NovelToon NovelToon
Kembar Tiga Sang CEO Dingin

Kembar Tiga Sang CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:459k
Nilai: 5
Nama Author: Julian_06

Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.

Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.

“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesempatan Terakhir

Leon membuka pintu kamar perlahan

mengintip ke dalam.

Ruangan itu dihiasi oleh remang-remang lampu malam yang memberi cahaya hangat.

Alya terlelap di tempat tidur bersama Farad, Fared dan Farid yang tertidur

manis di sisi lain kasur, mimpi di negeri antah berantah.

Dengan langkah hati-hati, Leon

mendekati tempat tidur.

Kaki-kakinya bergerak tanpa suara di atas karpet lembut.

Dia duduk perlahan di tepi kasur memandangi wajah mantan istrinya itu.

Tampak damai sekali dia tidur seolah melupakan sejenak apa yang terjadi.

Leon mengusap kepala Alya dengan

lembut. Sentuhan itu penuh dengan perasaan yang tak terucapkan, sebuah dialog tanpa kata yang hanya bisa mereka mengerti.

"Kamu selalu terlihat paling cantik saat

tidur," bisik Leon lembut, meskipun tahu Alya tak bisa mendengarnya.

Sejenak, Fared menggeliat dalam tidurnya, seolah merasakan kehadiran seseorang.

Leon memegang tangan kecil Fared,

mengusapnya dengan jempolnya.

"Hey, sayang," bisiknya, seraya

memberikan senyum yang hanya Fared yang masih terpejam bisa rasakan.

Di sisi lain, Farid dengan kepekaan anak-anak yang sering terlupakan oleh orang dewasa, membuka matanya perlahan.

Matanya yang besar menatap Leon dengan rasa ingin tahu.

"Papa?" suaranya serak, belum

sepenuhnya terbangun.

"Shh, kembali tidur, Farid. Papa hanya

ingin memastikan kalian semua baik-baik saja," jawab Leon, menekankan setiap kata dengan kelembutan.

Farid mengangguk masih setengah mengantuk, lalu kembali memejamkan matanya, meraih tangan Leon dan memegangnya erat sebelum terlelap kembali.

Leon tersenyum lalu menoleh ke arah

Farad yang masih terlelap dalam tidurnya.

Ia mengusap rambut Farad berharap anak-anaknya ini tahu betapa dia mencintai mereka, "Malam ini kalian aman di sini," gumam Leon.

Alya mungkin merasakan kehangatan

atau mungkin hanya kebetulan, menggeliat sedikit, matanya bergerak-gerak di balik kelopak yang tertutup.

"Leon?" suaranya serak.

"Maaf kalau bangunin kamu. Aku hanya

ingin melihat mereka," jawab Leon,

tangannya masih di kepala Alya, tidak

bergerak.

"Makasih, kami tidak tahu apa yang

terjadi selanjutnya jika tidak ada kamu," ucap Alya.

"Ini tugasku sebagai papa mereka dan

kalian aman di sini, orang tuaku juga sudah mengizinkan kalian tinggal di sini setelah dipastikan Agra tidak mengganggu kalian lagi," sahut Leon.

Alya tersenyum sambil mengangguk.

"Lalu lukamu bagaimana? Aku malah

tidak tahu kamu kecelakaan setelah

memberikan pesta kejutan untukku," ucap Alya.

"Aku ini laki-laki, luka seperti ini saja

sudah biasa bagiku, tapi Rick..."

"Asisten mu itu, ya? Aku turut bersedih."

"Ya, dia bukan hanya asistenku melainkan temanku. Kondisinya masih belum stabil sampai detik ini," ucap Leon sedih.

Alya memegang tangan Leon, mata

mereka saling memandang.

"Aku tahu kamu juga punya hati yang lembut dan peduli dengan orang lain," ucap Alya.

"Maaf jika saat itu aku..."

"Tak apa, tak usah dibahas. Aku tidak apa-apa kok." Leon tersenyum. "Ini sudah larut malam, tidurlah!".

"Selamat malam, Leon."

"Selamat malam, Alya."

Keesokan harinya.

Pagi itu, ketika sinar matahari mulai

menyelinap masuk melalui jendela kamar Leon terdengar suara ketukan halus di pintu.

Suster Anna yang datang tepat waktu

membawa tas peralatan medisnya yang besar.

"Selamat pagi, Leon," sapa Suster Anna ceria sambil membuka pintu.

"Bagaimana perasaanmu hari ini?"

