NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Keesokan paginya, suasana lorong utama SMA Astra Nova terasa lebih ramai. Farah sudah kembali bugar seratus persen. Dengan jaket varsity yang disampirkan di sebelah bahunya dan langkah tegap khas atlet karate, dia berjalan berdampingan dengan Aery menyusuri lorong menuju area loker siswa, deretan loker besi tinggi warna abu-abu yang berjejer rapi di dekat ruang piket.

​"Sumpah ya, Ry, seharian tiduran di kamar tuh rasanya tulang-tulang gue mau lepas," cerocos Farah heboh sambil memutar-mutar pergelangan tangannya. "Bosen banget! Mana ibu gue protektif banget lagi, ngga boleh pegang HP lama-lama."

​Aery terkekeh pelan sambil membuka lokernya untuk mengganti sepatu luar dengan sepatu khusus dalam sekolah. "Ya makanya kalau latihan jangan diforsir. Badan lo itu bukan besi."

​"Iya, iya!"

​Baru saja Aery hendak memasukkan bukunya ke dalam loker, suara bising dari ujung deretan loker sebelah mengalihkan perhatian mereka.​Disana, Jasver, Ren, dan Bumi sedang berdiri di depan loker masing-masing. Ren sedang sibuk menjejalkan seragam basketnya yang kusut, sementara Jasver sedang merapikan poni di depan kaca kecil yang dia tempel di pintu lokernya.

​"WEH! SI JAGOAN UDAH MASUK!" teriak Ren heboh begitu melihat Farah.

​Farah langsung menyeringai lebar. "Yo! Sepi kan lo pada ngga ada gue?!"

​Jasver yang baru selesai merapikan rambutnya menoleh, lalu menyunggingkan senyum lebarnya seperti biasa. "Pagi, Far! Pagi, Ry!" sapa Jasver ramah, matanya refleks tertuju pada Aery yang berdiri di samping Farah.

Ren tak mau kalah, ikut melambaikan tangan heboh. "Pagi duo cewek!"

​Di sebelah mereka, Bumi yang baru menutup pintu lokernya ikut berbalik. Dengan senyum tipis yang hangat dan nada suara yang tenang khas dirinya, Bumi menyapa, "Pagi, Farah. Pagi, Aery."

Perbedaan respon dari Aery langsung terlihat begitu nyata dalam hitungan detik.

​Ketika Jasver dan Ren menyapa, Aery hanya menyunggingkan senyum tipis yang terkesan sangat kaku, lalu menganggukkan kepalanya, hampir seperti formalitas belaka. Tatapannya ke Jasver masih menyisakan sisa-sisa rasa canggung yang tebal.

Namun, begitu pandangan Aery beralih ke Bumi, raut wajahnya mendadak melembut. Binar matanya berubah hangat, dan seulas senyum manis yang tulus terukir di bibirnya. ​"Pagi juga, Bumi," balas Aery halus, menyapa khusus hanya untuk Bumi.

Jasver yang menyaksikan perbedaan perlakuan itu secara langsung dari jarak dua meter mendadak mematung. Tangannya yang masih memegang pintu loker terhenti seketika.

​Ada rasa nyut-nyut kecil yang menusuk dadanya. Senyum canggung Aery padanya tadi terasa begitu dingin jika dibandingkan dengan senyuman manis yang baru saja gadis itu hadiahkan untuk Bumi.

Jasver menghembuskan napas pelan lewat hidung, lalu buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke dalam lokernya sendiri. Tuh kan, Ver... sadar diri aja. Di mata dia, lo itu cuma cowok ceroboh yang pernah bikin masalah. Beda jauh sama Bumi, batin Jasver sambil berusaha menelan rasa kecewa yang mulai samar-samar tumbuh di hatinya.

Farah yang matanya super jeli tentu saja tidak melewatkan momen singkat di depan loker itu. Tatapannya sempat melirik Jasver yang mendadak diam merapikan loker, lalu melirik Aery yang masih melempar senyum ke Bumi.

​Farah menyunggingkan senyum miringnya yang penuh arti, tapi memilih untuk tetap mengunci rapat mulutnya. ​"Yaudah yuk, Ry, ke kelas lo! Gue mau nyontek buku tugas Matematika lo sebelum bel!" seru Farah sambil merangkul leher Aery dan menggeretnya pergi dari area loker.

​"Farah, lepasin, kecekek nih!" protes Aery pelan.

​"Dahhh Trio Curut!" pamit Farah heboh sambil melambaikan tangan ke belakang.

​Bumi membalas lambaian tangan Farah dengan senyuman kecil, sementara Jasver hanya mampu mengunci lokernya dengan pelan, mengutak-atik gemboknya sambil menghela napas panjang. Dirinya berusaha makin menguatkan benteng 'tau diri'-nya di balik perasaan tertarik yang perlahan mulai membakar dadanya.

