Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Terakhir
Leon membuka pintu kamar perlahan
mengintip ke dalam.
Ruangan itu dihiasi oleh remang-remang lampu malam yang memberi cahaya hangat.
Alya terlelap di tempat tidur bersama Farad, Fared dan Farid yang tertidur
manis di sisi lain kasur, mimpi di negeri antah berantah.
Dengan langkah hati-hati, Leon
mendekati tempat tidur.
Kaki-kakinya bergerak tanpa suara di atas karpet lembut.
Dia duduk perlahan di tepi kasur memandangi wajah mantan istrinya itu.
Tampak damai sekali dia tidur seolah melupakan sejenak apa yang terjadi.
Leon mengusap kepala Alya dengan
lembut. Sentuhan itu penuh dengan perasaan yang tak terucapkan, sebuah dialog tanpa kata yang hanya bisa mereka mengerti.
"Kamu selalu terlihat paling cantik saat
tidur," bisik Leon lembut, meskipun tahu Alya tak bisa mendengarnya.
Sejenak, Fared menggeliat dalam tidurnya, seolah merasakan kehadiran seseorang.
Leon memegang tangan kecil Fared,
mengusapnya dengan jempolnya.
"Hey, sayang," bisiknya, seraya
memberikan senyum yang hanya Fared yang masih terpejam bisa rasakan.
Di sisi lain, Farid dengan kepekaan anak-anak yang sering terlupakan oleh orang dewasa, membuka matanya perlahan.
Matanya yang besar menatap Leon dengan rasa ingin tahu.
"Papa?" suaranya serak, belum
sepenuhnya terbangun.
"Shh, kembali tidur, Farid. Papa hanya
ingin memastikan kalian semua baik-baik saja," jawab Leon, menekankan setiap kata dengan kelembutan.
Farid mengangguk masih setengah mengantuk, lalu kembali memejamkan matanya, meraih tangan Leon dan memegangnya erat sebelum terlelap kembali.
Leon tersenyum lalu menoleh ke arah
Farad yang masih terlelap dalam tidurnya.
Ia mengusap rambut Farad berharap anak-anaknya ini tahu betapa dia mencintai mereka, "Malam ini kalian aman di sini," gumam Leon.
Alya mungkin merasakan kehangatan
atau mungkin hanya kebetulan, menggeliat sedikit, matanya bergerak-gerak di balik kelopak yang tertutup.
"Leon?" suaranya serak.
"Maaf kalau bangunin kamu. Aku hanya
ingin melihat mereka," jawab Leon,
tangannya masih di kepala Alya, tidak
bergerak.
"Makasih, kami tidak tahu apa yang
terjadi selanjutnya jika tidak ada kamu," ucap Alya.
"Ini tugasku sebagai papa mereka dan
kalian aman di sini, orang tuaku juga sudah mengizinkan kalian tinggal di sini setelah dipastikan Agra tidak mengganggu kalian lagi," sahut Leon.
Alya tersenyum sambil mengangguk.
"Lalu lukamu bagaimana? Aku malah
tidak tahu kamu kecelakaan setelah
memberikan pesta kejutan untukku," ucap Alya.
"Aku ini laki-laki, luka seperti ini saja
sudah biasa bagiku, tapi Rick..."
"Asisten mu itu, ya? Aku turut bersedih."
"Ya, dia bukan hanya asistenku melainkan temanku. Kondisinya masih belum stabil sampai detik ini," ucap Leon sedih.
Alya memegang tangan Leon, mata
mereka saling memandang.
"Aku tahu kamu juga punya hati yang lembut dan peduli dengan orang lain," ucap Alya.
"Maaf jika saat itu aku..."
"Tak apa, tak usah dibahas. Aku tidak apa-apa kok." Leon tersenyum. "Ini sudah larut malam, tidurlah!".
"Selamat malam, Leon."
"Selamat malam, Alya."
Keesokan harinya.
Pagi itu, ketika sinar matahari mulai
menyelinap masuk melalui jendela kamar Leon terdengar suara ketukan halus di pintu.
Suster Anna yang datang tepat waktu
membawa tas peralatan medisnya yang besar.
"Selamat pagi, Leon," sapa Suster Anna ceria sambil membuka pintu.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?"
Leon yang terbaring dengan bantal
menyangga punggungnya, membalas dengan senyum lemah.
"Lebih baik dari pada kemarin."
"Bagus jika begitu," kata Suster Anna
sambil mendekat.
Tak lama kemudian terdengar suara
langkah kaki berat dan Dr. Surya, dokter yang menangani Leon muncul di ambang pintu.
"Selamat pagi, semuanya," ujarnya dengan suara berat.
"Selamat pagi, Dok," sahut Leon.
Dr. Surya mendekati tempat tidur dan
mulai memeriksa catatan medis Leon yang tergantung di ujung tempat tidur.
