NovelToon NovelToon
Budak Setan

Budak Setan

Status: tamat
Genre:Horor / Contest / Balas Dendam / Spiritual / Rumahhantu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:514.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mariah

"Menikah sejatinya menjadi moment yang paling bahagia. Namun, apa jadinya jika seseorang harus menikah dengan iblis demi sebuah pembalasan dendam.

Ini adalah kisah seorang wanita yang memilih jalan sesat demi membalaskan dendam.

Bainah adalah janda 2 kali, wanita yang nyaris mati bunuh diri, akibat kebodohannya meninggalkan seorang suami hanya untuk mendatangi seorang penipu, yang ternyata memanfaatkan nama baiknya, dan pada akhirnya dia harus rela menanggung semua beban hutang yang ditinggalkan oleh suami kedua untuknya.

penasaran, simak kisah berikut ini,

BUDAK SETAN KARYA MARIAH.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

...Sebelumnya .......

"Atau mungkin, dia simpanan aki-aki tajir! Hahaha!" Mereka tertawa bersama.

"Bicarain siapa?" tanya seseorang yang tiba-tiba mengagetkan mereka.

"Eh! Ba-Bainah!"

Deg!!

Tiba-tiba saja Bainah sudah hadir di sana, ikut berkumpul bersama mereka. Seketika semua nyaris terdiam.

...BUDAK SETHAN...

...~ Selamat membaca ~...

Rumah kediaman Juragan itu kini sudah ramai dipadati oleh sejumlah warga yang ikut melayat untuk mengantar Sang Juragan kaya ke peristirahatan terakhir. Tidak terkecuali dengan Bainah yang juga hadir, memakai kerudung hitam menutupi kepalanya.

Endang masih tampak lemas dengan mata merah sembab, sebab semalam penuh dia habiskan dengan menangisi kepergian sang suami.

"Yang sabar ya, Mbak Endang!" Satu-persatu para pelayat yang terdiri dari kaum ibu-ibu tampak berusaha menyemangatinya, dia hanya membalas dengan anggukan, sebuah respon kecil, setidaknya dia tak mengabaikan mereka.

"Endang, turut berduka, ya!" Bainah menghampirinya dengan segenggam bucket yang dia letakkan di dekat Endang. Diantara sekian penghantar pelayat, hanya Bainah yang tak dia respon dengan baik. Dia memalingkan wajah, tak sudi menerima ucapan duka dari wanita itu.

"Terus saja begitu, Endang! Terus saja bersikap sombong, meski cepat atau lambat kau pasti akan jatuh miskin!" bisik Bainah di dekat telinganya, yang membuat matanya seketika nyaris menyalak.

Bainah kembali berdiri tegak, dengan senyuman piciknya.

"Aku akan dengan sabar menunggumu, melihat bagaimana proses seorang wanita sombong perlahan bertekuk lutut, sambil mengesampingkan harga diri," bisiknya yang kedua kali.

Kali ini tangan Endang sudah mengepal erat. Dia sampai bergetar karena harus menahan amarah.

"Kau!" hardiknya pelan. "Jangan bermimpi aku akan jatuh miskin apalagi sampai mengemis padamu!" Dia berusaha menggertak.

"Baiklah, kita lihat saja seberapa kuat kamu sanggup bertahan. Beberapa bulan ke depan, masihkan kamu bisa berkata begitu padaku?" Lagi, Bainah berkata dengan nada menghina.

"Pergi kamu, Brengs*k!" Tak kuasa menahan emosi yang sudah membara, seketika Endang terlepas, tanpa sengaja dia sudah berteriak di depan para tamu pelayat. Membuat mereka semua menoleh dengan tatapan tak mengenakkan.

"Ih, Bu Endang kenapa tuh?

"Iya, tiba-tiba berteriak di saat keadaan begini!"

"Lagi ada masalah, kali?"

"Yah, begitulah kalau orang kaya terkena musibah, sikapnya bisa mendadak berubah drastis! Bahkan tanpa pandang sikon." Sebagian ibu-ibu mulai bergosip.

"Itulah akibatnya jadi orang terlalu serakah, memakan harta orang lain, tanpa memikirkan nasib orang."