♧♧♧

Bel pulang sekolah baru saja berdering sepuluh menit yang lalu. Koridor lantai dua perlahan mulai sepi ditinggal murid-murid yang berhamburan pulang.

​Di dalam kelas X-A yang sudah lenggang, Aery dan Farah duduk berhadapan di meja barisan paling belakang. Berbagai buku catatan, rumus Matematika, dan kisi-kisi PTS berserakan di atas meja. Farah yang biasanya heboh kini terlihat serius memegangi keningnya sambil menatap soal simulasi fungsi kuadrat.

​"Ry, sumpah ya, ini angka kenapa bisa ada hurufnya sih? Pusing banget kepala gue!" keluh Farah sambil menyandarkan punggungnya lemas ke kursi.

​Aery terkekeh pelan sambil merapikan pensilnya. "Makanya dibaca pelan-pelan, Far. Kan PTS tinggal seminggu lagi, masa lo mau pasrah?"

Saat Aery sedang menjelaskan ulang rumus dasar ke Farah, pintu kelas X-A yang terbuka separuh memperlihatkan sosok Bumi yang sedang melintas di koridor sambil membawa buku cetak Sejarah dari perpustakaan.

​Langkah Bumi terhenti. Matanya tak sengaja melihat dua gadis itu sedang sibuk belajar. Dari ambang pintu, Bumi mengetuk kosen pintu pelan.

Tok tok tok!

​"Belum pulang, Ry, Far?" sapa Bumi dengan nada suaranya yang tenang dan ramah.

​Farah langsung mendongak, matanya berbinar seperti melihat juru selamat. "PRABUMI! Pas banget lo lewat! Sini masuk, tolongin otak gue yang mau meledak gara-gara Matematika!"

Bumi tersenyum tipis, lalu melangkah masuk ke kelas X-A. "Boleh join? Aku juga mau ngulang materi Matematika buat PTS."

​"Boleh banget, Bum! Sini duduk," balas Aery cepat, senyum hangat yang tulus langsung terukir di wajahnya. Aery menggeser tasnya agar Bumi bisa duduk di sebelahnya.

Sementara itu, di ujung koridor, Jasver dan Ren yang sudah menyampirkan tas di satu bahu berniat langsung menuju stasiun untuk pulang. Namun, saat melewati kelas X-A, Ren menghentikan langkahnya.

​"Lah, Bumi? Kok malah ada di dalam kelas X-A?" bisik Ren sambil mengintip dari jendela luar.

Jasver ikut melongokkan kepalanya ke dalam jendela. Matanya menangkap Bumi yang baru saja duduk di dekat Aery dan Farah. Jasver juga melihat bagaimana senyum Aery mendadak mekar begitu Bumi bergabung.

​Ada denyut pelan yang sedikit mengusik dada Jasver. Cepet banget senyumnya keluar kalau udah ada Bumi... batin Jasver.

​"Woi! Pada ngapain lo bertiga?" seru Ren tanpa dosa dari pintu kelas, merusak keheningan. "Bum, lo ngga jadi balik?"

​Farah memutar matanya malas. "Kagak! Kita lagi belajar bareng buat PTS. Lo berdua kalau cuma mau berisik mending pulang sana!"

Jasver yang tadinya hendak mengajak Ren pulang mendadak mengurungkan niatnya. Dirinya melirik Aery yang sedang menunduk membaca buku, lalu melirik tempat kosong di sebelah Farah. Keinginan untuk berada di dekat Aery sekaligus dorongan diam-diam untuk melihat interaksi Aery dan Bumi membuat Jasver mengambil keputusan impulsif.

​"Siapa bilang kami mau pulang? Gue sama Ren juga mau belajar ya! Nilai Matematika gue kemarin juga tiarap," cerocos Jasver asal, langsung melangkah masuk dan menarik kursi di sebelah Farah.

Ren membelalakkan mata. "Lah, Ver? Katanya mau mabar–"

​"Mabar bisa nanti! PTS lebih penting, Ren. Sini lo duduk!" potong Jasver cepat sambil menendang pelan kaki kursi di sebelahnya agar Ren ikut duduk.

​Ren hanya bisa menghela napas dan memutar bola matanya malas, tapi akhirnya pasrah ikut menarik kursi dan bergabung di lingkaran meja tersebut.

Kini, kelima orang itu resmi duduk melingkar di dalam kelas X-A yang makin adem di sore hari.

​Bumi mulai telaten menjelaskan langkah-langkah pengerjaan soal ke Aery dan Farah. Aery mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk dan melempar senyum penuh rasa kagum ke arah Bumi.

