"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 23
"Mas Harsa dari mana kamu tahu aku tinggal disini?" memicingkan mata, menghampirinya yang sedari tadi terus menatap ke lorong kos-kosan.
"Jadi benar kamu tinggal disini? Temanmu yang bilang, lagi pula aku tahu alamat kantor lamamu dan mereka mengenalmu." Mas Harsa menoleh, tepat saat itu kedua mata kami bertemu. Segera aku melengos demi menghindari tatapan mendung itu.
"Siska kah yang bilang?" batinku bertanya-tanya sebab hanya dia yang tahu aku disini sekarang.
"Gak usah basa-basi, ada apa?" Aku melirik Sagara yang tenang, mungkin ia masih menyimak pembicaraan kami.
"Kamu kabur di hari pernikahanku dengan kakakmu, apa itu wajar?" Mas Harsa menaikkan alisnya, melirik Sagara seolah bisa meledekku di depan laki-laki itu.
Oh no, Sagara bukan siapa-siapaku dan dia tak akan terpengaruh.
"Itu karena kamu menyebut namaku, sia-lan! Dan kau tahu apa yang ibuku katakan? Aku harus menyingkir dari sana agar kamu dan Mbak Naura tak batal menikah!" Aku tersenyum miring melihat raut wajahnya terkejut.
"Aku ikut senang karena kamu bertanggung jawab kali ini, tapi aku juga merasa jijyk di saat yang sama."
"Udah, Nin." Sagara menggenggam tanganku. Hal itu sukses memancing pandangan Mas Harsa, ia menatapku sinis.
"Baru kemarin, Nin. Dan kamu udah dapat pacar baru lagi?"
Sontak aku ingin terbahak, lantas entah kenapa ide mengeluarkan kaca kecil dari slingbag-ku terlintas.
"Kaca, Mas!" Aku mengarahkan kaca itu tepat di wajahnya dengan tawa menyeringai, "biar kamu bisa ngaca diri kamu sendiri seperti apa."
"Ptfff..." Sagara menyemburkan tawa, aku menolehnya sekilas hingga bisa melihat ekspresi lucunya.
"Hanin!"
"Kamu kesini atas nama Ibu atau Mbak Naura?"
"Ibu sakit, aku ada pekerjaan di Jakarta jadi sekalian memberitahumu," sahutnya ketus.
Ibu sakit? Rasanya aku tak percaya, akan tetapi melihat ekspresinya yang berubah mendung membuatku memilih diam.
"Setidaknya jangan karena aku dan Naura kamu jadi mengabaikan ibu kandungmu sendiri, Nin."
"Oke, aku akan pulang. Mas cukup enyah dari hadapanku sekarang!"
"Dan jangan ganggu Haninku!" tegas Sagara membuat hatiku terenyuh. Aktingnya begitu bagus.
"Haninmu? Sebelum dia denganmu, dia adalah kekasihku!" Mas Harsa tak kalah berang.
"Tapi kamu menikahi kakaknya? Cih!" Sagara sampai berdecih, aku menahan tawaku agar tak lepas.
"Kamu tak ubahnya laki-laki yang tak tahu diri. Menganggap dirimu sendiri benar, padahal kamulah satu-satunya penyebab kekacauan ini."
"Sayang, udah!" Aku menegur Sagara, entah kenapa laki-laki itu sangat emosi.
"Aku akan mengantarnya pulang, hari ini juga. Jadi kamu nggak perlu khawatir, Jakarta- Bandung bukan jarak yang jauh untuk pulang pergi."
Setelah mengatakan serentetan kalimat itu, Sagara menarikku kembali agar masuk ke dalam mobil. Anehnya, meski sudah berada di dalam mobil ia masih tampak begitu emosi.
"Apa saja yang akan kamu bawa pulang hari ini? Atau kita berkunjung saja dan besok pagi bisa langsung kembali."
Aku tentu terkejut dengan apa yang Sagara ungkap barusan.
"Kau mau mengantarku?" masih tak percaya, aku menatapnya.
Dia mendekat dan terus mendekat tanpa menjawab. Setelahnya, aku merasakan kegugupan luar biasa kala jarak diantara kami tinggal beberapa senti, perlahan aku mulai memejamkan mata...
Satu detik, dua detik berlalu tak terjadi apa-apa...
"Nunggu apa?" reflek aku membuka mata dan melihatnya tersenyum tengil.
Sial, Gara benar-benar membuatku tak punya muka, padahal dia hanya membantuku memasang sabuk pengaman.
"Berikan alamatmu, Hanin!" perintahnya begitu mobil melaju dengan kecepatan penuh. Sepanjang jalan tadi, aku bahkan sibuk dengan lamunan-lamunanku.
"Deket dari mall tempat kita ketemu dulu, nanti aku kasih tahu arahnya."
"Oh, oke."
"Ini masih hari jum'at, kamu mulai kerja hari senin kan?"
"Gimana kamu tahu?"
"Dari Wina," jawabnya. Aku sedikit mengerutkan kening, aku memang cukup dekat dengan Mbak Wina, tapi tak sedekat dengan boss-ku; Mbak Alina. Hanya, tak menyangka keduanya benar-benar memperhatikanku.
"Pernah gak kamu suka dengan,--- ehm Mbak Alina."
"Alina?"
"Hm, Mbak Alina cantik kan, dia juga baik." Aku mencoba memancing Gara.
"Like mother like son, kami memiliki selera yang hampir sama. Mama pernah jatuh cinta sama Om Divine, dan aku pernah suka dengan Alina. Tapi kan kadang perasaan manusia bisa berubah kapan saja dan karena apa saja."
"Oh ya?" Aku sedikit tak menyangka dengan jawaban Sagara.
"Alasan Mama memilih Papi adalah karena Papi banyak duit," canda Sagara membuatku hampir melotot.
"Yang benar saja!"
"Oh bukan-bukan, itu karena Papi mencintai Mama."
"Kamu bilang perasaan bisa berubah kapan saja dan karena apa saja..." Aku mulai protes.
"Ya, itu benar. Dan sekarang, yang aku sukai itu kamu!"
Aku terdiam, seolah tubuhku sulit untuk sekedar digerakkan. Terkejut? jelas, karena tiba-tiba Sagara mengatakan suka.
"Nin?"
"Ya?" Setelah berhasil menguasai diri, aku menatapnya.
Sagara masih sibuk dengan kemudinya, dia sama sekali tak terpengaruh dengan suasana canggung yang aku buat. Sebaliknya, ia malah terus mengajakku bicara.
"Berapa lama orang memutuskan untuk jatuh cinta?"
"Mana ku tahu," sahutku acuh.
Tiba-tiba ia menepikan mobil dan meninggalkanku sendiri di dalamnya. Ia masuk ke dalam mini market. Hanya beberapa menit, ia kembali dengan membawa sekantong jajanan.
"Kenapa kamu selalu bertindak impulsif tanpa tanya padaku lebih dulu?" Aku menggeram pelan, kesal tapi tak bisa marah.