Seorang pemuda yang baru saja mengakhiri perang abadi antara dewa dan manusia kini sudah mati bersama dengan lenyapnya dewa, di atas ruangan kematiannya sendiri kini dia hanya diberi satu pilihan yakni harus menyelamatkan dunia yang baru saja ia selamatkan.
"Tidak ada cara menolaknya, bila ada? Mungkin sudah ku tolak dari dulu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 33 - Berteman
“Apa ada masalah dengan itu?” You Lin bertanya memastikan kepada Xin Chen.
“Tidak, kupikir itu cukup adil”
Xin Chen menjawab pertanyaan dari You Lin dengan santai, pandangannya masih ter arah kepada dua paruh baya yang masih berbincang dengan santai.
“Baiklah waktunya anda kerja Senior!” Xin Chen berkata sambil menancap kan pedangnya ke lantai.
Pedang itu menusuk kedalam lantai dengan sangat mudah, ini dapat membuktikan bahwa pedang yang dipegang oleh Xin Chen sangat lah tajam, bahkan mungkin lebih tajam dari pedang pusaka pada umumnya.
Sejujurnya Xin Chen juga cukup heran tentang tajamnya pedang ini karena pedang lainnya tidak bisa menyamai tajamnya. Xin Chen bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana cara membuat pedang bisa setajam ini.
Mengingat dia bisa memenggal kepala Cultivator di tingkat Permata sekaligus dengan mudah beberapa hari yang lalu. ‘Ini lah mengapa aku tidak ingin menggunakan pedang ini. Ini terlalu overpower.’
“Apa itu pedang pusaka?” Mata Zhou Tian bergetar saat melihat pedang itu bisa menembus lantai tokonya dengan mudah. Dia memastikannya dengan bertanya kepada Xin Chen, saat bertanya dia juga menunjuk pedang yang menancap di lantai itu.
“Ini?” Xin Chen menatap pedangnya yang ditunjuk oleh Zhou Tian, Xin Chen hanya bisa tertawa canggung sembari menggaruk tengkuknya karena reaksi dari Zhou Tian. “Itu benar Senior! Aku mendapatkannya dari guruku.”
Zhou Tian menelan ludahnya, dirinya ingin bertanya kepada Xin Chen mengenai gurunya tersebut. Tapi entah kenapa mulut dan suaranya tertahan, tidak bisa bergerak ataupun keluar.
“Jadi tolong jaga baik-baik pedang itu.” Xin Chen mengeluarkan pedangnya dari lantai kemudian melemparnya kepada Zhou Tian. “Yah, meskipun itu hanyalah contoh, tapi tolong perlakukan dengan baik.”
Di lain sisi Zhou Tian sangat gugup saat Xin Chen melemparkan pedang itu kepadanya. Bagi seorang penempa seperti dirinya, pedang seperti ini adalah permata paling berharga yang berhasil ditemukan oleh nya, mungkin juga penempa lainnya.
“Bukankah pedang ini terlalu ringan?” Zhou Tian memastikan bobot pedang yang ada di tangannya itu.
Dia sempat terpukau bisa melihat pedang sebegitu tajamnya ditambah dengan masa pedang itu yang sangat ringan. Tidak bisa membuatnya berhenti terkejut.
“Hei nak! Apakah pedang pusaka ini memiliki nama? Setidaknya aku ingin mengingat nama pedang ini karena tidak akan pernah memilikinya, mengingat ini diberikan oleh gurumu.” Zhou Tian mengakhirinya dengan tertawa yang terlihat di paksakan.
“Boleh sih…” Xin Chen ingin mengelak tapi sepertinya tidak bisa, karena melihat mata Zhou Tian yang berbinar-binar, dengan di iringi dengan tatapan sebagian orang lainnya. “Pedang Angin Empat Arah.” Xin Chen berkata dengan lemas, lantaran rahasianya akan terbuka sebentar lagi.
“EHH, BENARKAH!”
Jelas yang bereaksi pertama kali adalah Zhou Tian, sehabis itu ada ayah angkat dari You Lin, sedangkan yang lainnya tampak tidak mengerti dan mengenal nama tersebut.
“Kkkkau Murid dari sang legenda itu!?” Zhou Tian berkata sambil bergetar.
“Legenda? Siapa yang legenda?” Xin Chen masih bertanya dengan malas.
“Sang Pawang Angin Mo Shian” You Fan melotot tajam ke arah Xin Chen.
“Eh? Apakah namanya sudah di ganti. Perasaan ku, bukannya Pahlawan Hembusan Angin ya?” Xin Chen bertanya kepada mereka berdua.
Jelas obrolan mereka bertiga ini di dengar oleh orang lainnya seperti You Lin beserta anggota You Fan. Ini membuat mereka gemetaran karena Xin Chen berhasil mengoreksi dan menyebutkan namanya dengan enteng.
