Mereka memanggilku dengan dua nama.
Aku tidak memiliki kehidupan normal. Aku juga bukan manusia, aku hanyalah sebuah alat yang di gunakan untuk mencapai kekayaan dan menambah kekuasaan.
Alexa, begitu mereka memanggilku saat aku memakai wajah kebaikan.
Tapi, siapa yang menyangka? Ternyata aku tidak sebaik yang mereka pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mr. haart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 32 (THREE YEARS AGO 5)
Tiga tahun yang lalu...
"untuk apa kamu membeli ini?" tanya Zain saat melihat sebuah stetoskop di dalam kardus.
"aku ingin memberikannya pada dokter Alvin. Tapi, sebaiknya kita menggunakan jasa pengiriman" jawab Alexa.
"aku tidak keberatan kalau kamu memberikan langsung padanya" Zain sedang membereskan beberapa barang.
Saat ini mereka tinggal di sebuah apartemen, karena Zain belum bisa membawa Alexa ke rumahnya. Dia menyiapkan identitas baru untuk Alexa dan mengajarkannya beberapa hal.
"kalau kita ke rumah sakit sekarang, kita akan terlambat" jawab Alexa.
"baiklah, aku akan membungkusnya"
Mereka sudah berada di apartemen itu selama dua bulan, dan masa sewa sudah habis. Karena Zain tidak berniat untuk tinggal lebih lama lagi di tempat itu, dia pun membawa Alexa bersamanya dan tujuannya adalah rumah yang nyaman tempat ibunya berada.
Rumah itu terletak di kota yang lain, perlu waktu berjam-jam untuk tiba disana dengan menggunakan transportasi daratan, Zain memilih jalur penerbangan yang cepat dan tidak menghabiskan banyak waktu.
"memangnya ada orang yang akan mencelakai ku, kalau aku tidak menyamar?" tanya Alexa saat Zain menggulung rambutnya dan memasangkan topi sailor di kepalanya.
"ada banyak orang gila di tempat ini. Mereka akan lebih gila kalau melihatmu" jawab Zain.
Setelah itu, Alexa menggunakan lensa mata berwarna hitam, dan menambahkan sedikit pemerah pipi di wajahnya.
"aku kelihatan aneh" ucap Alexa saat bercermin.
"apapun yang kamu gunakan, kamu tetap terlihat cantik. Sepertinya aku harus menambahkan sedikit lipstik" ucap Zain saat menatap Alexa yang berada di hadapannya.
"cukup, aku tidak mau. Kamu saja yang pakai!" Alexa menolak dengan kesal.
"ini hanya sementara. Setelah tiba disana, kamu tidak perlu menggunakan penyamaran apapun"
"benarkah?" tanya Alexa dengan mata berbinar.
Zain mengangguk.
Selama berada di sana, tidak pernah sekali pun Alexa berpenampilan biasa. Dia selalu menggunakan penyamaran yang berbeda setiap harinya dan Zain selalu menemaninya kemana pun.
Tidak sedikit orang yang memperhatikan mereka, tapi orang-orang itu hanya berpikir kalau mereka adalah pasangan aneh, karena bukan hanya Alexa yang berpenampilan tidak biasa, Zain juga berpenampilan sama.
Walaupun mereka terlihat berbeda, tidak ada masalah apapun selama perjalanan, orang-orang hanya melihat dan berlalu begitu saja karena bukan hanya mereka yang berpenampilan unik, tapi juga banyak orang yang melakukannya, walaupun jarang.
Zain dan Alexa tiba di tempat tujuan sekitar lima jam perjalanan dan saat ini mereka sudah tiba di depan sebuah rumah. Rumah itu tidak terlalu besar tetapi sangat asri, berbagai jenis tanaman tersusun rapi di depan halaman, kondisinya pun sangat bersih dan tampak selalu di rawat dengan baik.
"sebelum kita masuk, kita bersihkan dulu wajahmu" ucap Zain saat mereka masih di dalam mobil.
Zain mengambil dua lembar tisu basah dan membersihkan wajah Alexa dengan lembut, lalu melepaskan topi sailor di kepalanya, dan terakhir melepaskan softlens dari matanya.
Rambut Alexa saat ini terurai panjang dan berwarna kuning keemasan, dia melakukan pewarnaan yang sama seperti semula. Karena saat terjun dari gedung, Alexa masih menggunakan warna rambut oren kecoklatan.
Mereka berdua di sambut ramah oleh salah satu pekerja dan karena orang itu mengenal Zain, mereka pun langsung di suruh masuk ke dalam rumah.
"nyonya lagi di belakang, saya akan memanggilnya. Silahkan duduk dulu tuan" Ucap orang itu sambil tersenyum.
"tidak, aku yang akan kesana." ucap Zain.
"baiklah, saya akan meletakkan barang-barangnya" kata orang itu.
Zain dan Alexa menuju belakang rumah. Disana terlihat seorang wanita berada di atas kursi roda, dia sedang melihat tanaman bunga yang berada di hadapannya. Zain menuntun tangan Alexa dan menghampiri wanita itu.