Leon yang terbaring dengan bantal

menyangga punggungnya, membalas dengan senyum lemah.

"Lebih baik dari pada kemarin."

"Bagus jika begitu," kata Suster Anna

sambil mendekat.

Tak lama kemudian terdengar suara

langkah kaki berat dan Dr. Surya, dokter yang menangani Leon muncul di ambang pintu.

"Selamat pagi, semuanya," ujarnya dengan suara berat.

"Selamat pagi, Dok," sahut Leon.

Dr. Surya mendekati tempat tidur dan

mulai memeriksa catatan medis Leon yang tergantung di ujung tempat tidur.

"Luka bekasmu sudah mengering, ya?

Apakah masih terasa sakit?"

"Tidak terlalu, Dok," jawab

Leon,mencoba menggerakkan tangannya sedikit.

Suster Anna memperhatikan dengan

seksama. "Kami harus tetap menjaga agar luka itu tetap kering dan bersih, ya. Mari kita ganti perbanmu."

Leon mengangguk.

"Kamu benar-benar beruntung, luka-

lukamu cepat kering," komentar Dr. Surya.

"Tapi ingat, no olahraga berat dulu, ya."

"Baik."

Setelah dokter selesai memeriksa keadaan Leon, mereka pun pergi keluar dari kamarnya Leon.

Leon mendorong pintu kamarnya perlahan, mengintip ke ruangan

keluarga.

Suara tawa yang riuh rendah

menyapanya, matanya berbinar saat melihat tiga bocah laki-laki kecil, Farad, Fared dan Farid, sedang berkeliling kakek Rafael yang duduk

nyaman di sofa besar.

Ruangan itu dipenuhi dengan warna dan keceriaan, sebuah pemandangan yang menghangatkan hati.

"Hei, Opa! Lihat aku!" seru Farad, anak

yang paling besar di antara ketiganya, sambil melompat-lompat di depan Rafael.

Rafael yang dulu terkenal dengan

sikapnya yang agak serius dan terkadang dingin, sekarang tersenyum lebar.

Dengan gerak lambat tapi penuh kasih, ia membungkuk dan mengangkat Farad ke udara.

"Wah, kamu berat, Farad! Tapi Opa masih kuat kok!"

Fared yang tidak mau kalah, langsung ikut serta.

"Kakek, gendong aku juga!" pinta Fared

sambil menarik lengan baju Rafael.

"Dan aku, dan aku!" Farid, si bungsu, tak mau ketinggalan, melompat-lompat kecil di tempatnya.

"Papa tidak berangkat ke kantor?" tanya Leon.

Rafael menoleh. "Sebentar lagi, kamu

sudah baikan? Kapan kamu akan ke kantor?"

"Aku serahkan pada Papa saja dan lagi

pula di sana juga ada Agra," ucap Leon.

Rafael tahu jika keputusannya sangat

tidak tepat karena memilih Agra menjadi direktur baru.

"Apa kamu mau melaporkan kasus Agra

kemarin ke polisi? Dia sudah mencoba

melecehkan Alya," tanya Rafael.

"Itu akan membuat perusahaan akan

kacau lagi 'kan?" tanya Leon kembali.

"Itu terserah kamu, Leon. Laporkan

saja tak apa! Apalagi Alya adalah korban, aku yakin setelah dia mundur dari jabatan maka kamu akan menggantikannya dan bisa membuat perusahaan menjadi lebih baik lagi.

Maafkan Papa yang selama ini terlalu

menuntut mu banyak bahkan saat itu Papa malah melengserkan mu,' ucap Rafael.

Leon tersenyum. "Jadi intinya Papa

sudah menerima Alya dan anak-anaknya?"

"Tentu saja jika itu membuat kalian

bahagia."

"Opa! Opa! Lari! Ayo lari!"ucap si Triplets.

Perhatian Rafael tertuju lagi pada cucu-cucu kembarnya yang meminta berlari.

"Aduh! Opa gak kuat dong!" ucap Rafael.

Leon tertawa kecil, pada akhirnya sang

papa kerepotan dengan ketiga cucunya setelah sekian lama ini beliau merasa kesepian tidak ada hiburan.

Leon lantas menoleh ke arah

dapur, ia melihat sang mama mengintip, Riana yang menyadari itu lantas memalingkan muka dan Leon mendekatinya.

"Mama? Terima kasih sudah izinkan

Alya menginap di sini," ucap Leon.

"Hem..." ucap Riana.