You Lin tampak menghela kan napasnya putus asa, dirinya tidak tahu siapa orang yang baru yang ia singgung tadi. Entah apa masalah yang akan dia hadapi kedepannya.
“Hei adik Ying, apa kau bisa membantuku di saat kakakmu itu akan menyiksa ku.” You Lin tampak bergumam dengan lemas.
“Aku tidak akan menyiksamu, tenang saja.” Xin Chen mendekati You Lin, ini membuat You Lin agak was-was dengan sikap Xin Chen.
“Jangan menatap ku seperti itu. Bukan kah sudah ku bilang aku tidak akan menyiksamu” Xin Chen berusaha meyakinkan You Lin, menurutnya sangat merepotkan bila gadis satu ini terus melototi nya seperti barusan.
“Bagaimana kau bisa secepat itu mengurusi mereka semua” You Lin menatap ayahnya dan orang-orang lainnya yang masih tampak mengagumi pedang dari guru Xin Chen.
“Alihkan perhatiannya. Itu cara ku kabur untuk kabur dari pertanyaan beruntun mereka.” Xin Chen menjawab pertanyaan You Lin sembari melihat kearahnya, dengan senyumnya yang tampak sinis, dia menunjukkan dua buah taringnya.
“Apa yang kau ingin kan dari ku.” Mata You Lin menyipit setelah menyadari Xin Chen menunjukkan senyumnya itu.
Xin Chen terkekeh pelan karena You Lin menganggap senyum yang baru saja ditunjukkannya adalah senyum yang sangat jahat. Atau mungkin You Lin memikirkan arti lain dari senyum itu, entahlah yang terpenting Xin Chen sama sekali tidak memiliki niat jahat sama sekali terhadap perempuan yang ada di hadapannya.
“Maaf, tentang senyuman barusan hanya kebiasaan ku dari dulu” Wajah Xin Chen kembali datar, dirinya menggaruk tengkuknya untuk menutupi ******** yang ditimbulkannya sendiri.
Dirinya menghela kan napasnya, kemudian mengulurkan tangannya kepada gadis yang ada di depannya. “Bolehkah aku mengetahui namamu. Rasanya sangat tidak enak jika terus memanggilmu sebagai Baja Putih, dan juga tolong berteman lah dengan ku.”
You Lin menanggapinya dengan tertawa yang tampak masih di tahan, dirinya tidak bisa menghentikan itu lantaran wajah Xin Chen yang tampak sangat datar di matanya.
‘Entah kenapa aku merasa ter khianati dengan keberanian yang ku kumpulkan, atau memang aku tidak pantas menjadi temannya. Nasib ku ternyata sedang sial-sialnya.’ Xin Chen hanya bisa mengeluh di dalam hatinya.
“Sepertinya tidak di terima ya.” Xin Chen terkekeh kesekian kalinya karena dihadapkan dengan gadis ini, tapi kali ini tampak sunggingan kecil muncul di bibirnya.
Xin Chen berniat menurunkan tangan nya kembali, tapi itu dicegah oleh You Lin yang tampak menjabat tangannya. “Nama ku You Lin. Mohon kerja sama untuk kedepannya, ketua.”
You Lin tampak tersenyum hangat dan manis menghadapi pria yang ada di depannya ini. Kini Xin Chen dibuat jantungan oleh senyuman tersebut, ‘Aku tidak menyangka akan mendapatkan senyum semanis itu, padahal aku sudah berusia…’
‘Tunggu dulu! Umur ku sudah lebih dari 7 abad lamanya, tapi kenapa aku malah menyukai loli seperti adikku. Ini aneh, tidak ini bukan aneh. Ya akulah yang aneh mengingat- ah lupakan saja lebih baik nikmati perjalananku kali ini. Mungkin saja akan lebih menarik dari kehidupanku yang dulu’
Civil War yang terjadi dalam dirinya berlanjut dengan sendirinya, tapi dirinya tidak mempedulikan hal itu dan lebih memilih menanggapi perkataan dari You Lin. “Ku tarik omonganku tadi, sepertinya kini aku berhasil.”
You Lin tampak memiringkan kepalanya karena bingung dengan perkataan Xin Chen, Xin Chen menyadari hal itu dan menyuruh You Lin untuk tidak mempedulikan perkataannya tersebut.
“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu.” Xin Chen berpikir sebentar, dirinya juga tampak sudah melepaskan jabatan tangannya dengan gadis yang ada di depannya.
“Terserah kau saja. Lagi pula nama ku sangat mudah untuk di eja.”
“Apa hubungannya namamu dengan pengejaan huruf.”
“Jangan bercanda dengan ku, itu sangat penting kau tahu. Jika kau tidak memiliki kecerdasan untuk mengeja huruf maka kau lah yang bermasalah.”
“Tunggu, apa hubungannya dengan itu?”