"Luka bekasmu sudah mengering, ya?
Apakah masih terasa sakit?"
"Tidak terlalu, Dok," jawab
Leon,mencoba menggerakkan tangannya sedikit.
Suster Anna memperhatikan dengan
seksama. "Kami harus tetap menjaga agar luka itu tetap kering dan bersih, ya. Mari kita ganti perbanmu."
Leon mengangguk.
"Kamu benar-benar beruntung, luka-
lukamu cepat kering," komentar Dr. Surya.
"Tapi ingat, no olahraga berat dulu, ya."
"Baik."
Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Leon, mereka pun pergi keluar dari kamarnya Leon.
Leon mendorong pintu kamarnya perlahan, mengintip ke ruangan
keluarga.
Suara tawa yang riuh rendah
menyapanya, matanya berbinar saat melihat tiga bocah laki-laki kecil, Farad, Fared dan Farid, sedang berkeliling kakek Rafael yang duduk
nyaman di sofa besar.
Ruangan itu dipenuhi dengan warna dan keceriaan, sebuah pemandangan yang menghangatkan hati.
"Hei, Opa! Lihat aku!" seru Farad, anak
yang paling besar di antara ketiganya, sambil melompat-lompat di depan Rafael.
Rafael yang dulu terkenal dengan
sikapnya yang agak serius dan terkadang dingin, sekarang tersenyum lebar.
Dengan gerak lambat tapi penuh kasih, ia membungkuk dan mengangkat Farad ke udara.
"Wah, kamu berat, Farad! Tapi Opa masih kuat kok!"
Fared yang tidak mau kalah, langsung ikut serta.
"Kakek, gendong aku juga!" pinta Fared
sambil menarik lengan baju Rafael.
"Dan aku, dan aku!" Farid, si bungsu, tak mau ketinggalan, melompat-lompat kecil di tempatnya.
"Papa tidak berangkat ke kantor?" tanya Leon.
Rafael menoleh. "Sebentar lagi, kamu
sudah baikan? Kapan kamu akan ke kantor?"
"Aku serahkan pada Papa saja dan lagi
pula di sana juga ada Agra," ucap Leon.
Rafael tahu jika keputusannya sangat
tidak tepat karena memilih Agra menjadi direktur baru.
"Apa kamu mau melaporkan kasus Agra
kemarin ke polisi? Dia sudah mencoba
melecehkan Alya," tanya Rafael.
"Itu akan membuat perusahaan akan
kacau lagi 'kan?" tanya Leon kembali.
"Itu terserah kamu, Leon. Laporkan
saja tak apa! Apalagi Alya adalah korban, aku yakin setelah dia mundur dari jabatan maka kamu akan menggantikannya dan bisa membuat perusahaan menjadi lebih baik lagi.
Maafkan Papa yang selama ini terlalu
menuntut mu banyak bahkan saat itu Papa malah melengserkan mu,' ucap Rafael.
Leon tersenyum. "Jadi intinya Papa
sudah menerima Alya dan anak-anaknya?"
"Tentu saja jika itu membuat kalian
bahagia."
"Opa! Opa! Lari! Ayo lari!"ucap si Triplets.
Perhatian Rafael tertuju lagi pada cucu-cucu kembarnya yang meminta berlari.
"Aduh! Opa gak kuat dong!" ucap Rafael.
Leon tertawa kecil, pada akhirnya sang
papa kerepotan dengan ketiga cucunya setelah sekian lama ini beliau merasa kesepian tidak ada hiburan.
Leon lantas menoleh ke arah
dapur, ia melihat sang mama mengintip, Riana yang menyadari itu lantas memalingkan muka dan Leon mendekatinya.
"Mama? Terima kasih sudah izinkan
Alya menginap di sini," ucap Leon.
"Hem..." ucap Riana.
"Aku tahu Mama belum menerimanya,
aku juga tahu jika Mama ingin punya menantu yang terbaik. Alya lah yang terbaik, dia memang wanita dari kalangan biasa tapi dia tidak seperti wanita pada umumnya.
Lihatlah perjuangan dia membesarkan ketiga si kembar!".
"Leon, Mama masih butuh waktu. Jika kamu ingin rujuk dengan Alya silahkan, tapi suruh Alya mencoba memikat hati Mama."
Riana lantas masuk ke kamarnya sendiri.
Leon hanya menghela nafas kasar saja.
Leon membuka perlahan pintu kamar
Alya. Kamar itu hanya diterangi oleh sinar matahari yang menerobos melalui jendela besar,Alya terbaring di tempat tidur dengan rambut hitamnya yang berantakan menyebar di atas bantal.
Sesekali, bibirnya bergerak-gerak lembut, seolah sedang bercakap dengan seseorang dalam mimpinya.
"Alya.." Leon berbisik pelan, berharap tidak membangunkannya dengan
terlalu kasar.
