Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.
Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?
Baca kisahnya yuk readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Ikut Ke Kantor
Bab 25. Ikut Ke Kantor
(POV Author)
Berat, itu yang di rasakan Teguh mengingat berapa hari lagi ia akan meninggalkan Lyra untuk pergi ke Kalimantan.
Wanita itu saat ini sedang terguncang mengetahui kebenaran bahwa sang Mama bukan Ibu kandungnya. Sekeras apa pun Lyra mencoba mengingat tapi hanya ada satu wanita yang selalu mendampinginya selama ini yaitu Kamila.
Tangan Lyra yang mencengkeram kuat lengan Teguh dengan sedikit gemetar menunjukan betapa rapuhnya ia sekarang.
Teguh mengambil kertas yang di unjukan Alex padanya. Dengan perlahan ia membaca seluruh isi kertas itu.
Lyra tidak ikut membaca, pikirannya sudah kacau saat ini.
"Oke Lex, bukti dan informasi Gue pegang. Lo bisa cek rekening Lo nanti."
"Siap. Gue langsung pamit ya, kabari aja kalau butuh lagi." Ujar Alex sambil membereskan laptopnya.
"Oke."
Alex berdiri tanpa pamit kepada Lyra. Ia tahu Lyra sedang terpukul dan tidak ingin mengganggunya.
"Gue sendiri aja. Nggak usah di anter. Dia lebih penting." Ujar Alex kepada Teguh dan sekilas melirik Lyra.
"Thanks ya Bro." Jawab Teguh.
Alex mengangguk lalu melangkahkan kaki menuju pintu, dan berlalu setelah menutup kembali pintu unit Apartemen.
"Hiks...hiks..."
Tangisan Lyra mulai terdengar setelah Alex pergi.
Kasihan, kayaknya dari tadi dia berusaha menahan tangisnya. Batin Teguh.
Teguh menghela napas berat. Ia lalu memeluk tubuh Lyra dari samping untuk memberikan wanita itu kekuatan. Dan akhirnya tangis Lyra pun pecah di dada Teguh.
"Huaaaaa...."
Teguh tidak berkata apa-apa selain memeluk tubuh yang gemetar itu. Ia membiarkan Lyra menangis untuk mengeluarkan segala sesak di dadanya.
Setelah beberapa menit berlalu, Teguh meraih handphone-nya di atas meja. Lalu mengirim pesan pada Farhan kalau ia akan tiba di kantor 2 jam lagi.
Beberapa waktu kemudian tangis Lyra mulai mereda walau masih tersisa isak tangis sedu sedan.
"Kamu pasti kuat Cil. Nanti kita kasih pelajaran ke mereka yang nyakitin kamu."
Teguh mengusap-ngusap punggung Lyra. Lelaki itu merasa ikut sakit mengetahui kehidupan Lyra yang ternyata sangat pahit di usia mudanya.
"Masih mau ke kampus?"
Lyra menggelengkan kepala. Ia tidak mampu berpikir untuk urusan kuliahnya saat ini.
"Ikut Abang ke kantor aja ya?" Ajak Teguh yang tidak tega melihat keadaan Lyra.
Lyra mendongakkan wajahnya melihat Teguh. Matanya yang sembab menjadi sipit dengan menyisakan segaris penglihatan saja. Sungguh begitu, Lyra tetap saja membuat Teguh gemas melihatnya. Lelaki itu mengusap jejak air mata Lyra dengan jarinya.
"Mau ikut Abang?"
"Aku takut ganggu Abang kerja."
"Di kantor abang ada kantin di rooftop, adem dan enak pemandangannya. Kamu bisa nyantai disana. Kalau lelah dan butuh istirahat, diruangan Abang ada kamar khusus buat rebahan."
Kali ini Lyra yang mengusap wajahnya untuk menghilangkan jejak tangisnya.
"Mataku ku Bang?"
Teguh terkekeh.
"Tuh kan..." Sungut Lyra manyun 2 centil.
Teguh mencomot bibir yang menggemaskan itu dengan jarinya.
"Pakai kaca mata Abang aja ya?" Saran Teguh.
Lyra mengangguk.
"Sebentar." Ujar Teguh.
Teguh lalu beranjak mencari stok kaca matanya di dalam kamar. Begitu ketemu yang kira-kira cocok untuk Lyra, Teguh mengambil kaca mata itu.
"Coba ini Cil."
Lyra meraih kaca mata yang teguh berikan. Kaca mata hitam itu sangat cocok dipakai Lyra, hingga menambah kesannya sebagai wanita elegan.
"Cakep Cil. Abang suka."
Eh....
"Kita berangkat sekarang ya?"
