Area 21+
🌸🌸🌸
"How damn you are Naraya."
Naraya terdiam cukup lama berdiri di balkon kamarnya, memandangi langit mendung dan memikirkan nasib hidupnya yang jungkir balik hanya dalam waktu semalam.
Tepat dihari kelulusannya diterima disalah satu Universitas ternama di kota A, Naraya harus menerima kenyataan pahit. Naraya akan dijodohkan dengan Harris. Padahal setahu Naraya, Harris adalah kekasih kakaknya sendiri yaitu Nadira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulanseptember, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lovebird 1
"Kamu sedang apa?" Ulang Harris sambil berjalan mendekati Naraya, Harris dapat melihat dengan jelas bahwa kini ponselnya berada digenggaman tangan Naraya.
Naraya yang didekati Harris pun hanya bisa menelan salivanya degan susah payah.
Harris mengulurkan tangannya, memberi isyarat Naraya bahwa ia harus menyerahkan ponsel Harris.
Naraya yang melihat wajah dingin Harris menjadi tidak suka. Seharusnya setelah mandi perasaan Harris menjadi lebih baik, ternyata sama saja.
Apa iya Harris marah karena foto ini?
Itu artinya Harris cemburu.
Apa mungkin?
"Lo kenapa sih? Lo marah gara-gara foto ini?" Naraya mengumpulkan keberaniannya menatap Harris, dia pun menunjukkan layar ponsel Harris yang menyala, terlihat foto Naraya dan Cakra disana.
Harris yang sedang marah entah kenapa rasanya sangat tidak suka, ketika mendengar Naraya berbicara menggunakan kata " Lo" dan "Gue". Harris merasa sangat jauh, tidak berada didalam Hati Naraya.
"Berhenti menggunakan kata lo dan gue ketika berbicara dengan aku." Ucap Harris tegas, bahkan terdengar sedikit membentak ditelingan Naraya.
Naraya yang sudah susah payah mengumpulkan keberaniannya seketika menciut juga, Naraya sungguh takut mendengar suara keras Harris. Baru inilah Harris memarahi Naraya.
"Dengar tidak?" Ucap Harris memastikan.
Naraya hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
"Sebenarnya kamu anggap aku ini siapa? Tunangan kamu atau.." Ucapan Harris terhenti, takut tidak siap menerima jawaban Naraya.
"Atau kekasih Nadira." Lanjut Harris.
Deg!
Jangung Naraya seperti tercubit, bahkan hanya mendengar Harris mengucapkan kata kekasih Nadira saja hatinya sudah terasa sakit.
"Gue harus jawab apa? Gue anggep lo sebagai tunangan gue. Tapi pasti lo tambah marah kalo gue jawab gitu." Batin Naraya.
Naraya takut jika ia salah menjawab maka Harris akan semakin marah padanya.
"Jawab!" Harris berucap pelan tapi sangat menekan.
"Kekasih Dira." Pasrah Naraya.
"Huh." Harris menghembuskan napasnya kecewa, bahkan Naraya mendengar pula helaan napas Harris itu.
Harris menyisir rambutnya keatas dengan kedua talapak tangannya.
"Kamu mandi, setelah itu cuci baju ku, jika lapar ada makanan di dapur. Jangan ganggu aku, aku akan berada di ruang kerja bersama Kris. Aku akan mengantarmu pulang nanti sore." Ucap Harris sangat dingin, kemudian ia merebut kasar ponselnya yang berada ditangan Naraya dan setelah itu berlalu dengan menutup pintu lumayan keras. Kris adalah asisten pribadi Yuda yang kini menjadi asisten pribadi Harris.
"Apa gue salah lagi?" Keluh Naraya.
Narayapun akhirnya menuruti semua perintah Harris itu. Naraya mandi lumayan lama bahkan ia pun membasahi rambutnya.
Setelah mandi Naraya mencuci dengan tangan baju Harris yang kotor karena ulahnya tadi.
Setelah mencuci dan menjemur baju Harris di tempat penjemuran baju yang sudah disediakan Naraya kembali ke kamar.
Naraya berbaring ditempat tidur berukuran king zize milik Harris itu. Naraya memainkan ponselnya, ia berniat mengancam Selena.
Naraya:
Gue jeburin lo ke kolam Buaya.
Tak menunggu lama, pesan Naraya dibalas oleh Selena.
Selena:
Yakin? kalo misi gue kali ini berhasil, lo yang gue jeburin ke kolam Buaya. 😏
Naraya:
Nggak ada abisnya ya misi lo, Sebel gue.
Selena:
Haha, untung ada lo. Bisa buat objek percobaan misi gue 😛
Naraya:
Tunggu aja pembalasan gue.
Selena:
Gue tunggu 😛
"Hih! chatingan sama Selena berasa chatingan sama Harris, sama-sama bikin emosi." Keluh Naraya.
Setelah tidak ada niat untuk membalas pesan Selena kini Naraya merasa bosan, kesepian dan lapar.
