Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07
"Kak, dimana Lilian, kenapa dia tidak membuatkan sarapan juga? Sudah jam segini, aku sudah lapar kak," ucap Raya yang tiba-tiba keluar dari dapur dan menghampiri Alen untuk menanyakan di mana Lilian karena jam segini dia masih belum melihat Lilian memasak.
"Apa? Lilian belum menyiapkan sarapan? Apa dia tidak melihat kalau di sini ada ibu hamil? Anak itu mulai bertingkah seenaknya sekarang," ucap Sinta marah.
"Tunggu dulu, bukan kah sebelumnya ada pembantu? Kenapa kalian bergantung dengan Lilian soal pekerjaan rumah seperti ini?" tanya Alen.
Ya, sebelumnya ketika mendengar Alen akan pulang Sinta dan Raya akan cepat-cepat memangil pembantu yang biasa mereka sewa hanya ketika ada Alen di rumah tersebut, namun kali ini art yang biasa mereka sewa sudah bekerja di tempat lain dan akhirnya mereka tidak bisa menutupi belang mereka lagi.
Mendengar ucapan sang kakak, Raya seketika menatap sang mama dengan tatapan gelisah.
"Sejak kapan Lilian memasak untuk kalian?" tanya Alen.
"Aishhhh, kak kau tidak tau ya? Ibu hampir saja kambuh penyakit nya karena masakan pelayan itu, jadi aku memecatnya dan sepakat mulai sekarang Lilian lah yang mengurus semuanya, apa kau mau penyakit lama ibu kambuh lagi?" ucap Raya yang sangat pintar mencari alasan.
"Astaga, kenapa kalian tidak bilang padaku, ibu jika memang tubuh ibu cocok dengan masakan Lilian sepertinya kita tidak harus mencari pelayan lagi, lagipula itu hanya memasak Lilian tidak bekerja jadi dia sudah sepatutnya melakukan," ucap Alen.
Gang geng gong ... Dari sini yang kalian harapkan pasti Alen membela Lilian bukan karena dari awal dia tau kenyataan tersebut dia terlihat kaget, tapi faktanya dia malah lebih khawatir dengan ibunya yang penuh sandiwara itu.
"Iya Alen ucapan Raya semuanya benar," ucap Sinta sambil memasang raut wajah khawatir.
"Maaf, tapi sebenarnya bibi punya riwayat penyakit apa?" tanya Tasya tiba-tiba ambil celah pada obrolan tersebut.
"Ibu itu punya riwayat penyakit darah tinggi, kolestrol dan juga asam lambung, jadi makanan nya harus benar-benar di jaga," ucap Raya menjelaskan.
"Astaga, itu sangat berbahaya, kebetulan sekali di kampung ku aku pernah mempelajari obat-obatan herbal yang bisa menangani penyakit seperti yang bibi idap, kedepannya aku akan membantu membuat resep obat herbal agar bibi bisa sembuh dan makan apapun yang bibi inginkan tanpa rasa khawatir," ucap Tasya penuh antusias.
"Astaga kak Tasya, kau ini sudah baik, cantik, pintar dalam obat-obatan pula, andai saja istri kak Alen adalah kak Tasya pasti aku dan ibu akan sangat senang."
"Raya kau ini bicara apa, aku hanya ingin berterima kasih pada kalian yang sudah bersedia menerima dan merawat ku" ujar Tasya lagi, sementara hatinya berbunga-bunga karena pujian tersebut.
"Omong Raya juga ada benarnya," ucap Sinta yang ikut terpesona akan kecerdasan Tasya.
Namun mereka sama sekali tidak sadar kalau sejak tadi hampir seluruh perbincangan mereka terdengar jelas di telinga Lilian yang berdiri di anak tangga pertama lantai dua rumah itu.
"Mas Alen sama sekali tidak memarahi atau menyangkal ucapan Raya yang seolah-olah hendak menggeser posisi ku untuk wanita baru itu," batin Lilian sambil menggenggam kuat pagar besi pegangan tangga.
Tap ... Tap ... Tap ...
Kericuhan di ruang tengah kediaman keluarga Bayron itu kini hening setelah mendengar suara langkah kaki Lilian yang menuni satu persatu anak tangga.
