Elina gadis biasa dan lugu dari keluarga kurang mampu. Memutuskan untuk menjadi TKW di Negara Hongkong untuk memperbaiki ekonomi keluarganya. Siapa sangka, majikannya seorang ketua gangster yang di takuti, kejam dan tidak memiliki belas kasih.
Dalam sebuah pembicaraan di antara dua gangster yang sedang bertikai, Elina mendengar perbincangan mereka tentang rahasia besar aksi kejahatan yang akan mereka lakukan.
Elina hanya punya dua pilihan
1. Dia ikut terlibat
2. atau di lenyapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SO 33
Elina terdiam cukup lama, ia berpikir keras bagaimana bisa melarikan diri. Rasanya mustahil bisa kabur begitu saja. Sementara di depan mata, anak buah Alan sudah mengepungnya.
Sesaat ia melirik ke arah celah jendela, nampak Antonio tengah berbincang dengan alan di luar markas. Senyum Elina mengembang, membuat Mei Shin dan anak buahnya mengerutkan dahi menatap wajah Elina.
"Kemarilah sayang, aku tunjukkan bagaimana caranya bertahan hidup!'
"Tangkap! Perintah Mei Shin yang sudah gelap mata, dan di kuasai amarah terhadap Elina yang sudah mempermainkannya dan menipu dengan kepolosan.
Dua pria maju bersamaan menerjang Elina. Gadis itu benar benar sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Ia menyambut kedua pria itu hanya dengan satu terjangan bersamaan.
"Buk! Buk!
Dua pria itu terhuyung ke belakang dengan tatapan tajam, dua anak buah Alan lainnya maju bersamaan mencengkram bahu Elina dengan kuat.
"Tuan! tolooong! jerit Elina.
Mei Shin maju menghampiri Elina, melayangkan tinju di perut gadis itu. Namun sebelum wanita itu berhasil menyentuh perutnya, kaki kiri Elina menendang kedua kaki Mei Shin hingga tersungkur ke lantai.
" Buk!
"Elinaaa!" jerit Mei Shin kembali berdiri sembari mengangkat ke dua kaki Elina lalu di hempaskan ke lantai.
"Bukkk!"
"Awww! gadis itu mengerang kesakitan.
Mei Shin maju, mengarahkan senjata api ke wajah Elina. Bersamaan dengan pintu keluar terbuka.
" Elina!"
"Tuan!
Elina berdiri, lalu berlari ke arah Antonio yang berdiri di ambang pintu, dan bersembunyi di belakang tubuh Antonio, tersenyum mencemooh ke arah Mei Shin.
" Alan! Jelaskan padaku, apa yang terjadi?" tanya Antonio pada Alan.
Alan coba untuk menenangkan situasi yang tidak berpihak, lalu ia menceritakan mengapa Elina ada di markasnya.
"Jadi? Kau yang sudah melukai Elina, Mei Shin?!" tanya Antonio menatap ke arah Mei Shin.
"Bohong! gadis itu hanya pura pura!" pekik Mei Shin marah. "Lihat! dia yang melakukan itu semua!" tunjuk Mei Shin ke arah dua pria yang ambruk.
Antonio melirik ke arah Elina yang hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Mei Shin, kau tidak perlu mengada ada. Atau aku akan bersikap buruk padamu!" ancam Antonio.
"Suatu hari nanti, kalian akan tahu. Elina tidak sepolos yang kalian pikir!" pekik Mei Shin berlari ke arah lorong.
"Elina, ayo ikut aku. Biar aku obati lukamu."
Antonio mengangkat tubuh Elina, lalu menggendongnya keluar dari markas Alan. Elina menoleh ke belakang tersenyum lebar menatap Mei Shin.
***
Sesampainya di kediaman milik Antonio. Pria itu langsung memanggil Dokter pribadinya untuk mengobati semu luka di tubuh Elina.
Satu jam, Antonio menunggu di luar ruangan. Hatinya merasakan bahagia bisa melihat Elina lagi, sekaligus kesal terhadap Mei Shin yang sudah melukai gadis pujaan hatinya.
Tak lama kemudian, Dokter keluar dari ruangan dan mengizinkan Antonio untuk memastikan kondisi Elina baik baik saja.
"Elina."
"Tuan!" sahut Elina tersenyum. "Terima kasih."
"Iya Elina, kau sudah lebih baik?" tanya Antonio duduk di tepi ranjang menatap wajah Elina sayang.
"Tuan, jangan melihatku seperti itu." Elina menundukkan kepalanya.
"Maaf, Elina. Apa kau-?" ucapan Antonio tertahan.
"Tuan, aku lapar!" potong Elina.
Antonio mengulum senyum, menarik napas dalam dalam.
"Baiklah Elina, kau boleh makan sepuasmu."
"Horee!" kedua tangan Elina terangkat, lalu ia turun dari atas tempat tidur, berlalu dari hadapan Antonio.
"Gadis aneh," gumam Antonio tertawa kecil. Menatap punggung Elina hingga hilang di balik pintu.
Antonio berdiri, sesaat tertegun memikirkan masalah yang tengah terjadi.
"Ini akan semakin rumit," gumam Antonio pelan.
Persahabat, kerjasama yang baik. Akan segera hancur hanya karena sebuah obsesi. Antonio mengerti itu, tetapi rasa khawatir itu tergantikan oleh rasa bahagia saat Elina berada di dekatnya.
"Elina.." ucapnya pelan.
Kemudian Antonio melangkahkan kakinya menyusul Elina, ke tempat biasa gadis itu makan saat pertama kali datang ke rumahnya.
Benar saja, ia melihat Elina tengah menyantap makananya menghadap ke jendela. Ia sama sekali tidak terganggu oleh kehadirannya.
Perlahan Antonio mendekati Elina, berdiri di belakangnya.
"Elina.."
"Iya Tuan!" sahut Elina menoleh ke arah Antonio, lalu menggeser duduknya menghadap pria itu.
"Bagaimana dengan kakimu?" tanya Alan.
"Tidak apa apa Tuan, lebih sakit lagj kalau aku kelaparan," tutur Elina tertawa kecil.
"Apa kau setiap hari selalu seperti ini, Elina?" tanya Antonio lagi.
"Tuan, sehari aku bisa makan tiga kali dalam sehari, bahkan bisa lebih!" ucap Elina tertawa kecil.
"Oya?"
"Benar Tuan!"
Antonio mengambil kursi lalu ia duduki, sembari mendengarkan celotehan Elina yang menceritakan kesehariannya di rumah Rayden. Hal yang tak pernah pria itu lakukan adalah mendengarkan cerita konyol yang tak penting untuk ia dengarkan. Namun ia rela duduk di samping Elina mendengarkan semua itu, hingga ia berkali kali menguap. Menunggu gadis itu selesai makan.
semisalnya suami kasar pada mu tapi lembut pada wanita lain, suami pergi dengan pria lain tampa meperdulikan kau yang menderita
apakah kau masih mau menerima nya begitu saja
jawaban ada pada mu thor
dan kau nilai sendiri sikap mu dalam novel ini
😂😂
untung nya elina cuma ada di novel
sekareep muu deehh elina