Namun, Alya tetap terlelap, dan sesekali wajahnya meringis seperti sedang
mengalami mimpi buruk.
Dia menghela napas, berdiri di samping
tempat tidur memperhatikannya dengan perasaan bingung.
Tiba-tiba, Alya mengigau, "Jangan..
tolong.. jangan.."
Leon segera meraih tangan Alya.
"Hey, aku di sini. Kamu aman," katanya,
suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.
Alya merespon dengan menenangkan diri, tangannya mencengkeram tangan Leon.
Alya menghela nafas kasar, ia melihat
disekelilingnya dan mencari ketiga anak kembarnya.
"Di mana anak-anakku?"
"Mereka bermain bersama kakeknya. Oh iya tentang Agra kemarin, apa kamu ingin melaporkan pada polisi?" tanya Leon.
"Aku bingung harus bagaimana."
"Jika kamu setuju maka aku akan melaporkannya, orang sepertinya pasti akan mencari korban-korban lain.
Bagaimana?"Alya mengangguk. "Aku setuju jika dia dilaporkan polisi."
"Baiklah, aku akan urus semuanya. Nanti siang atau besok pasti sudah heboh dengan berita tersebut dan kamu akan tetap aman,"
ucap Leon.
Alya memeluk Leon dari samping, ia merasakan kehangatan di sana, Leon membalas pelukan itu dan mengecup keningnya.
"Akhirnya aku bisa memelukmu," gumam Alya.
"Maafkan aku di masa lalu, aku memang jahat."
"Aku sudah memaafkanmu, Leon."
Mata mereka saling memandang dan tiba-tiba Leon mencium bibir Alya secara sekilas membuat wanita itu terkejut, tapi responnya malah tersenyum kecil.
"Jadi aku sudah dapat lampau hijau?"
tanya Leon.
"Aku bingung, karena aku masih ada
hubungan dengan Agra."
"Setelah berita itu keluar maka kalian
tidak ada lagi hubungan."
"Benarkah?" tanya Alya tersenyum dan
memeluk Leon sekali lagi. "Aku
memberimu kesempatan lagi."
Leon tentu saja senang. "Terima kasih, Alya, Aku akan memperbaiki kesalahanku di masa lalu dan akan membahagiakan kalian saat ini."
***
Alya duduk di depan meja makan
bersama anak-anaknya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan dari Inspektur Adnan yang menangani kasusnya.
"Agra sudah kami tangkap, Alya. Kami
sedang di kantor polisi sekarang, tolong datang jika kamu bisa."
Alya membaca pesan itu berulang-ulang. Tangannya gemetar. Air matanya mengalir, bukan karena sedih, tapi karena lega.
Akhirnya, bayang-bayang yang telah lama menghantuinya itu bisa dihilangkan.
Di kantor polisi, Alya duduk di ruang
tunggu.
Detik-detik menunggu terasa seperti jam. Akhirnya, pintu terbuka dan Inspektur Adnan masuk.
"Alya, terima kasih sudah datang. Aku
tahu ini tidak mudah bagimu," kata Inspektur Adnan, memberikan senyum yang menenangkan.
"'Apa dia.. Apa dia mengaku?" tanya
Alya, suaranya serak.
"Ya, dia mengaku sudah menguntit mu
selama beberapa bulan. Kami juga
menemukan bukti dari ponselnya. Kamu benar-benar beruntung bisa lolos, Alya."
Alya menunduk, mencerna segalanya.
"Saya hanya ingin ini semua berakhir, Pak."
"Dan ini akan berakhir, Alya. Kami akan memastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal. Kamu aman sekarang," ucap Inspektur Adnan dengan tegas.
Alya mengangguk, masih berusaha menahan air mata. "Terima kasih, Pak. Terima kasih karena telah membantu saya."
Alya keluar dari kantor polisi dan melihat Leon menunggunya di luar sana, air mata Alya mengalir lalu berlari memeluk pria itu dengan erat.
"Makasih, Leon."
"Sama-sama, sayang. Para wartawan yang sedang berada di lokasi itu langsung memotret mereka dan
membuat berita baru jika Alya dan Leon adalah pasangan yang sebenarnya."
Leon lantas melepaskan pelukan dan berjongkok di depan Alya sambil mengeluarkan sesuatu, hal ini sontak membuat semua orang di sekitarnya juga ikut terkejut.
"Maukah kamu rujuk denganku?" tanya
Leon.
Alya ternganga dan mulutnya langsung ia tutupi dengan kedua tangannya."Leon, apa yang kamu lakukan? Ini depan kantor polisi loh," ucap Alya.
"Kamu tinggal bilang iya atau tidak," jawab Leon.