Lagi-lagi Lyra hanya mengangguk menjawab pertanyaan Teguh.
Teguh lalu merapikan Berkas-berkas di atas meja, dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Termasuk pula flashdisk dan kertas dari Alex tadi. Mereka pun berangkat menuju ke kantor Firma Teguh.
Sampai di kantor, Lyra terus mengekori langkah Teguh. Teguh yang hangat selalu bertegur sapa dengan orang yang ia kenal di kantor itu.
"Pak Teguh bawa siapa itu? Adiknya ya?" Sapa seorang wanita di bagian resepsionis.
"Klien..." Jawab Teguh sambil tersenyum. "Farhan sudah datang Ris?"
"Sudah Pak. Mungkin ada di ruangannya sekarang."
"Oke Ris, semangat bekerja."
"Semangat juga buat Pak Teguh."
Teguh melanjutkan langkahnya menuju ruangan kerjanya.
"Pagi Pak..."
"Pagi..."
"Pagi Pak..."
"Ya..."
"Assalamualaikum Pak..."
"Waalaikumsalam..."
Lyra salut akan sosok pribadi Teguh yang baru di lihatnya ini di kantor. Dalam hatinya semakin kagum dengan Teguh yang kelihatan penuh wibawa.
"Assalamualaikum..." Salam Teguh membuka ruangan meski tidsk ada satu pun orang di dalamnya.
"Waalaikumsalam..." Jawab Lyra dalam hati.
"Duduk Cil, senyamannya jangan sungkan." Ujar Teguh.
Lyra mengikuti saran Teguh dan duduk di salah satu sofa empuk di ruangan itu.
Ruangan yang begitu nyaman serasa kamar hotel meski pun tidak ada tempat tidur di ruangan itu. Selain meja kerja Teguh, sofa dan televisi, juga ada kulkas mini di dalam ruangan itu dan kamar kecil tentunya.
"Boleh nonton drakor Bang?"
"Lakukan senyamanmu, tapi maaf Abang sambilan kerja ya."
"Nggak apa-apa Bang. Aku malah yang nggak enak ngerepotin Abang."
"Nggak kok. Halo Yud, anterin beberapa camilan sama minuman seger ya? Bukan, bukan kek biasa. Yang ada aja pokoknya. Berapa menu? Ya udah bawa aja 6 menu itu. Minuman dua aja, terus snack-snack kalau ada."
Lyra hanya mendengar Teguh berbicara di telepon tanpa ingin bertanya siapa. Dia cukup tahu diri sebagai seorang tamu di situ.
Kira-kira lewat dari setengah jam kemudian, bunyi ketukan pintu mengalihkan Lyra maupun Teguh yang asik dengan kegiatannya masing-masing.
"Masuk." Ujar Teguh.
"Misi Pak...."
Seorang lelaki yang sepertinya seusia dengan Lyra masuk mendorong rak yang berisi banyak makanan camilan. Dan hal itu membuat Lyra ternganga di buatnya.
"Taruh di situ Man."
"Di meja ini Pak?" Tanya pemuda yang di panggil Man.
"Iya, itu buat tamu saya."
"Baik Pak."
Pemuda itu tidak lagi bertanya. Dengan sopan ia meletakkan semua camilan dan minuman di susun rapi di atas meja tepat di depan Lyra.
Lyra melihat camilan dan snack yang begitu banyak dengan kening berkerut.
"Kalau ada tamu Abang nanti gimana?" Tanya Lyra merasa tidak nyaman seakan ia telah merepotkan Teguh.
"Hari ini nggak aga janji klien disini. Tapi nanti jam 3 sore Abang ada janji ketemu klien di luar kantor."
"Sudah Pak. Permisi..."
"Ya Man, terima kasih. Ayo di makan, tadi kamu cuma sarapan sedikit di rumah." Ujar Teguh.
Hati Lyra menghangat. Ia tidak menyangka sampai segitunya Teguh memperhatikan dirinya. Bahkan Teguh tahu dia suka camilan dan sanck.
"Abang kok baik banget?" Tanya Lyra dengan tatapan mata terharu.
"Seneng nggak sama Abang?"
"Se.. neng." Jawab Lyra pelan dan malu-malu.
"Gampang juga kalau mau nyenengin Abang. Kamu makanlah apa yang kamu mau. Jangan sungkan. Lakukan senyaman mu, buat diri mu hepi."
Bukan tanpa alasan Teguh memperlakukan Lyra sebaik itu. Lyra yang cantik dan baik serta menggemaskan di mata Teguh itu, perlahan mengisi kekosongan di hati lelaki yang belum pernah sekalipun berpacaran itu.
Bersambung...
hempaskn para bunga bangkai itu
maksain diri amiiiittttt
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