"ibu...." ucap Zain lembut.
Mendengar suara itu membuatnya menoleh dan seketika terisak, Zain berlutut dan memeluk sang ibu, suasana berubah menjadi haru. Hanya Alexa yang tidak mengerti hal itu.
"anak gadis siapa yang kamu culik itu?" tanya sang ibu setelah melihat Alexa.
"ha-halo, nama saya Rena" Alexa mengulurkan tangannya.
Zain memintanya untuk tidak menggunakan nama Alexa, karena identitas yang dimilikinya saat ini bernama Rena.
"sini nak" wanita itu meminta Alexa untuk mendekat.
Awalnya Alexa terlihat bingung, tapi dia segera mendekat. Wanita itu pun memelukanya dengan erat. Sedangkan Zain berdiri di samping mereka.
"namaku Isabella. Kamu bebas memanggilku siapa tapi kalau kamu tidak keberatan, maukah kamu memanggil ku ibu?" tanya Isabella.
Alexa mengangguk dan mereka pun kembali berpelukan.
"awalnya ibu ragu karena Zain bilang dia akan pulang. Padahal anak ini tidak pernah menurut saat ibu memintanya. Tapi karena ada kamu, akhirnya dia mau menemui ibunya setelah sekian lama" Isabella bercerita saat mereka sudah berada di tengah rumah. Duduk di atas sofa.
"bukan begitu, bu. Pekerjaanku saat ini sangat sulit untuk ku ting_"
"kamu selalu membuat alasan dengan pekerjaan. Lalu, bagaimana kamu bisa pulang sekarang? Pekerjaanmu sudah selesai?" Isabella memotong kalimat Zain
"aku tidak bisa menjelaskannya pada ibu" jawab Zain.
"bagaimana kamu bisa menyukai anakku? Padahal aku sendiri sebagai ibunya tidak tau apapun mengenai pekerjaannya. Zain, apa yang kamu lakukan pada gadis ini? Kamu mengancamnya?" Isabella sedikit tersenyum, dia sangat senang sampai mengganggu anaknya sendiri.
Alexa hanya menatap dengan tatapan tidak mengerti.
"ibu. Dia tidak menyukaiku, aku membawanya kesini karena dia sendirian. Dia mengalami kecelakaan dan orangt_"
"cukup. Gadis ini tidak perlu mengingat kejadian itu lagi. Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, dan anggap saja ini rumahmu, ini ibumu, dan itu saudara lelakimu" ucap Isabella sambil menggenggam tangan Alexa.
"saudara lelaki?" Zain mengernyitkan dahi.
"dia kan tidak menyukaimu" jawab Isabella.
Zain terdiam dan tidak tau harus mengatakan apa. Isabella hanya tersenyum dan tertawa ringan. Alexa yang sedikit paham dengan pembicaraan itu hanya ikut tersenyum.
"suka? Kenapa dia berpikir aku tidak menyukainya? Lebih dari itu, aku merasa perasaan ini bukan hanya sekedar rasa suka" pikir Alexa.
Minggu pertama di rumah itu Alexa masih merasa asing, tapi Zain dan ibunya selalu membuatnya merasa senang dan tidak kesepian.
Minggu kedua, Alexa mulai terbiasa dengan rumah itu dan sudah menghapal setiap sudut bagian-bagian rumah.
Minggu ketiga, Alexa berkenalan dengan seorang gadis seusianya yang merupakan tetangga mereka, gadis itu sedang cuti kuliah dan pergi berlibur ke tempat asalnya, dia bernama Sasa. Sasa sering berkunjung ke rumah mereka, tapi bukan untuk bertemu dengan Alexa, melainkan untuk melihat Zain.
Suatu hari...
"dimana Zain?" tanya Sasa saat berada di depan pintu, memegang sebuah piring berisi makanan.
"tuan berada di belakang" jawab salah satu pekerja rumah yang membuka pintu.
"aku akan kesana" ucap Sasa dan langsung masuk ke dalam rumah itu.
"anda tidak bisa masuk sembarang.... Nona!!!" teriaknya, namun Sasa tidak peduli.
Sasa melihat Zain sedang berbicara dengan Alexa. Dia pun menghampiri kedua orang itu.
"kalau aku secantik dia, pasti Zain akan melirikku. Tapi, kalau aku berusaha lebih baik lagi, pasti dia akan jatuh padaku dan meninggalkan wanita itu" pikir Sasa.
Zain menerima pemberian itu, mereka pun makan bersama dan duduk di kursi di pinggir halaman. Alexa mengungkapkan rasa terimakasih dengan mengatakan "kue ini sangat enak" tetapi Sasa hanya menatap lekat pada Zain dan Alexa mulai menyadarinya.
.........
"sepertinya Sasa menyukaimu" ucap Alexa saat Sasa sudah pulang.
"dia memang anak yang baik, tapi bukan berarti dia menyukaiku" jawab Zain.
