Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil keputusan
Keesokan paginya, Zalina tampak membersihkan kamar tidur ayahnya setelah sarapan. Ia memeriksa laci-laci meja, untuk memeriksa apakah ada buku-buku atau kertas yang perlu dibuang. Laci meja ayahnya sudah terlihat penuh hingga tidak bisa lagi tertutup rapat. Dari kemarin, ia belum sempat untuk membersihkannya karena mengerjakan pekerjaan lainnya.
"Astaga, kenapa banyak sekali kertas di sini." gumamnya tampak mengeluh.
Ia menarik laci itu hingga terlepas dari tempatnya, lalu meletakkannya di atas lantai. Ia lalu berjongkok dan membaca kertas-kertas berukuran kecil itu.
"Kertas-kertas apa ini? Kenapa banyak sekali?"
Ia tampak heran melihat gulungan kertas putih yang diikat dengan karet. Bukan hanya satu gulungan tapi beberapa gulungan. Juga ada beberapa map yang tidak ia ketahui isinya.
Karena penasaran, ia membuka satu gulungan kertas tersebut. Ia membacanya perlahan.
Kertas itu berisi struk pembayaran melalui transfer Bank.
"Ayah mentransfer uang kepada siapa?"
Dahinya seketika berkerut dalam. Ia lalu membaca nama yang tertera pada struk tersebut.
"Burhanuddin Harahap?" ia tampak mengingat-ingat nama itu. Namun, tidak ada nama itu di antara orang-orang yang ia kenal. "Dua juta lima ratus ribu rupiah?" ia kembali terkejut menyadari nominal yang dikirim lebih dari setengah gaji ayahnya setiap bulan. "Kenapa banyak sekali? Ayah membayar apa?"
Apalagi pembayaran itu bukan hanya dilakukan sekali, tapi sudah lebih dari dua tahun lamanya.
Jantungnya seketika berdegup lebih kencang dari biasanya. Perasaannya menjadi tidak menentu. Ia lalu berdiri dan berjalan keluar kamar dengan membawa kertas-kertas tersebut.
Ia melangkah cepat menuju ruang tengah, tempat ayahnya berada. Pria itu sedang menonton televisi seperti biasa. Zalina menunjukkan kertas-kertas itu pada ayahnya. "Ini untuk pembayaran apa, Yah?"
Pertanyaan itu seketika membuat Reyhan mengernyit. Ia mengambil kertas tersebut dan membacanya.
Ia tampak tercengang, lalu mengarahkan pandangannya ke arah putrinya yang kini menatapnya dengan wajah penuh amarah.
"Jelaskan, Yah. Itu untuk pembayaran apa? Bahkan tanggalnya di mulai dari dua tahun yang lalu." tuntutnya dengan desakan yang tajam. "Apa Ayah berhutang pada seseorang?"
Suasana mendadak hening seketika. Reyhan tidak segera memberi jawaban. Ia malah terdiam mematung di tempatnya. Gurat kebingungan terlukis jelas di wajahnya yang terlihat pucat itu.
"Ayah! Jawab!" serunya tak sabaran.
Reyhan tampak menelan ludah pelan. Ia lalu menatap Zalina dan menjawab pertanyaannya. Ia tahu, tidak ada gunanya lagi untuk menyembunyikan hal ini dari Zalina.
"Ayah... punya hutang pada seorang rentenir." ia lalu menunduk, menatap dalam kertas-kertas di tangannya.
Zalina tampak terpukul mendengar penjelasan ayahnya. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban yang menghimpit dadanya tiba-tiba.
"Hu...tang?" gumamnya tak percaya dengan suara yang sedikit bergetar. "Berapa banyak?"
"Satu Milyar, Nak. Tapi, ayah sudah melunasi seperempatnya." jelasnya cepat, tidak ingin membuat putrinya cemas.
Namun bukannya tenang, Zalina justru malah semakin bertambah syok saat mendengar jumlah nominal yang di pinjam oleh ayahnya itu.
"Dan itu belum termasuk dengan bunganya, kan?" lanjutnya dengan suara gemetar, berusaha menahan amarah yang perlahan meluap.
Reyhan kembali menundukkan wajahnya, dan menggeleng pelan.
Zalina seketika mengusap keningnya, dan menghela napas berat. Matanya tampak berkaca-kaca, menahan tangisnya agar tidak jatuh. Rasa kecewa menyelinap begitu dalam terhadap ayahnya.
"Kenapa Ayah menyembunyikan masalah sebesar ini dariku? Lihat kondisi Ayah sekarang... sudah sebulan lebih ayah tidak bekerja dan menghasilkan uang. Bagaimana Ayah akan melunasinya, dan berapa lama sampai Ayah mampu melunasi pinjaman itu?" ucapnya lirih dengan suara yang bergetar.
Ia menatap pria yang selama ini menjadi satu-satunya sandaran hidup dengan perasaan campur aduk, antara marah, sedih sekaligus tidak tega.
Zalina lalu teringat pada dua orang berbadan besar yang mendatangi rumahnya kemarin.
"Apa dua orang pria yang datang ke sini kemarin adalah orang suruhan rentenir itu?" tanyanya seketika. "Karena ku rasa, pembayaran bulan ini sudah jatuh tempo dan terlambat beberapa hari."