"Ya, betul banget tuh!"

"Ihh, serem juga ya, Bu, kalau jadi kaya harus menjadi seperti itu. Lebih baik hidup sederhana apa adanya, daripada kaya raya tapi hidup sengasara, dihantui rasa takut."

"Iya, betul banget, takut jatuh miskin!"

"Nah, bener lagi, nih!"

"Oh, iya. Ngomong-ngomong, perempuan yang ngomong sama Mbak Endang itu siapa, ya?" Seketika pandangan mereka fokus pada Bainah.

"Iya, kayak gak asing, ya?"

"Ho'oh!"

"Eh, dia datang, dia datang!"

Mereka langsung pura-pura menatap ke lain saat tiba-tiba Bainah berbalik badan, datang menghampiri.

"Permisi, Ibu Ibu semua," sapanya ramah, membuat mereka menoleh bersama, seketika mereka terpana dengan kemewahan yang ada pada tubuh Bainah.

Pakaian, tas, juga aksesorisnya, semua terlihat mewah dan modern. Pun dengan wajahnya yang juga terlihat sangat menawan, seperti artis yang selalu melakukan perawatan di salon-salon mewah.

"Kamu .. Bainah kan?" tanya salah seorang dari kumpulan itu dengan ramah.

"Ya, Bu Ibu, ini saya, Bainah. Tapi saya yang dulu dengan yang sekarang itu sudah beda. Kalian bisa lihat sendiri bukan perbedaannya?" Dia langsung menunjukkan lengannya, yang mana melingkar sebuah gelang mewah di tangan kiri dan kanan, juga cincin dengan permata hijau yang sangat cantik.

Mereka tersenyum hambar. "Iya, semuanya bagus dan mewah!" jawab salah seorang dari mereka.

"Tapi, kalau boleh tahu, kamu kerjanya apa sih, bukannya baru sebulan kamu pergi dari Dusun ini, dan sekarang saat kembali kamu sudah kaya raya, bagi tips dan rahasia suksesnya sama kita dong!"

"Rahasianya ya .. hmm!" Bainah tersenyum kecil. "Aku hanya berbisnis!"

"Bisnis?"

"Iya!"

"Bisnis apa?"

"Em?" Bainah terdiam. Seketika dia kehabisan ide, entah bisnis apa yang harus dia karang sebagai cerita palsu lagi. "Ah .. bisnisku ini masih rahasia." Dia tertawa untuk menutupi rasa gugup atas kebohongannya.

Yakin masih rahasia .. apa jangan-jangan sebenarnya kamu berbohong sama kami, ya?"

Deg!

"Eh, Bu. Kalau ngomong tuh mulut sambil di rem ya, ngapain juga aku berbohong!"

"Ya, siapa tahu aja kamu membohongi kita, mungkin aja kamu cuma simpanan orang!"

Deg!! Seketika emosi Bainah membuncah. Simpanan orang, lebih tepatnya istri seorang makhluk gaib. "Kan sudah saya bilang, kalau saya ini pebisnis sukses!"

"Iya, kalau gitu bisnisnya apa? Apa jangan-jangan bisnis ilegal ya, makanya di rahasiakan!"

"Bukanlah, bisnisku ini legal!"

"Kalau begitu apa? Apa jangan-jangan bisnismu mengedarkan narkoba!" Seketika para wanita penghujat itu tertawa bersama.

"Cukup! Jaga mulut kalian ya, Bu Ibu, jangan sampai gara-gara mulut, jasad kalian binasa, ingat itu!" hardik Bainah yang kemudian meninggalkan area kediaman Juragan Takur. Sedang para ibu-ibu penghujat tadi kembali tertawa bersama.

Mereka tak menyadari, bahwa akibat ucapan itu, baru saja menghantarkan mereka ke dalam ancaman yang mematikan.

...*...

...*...

...*...

Acara pemakaman baru saja usai, satu-persatu para pelayat itu meninggalkan area pemakaman, kini hanya tersisa beberapa saja yang masih setia meratap di atas batu nisan.

Salah satunya ialah Endang, yang terus meraung menangisi kepergian sang suami. Dia masih tak bisa percaya kalau suaminya itu benar-benar mati.

