Tidur Pangeran Rayyan Muhannad Arnauth tak akan pernah nyenyak jika ia tak bisa mendapatkan seorang wanita yang menghantui mimpinya tiap malam. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menjadikan wanita itu sebagai salah satu selirnya.
Selir? Bilqist sangat membenci status itu. Dia merasa tak jauh beda dengan wanita simpanan yang tak mempunyai status dan dihargai hanya bila tubuhnya mampu menjadi pemuas napsu sang pangeran.
Sampai tulang belulangnya mengering di gurun pasir pun Bilqist rela. Asalkan dia tidak akan pernah menjadi selir Rayyan Muhannad Arnauth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palace Tour
“Good job Al,” bisik Gwen pada putranya setelah tayangan portofolio Bilqist selesai. Alfiah tersenyum penuh arti pada Bilqist. Entah itu artinya bagus baginya atau tidak. Sebenarnya Bilqist tak ingin pamer, tapi kalau sudah terlanjur terjadi ... yaa sudahlah.
Saidah kemudian mendadak meminta ijin untuk pulang, karena Thariq ada tugas, sedangkan ia dan putrinya juga ada janji pertemuan yang penting. Mereka tak akan ikut makan siang bersama.
Setelah makan siang, Alfiah mengajak para tamunya untuk palace tour. Setelah ruang tamu, mereka melewati ruang perpustakaan. Bilqist selalu terlihat takjub pada perpustakaan. Susunan buku-buku yang tertata rapi di ruang belajar yang sunyi adalah surga para kutu buku sepertinya. Sebuah senyuman tersungging di bibir Bilqist. “Kamu akan belajar di sini tiap hari dari mulai besok dari sembilan pagi sampai jam tiga sore,” kata Alfiah pada Bilqist. Kalimat Alfiah membuat Bilqist berhenti tersenyum.
Bilqist pun membelalakkan mata. “Besok?” tanyanya bingung.
“Benar, kita tidak boleh menundanya. Kamu bukan orang Julunda tentu saja banyak yang harus kamu pelajari.” Seorang wanita kemudian mendekat ke Alfiah. “Ini Wahidah, guru selama kamu belajar di sini.” Umurnya sekitar empat puluhan tahun.
Bilqist memegang lengan Gwen dengan erat. Gwen menenangkan putrinya dengan menepuk-nepuk ringan tangan Bilqist. “Halo, senang bertemu dengan Anda,” kata Gwen memberikan salam kepada Wahidah. Begitu juga Bilqist mengatakan hal yang sama.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan lagi.
“Ini ruang santai. Kalau saya sedang tidak di ruangan kriya pasti ada di sini.” Ruangan itu terlihat lebih santai karena dibentuk panggung dengan karpet tebal sebagai alasnya. Bantal-bantal lebar dengan ujung berumbai benang, tertata rapi bersandar di dinding ruangan. Bilqist membayangkan kalau di tengah ruangan itu para istri sultan menari dan Sultan menontonnya dari singgasana, salah satu kursi termegah yang ada di dalam ruangan itu. Tiba-tiba Bilqist merasa tidak suka dengan ruangan itu.
Alfiah kemudian masuk dan duduk di sebelah kanan singgasana. “Saya merindukan tempat ini. Sudah lama tidak dipakai.” Mata Alfiah terlihat menerawang. “Terakhir sekitar dua bulan yang lalu.” Mata Alfiah berkedip-kedip sesaat lalu dia memasang kembali senyuman. “Baiklah kita akan ke ruangan selanjutnya.” Dia bangkit dibantu seorang pelayan wanita yang selalu berdiri di belakangnya.
Mereka kemudian sampai di area terbuka. Ada air mancur dan taman. Ternyata tempat itu adalah pembatas istana selanjutnya, Istana Wanita, tempat para istri Raja dan istri Rayyan. Karena masih ada Zach dan Al, mereka cukupkan sampai di sana. Alfiah lalu berpamitan istirahat, dia meminta Rayyan untuk melanjutkan. Rayyan mengantarkan mereka keluar ruangan setelah berwarna marun yang dipakai Alfiah sudah tak terlihat lagi.
Rayyan kemudian berjalan di sebelah kanan Al sedangkan Bilqist di sebelah kiri Al. “Rasanya aneh tidak langsung mengerti apa yang kalian katakan,” kata Rayyan.
