Menikah saat masih SMA? Yang benar saja? Akankah kisah ku ber akhir dengan bahagia?
Ikuti kisah Alifea dan Azrel yang absurd dalam cerita Nikah muda SMA!
Salam Author-Jangan lupa follow, like and coment!✓
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek_Zhea♡《, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembar Z
"AKH!"
****
Ceklek.
Riksa keluar sembari tersenyum masam. Berusaha tak memecahkan tangis laki-laki itu karna kabar darinya.
"Gimana Riks? Alifea gimana? Anak gue? Riks?"
"Riksa? Gimana kondisi Fea nya nak? Dia nggak papa kan?"
Ghea dan Azrel memandang Riksa penuh harap. Riksa hanya tersenyum tipis. Memandang kedua orang itu dengan sedikitnya harapan.
"Syukur si kembar lahir dengan selamat."
Azrel dan Ghea menampakan wajah haru dan bahagia, mereka berdua mengikuti Riksa ke dalam ruangan sebelah tempat Alifea. Terlihat di dalam ruangan itu terdapat dua bayi yang terbungkus oleh kain. Azrel tak bisa menahan harunya.
"Hai, dua jagoan papah. Welcome ..."
Riksa dan Ghea menyuruh Azrel agar segera mengazaninya. Dengan tangan Azrel yang kekar, tak sulit untuk menangkup dua bayi itu dalam dekapannya. Dengan segera Azrel mengazani keduanya, dan menciumi bergantian dua anaknya itu.
"Eugh ..."
Siapa yang tidak gemas dengan raungan bayi yang baru saja lahir, dengan hati-hati. Azrel memberikan yang satunya ke dalam gendongan Ghea. Bagaimana dengan wanita yang baru saja mengeluarkan mereka dengan taruhan nyawa yang menghantuinya?
"Riks, Alifea gimana Riks? Dia baik-baik aja kan?"
Hening. Riksa tak mampu menjawabnya.
"Riks?" Azrel menatap Riksa penuh harapan.
"Riksa! gue butuh jawaban lo! Alifea baik-baik aja kan?!"
Riksa menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengatup mulutnya.
"Riksa ... bilang istri gue baik-baik aja kan? Iya kan?" Tekan Azrel kecewa.
Riksa menatap Azrel layang, pria itu seakan-akan siap untuk meluncurkan air matanya begitu mendengar ucapannya.
"Fea ..." Terjeda ucapan Riksa.
"Fea koma Zrel."
Koma? Lagi?
"Cu, cuman koma biasa kan? Jawab!" kini Azrel benar-benar seperti kehilangan akal.
"Bukan, koma panjang."
Jleb.
"Kita cuman bisa nunggu keajaiban Zrel." Riksa menghela nafasnya berat.
"Alifea nanggung semua sakit di tubuhnya Zrel, demi dua anaknya yang mau datang ke dunia. Alifea udah tahan semuanya, dia kuat Zrel."
"Sekarang dia juga harus tanggung resikonya, lo harus siap."
****
Dua tahun pun berlalu.
Menjadi oranh tua tunggal, Azrel akui bukan hal yang mudah meskipun keadaannya sangatlan mencukupi. Melihat dirinya yang sudah dapat gelar dosen dan bos, kini mendapat gelar single father.
Melihat kedua putranya yang sudah berusia 2 tahunan itu, harus tumbuh tanpa seorang ibu. Walaupun mereka sudah mengetahui ibunya sedanh terbaring seperti mayat hidup di rumah sakit selama 2 tahun, tetap saja sering membuat batin Azrel terluka dan tak tega.
"Papaaakh!"
Azrel seketika mengubah senyum kecutnya menjadi manis, berusaha membuang pikiran negative nya jauh-jauh. Meraih putra gembul nya yang imut nan mirip bakpao ini ke dalam gendongannya.
"Apa sayang? Zal mau makan?"
Putranya menggeleng, menunjuk ke arah sebuah stik yang berjalan cepat ke arahnya.
"Zalll! sini kamyu!"
"Uwaaa! ngak mahuu! Zai nakal!"
Zailand Alvaro Fansahna Haresa Ghaidan, & Zalfian Alvaro Fansahna Haresa Ghaidan. Sebuah nama khusus yang cukup panjang, Azrel berikan pada keduanya. 2 tahun Azrel merawat mereka dengan penuh kasih sayang, tak jarang Azrel mengajak mereka ke rumah sakit untuk menengok ibu mereka.
