aku sudah dijalan. Kenapa kok Tumben telpon?” tanya Khafi.
“Buruan, aku pulang lebih awal hari ini.” Suara Elis lemah.
“Kenapa kamu nggak apa apa kan?” tanya Khafi.
“Perutku kram. Oh ya, Darian ada disini. Dia sedang menungguku didepan, aku nggak ingin bertemu dia. Tolong cepat lah datang.”
“I iya Nur, aku sudah memasuki jalan Hasanuddin. Kamu tunggulah sebentar lagi.”
Khafi langsung menekan pedal gas menambah kecepatan mobil menjadi dua kali lipat. Benar saja, dalam beberapa menit mobilnya sudah memasuki parkiran bank.
Tanpa basa basi ia pun langsung memasuki ruangan bank yang mulai sepi akan pengunjung.
“Ingin jemput Elis?” sapa sekuriti yang sudah mengenal Khafi.
“Iya.”
Tanpa banyak bicara Khafi langsung masuk menuju pintu ruang karyawan.
“Elis dimana?” tanya Khafi pada seorang wanita yang keluar dari pintu itu.
“Elis sudah menunggu di dalam, masuklah.” Khafi pun langsung melewati pintu bertuliskan khusus karyawan. Kemudian menuju ruangan istirahat sekaligus dapur karyawan.
Ia menghampiri Elis yang sedang menyandarkan dagunya diatas meja.
“Nur kamu baik saja?”
“Kamu sudah datang?” suara Elis lemah.
Khafi langsung meraba kepala Elis.
“Aku nggak apa apa, hanya saja perutku sedikit lebih nyeri dari biasanya,” jelas Elis.
“Kamu terlihat sangat pucat, kita ke dokter ya.”
Elis mengangguk. “Kita keluar lewat pintu samping. Aku nggak ingin berurusan dengan orang yang sedang menungguku didepan.”
“Baiklah, ayok.”
Khafi membantu memapah tubuh Elis keluar dari ruangan itu melewati pintu samping.
“Aku akan menggendong mu,” ucap Khafi. tangannya baru akan mengangkat tubuh Elis.
“Jangan, aku malu. Aku masih bisa jalan kok. Kalau diangkat begitu malah akan jadi perhatian semua orang.” Elis mencegah Khafi.
Jarak pintu samping hingga ke parkiran lumayan jauh. Khafi menuruti perkataan istrinya. Ia hanya bisa menuntun istrinya berjalan pelan hingga tiba di barisan rapih berbagai macam mobil.
Khafi membantu Elis masuk ke dalam mobil. Saat kaki kanannya baru akan melangkah naik ke atas mobil.
“Elis?” suara seorang pria dari belakang.
Itu suara Darian. Kenapa dia ke sini.
Elis memutuskan untuk tidak menoleh dan masuk ke dalam mobil.
“Elis ini aku,” ucap Darian lagi.
Khafi berbalik badan ke arah Darian.
“Kamu siapa?” tanya Khafi seolah tidak tahu orang dihadapannya.
“Aku tidak bicara dengan kamu, aku bicara dengan Elis,” ucap Darian.
Khafi berjalan menghampiri Darian. Dari cela cela mobil, dengan adanya Khafi berdiri disitu, Darian nggak mungkin mendekati Elis.
“Aku suaminya, aku tidak ijinkan istriku bertemu laki laki lain,” tegas Khafi.
“Elis,” teriak Darian. “Aku tidak ada urusan dengan kamu. Siapapun kamu, aku nggak peduli. Lagian aku tidak percaya kamu adalah suaminya.” Bentak Darian.
“Elis, aku ingin bicara sesuatu yang penting dengan mu. Please honey,” teriak Darian dengan suara nyaring namun agak lembut.
Khafi memukul mobilnya. Ia tak terima pria itu memanggil istrinya mesra seperti itu.
“Honey Please,” teriak Darian lagi.