"Sudah, Mbak Endang. Iklaskan bapak. Kasian beliau menderita jika kita yang masih hidup terus menangisi kepergiannya, itu akan menyiksa beliau di alam sana." Pak RT Hasan berusaha mengingatkan wanita cantik yang kini bergelar janda itu.

Sementara anak bunsu Endang tak hentinya menangis dipelukan ibunya.

"Mama, aku mau ayah pulang, ayo Ma ajak ayah pulang," jeritnya yang membuat para pelayat yang tersisa merasa simpati.

"Nak, bapaknya mau tidur dulu, ya. Besok kan Lita bisa jenguk lagi bapaknya ke sini, sekarang biarkan bapaknya istirahat, ya!"

"Gak mau!" Lita menepis lengan orang yang berusaha menenangkannya itu. "Lita maunya ayah ikut pulang!" Endang langsung merangkul hangat anak bungsunya yang kembali menangis histeris. "Sudah, Pak. Biarkan saya saja yang menenangkannya," ucapnya, seakan berterimakasih karena sudah berusaha membantu.

Sementara Marni, dia tampak jauh lebih tegar dari ibu dan adiknya. Anak itu bersedih tapi tidak hanyut dan terbawa suasana. Disaat yang lain sibuk menangis, hanya dia satu-satunya keluarga yang membacakan doa untuk almarhum ayahnya.

Surti dan Raiden tampak hadir di sana. Tidak ada air mata di wajah mereka, bahkan kesedihan pun tak tampak menyelimuti raut mereka.

"Sekarang gimana, Mbak Sur?" bisik Raiden pada Surti.

"Untuk sementara, kita di sini dulu."

"Tapi sampai kapan?"

"Ya, sabar aja dulu, kenapa sih!"

"Aish!" Dia berdesis kesal. "Masalahnya malam ini aku ada janji dengan Bainah!"

Bugg!

Surti mengetuk kepala Raiden yang dia rasa adiknya itu sudah sinting. "Kamu gila, ya! Kita masih dalam masa berkabung, Mas Takur baru aja koit, dan kamu sempat-sempatnya mikirin mojok sama si janda, dasar semprul!" cecarnya memaki kesal.

...Bersambung .......

...(Berikan komen dan like sebagai bentuk dukungan jika suka)...

1
Mega Arum
walah kecewaaa.... end kok gantung, aneh.. tiwas ngulang baca lagi, ternyata oh ternyata ga berlanjut
Mega Arum
tokoh utamanya Baniah atau endang, kok mlah bnyak alur tntg Endang.. bkn budak setanya si baniah
Mega Arum
ternyata prnh baca novel ini, tp dah agak lupa... , suka sih cb baca lagi
Mega Arum
baru nemu.. suka sg kisah sprti ini,
nixie norbert
mampir kesini karna iseng ... ehhh ternyata diksinya bagus
Edi Pete
Sayang seribu kali sayang.Ceritanya gak ada gambarnya.Jadinya kurang pas buat bacanya.
Naida Iko
500 km?
Naida Iko
ini naik bus apa kerete?
2021 last update author. Kemn pergi.. Setahun lebih berlalu
Else Widiawati
sekian purnama blm ip juga kk..sehat2 yah kk
Adinda
dukun versus dukun🤣
Anonim
malah end. belum juga selesai ceritain.
hadueh
Adinda
makany kalo mau ghibah orang tengok kanan kiri dulu😅
Adinda
mantap bainah👍😁
Sri Mesna
bagus skli kisahnya 😻
Felinfirhad fefir lovers
Seru banget bru epsode 1 ,brsa lgi ikut ngegibh ,yg bca jg asik
Felinfirhad fefir lovers
Seru banget bru epsode 1 ,brsa lgi ikut ngegibh ,yg bca jg asik
Felinfirhad fefir lovers
Seru banget bru epsode 1 ,brsa lgi ikut ngegibh ,yg bca jg asik
Mak Uda
kpnla cerita ini dilnjutin , ayo dong dilanjutin bikin penasaran ,,lg seru" nya nih
Mak Uda
Trharu SM anaknya yg mau nasehatin ibunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!