Harris benar-benar mengabaikannya. Naraya melihat jam diponselnya, jam 1 siang. Wajar saja jika perutnya kini mulai terasa lapar bahkan sangat lapar. Sarapannya tadi terganggu karena Harris membahas perkataan Selena. Susunya belum Habis begitupun dengan sandwichnya.
Naraya pun memutuskan untuk pergi ke dapur. Disana Naraya melihat ada Kris yang sedang mengupas buah. Pasti itu untuk cemilan mereka.
Umur Kris 5 tahun lebih tua daripada Harris, walau begitu wajahnya tak kalah tampan. Naraya juga sudah mengenal Kris sama seperti ia mengenal Jihan.
"Pak Kris." Sapa Naraya sopan.
"Selamat siang Nona, ada yang bisa saya bantu?" Ucap kris datar, sama seperti ekspresi wajahnya yaitu datar. Kris pun sepertinya sudah selesai menyiapkan beberapa buah dipiringnya.
"Nggak ada Pak Kris, Raya bisa sendiri." Naraya masih menatap Kris sopan.
"Baiklah Nona, saya permisi." Kris membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat. Kemudian ia mengambil piring buahnya dan kemudian pergi begitu saja.
Naraya bergidik ngeri, hii.
"Kenapa yang namanya asisten selalu saja bersifat dingin." Batin Naraya.
Naraya kemudian membuka kulkas, ia mengambil botol minum air minetal. Setelah itu Naraya duduk di meja makan yang terhubung langsung dengan kitchen set nya. Naraya membuka tudung nasi kecil diatas meja dan disana sudah ada sanjian makanan 4 sehat 5 sempurna.
Sepertinya setiap pagi akan ada ART yang memasak dan membersihkan apartemen. Akhirnya Naraya pun makan dengan lahap. Setelah selesai makan Naraya pun terpaksa mencuci piringnya sendiri. Dia tidak ingin membuat Harris tambah marah.
Selesai di dapur kini Naraya bingung harus melakukan apa. Naraya memutuskan untuk menunggu Harris diruang tengah saja. Disana ada sofa panjang dan juga televisi.
Naraya pun tidur-tiduran di sofa itu dan menghidupkan televisi dengan volume yang sangat kecil, takut jika aktifitasnya menonton tv akan mengganggu Harris.
Tapi entah karena volume tv yang terlalu kecil atau karena memang pikiran Naraya yang selalu penuh dengan Harris.
Kini Naraya justru sibuk dengan pikirannya sendiri memikirkan Harris dan membiarkan tv yang menontonnya.
Naraya memikirkan prilaku Harris Hari ini. Kenapa pula Harris harus marah karena foto itu?
Kenapa password apartemen dan ponselnya harus tanggal pertunangan kita?
Kenapa setelah gue jawab pertanyaan Harris tadi Harris malah tambah marah?
Apa dia berharap gue anggap sebagai tunangannya?
Kenapa?
Apa Harris udah mulai cintai sama gue? seperti gue yang udah cinta sama dia.
Apa mungkin?
Gue nggak mau buat Harris marah lagi, ngeri.
Berbagai pertanyaan dikepala Naraya membuatnya lelah, tanpa sadar Naraya pun tertidur di sofa itu.
Jam 3 sore Harris dan Kris menyelesaikan pekerjaannya. Kris langsung pulang dan Harris kini memperhatikan Naraya yang tertidur di sofa ruang tengahnya.
Naraya tertidur miring tanpa bantal, satu kakinya bahkan terulur kelantai.
Melihat Naraya yang seperti itu seketika Harris melupakan kekesalannya hari ini. Harris membenarkan posisi kaki Naraya hingga terletak sempurna diatas sofa.
Harris mendekat kearah wajah Naraya dan menyibakkan beberapa rambut yang menutupi wajahnya. Kemudian Harris berjongkok ia ingin lebih leluasa untuk menatap wajah cantik Naraya. Tak tahan Haris pun akhirnya mengelus sayang pucuk kepala Naraya.
"Treat me like your fiance." Ucapnya pelan dan kemudian mengecup sekilas pipi Naraya.
Harris pun berdiri dan perlahan mengangkat kepala Naraya untuk memindahkannya ke dalam pangkuan.
Harris duduk diujung sofa dan menjadikan kakinya sebagai bantalan Naraya.
Setelah dirasa tidak ada lagi pergerakan Harris, Naraya tersenyum bahagia. Sesungguhnya dia sudah terbangun ketika Kris berpamitan pulang tadi.
🌸🌸🌸🌸🌸
Hai hai hai reader ku zeyeeng bala otor sholeha, jangan lupa LIKE, FAVORIT, RATING 5 + VOTE yaa..
Ai Lap You, cium 😙😙
penasaran banget cerita Selena -Kris tapi knpa g lanut lagi kak??
horrang kaya mah bebas yah thorr..😁🤭