“Itu yang saya rasakan sejak pertama kali menginjak tanah Julunda,” jawab Bilqist. Setengahnya fakta dan setengahnya lagi luapan rasa sebal karena Rayyan berpura-pura tak mengerti apa yang Bilqist katakan sewaktu di rumah sakit.
Rayyan mengantarkan ke sisi kanan istana, di sebelah kanan dan kiri Selasar terdapat ruangan serbaguna untuk mengadakan pertemuan ataupun pesta. Di lantai atas ada kamar-kamar atau ruangan pribadi keluarga istana sehingga mereka tidak sampai melihat ke lantai atas.
Sisi kiri istana terlihat lebih banyak ruangan. Ada ruangan kriya untuk berkreasi. Ruangan seperti kelas-kelas kecil, dan ada lagi ruang serbaguna mirip di sisi kanan istana. Setelah sampai di ujung selasar, perjalanan mereka berakhir.
“Ada yang ingin kamu tanyakan?”
Rayyan tak menyebutkan pertanyaan itu untuk siapa, tapi Bilqist menjawab, “Tidak ada. Terima kasih atas petunjuknya.”
Rayyan mengangguk tapi dengan dahi yang berkerut. “Seeius, tidak ingin bertanya apapun?” ulangnya.
Bilqist dengan yakin menjawab. “Tidak ada.”
“Kamu tidak ingin bertanya kenapa Raja dan ibuku tidak menyambut kalian?” tanya Rayyan dengan bingung.
Bilqist yang kali itu berdiri di samping Al menatap Rayyan. Al kemudian meninggalkan mereka, ia menghampiri Zach dan Gwen yang sedang mengamati dekorasi aula.
“Selama saya di sini, anggaplah saya adalah teman Anda. Jika ingin menceritakan sesuatu, jangan ragu untuk bercerita kepada saya. Tapi jika tidak ingin, maka saya tak akan menanyakannya ke orang lain. Saya lebih suka Anda menyampaikan langsung kepada saya.”
Rayyan menatap mata Bilqist yang sedang menatapnya. Beberapa saat kemudian ia meminta penerjemah meninggalkan mereka berdua.
“Apa kamu tidak pernah menanyakan tentang ibuku kepada orang lain? Atau mencarinya di internet?” tanya Rayyan kepada Bilqist dengan bahasa yang sama-sama mereka kuasai.
“Saya bisa saja menanyakannya langsung pada Khansa, pelayan yang Anda kirim tapi saya tidak ingin.”
“Kenapa?”
“Seperti yang saya bilang tadi, saya lebih suka mendengar langsung dari Anda.”
Rayyan kemudian melihat jam di pergelangan tangan kanannya. “Maukah kuajak menemui ibuku?”
Bilqist mengangguk. “Karena rumahnya ada di bagian belakang istana dan itu juga wilayah khusus wanita, hanya kamu dan ibumu saja yang boleh ikut,” kata Rayyan.
“Baiklah. Aku akan bilang kepada Mom.”
Al dan Zach kemudian melewatkan waktu bersama Imran di sekitar istana. Sedangkan Bilqist, Gwen, Khansa dan Rayyan pergi ke istana Harem.
“Semua pelayan di sini wanita?” tanya Gwen.
“Iya, semua penjaga dan pelayan, wanita. Tidak boleh ada laki-laki yang memasuki istana ini kecuali Raja dan aku.”
“Umumkan kedatangan kami,” kata Rayyan kepada penjaga istana.
Setelah dengan lantang penjaga itu mengumumkan kedatangan mereka. Rayyan kemudian mengantarkan Bilqist dan Gwen ke Selasar yang luasnya sama dengan bagian utama istana, tapi dekorasi interior Istana Wanita lebih feminim. Tapi tak seperti palace tour di istana utama, di sana Rayyan melewatkan beberapa ruangan, tak menjelaskan atau memperlihatkan ruangan apakah itu. Seorang pelayan yang kebetulan berpapasan dengannya sampai terkejut. “Ah maaf Pangeran Rayyan. Saya tidak tahu kalau Anda akan berkunjung bersama tamu hari ini juga,” katanya.