"Masa Zai mau bawa boneka hanyu buat mamyah! ncak boyeh!" omel Zalfian yang masih dalamn pelukan Azrel.
Zailand melemparkan sebuah boneka ke arah Zalfian dari bawah. Membuat Zalfian meronta minta diturunkan, mau membalas perbuatan Zailand.
"Udah-udah, mending kita nengok mama ke rumah sakit ya? Mama belum kita tengokin lo. Yuk," ucap Azrel menurunkan Zalfian dan beralih mengandeng keduanya.
Zailand dan Zalfian, si kembar paus ini walaupun sangatlah copy paste denganya. Sifatnya sumpah, mirip banget sama Alifea. Bawel, nggak bisa diem, suka makan di malam hari. Mereka kadang suka membangunkan Azrel saat malam, lalu mengajaknya bermain. Sama hal nya dulu dengan Alifea, bedanya wanita itu membangkitkan libido nya saat malam.
"Hai om Evyan! pagyu!" sapa Zalfian. Evan menarik bibirnya sekilas ke samping.
"Pagi Zalfian."
Zalfian dan Zailand berlari mendahului Azrel dan Evan, mereka berdua dengan lincah berlari ke arah mobil. Terlihat seorang wanita cantik memakai almameter putih. Wanita itu meraih dua bocah gembul ke dalam mobil.
"Pagi Zal, Zai. Semangat banget ya hari ini? Mau ketemu siapa?"
"Pagyi ante Vina! aku ama Zai mau ketemu mama! mau bagi cerita!" semangat Zalfian mengebu-ngebu ketika mengungkapkan perasaannya, perasaan gembira akan bertemu ibu nya lagi.
Vina hanya tersenyum kecut, menatap Azrel, Zalfian dan Zailand bergantian. Ada perasaan sendu dalam dirinya, melihat dua bocah kembar ini begitu bersemangat ingin bertemu ibunya yang sudah mengalami koma selama 2 tahun. Vina sangat berharap ada keajaiban yang terjadi.
"Emangnya kalian mau cerita apa sama mamah?"
"Mau gocip!" serempak Zalfian dan Zailand bersemangat. Vina pun tertawa dan mengacak-acak rambut mereka.
Azrel masuk dan duduk di sebelah mereka, dengan datar dia menyuruh Evan segera menjalankan mobilnya. Mobil pun melaju kencang menuju rumah sakit, Azrel terus membuang mukanya ke luar mobil. Perasaan sendu, takut, khawatir, amarah, sekarang bercampur dalam dirinya. Kenapa Azrel merasa bahwa tuhan tak selalu adil pada dirinya?
Vina juga menatap Azrel sekilas, membuang mukanya dan kembali bercanda dengan si kembar Z ini.
'Fanesha, dia kemana ya?'
****
Brak, bruk, brak!
Sekarang ruangan itu kembali ramai, Riksa menyambut kedatangan mereka ber- lima. Sudah lama Riksa menunggu keluarga kecil ini menjenguk pasiennya.
Alifea.
Azrel dan dua putranya itu berlalu menuju ke ranjang tempat Alifea koma dan penuh dengan alat medis di sekujur tubuhnya. Sakit batin Azrel ketika melihatnya.
"Hai Vina."
Vina menoleh ke arah Riksa yang menyapanya di ambang pintu. Senyum Riksa masih sama seperti dulu. Manis dan anggun seperti buah persik.
"Ha, hai," balas Vina canggung.
Riksa hanya tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada keluarga kecil yang ada di depannya itu.
"Mereka terlihat harmonis ya?"
Vina hanya mengganguk. Ingatannya kadang suka melayang mengingat Riksa, laki-laki yang pernah singgah di hatinya dan mengambil ciuman pertamanya 1 tahun lalu. Mungkin masih ada.
"Lo belum masih bisa lupain gue Vin? Lo masih ada rasa kah?" tanya Riksa kecil memandang mata Vina. Vina hanya menghela nafasnya.
"Kalo gue bilang iya gimana? Gimana bisa gue lupain cowok yang pernah singgah di hati gue dan ngambil ciuman gue di london? Lo kira gampang Riks?" balas Vina sendu, menatap dalam pria itu.
Ingatannya serasa berputar ke 1 tahun yang lalu.
'Kita nggak bisa ngelanjutin lagi Vin."
'Kenapa Sa? Aku ada salah? Kenapa Sa! jawab!"
'Aku harus pindah Vin, aku nggak mau LDR."