"Aku tahu Mama belum menerimanya,

aku juga tahu jika Mama ingin punya menantu yang terbaik. Alya lah yang terbaik, dia memang wanita dari kalangan biasa tapi dia tidak seperti wanita pada umumnya.

Lihatlah perjuangan dia membesarkan ketiga si kembar!".

"Leon, Mama masih butuh waktu. Jika kamu ingin rujuk dengan Alya silahkan, tapi suruh Alya mencoba memikat hati Mama."

Riana lantas masuk ke kamarnya sendiri.

Leon hanya menghela nafas kasar saja.

Leon membuka perlahan pintu kamar

Alya. Kamar itu hanya diterangi oleh sinar matahari yang menerobos melalui jendela besar,Alya terbaring di tempat tidur dengan rambut hitamnya yang berantakan menyebar di atas bantal.

Sesekali, bibirnya bergerak-gerak lembut, seolah sedang bercakap dengan seseorang dalam mimpinya.

"Alya.." Leon berbisik pelan, berharap tidak membangunkannya dengan

terlalu kasar.

Namun, Alya tetap terlelap, dan sesekali wajahnya meringis seperti sedang

mengalami mimpi buruk.

Dia menghela napas, berdiri di samping

tempat tidur memperhatikannya dengan perasaan bingung.

Tiba-tiba, Alya mengigau, "Jangan..

tolong.. jangan.."

Leon segera meraih tangan Alya.

"Hey, aku di sini. Kamu aman," katanya,

suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.

Alya merespon dengan menenangkan diri, tangannya mencengkeram tangan Leon.

Alya menghela nafas kasar, ia melihat

disekelilingnya dan mencari ketiga anak kembarnya.

"Di mana anak-anakku?"

"Mereka bermain bersama kakeknya. Oh iya tentang Agra kemarin, apa kamu ingin melaporkan pada polisi?" tanya Leon.

"Aku bingung harus bagaimana."

"Jika kamu setuju maka aku akan melaporkannya, orang sepertinya pasti akan mencari korban-korban lain.

Bagaimana?"Alya mengangguk. "Aku setuju jika dia dilaporkan polisi."

"Baiklah, aku akan urus semuanya. Nanti siang atau besok pasti sudah heboh dengan berita tersebut dan kamu akan tetap aman,"

ucap Leon.

Alya memeluk Leon dari samping, ia merasakan kehangatan di sana, Leon membalas pelukan itu dan mengecup keningnya.

"Akhirnya aku bisa memelukmu," gumam Alya.

"Maafkan aku di masa lalu, aku memang jahat."

"Aku sudah memaafkanmu, Leon."

Mata mereka saling memandang dan tiba-tiba Leon mencium bibir Alya secara sekilas membuat wanita itu terkejut, tapi responnya malah tersenyum kecil.

"Jadi aku sudah dapat lampau hijau?"

tanya Leon.

"Aku bingung, karena aku masih ada

hubungan dengan Agra."

"Setelah berita itu keluar maka kalian

tidak ada lagi hubungan."

"Benarkah?" tanya Alya tersenyum dan

memeluk Leon sekali lagi. "Aku

memberimu kesempatan lagi."

Leon tentu saja senang. "Terima kasih, Alya, Aku akan memperbaiki kesalahanku di masa lalu dan akan membahagiakan kalian saat ini."

***

Alya duduk di depan meja makan

bersama anak-anaknya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan dari Inspektur Adnan yang menangani kasusnya.

"Agra sudah kami tangkap, Alya. Kami

sedang di kantor polisi sekarang, tolong datang jika kamu bisa."

Alya membaca pesan itu berulang-ulang. Tangannya gemetar. Air matanya mengalir, bukan karena sedih, tapi karena lega.

Akhirnya, bayang-bayang yang telah lama menghantuinya itu bisa dihilangkan.

Di kantor polisi, Alya duduk di ruang

tunggu.

Detik-detik menunggu terasa seperti jam. Akhirnya, pintu terbuka dan Inspektur Adnan masuk.

"Alya, terima kasih sudah datang. Aku

tahu ini tidak mudah bagimu," kata Inspektur Adnan, memberikan senyum yang menenangkan.

"'Apa dia.. Apa dia mengaku?" tanya

Alya, suaranya serak.

"Ya, dia mengaku sudah menguntit mu

selama beberapa bulan. Kami juga

menemukan bukti dari ponselnya. Kamu benar-benar beruntung bisa lolos, Alya."

Alya menunduk, mencerna segalanya.

"Saya hanya ingin ini semua berakhir, Pak."