"Iya, Nak. Pembayaran itu sudah terlambat beberapa hari, dan..." kalimatnya terjeda sejenak, seolah ragu untuk diucapkan. "Mereka memberikan dua hari untuk melunasi cicilan bulan ini."
Zalina tampak mengernyit. "Hanya dua hari?" tenggorokannya tiba-tiba tercekat, seolah ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya. "Bagaimana kita mendapatkan uang, Ayah?"
Reyhan terdiam. Tatapannya kosong, seakan kehilangan arah.
"Ayah, juga tidak tahu harus meminjam uang dari siapa..." jawabnya lirih, hampir tidak terdengar.
Zalina menggeleng pelan, napasnya mulai tidak teratur. Ia meremas ujung bajunya, mencoba menenangkan diri, meski pikirannya terasa kacau.
Namun, ia tidak bisa hanya diam. Batas waktu pembayaran akan berakhir besok. Ia juga tidak mungkin meminjam uang lagi pada Diandra, karena sebelumnya ia juga sudah meminjam uang untuk membayar biaya rumah sakit.
Pilihannya sekarang hanya ada satu: meminjam uang pada Kaiden atau keluarganya. Tapi, hutang ayahnya terlalu banyak. Jika ia kembali mencicilnya, Zalina tidak tahu apakah ia mampu membayarnya bulan depan... atau bahkan di bulan-bulan berikutnya.
Ia menghela napas panjang, dadanya terasa sesak.
"Ini seperti... menggali lubang yang lebih dalam." gumamnya lirih.
Zalina menunduk, menatap lantai dengan pandangan yang kosong. Semua terasa buntu. Setiap pilihan seolah hanya membawa masalah yang baru.
"Kita tidak punya waktu." ia menggigit bibirnya, menahan kecemasan yang semakin kuat.
"Kebetulan aku membutuhkan seorang istri yang tidak banyak menuntut dan tidak mengusik ketenanganku. Dan kau tentu cocok dengan kriteria itu karena kau tidak memiliki perasaan apa pun padaku."
"Sebagai gantinya, kau bisa kembali hidup nyaman. Pabrik ayahmu akan kubeli dan ku bangun kembali."
Kata-kata Kaiden waktu itu kembali terlintas dalam pikirannya yang kacau.
Apakah ia memang harus merendahkan diri dan menerima perjodohan ini?
Semua jalan kini terlihat seperti sedang menggiringnya ke dalam sangkar yang telah di siapkan oleh pria itu. Seolah, ia tidak memiliki celah untuk melarikan diri darinya.
Namun, ia memang tidak memiliki jalan lain.
"Kalau ini memang jalan satu-satunya untuk menyelamatkan ayah, ku rasa masuk ke dalam sangkar juga tidak terlalu buruk." gumam gadis itu pelan, seolah sedang berbisik pada dirinya sendiri.
"Aku akan pergi sebentar, Ayah."
Reyhan mengernyit. "Kau mau pergi ke mana, Nak?"
Namun, Zalina tidak menjawab. Ia pergi begitu saja, setelah mengambil tas dan ponselnya di dalam kamar.
Ia segera mengirim pesan teks pada Kaiden. Dan pria itu memintanya untuk menemuinya di kantor saja karena ia sedang ada rapat yang tidak bisa ia tinggalkan pagi ini.
Dengan terpaksa, ia pergi ke kantornya dengan menggunakan taksi agar lebih cepat sampai.
Dan kini, di sinilah ia berdiri. Di depan gedung Velora Foods yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Ia memang sangat kaya." gumamnya lirih, menatap bangunan mewah yang entah punya berapa puluh lantai itu.
Ia masuk ke dalam gedung dan berjalan menuju meja resepsionis.
"Permisi, Nona. Saya ingin bertemu dengan Tuan Kaiden Pradipta. Kebetulan saya sudah punya janji dengannya." ucap Zalina pada wanita yang duduk di balik meja resepsionis.
"Apa Anda Nona Zalina?" tanya wanita itu, seolah ingin memastikan.
"Iya, benar, Nona."
Wanita itu tampak tersenyum ramah padanya. Ia lalu meminta Zalina untuk mengikutinya, karena dia akan menunjukkan jalan ke ruangan Kaiden, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Kaiden.
Mereka masuk ke dalam lift dan naik ke lantai tiga puluh lima, tempat ruangan kerja Kaiden berada.
Sesampainya di sana. Ia menuntunnya menuju meja kerja Aluna, sekertaris Kaiden yang tepat berada di depannya.
"Anda, Nona Zalina?"
"Iya, Nona."
"Baiklah. Tuan Kaiden sedang ada rapat sekarang, jadi beliau meminta Anda untuk menunggu sebentar di ruangannya. Mari ikuti saya."
Zalina lalu berjalan mengikuti Aluna, setelah resepsionis tadi pergi kembali ke tempatnya.
Zalina lalu masuk ke dalam ruang kerja Kaiden yang dingin dan sepi.
Aluna juga menawarkan minuman untuknya, namun Zalina menolaknya dengan sopan. Ia bahkan terlalu gugup untuk menikmati minuman.
Ia hanya berharap, semoga ini adalah keputusan terbaik yang ia ambil.
🥀🥀🥀
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...