Memang menurut rencana semula, Bilqist dan Gwen baru akan diantarkan ke sana esok hari. Jadi istana Wanita belum bersiap menyambut tamu di luar kerajaan.
Rayyan menyibakkan telapak tangannya di udara. “Jangan khawatir Nafisah. Aku ke sini hanya memperkenalkan mereka ke Ibu.”
“Baik. Saya akan memberitahukan kepada istri-istri Anda nanti,” Jawab Nafisah.
Kemudian Rayyan berjalan kembali, Nafisah berjalan di belakang Gwen dan Bilqist dengan menunduk.
Rayyan kemudian sampai di ruangan berpenjaga. “Apa ibuku di kamar?” tanyanya.
“Iya,” jawab Penjaga.
“Umuumkan kedatanganku,” kata Rayyan.
Setelah mengumumkan kedatangannya, pintu kamar itu dibuka. Bilqist dan Gwen melihat seorang wanita yang sedang duduk menyulam. Rayyan memberi salam padanya. Setelah bicara dengan ibunya, keduanya kemudian melihat ke arah Bilqist dan Gwen. “Perkenalkan ini ibuku. Almira.”
“Saya Gwen, senang bertemu dengan Anda,” kata Gwen.
“Saya Bilqist, senang bertemu dengan Anda juga,” kata Bilqist.
Almira yang masih terlihat cantik di usia awal empat puluh tahun itu kemudian berdiri dan menghampiri mereka. “Kamu cantik sekali,” kata Almira kepada Bilqist.
“Masya Allah, terima kasih,” jawab Bilqist sambil tersenyum.
Bilqist dan Gwen yang berprofesi sebagai dokter, perhatian mereka tentu lebih jeli daripada orang kebanyakan.
Tiga butir obat di nampan makanan yang diletakkan di atas meja, adalah salah satu penanda bahwa Almira mempunyai kondisi kesehatan yang kurang baik.
***Gara-gara komen Netijen, eh maksud aku komen pembaca Bee dan Rayyan, aku jadi nyari film Harrem di YouTube. Yang subtitle Indonesia judulnya Abad Kejayaan, yang subtitle Inggris Magnificent Century.
Ternyata ....
Aduh, aku agak bimbang. Mau nerusin kagak nontonnya 😂
(Aku lompat-lompat nontonnya baru sampai part 11, jadi aku di tim nonton tapi scroll kolom komentar 😆😆😆😆)
Secara garis besar menceritakan tentang Sultan Sulaiman tapi film itu tak memperlihatkan bagaimana aturan Islam sebenarnya.
Dalam catatan sejarah (aku lihat yg versi subtitle Inggris, jadi ada yg komen orang Turki sendiri) Hurrem adalah istri Sultan Sulaiman yang sangat baik dan suka beramal.
Sultan Sulaiman sendiri adalah orang yang setia.
Aleksandra ditangkap pada usia 8 sampai belasan tahun (perkiraan sejarah ya)
Lalu dididik dan besar di Turki. Jadi saat sudah baligh sudah memeluk Islam bukan ujug-ujug seperti film jadi budak lalu minta diislamkan Raja Sulaiman karena ingin bisa menjadi Sultan. Namanya berubah menjadi Hurrem.
Hurrem diumumkan sebagai Haseki dan Sultan setelah diperistri Sultan Sulaiman. (Kalau bahasa aslinya laki dan perempuan sama-sama Sultan, tapi dalam literatur Eropa untuk membedakannya dipakai kata 'Sultana' untuk Sultan Wanita atau istri Sultan)
Setelah menikah secara Sah dengan Hurrem, Sultan Sulaiman setia pada satu istri, tak pernah melakukan hubungan dengan para budak wanita atau memperistri budak lainnya.
Jadi drama itu gak sesuai fakta sejarah, meskipun pakai sosok Sultan Sulaiman dan Sultan Hurrem sebagai tokoh utamanya.
Di film itu sosok Sultan Sulaiman jadi orang yang suka gonta-ganti teman tidur dan tak setia pada Hurrem meskipun ngaku kalau cinta mati, bahkan pakai bikin-bikin puisi bucin segala.
Aduh mau muntaaah
Makanya ada berita film ini ditolak sama orang Turki atau bahkan orang Indonesia sendiri yang mengerti tentang sosok Sultan Sulaiman***.