"Dan ini akan berakhir, Alya. Kami akan memastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal. Kamu aman sekarang," ucap Inspektur Adnan dengan tegas.

Alya mengangguk, masih berusaha menahan air mata. "Terima kasih, Pak. Terima kasih karena telah membantu saya."

Alya keluar dari kantor polisi dan melihat Leon menunggunya di luar sana, air mata Alya mengalir lalu berlari memeluk pria itu dengan erat.

"Makasih, Leon."

"Sama-sama, sayang. Para wartawan yang sedang berada di lokasi itu langsung memotret mereka dan

membuat berita baru jika Alya dan Leon adalah pasangan yang sebenarnya."

Leon lantas melepaskan pelukan dan berjongkok di depan Alya sambil mengeluarkan sesuatu, hal ini sontak membuat semua orang di sekitarnya juga ikut terkejut.

"Maukah kamu rujuk denganku?" tanya

Leon.

Alya ternganga dan mulutnya langsung ia tutupi dengan kedua tangannya."Leon, apa yang kamu lakukan? Ini depan kantor polisi loh," ucap Alya.

"Kamu tinggal bilang iya atau tidak," jawab Leon.

Alya mengangguk. "Iya, aku mau rujuk

denganmu." Leon tersenyum dan memakaikan cincin itu pada jari manis Alya, semua orang bertepuk tangan lalu Leon tidak ragu untuk mencium bibir Alya di depan semua orang.

Rafael dan ketiga cucunya yang

menyaksikan itu ikut bertepuk tangan.

"Cicuiit!" teriak Fared.

"Ih... mereka ngapain?" tanya Farid.

"Itu namanya ciuman," jawab Farad

tersenyum.

"Eh? Apa akan jadi bayi? Aku lihat di game jika orang dewasa ciuman di mulut maka akan jadi bayi," ucap Farid.

"Ah, aku nggak tau. Kita tanya Opa saja,"ucap Farad.

Mereka yang polos menarik-narik baju Rafael.

"Opa! Cara buat bayi gimana?" tanya

mereka dan sontak membuat Rafael terkejut dengan pertanyaan itu.

Di sisi lain.

Di ruang interogasi yang suram, Agra

duduk dengan tangan terborgol.

Wajahnya menunjukkan ekspresi marah dan kecewa.

Di seberang meja, pengacaranya, Pak Harun membuka map berkas dengan ekspresi serius.

"Agra, kamu harus berhati-hati dengan

apa yang kamu ucapkan. Semua ini bisa digunakan melawanmu di pengadilan, ucap Pak Harun, mencoba menenangkan kliennya.

"Tidak peduli, Pak! Mereka sudah

menghancurkan hidup saya. Alya dan

Leon! Saya tidak akan membiarkan mereka hidup tenang!" Agra hampir berteriak, matanya menyala dengan kemarahan.

Pak Harun menghela napas, tahu betapa sulitnya menangani kasus ini.

"Agra, kamu perlu berpikir jernih. Balas

dendam tidak akan membuat situasimu lebih baik.

Fokuslah pada pembelaan kita."

Agra mengatupkan gigi, rasa frustrasinya nyaris talk terkendali.

"Pak Harun, tolong hubungi Miki. Dia teman saya. Katakan padanya.. katakan padanya saya perlu

bantuannya."

Pengacara itu menatap Agra dengan

pandangan ragu. "Agra, apakah itu keputusan yang bijak? Menyeret orang lain ke dalam masalahmu....".

"Lakukan saja, Pak! Itu satu-satunya cara. Saya tidak bisa duduk diam di sini sambil mereka melihat kejatuhan saya,' potong Agra tajam.

Mengakui tidak ada gunanya membujuk kliennya lebih lanjut, Pak Harun mengangguk lelan."Baiklah, saya akan berbicara dengan

Miki.

"Tapi saya berharap kamu

mempertimbangkan kembali ini.

Pembalasan hanya akan memperburuk keadaan."

Agra hanya mengangguk singkat, matanya masih membara dengan api dendam.

Pak Harun membuka ponselnya, mengetik pesan, kemudian menatap Agra sekali lagi, seolah ingin memastikan bahwa ini benar-benar

yang diinginkan Agra.

Di satu sisi.

Miki duduk di ruang tamunya yang

gelap, cahaya hanya berasal dari layar

laptopnya yang terbuka.

Mata hitamnya berbinar saat membaca pesan dari Pak Harun tentang permintaan Agra.

Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Leon, oh Leon," gumamnya, suaranya mengandung campuran rasa sakit

dan kegetiran.

"Sekarang giliranmu untuk merasakan apa yang telah kamu lakukan

padaku.

"Di atas meja di sampingnya, tergeletak berbagai macam alat yang tampak tidak biasa dan berbahaya yaitu pisau, tali, dan beberapa

benda yang tampak seperti peralatan

elektronik kecil.

Miki berdiri dan mulai mengutak-atik salah satu perangkat.

Setelah beberapa saat, ia mengambil

ponselnya dan mengetik pesan cepat.

"Semuanya siap. Kita perlu bicara tentang detail lebih lanjut," kirimnya pada Agra melalui pengacara.

Beberapa saat kemudian, ponselnya

berbunyi. Pesan dari Pak Harun kembali

datang.

"Miki, Agra berharap kamu bisa

membantunya. Apakah kamu yakin dengan ini? Ini sangat berisiko."

Miki hanya tersenyum dan mengetik

balasan, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Saya tahu apa yang saya lakukan. Leon dan Alya tidak akan tahu apa yang menghantam mereka.

"Dia mematikan ponselnya dan kembali ke laptopnya, membuka beberapa tab yang berisi informasi tentang keamanan rumah dan jadwal Leon.

"Ini akan menjadi sebuah pertunjukan

yang tidak akan mereka lupakan, terutama untuk anak-anak kembar itu."

1
ceuceu
opa rafael kemana kok ngilang sememjak triplets SMP?
cuma ada oma riana jd pembantu menantunya gdang salad.
Lian_06: opa Rafael hanya tokoh pelengkap aja, jadi gak terlalu sering muncul
total 1 replies
ceuceu
egois alya,anak kecelakaan teteo aj keras kepala
ceuceu
Lagian alya batu banget,udh tau sore nyuru anak" pulang,selingkuh ga di benarkan,tapi itu ga sampe selingkuh yg kebablasan,selama rujuk leon ga pernah selingkuh kn,maafin leon dong alya jg batu.
ceuceu
fared emang nakal di banding yg lain,kadang di anggao wajar oleh orangtua,tapi anak makin bandel
ceuceu
alya leon anak banyak knp ga tinggal dirumah yg besar ya?
biar nyaman ada halaman nya untuk keluarga dgn anak banyak
ceuceu
ga ada kapoknya fared
ceuceu
ampun dah bocil masih piyik cinta"an
ceuceu
Lah kocag fared katanya ga cengeng/Facepalm/
ceuceu
tega ya leon ga ngasi nafkah mamanya/Frown/
sesalah apapun ibu jgn tega begitu membiarkan dia kerja sm menantunya.
ceuceu
triplets gen leon /Grin/
ceuceu
kenapa ya alya manggil suami namanya,ga pakai bahasa santun misalnya mas gitu,aga ga sopan ke suami
Lian_06: Itu lebih ke penulisan sih, kadang pake mas kadang pake nama nya Leon gitu.
total 1 replies
ceuceu
bengek si kembar.absurd/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Lian_06: emang kelakuan kembar bikin ngakak🤣
total 1 replies
ceuceu
Mahar itu kn mas kawin bahasa arab,knp nikah di gereja pakai kata mahar thor?
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan
Lian_06: Ouh terimakasih ya koreksi nya nanti diperbaiki 🤗😄
total 1 replies
ceuceu
ikutan nangis sedih bgt jadi alya/Sob/
Lian_06: Jujurly iya😭, jadi makin berharap Alya bahagia rasanya :)
total 1 replies
popy suprijati
🤣🤣🤣🤣
Mazree Gati
karena leon kaya aja alya mau balikan walu pernah di sakiti,coba kere,ogah
Ida Lailamajenun
masak sekelas CEO takut jika diusir dari perusahaan nya pasti bisa mandiri la dan kita lihat apakah uang bisa membahagiakan rafael jika anak dan cucu nya gk ada
Ida Lailamajenun
banyak typo thor terutama typo nama
Lian_06: Iya terima kasih kritik nya ya, nanti saya revisi lagi😁. btw bagaimana dengan cerita nya nih
total 1 replies
Ida Lailamajenun
nah harus bgn Leon ada saingan 😄biar modar kebakaran bulu liat ada laki lakj lain yg mau sama Alya
Ida Lailamajenun
ck dah mantan aja masih meresahkan bagi Alya,harus nya othor hadirkan laki laki baik buat Alya setelah jd mantan Leon biar kebakaran bulu tuh mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!