"Nyonya baru bangun," sindir Raya.
Lilian tidak mempedulikan ucapan Raya, dia menatap Alen yang saat itu duduk di samping Tasya.
"Selamat pagi," sapa Tasya seolah-olah dia adalah yang paling ramah di sana.
"Mas, kenapa kau duduk di sana? Bukan kah masih banyak tempat duduk yang bisa kau duduki?" tanya Lilian dengan tatapan tajam.
"Cukup! Ini masih pagi, masa hanya karena tempat duduk saja kau jadi marah, sebaiknya sekarang kau pergi ke dapur dan buatkan sarapan pagi untuk kita semua, terutama makanan bergizi harus kau siapkan untuk Tasya yang sedang hamil," ucap Bu Sinta tanpa memikirkan perasaan Lilian yang saat ini masih menatap nya.
"Ibu benar, aku juga sudah sangat lapar," ucap Alen sama bajigan nya dengan keluarga terkutuk nya itu.
Tak kuasa berdebat dengan suasana hatinya yang tidak baik, Lilian pun memutuskan untuk berjalan ke dapur dan seperti biasa dia menyiapkan sarapan pagi untuk satu keluarga.
"Lilian sepertinya masih sangat marah, jika dia tidak bisa menerima aku dan anakku di rumah ini sebaiknya kami pergi saja, aku tidak ingin membuat keluarga ini hancur," ucap Tasya kembali berakting seolah-olah ia sangat memahami perasaan Lilian.
"Sudahlah kak Tasya, jangan terlalu memikirkan nya, dia begitu karena cemburu padamu, lihatlah, kau belum terlalu lama menikah sudah hamil, sedangkan kak Alen dan Lilian, mereka sudah menikah tiga tahun dan perutnya masih kempes saja," ujar Raya dengan seenaknya.
Di rumah itu kalau tidak hinaan ya ejekan, itulah yang di dapatkan Lilian.
"Raya benar, nanti perlahan-lahan juga dia akan terbiasa dengan kehadiran mu, jangan terlalu di pikirkan, bukan begitu Alen?" ucap Sinta kepada Tasya dan Alen anak nya.
"Ah iya, nanti perlahan-lahan Lilian pasti akan menerima mu, lagipula dia sebenarnya sangat suka anak-anak," ucap Alen lagi.
"Baru satu hari di rumah ini semua perhatian sudah tertuju padaku, semua orang bahkan tidak peduli pada Lilian, sepertinya menyingkirkan wanita itu sangat lah mudah," batin Tasya yang berfikir kalau dirinya sangat beruntung di bela semua orang.
Dia tidak tau kalau orang-orang yang ada di sekeliling nya saat ini hanya sekelompok orang bodoh yang buta mata buta hati dan juga telinga.
Satu jam berlalu ...
Mereka semua kini berkumpul di meja makan dengan masakan yang sudah di siapkan oleh Lilian, namun baru saja Lilian hendak menarik kursi yang ada di samping Alen, tiba-tiba Tasya malah datang dan menduduki nya.
"Maaf, tapi sepertinya kursi ini sangat nyaman, apakah kau tidak keberatan aku duduk di sini?" ucap Tasya dengan tidak tau malu nya.
"Heem, sepertinya kau di sini bukan hanya ingin menumpang ya, tapi juga merebut semua yang menjadi milikku," ucap Lilian yang berhasil membuat semua orang menatap wajah nya.
"Lilian! Lagi-lagi kau Begi kasar hanya karena sebuah tempat duduk," marah Alen.
"Memang nya kenapa mas? Ini kan tempat ku, tidak sopan sebagai tamu sepertinya duduk di samping suami pemilik rumah," ucap Lilian yang cukup kesal dengan Tasya yang pura-pura polos.
"Maaf, sepertinya aku salah, aku akan pindah," ucap Tasya yang kemudian hendak berdiri dari duduknya.
Namun dengan cepat Alen menahan tangan Tasya.
"Sudah, kau duduk di sini saja," ucap nya tanpa mempedulikan amarah Lilian.
Bersambung....
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