“Aku nggak peduli kamu mau percaya atau tidak. Yang pastinya kamu sekarang jangan mengganggu istriku. Atau,” Khafi maju beberapa langkah mendekati Darian dan mendorong tubuhnya mundur.
Darian maju menghampiri Khafi hendak melayangkan sebuah pukulan ke wajah Khafi.
“Stop,” teriak Elis.
“Elis, kamu?” Darian menganga menatap Elis berdiri disitu.
Khafi menghampiri Elis yang terlihat semakin pucat.
“Elis ini benar benar kamu kan?” Darian mendekati Elis.
Elis tak menjawab ucapan Darian. Ia mengumpulkan tenaganya dengan berpegangan pada lengan Khafi.
“Darian pergilah, jangan pernah temui aku lagi. Aku sudah menikah,” ucap Elis singkat.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu berpakaian seperti itu?” wajah Darian tak percaya dengan perubahan pada penampilan Elis.
Elis memejamkan matanya sejenak. “Apa kamu buta? Seharusnya kamu tau kalau aku sekarang sudah menjadi seorang muslim. Jadi Please jangan ganggu hidupku lagi.”
“Sayang ayok,” ajak Elis pada Khafi ia menarik lengan Khafi meninggalkan Darian.
“Elis benarkah kalian sudah menikah? Ta tapi bukankah saat terakhir aku menelponmu aku sudah bilang akan menikahi Reyna tapi stelah anaknya lahir aku akan menceraikannya. Kamu tidak menungguku dan malah menikah?! Elis, aku masih mencintaimu,” Darian berusaha agar Elis tidak pergi darinya saat itu.
Elis berdiri sejenak.
“Sia sia kamu menjelaskan hal itu sekarang. Kenapa tidak kamu jelaskan saat aku datang menemui mu di Bandung. Kenapa kamu tidak memberikan penjelasan sedikitpun mengapa kamu tidak datang dihari pernikahan itu?” ucapnya tanpa sedikitpun membalikkan badan.
“Elis, sekarang aku akan menceraikan Reyna. Tidak masalah walaupun kamu menikah, kembalilah bersama ku,” pinta Darian seperti seseorang yang kehabisan akal.
Khafi mengepalkan kedua tangannya, otot otot ditubuhnya menegang. Ia tak suka mendengar permintaan terakhir Darian. Ingin sekali ia meninju mulut laki laki dibelakngnya agar tidak menggoyahkan hati istrinya. Bagaimana pun ia tahu bahwa di hati istrinya hanya ada pria itu. Ia mulai takut jika Elis akan meninggalkannya dan pergi bersama laki laki itu.
“Sayang ayo pergi, bukankah kita akan ke dokter?” Suara Elis memelas wajahnya semakin pucat namun masih menyunggingkan senyuman untuk Khafi.
“Baiklah,” Khafi mengangkat tubuh Elis masuk kedalam mobil kemudian bergegas menuju kursi kemudi.
“Elis aku akan terus datang ke sini memohon maaf hingga kamu bisa menerimaku lagi. Aku yakin kamu masih mencintaiku, aku tau persis sifatmu!” teriak Darian sebelum mobil Khafi meninggalkan parkiran itu.
Khafi mengusap rambutnya ia tampak seperti orang gusar dan panik. “Aku tidak suka pria itu, jika dia menemuimu lagi aku tak akan segan segan untuk berlaku kasar padanya,” ucapnya.
Elis menatap wajah Khafi.
Apa yang harus aku katakan agar bisa menghibur hatinya. Ia tampak kacau, aku tak pernah tau Khafi memiliki sikap yang seperti ini.
Elis memegang tangan Khafi yang saat itu berada diatas persneling.
“Aku tidak suka dia menemui kamu, sekarang dia sedang berusaha merebut kamu dariku.”
“Aku juga tidak suka dia datang menemuiku, aku akan memikirkan cara agar dia tidak mengganggu lagi.”
Keringat dingin dibadan Elis semakin menjadi. Tangannya menjadi dingin mimiknya wajahnya sedikit kesakitan.
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