'Oke, jika itu mau lo. Well done!"
Sakit? Yaiyalah. Retak malah.
"Ngikhlasin lo itu emang gampang Riks. Tapi lo tau nggak, berapa jumlah detik, menit, waktu, yang gue habisin buat ngelupain lo? Bukan satu detik Riks. Berjuta-juta waktu, yang gue abisin doang buat ngelupain lo."
Riksa termenung menatap Vina, pandangannya ia buang. Jujur, Riksa masih menyimpan rasa pada Vina. Bahkan saat itu dia mungkin bersedia menjadikan Vina tunangannya, tapi takdir tuhan tak bisa di bantah. Riksa harus melepaskan Vina saat mereka berdua berciuman di london.
"Mamah! Zal dateng lagi!"
"Zal ih! jangan bericik! keras tauk!" omel Zailand, menyingkirkan badan Zalfian dari atas tubuh Alifea. Zalfian mengerucutkan bibirnya tanda tak terima.
"Mamah! mamah tau nggak, setiap hari papah nangisin mamah lo!" Zalfian membuka percakapannya dengan satu topik, membuka aib Azrel saat Alifea sedang koma.
"Iya! masa Zai kan lagi tidur di samping papah, nah, terus papah gigo gigo panggil mama. 'Feya Feya, gitu! kan mamah nggak lagi tidur ama papah! ih!" kali ini Zailand juga mengebu-ngebu bercerita.
"Terus, Zal kyan lagi dicebokin papah. Tibya-tiba papa nangis tau mah! mangil-mangil mamah, yaudah deh, Zal nyeboknya lama. Kan cebel!" curhat Zalfian menggembungkan pipinya.
Riksa, Vina dan Evan menahan tawa di depan ruangan, Azrel hanya bisa menahan malunya di depan dua putranya ini. Tangannya ia tangkupkan ke wajah nya menahan malunya. Tapi kini berganti menjadi wajah kesedihan, menatap istri mungilnya yang terlihat sangat kurus di matanya. Mukanya yang kini benar-benar mirip mayat hidup, Azrel terus bertanya. Kapan keajiban itu akan ada?
"Papa tinggal ke kamar mandi dulu ya, jangan nakal, ntar digentayangin mamah mau?"
"Ncak ada! papah buhoyong!"
Azrel tertawa berlalu menuju ke kamar mandi, sudah biasa meninggalkan keduanya agar bisa bercengkrama diam dengan mamah mereka.
Ketika Zailand dan Zalfian Asyik bercanda bersama, sekilas bersamaan mereka melihat sebuah tangan yang bergerak seirama. Lantas mereka kaget dan mulai berteriak.
"Papa! tante! tangyan mamah gelak-gelak!"
"Kyaaa! Zai, awass!"
Zalfian menarik Zailand mundur dari tempat tidur, menyaksikan tubuh Alifea yang bergerak perlahan-lahan. Dan tiba-tiba saja bangkit.
"Ahhh!"
Riksa terlonjak kaget dan haru, Vina dan Evan pun begitu. Mereka menghampiri Alifea yang kini masih setengah sadar sambil terduduk. Sedangkan dua bocah itu masih berdiri ketakutan, dikira mereka mamahnya habis bangun dari kuburan terus menjadi hantu.
"Alifea, ini minum dulu."
Badan Alifea yang sudah tersadar itu seakan tak punya tenaga sama sekali, sampai gelas yang dia pegang jatuh ke lantai.
Prangg!
"Zai, Zal! kalian mecahin gelas lagi ya?! kan udah papah bilang jang---"
Ucapan Azrel terhenti, ketika melihat Alifea yang kini sudah tersandar dengan nafas tak normal di tempat tidur. Perasaan bahagia dan haru meluap di dirinya, perlahan mulai melangkah maju ke arah istrinya itu.
"Papah! jangan! ada mayat hidyup! ihh!"
"Al, Alifea? Sayang?"
Alifea menengok lemas ke arah Azrel yang ada di sampingnya, kepalanya terus ia pegang. Menatap Azrel dari ujung ke atas.
"Ka, kamu siapa?"
Jleb.
Tubuh Azrel seketika membeku. Menatap Alifea lamat-lamat di depannya. Ke, kenapa--
"Alifea?"
Alifea mengelengkan kepalanya, berkata sekali lagi.
"Sungguh, kamu itu siapa?"
Dingin dan menusuk, kenapa ....
-
Alifea, Amnesia.
\*\*\*\*