Alya mengangguk. "Iya, aku mau rujuk
denganmu." Leon tersenyum dan memakaikan cincin itu pada jari manis Alya, semua orang bertepuk tangan lalu Leon tidak ragu untuk mencium bibir Alya di depan semua orang.
Rafael dan ketiga cucunya yang
menyaksikan itu ikut bertepuk tangan.
"Cicuiit!" teriak Fared.
"Ih... mereka ngapain?" tanya Farid.
"Itu namanya ciuman," jawab Farad
tersenyum.
"Eh? Apa akan jadi bayi? Aku lihat di game jika orang dewasa ciuman di mulut maka akan jadi bayi," ucap Farid.
"Ah, aku nggak tau. Kita tanya Opa saja,"ucap Farad.
Mereka yang polos menarik-narik baju Rafael.
"Opa! Cara buat bayi gimana?" tanya
mereka dan sontak membuat Rafael terkejut dengan pertanyaan itu.
Di sisi lain.
Di ruang interogasi yang suram, Agra
duduk dengan tangan terborgol.
Wajahnya menunjukkan ekspresi marah dan kecewa.
Di seberang meja, pengacaranya, Pak Harun membuka map berkas dengan ekspresi serius.
"Agra, kamu harus berhati-hati dengan
apa yang kamu ucapkan. Semua ini bisa digunakan melawanmu di pengadilan, ucap Pak Harun, mencoba menenangkan kliennya.
"Tidak peduli, Pak! Mereka sudah
menghancurkan hidup saya. Alya dan
Leon! Saya tidak akan membiarkan mereka hidup tenang!" Agra hampir berteriak, matanya menyala dengan kemarahan.
Pak Harun menghela napas, tahu betapa sulitnya menangani kasus ini.
"Agra, kamu perlu berpikir jernih. Balas
dendam tidak akan membuat situasimu lebih baik.
Fokuslah pada pembelaan kita."
Agra mengatupkan gigi, rasa frustrasinya nyaris talk terkendali.
"Pak Harun, tolong hubungi Miki. Dia teman saya. Katakan padanya.. katakan padanya saya perlu
bantuannya."
Pengacara itu menatap Agra dengan
pandangan ragu. "Agra, apakah itu keputusan yang bijak? Menyeret orang lain ke dalam masalahmu....".
"Lakukan saja, Pak! Itu satu-satunya cara. Saya tidak bisa duduk diam di sini sambil mereka melihat kejatuhan saya,' potong Agra tajam.
Mengakui tidak ada gunanya membujuk kliennya lebih lanjut, Pak Harun mengangguk lelan."Baiklah, saya akan berbicara dengan
Miki.
"Tapi saya berharap kamu
mempertimbangkan kembali ini.
Pembalasan hanya akan memperburuk keadaan."
Agra hanya mengangguk singkat, matanya masih membara dengan api dendam.
Pak Harun membuka ponselnya, mengetik pesan, kemudian menatap Agra sekali lagi, seolah ingin memastikan bahwa ini benar-benar
yang diinginkan Agra.
Di satu sisi.
Miki duduk di ruang tamunya yang
gelap, cahaya hanya berasal dari layar
laptopnya yang terbuka.
Mata hitamnya berbinar saat membaca pesan dari Pak Harun tentang permintaan Agra.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Leon, oh Leon," gumamnya, suaranya mengandung campuran rasa sakit
dan kegetiran.
"Sekarang giliranmu untuk merasakan apa yang telah kamu lakukan
padaku.
"Di atas meja di sampingnya, tergeletak berbagai macam alat yang tampak tidak biasa dan berbahaya yaitu pisau, tali, dan beberapa
benda yang tampak seperti peralatan
elektronik kecil.
Miki berdiri dan mulai mengutak-atik salah satu perangkat.
Setelah beberapa saat, ia mengambil
ponselnya dan mengetik pesan cepat.
"Semuanya siap. Kita perlu bicara tentang detail lebih lanjut," kirimnya pada Agra melalui pengacara.
Beberapa saat kemudian, ponselnya
berbunyi. Pesan dari Pak Harun kembali
datang.
"Miki, Agra berharap kamu bisa
membantunya. Apakah kamu yakin dengan ini? Ini sangat berisiko."
Miki hanya tersenyum dan mengetik
balasan, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Saya tahu apa yang saya lakukan. Leon dan Alya tidak akan tahu apa yang menghantam mereka.
"Dia mematikan ponselnya dan kembali ke laptopnya, membuka beberapa tab yang berisi informasi tentang keamanan rumah dan jadwal Leon.
"Ini akan menjadi sebuah pertunjukan
yang tidak akan mereka lupakan, terutama untuk anak-anak kembar itu."
cuma ada oma riana jd pembantu menantunya gdang salad.
biar nyaman ada halaman nya untuk keluarga dgn anak banyak
sesalah apapun ibu jgn tega begitu membiarkan dia kerja sm menantunya.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan