Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tindakan Nakal Kean
Pukul 6 sore. Semua berkumpul di rumah makan besar yang sengaja sudah di booking Keandra dan pak Bam tadi. Suasana cukup meriah meski hanya sekedar makan bersama dan juga pembagian hadiah dari pertandingan voly tadi.
"Guys, foto dulu buat kenang-kenangan," ujar Gio membuat beberapa mahasiswa mulai saling mendekat, berhimpitan agar dapat diambil gambarnya.
Gio mengatur kamera miliknya yang berada di depan sana. Ia mengarahkan pada kumpulan mahasiswa kampusnya.
"Bentar, ini yang cowok pada duduk aja depan, yang cewe berdiri belakang biar keliatan semua mukanya," serunya langsung disetujui mereka.
Terlihat dari beberapa cowok yang mulai mengambil tempat ke depan dan berjongkok, sementara para cewek mengambil posisi di belakangnya.
Jeviza dan ketiga temannya berdiri di ujung, Jeviza yang paling ujung, sengaja memang mengingat mereka bukan anggota BEM, tetapi mahasiswi yang kebetulan dekat dengan salah satu anggota dan diajak untuk ikut bersama.
Kean melangkah menuju dimana barisan Jeviza dan teman-temannya, ia sengaja duduk di paling ujung, dimana di belakangnya ada Jeviza.
"Geseran bro," ujarnya lirih, membuat mahasiswa yang tadinya berjongkok tepat di depan Jeviza menoleh.
Cukup terkejut dengan adanya Kean yang tiba-tiba datang, harusnya Kean berada paling depan sana, dekat dengan pak Bam seperti biasanya, tetapi aneh sekali ketua BEM itu tiba-tiba jongkok di urutan paling ujung.
"Udah siap semua?" tanya Gio dibalas mereka serempak.
"Udah."
Gio meminta salah satu pegawai rumah makan tersebut untuk mengambilkan gambar mereka melalui kamera miliknya. Sebelum akhirnya Gio ikut bergabung bersama yang lain.
Beberapa foto mulai diambil, dari wajah tersenyum dan gaya bebas, terakhir foto yang akan diambil membuat Jeviza tersentak kaget, sebuah tangan dari depannya menarik tangannya untuk memeluk lehernya, membuat Jeviza baru tersadar jika sedari tadi yang berada di depannya ialah Kean. Pantas saja Jeviza mencium aroma parfum mahal yang sangat familiar itu.
"Eh, bentar, Kean dimana?" tanya Kaina tidak melihat keberadaan cowok itu.
"Lah, mana presma kita?" tanya Gio mencari ke sekitarnya.
Januar yang sudah tahu dimana Kean hanya diam, menatap Kean dengan wajah tenangnya yang sedang berjongkok di depan Jeviza.
"Gue di sini, aman, ambil aja lagi fotonya."
Seketika semua mengalihkan tatapan mata mereka pada deretan paling ujung sebelah kiri. Lalu melirik barisan belakangnya, dimana Jeviza yang berada di paling ujung, tepat di belakang Kean. Beruntungnya ia sudah melepas pelukan tangannya pada leher Kean tadi sebelum semua mata tertuju padanya.
"Oh, oke-oke, paham gue maksud lo, biar nggak bedain anggota sama mereka yang diajak kan?"
Mendengar itu membuat beberapa mahasiswi malah semakin kagum dengan Kean, padahal tadi sempat kesal karena melihat Kean yang berjongkok tepat di depan adik tingkat dari Jakarta itu, tetapi setelah tahu alasan Kean agar mereka tidak merasa dibedakan, kekaguman itu semakin bertambah.
"Udah ganteng, gentle banget lagi," puji salah satu mahasiswi.
Kaina yang melihat itu terdiam, antara kagum dengan sosok Kean juga merasa penasaran. Kejadian tadi dimana Kean tiba-tiba hilang bersamaan dengan adik tingkatnya itu masih menyisakan rasa penasaran Kaina. Meski salah satu dari mereka-Tevi tadi sudah menjelaskan jika Jeviza hampir saja pingsan, dan Kean menamaninya atas perintah Puspa, tetapi entah kenapa perasaan Kaina tidak bisa benar-benar percaya, seperti ada sesuatu yang Kaina sendiri tidak mengerti.
"Kak Kean, pengertian banget anjir, makin suka deh, tau gitu gue tadi berdiri di situ," ujar Naura membuat Kaina melirik sekilas gadis itu.
"Oke, lagi guys, kali ini gaya bebas lagi, tapi muka kalian dibuat jelek ya?" ujar Gio mendapat sorakan dari semua, tetapi tetap saja dilakukan.
Setelah beberapa foto berhasil diambil kini semua kembali ke tempat masing-masing, tetapi sebelum kembali ke tempatnya. Kean sengaja membisikan sesuatu yang membuat Jeviza semakin tercekat dan gugup. Sengaja sekali memang.
"Muka lo merah banget."
Jeviza langsung meraba bagian pipinya, mendengus dengan degupan jantung yang mulai tidak terkendali di dalam sana.
Sementara Kean, si pelaku justru tersenyum tipis, sebelum menjauh, tangan Kean sengaja melingkar pada pinggang Jeviza, bersamaan dengan ia yang mulai melangkah, tangannya meraba bagian pinggang Jeviza hingga terlepas.
Damn
Jeviza ingin menjerit, kelakuan ketua BEM yang selalu dielu-elukan itu sangat tidak pantas sekali. Sekalipun pada istrinya, rasanya Jeviza ingin protes meski tidak dipungkiri tindakan Kean padanya itu membuat ia merasa semakin gugup dan salah tingkah.
"Je, lo masih sakit?" pertanyaan Sisil seketika membuat Jeviza menoleh, lalu menggeleng.
"Enggak, gue udah nggak papa kok."
"Tapi muka lo merah banget, Je."
Jeviza tercekat, dalam hatinya sudah mengumpati Kean yang membuat wajahnya bisa semerah sekarang.
Keanjing
"Eh, bentar, kok kak Janu rasanya beda ya?"
Jeviza menoleh pada Januar yang sudah kembali duduk di tempatnya, bedanya tatapan Janu sekarang padanya tampak sedikit tajam, tidak sehangat biasanya.
Jeviza membeku, ia menelan ludahnya kasar, berharap semoga saja salah satu kakak tingkatnya itu tidak melihat tindakan Kean padanya tadi. Tetapi sepertinya dari sorot mata Janu yang berbeda itu, Jeviza menyimpulkan jika Janu melihatnya.
Apa yang harus Jeviza katakan sekarang?
"Kak Janu liatin lo terus, Je. Tapi kaya yang-" Naura tidak melanjutkan ucapannya, mengamati tatapan Janu pada Jeviza yanh sedikit berbeda dari biasanya.
"Lah anjir, mau ke sini enggak sih?" pekik Sisil melihat pegerakan Janu dari mulai berdiri dan melangkah menuju ke arah mereka.
Dan sesuai dugaan Sisil tadi. Janu kini berdiri tepat di depan Jeviza. Tersenyum tipis sembari mengulurkan tangannya.
"Selamat, ya Je," ujarnya seketika membuat Jeviza bertambah bingung.
"Hah?" gumam Sisil tidak kalah bingung.
"Kak, yang menang dan dapat hadiah bukan Jeviza, tapi Tevi, itu lho anaknya yang udah maju ke depan," beritahu Naura membuat Janu justru tersenyum, tetapi tetap sorot matanya tidak beralih sedikit pun pada Jeviza.
"Oh, sorry gue salah," ujarnya diangguki Naura dan Sisil.
"Kalau gitu, kita mau ambil foto Tevi dulu ya, Je." Naura menarik tangan Sisil untuk menjauh, memberikan waktu Jeviza dan Janu berdua.
"Kak Janu, gu-gue juga mau liat Tevi, nggak papa kan?" pamit Jeviza sedikit tidak enak.
Januar mengangguk. "Lo nggak liat temen lo pada pergi buat kasih kesempatan kita berdua ngobrol?"
Jeviza meremat ujung bajunya, lalu tersenyum kikuk. Mencoba tetap tenang ditengah gempuran rasa yang tidak nyaman karena tatapan Januar padanya.
"Oh, oke, lo pasti takut sama Kean kan?"
Lagi-lagi Jeviza semakin dibuat bertambah bingung, tetapi belum bisa menjawab apa-apa, masih terlalu ambigu untuknya menyimpulkan jika Janu sudah tahu statusnya dengan Kean.
Terdengar kekehan dari Januar. "Gue berhenti Je, buat dekati lo, semoga lo bahagia sama Kean."
Tangan Januar terangkat untuk mengacak rambut Jeviza seperti biasanya, tetapi terhenti saat sadar jika gadis di depannya ini istri dari temannya. Lalu Januar terkekeh dengan menepuk pundak Jeviza pelan. "Jangan ada Janu ke dua," ujarnya sebelum pergi.
Jeviza mematung di tempatnya, menatap kepergian Janu dengan perasaan bersalah, ia belum meminta maaf dan menjelaskan apapun, tetapi Janu sudah pergi. Setelahnya, getaran di ponselnya seketika menyadarkan Jeviza, ia mengambil ponsel miliknya dan membaca pesan dari Kean yang semakin membuat Jeviza tidak bisa berkata-kata lagi.
Keandra
Sedih? ditinggal Janu?
Jeviza menutup mulutnya tidak percaya. Mencoba mencari keberadaan Kean, lalu setelah melihat Kean yang baru saja memasukan ponselnya dan maju ke depan bersama dengan pak Bam untuk memberikan hadiah kepada tim yang menang, Jeviza menghela napas. Wajah Kean terlihat sangat tenang, seakan baru saja tidak mengirimkan pesan yang langsung bisa Jeviza tebak bahwa cowok di depan sana itu sedang cemburu padanya.
Wajah tenang itu, wajah yang selalu bisa menipu siapapun.
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭
lanjut maljum😁