​Di sebelah Farah, Jasver pura-pura sibuk mencoret-coret kertasnya sendiri. Tapi dari sudut matanya, Jasver tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah Aery. Setiap kali melihat gadis itu tersenyum manis ke arah Bumi, Jasver makin meyakinkan dirinya untuk memendam perasaan tertarik yang baru tumbuh itu dalam-dalam.

Udah jelas banget... tatapan Aery cuma buat Bumi. Gue sadar diri aja lah, batin Jasver sambil menghembuskan napas pelan, mengutak-atik bolpoinnya.

​Namun, di balik suasana belajar yang tenang itu, Bumi yang berpura-pura fokus mengajari Aery sebenarnya memperhatikan pergerakan Jasver. Bumi menangkap raut wajah Jasver yang berulang kali redup saat melihat Aery, juga menangkap bagaimana Farah diam-diam selalu melirik ke arah sahabatnya setiap kali cowok itu mendesah pelan.

♧♧♧

Malam harinya, pendar lampu neon di bimbingan belajar Aksara menyoroti suasana kelas yang mulai diisi beberapa anak SMA. Di meja barisan tengah, empat serangkai itu sudah berkumpul: Farah, Bumi, Jasver, dan Ren.

Ren yang baru selesai menata buku-bukunya menoleh ke arah Farah yang sedang sibuk menguncir rambutnya.

​"Eh, Far," panggil Ren sambil menyenggol lengan Farah. "Kenapa lo ngga sekalian ngajak si Aery les disini aja sih? Kan makin rame kalau dia ikut. Lagian bentar lagi PTS, biar bisa belajar bareng kita terus."

Farah memutar matanya pelan mendengar pertanyaan Ren, lalu menyenderkan punggungnya ke kursi dengan gaya santai. "Ngga bakal mau dan ngga butuh dia, Ren."

​Jasver yang tadinya berpura-pura sibuk memutar-mutar pensil otomatis menghentikan pergerakannya. Telinganya refleks berdiri tajam mendengar nama Aery disebut. Dia melirik Farah dengan raut penasaran yang dibungkus wajah sok biasa.

​"Lah, kenapa? Tempat les kita kan bagus, pengajarnya lulusan PTN semua," timpal Ren lagi, masih polos.

​Farah terkekeh renyah. "Ya bukannya bimbel kita ngga bagus, masalahnya Aery tuh udah punya privat pengajar sendiri di rumah. Kakak kandungnya sendiri yang ngajar, dan kakaknya itu emang guru di SMA favorit sebelah."

​"Oalah, pantesan..." gumam Ren mengangguk-angguk paham.

​"Lagian ya," lanjut Farah sambil tersenyum miring, "Aery tuh bisa dibilang udah pinter dari lahir, bego! Tanpa les juga nilainya udah konsisten nangkring di urutan atas paralel dari zaman SMP. Dia ikut belajar bareng kita tadi sore di sekolah itu murni cuma mau nemenin gue yang otaknya mau meledak."

Jasver yang mendengarkan penjelasan Farah dari samping hanya bisa terdiam. Dadanya menyentil pelan. Pinter dari lahir, mandiri, ngga neko-neko... batin Jasver. Sosok Aery di mata Jasver rasanya makin tinggi dan makin sulit dicapai, membuatnya semakin yakin kalau keputusan untuk "tau diri" adalah langkah paling tepat.

Bumi yang duduk di sebelah Jasver tersenyum tipis, matanya melirik Jasver yang mendadak melamun menatap meja. Bumi lalu menatap Farah dengan nada suaranya yang tenang. "Pantesan tadi sore pas gue jelasin materi Matematika, Aery cepet banget nangkepnya. Dia cuma butuh penyegaran rumus aja ternyata."

​"Iya kan!" sahut Farah heboh, lalu menyikut lengan Jasver di sebelahnya. "Makanya lo, Ver! Jangan kalah sama Aery! Lo belajar yang bener, jangan cuma bisa pamer muka doang di kelas!"

Jasver tersentak dari lamunannya, lalu buru-buru memasang cengiran konyolnya yang biasa. "Yee... sembarangan! Muka ganteng gue ini aset ya! Lagian gue juga pinter kok! Pinter bikin cewek bingung."

​"Halah! Bingung karena ilfill iya!" cibir Farah cepat, membuat Ren tertawa terbahak-bahak.

Di tengah keriuhan ledekan Farah dan Ren, Bumi mengamati mereka bertiga dengan pandangan yang penuh arti. Bumi bisa melihat bagaimana Jasver terus menyembunyikan rasa tertariknya pada Aery di balik candaan konyol, sementara Farah dengan begitu alami selalu mencari perhatian Jasver lewat ledekan-ledekan kecilnya.

​"Udah-udah, tuh pengajarnya udah masuk," sela Bumi tenang sambil membuka buku catatannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!