"Walaupun dia tidak mengatakan langsung, tapi aku bisa membaca raut wajahnya dan aku rasa kue itu di buat untukmu. Dia terlihat senang saat kamu memakannya"
"udara akan semakin dingin, lebih baik kita masuk ke dalam rumah" Zain tidak mau memikirkan hal itu dan mengalihkan pembicaraan.
Minggu keempat, Alexa semakin merasa tidak nyaman berada disana, Sasa selalu mengunjungi rumah mereka dan selalu mencari Zain. Saat Zain tidak ada, dia akan pergi begitu saja dan tidak menatap atau pun tersenyum pada Alexa.
Minggu kelima, Alexa semakin kesal dan tidak tahan dengan apa terjadi. Sasa selalu menempel dan ikut kemana pun Zain pergi. Sasa bahkan melakukan banyak cara agar bisa membuat Alexa menjauhi Zain, lalu mendekati Zain setiap ada kesempatan.
Sampai suatu hari, Alexa sama sekali tidak bicara satu kata pun pada Zain.
"aku akan keluar, kamu mau ikut?" tanya Zain.
Alexa menggeleng, dia sedang berada di halaman belakang saat Zain bertanya.
"ibu sedang pergi, mungkin akan pulang besok pagi. Apa kamu tidak takut sendirian?" tanya Zain sekali lagi.
Alexa hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"baiklah. Kamu mau menitip sesuatu?" tanya Zain, Alexa pun kembali menggelengkan kepalanya.
Zain merasa ada yang aneh dengan Alexa, tapi dia tetap meninggalkannya sendirian.
Tapi, Zain tidak berpikir, jika dia sepenuhnya meninggalkan Alexa sendirian, karena masih ada beberapa pekerja rumah disana.
Malam semakin gelap dan hujan mulai mengguyur, Alexa berada di kamarnya saat itu, dia hanya memandang dari jendela menunggu seseorang datang. Sesekali petir menyambar dan terdengar suara gemuruh yang kencang, tapi Alexa hanya berdiri disana, seolah dia tidak takut pada badai yang ada di hadapannya.
Seketika dia tersenyum di balik jendela saat melihat sebuah lampu dari kendaraan memasuki halaman rumah, tapi senyumannya tidak bertahan lama. Dia menurunkan wajahnya saat melihat yang berada di atas motor itu bukan hanya satu orang, melainkan dua orang. Zain membonceng seseorang di motornya, setelah Alexa memperhatikan lebih baik, orang itu adalah Sasa.
Zain segera masuk ke dalam rumah, tapi tidak ada siapapun disana. Dia merasa aneh karena selama ini Alexa selalu menyambutnya. Tanpa peduli dengan dirinya sendiri yang seluruh tubuhnya telah basah, dia pun memgitari rumah untuk mencari Alexa. Tapi dia tidak menemukannya.
"apa dia sudah mengingat sesuatu dan akhirnya kabur saat aku tidak ada? Harusnya aku tidak membiarkannya sendirian. Pantas saja sikapnya aneh beberapa hari ini" pikir Zain.
Zain terus mengitari sudut rumah, dia pun bertanya pada para pekerja tapi mereka juga tidak tau. Zain pun segera berlari keluar rumah, bertanya pada setiap rumah yang dia lewati, tapi mereka tidak tau apapun.
"tuan, kami menemukan nona, dia berada di atap rumah" ucap salah satu pekerja saat menemui Zain di tengah jalan.
"bagaimana dia bisa di atas sana?" tanya Zain.
"saya tidak tau"
Zain segera berlari menuju rumah, dia sedikit merasakan kedinginan karena terguyur hujan yang tidak kunjung berhenti. Dia pun melihat Alexa berada di atas atap rumahnya.
"walaupun ingatannya hilang, tapi sifatnya tetap sama. Dia akan berada di ketinggian kalau perasaanya sedang tidak baik. Apa yang sedang di pikirkannya sekarang?" Zain berpikir sambil mencoba naik ke atas atap.
Setelah tiba di atas, dia pun segera menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya.
"disini dingin, kamu bisa sakit. Hujannya akan semakin deras, kita masuk ke rumah sekarang ya?" Zain menarik tangan Alexa, tapi wanita itu tidak bergeming.
"aku sudah sakit, tidak ada bedanya kalau aku sakit sekali lagi" ucap Alexa.
Zain pun mendekatinya dan sekarang tepat berada di hadapan Alexa. Dia menyentuh kedua pipi wanita itu dan menaikkan kepala wanita itu dengan pelan untuk menatapnya.
"aku akan menyembuhkanmu, tapi sekarang kita harus turun dulu" ucal Zain.
Alexa hanya menatap ringan ke arah pria itu, dia tidak tau harus mengatakan apa, dia hanya ingin Zain mengetahui perasaanya, tapi hal itu sangat sulit untuk di ungkapkan.
...***...
apa akan ketemu zoe!
q tunggu yg baru thor
💪💪💪❤️❤️❤️👍👍👍
pasti blom kan thooor ?
msa ia ga ada cerita bahagianya Zain dan Alexa..key dan Clare,,dan yg lain nya,,soalnya kyanya mesterinya msih ada, Luke siapa jga blom ada penjelasan kan
💪💪💪