NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33 - Retak Pertama Keluarga Wiratmaja

Arman tidak datang ke rumah Pak Hendra dengan wajah bersalah.

Ia datang dengan kemeja mahal, rambut basah oleh minyak, dan Bella di belakangnya yang memeluk tas kecil seperti orang memeluk bukti bahwa dirinya masih punya harga.

Di ruang tamu, Pak Hendra duduk di kursi utama. Bu Lilis berdiri di dekat bufet. Raka duduk di samping Nadia, punggungnya tegak meski napasnya belum sepenuhnya ringan.

Di meja ada selembar surat dari koperasi pegawai.

Nadia membacanya sekali, lalu meletakkannya kembali.

Nama peminjam tertulis Arman Hendra Wiratmaja.

Nama penjamin tertulis Raka Wiratmaja.

Raka menatap surat itu lama.

"Aku tidak pernah menandatangani apa pun," katanya.

Arman langsung menjawab, "Itu cuma formalitas, Om."

Nadia mengangkat mata. "Memakai nama orang tanpa izin sekarang disebut formalitas?"

Arman menatapnya kesal. "Ini urusan keluarga kami."

"Aku istri Raka. Nama suamiku dipakai. Jadi ini urusan rumahku juga."

Bella bergerak gelisah.

Bu Lilis cepat menyela, "Arman memang salah. Tapi dia butuh uang untuk biaya kontrakan dan persiapan setelah akad. Daripada bicara keras, lebih baik cari jalan keluar."

Pak Hendra memukul sandaran kursi.

"Jalan keluar apa? Surat tagihan sudah datang ke kantor. Orang koperasi menelepon saya. Mereka pikir Raka benar-benar menjamin."

Arman menelan ludah.

"Saya akan bayar, Pak."

"Dengan apa?"

"Nanti setelah saya masuk pelatihan."

Nadia hampir tertawa.

"Masuk pelatihan saja belum tentu, uangnya sudah dipakai."

Arman menunjuk Nadia.

"Kamu jangan ikut campur!"

Raka berdiri.

Gerakannya tidak cepat, tapi cukup membuat semua orang diam.

"Jangan menunjuk istriku."

Arman membeku. Ia mungkin masih terbiasa melihat Om Raka sebagai laki-laki pucat di kursi dekat pintu. Orang yang tersenyum saat dilewati, orang yang batuk lalu minta maaf karena mengganggu.

Hari itu Raka tidak minta maaf.

"Om, saya cuma..."

"Kamu memalsukan persetujuanku."

"Saya tidak memalsukan. Saya cuma bilang ke petugas koperasi, keluarga pasti tahu."

"Aku tidak tahu."

Pak Hendra menatap anaknya dengan wajah semakin gelap.

Bella cepat bersuara, "Mas Arman melakukannya karena terdesak. Setelah kejadian lamaran, semua orang menekan kami. Kontrakan harus dibayar. Baju akad harus diperbaiki. Aku juga tidak mungkin tinggal terus di rumah orang tuaku. Orang kampung bicara macam-macam."

Nadia menatap Bella.

"Kamu ikut memakai uang itu?"

Bella menggigit bibir.

"Aku tidak tahu suratnya memakai nama Om Raka."

"Tapi kamu tahu uangnya dari koperasi?"

Bella diam.

Nadia mengangguk pelan. "Jadi kamu tahu cukup banyak."

Bu Lilis langsung mendekati Bella. "Jangan tekan dia. Dia sebentar lagi jadi menantu di rumah ini."

"Menantu yang masuk dengan utang atas nama orang sakit," kata Nadia.

"Nadia!" bentak Bu Lilis.

Raka menoleh. "Mbak Lilis, jangan."

Bu Lilis terkejut. "Kamu sekarang membentak saya?"

"Saya meminta Mbak berhenti membentak istri saya."

Untuk pertama kalinya, wajah Bu Lilis tidak hanya marah. Ada luka di sana. Ia pernah merasa Raka seperti anak yang ikut ia besarkan. Ia merasa punya hak memarahinya, mengaturnya, mengingatkannya kapan minum obat. Sekarang laki-laki itu berdiri di sisi perempuan yang baru masuk keluarga.

Nadia melihat luka itu, tapi tidak mundur.

Luka Bu Lilis tidak lebih besar daripada nama Raka yang dipakai tanpa izin.

Pak Hendra mengambil surat itu.

"Arman, kamu tanda tangani pernyataan. Utang ini milikmu. Raka tidak menanggung satu rupiah pun."

Arman langsung pucat.

"Pak, kalau saya tanda tangan, koperasi akan minta jaminan lain."

"Itu masalahmu."

"Saya anak Bapak."

"Dan Raka adik saya."

Kalimat itu membuat ruangan berhenti.

Bu Lilis memegang lengan Pak Hendra.

"Pak, jangan keras begitu. Anak ini memang salah, tapi kalau koperasi tahu tidak ada penjamin, namanya bisa masuk daftar hitam. Nanti bagaimana masa depannya?"

Pak Hendra menatap istrinya.

"Kamu lebih takut masa depan Arman tercoret daripada nama Raka dipakai tanpa izin?"

"Aku cuma ingin semua selesai tanpa malu."

Nadia menatap Bu Lilis. "Malu yang mana, Bu? Malu karena Arman berutang, atau malu karena selama ini keluarga terlihat rapi padahal tagihannya disembunyikan?"

Bu Lilis memerah.

"Kamu senang sekali melihat keluarga suamimu ribut."

"Saya senang melihat surat palsu tidak dibiarkan menjadi kebiasaan."

Bella tiba-tiba bicara, suaranya lebih kecil.

"Kalau Mas Arman tanda tangan, apa pengajian kami harus batal?"

Tidak ada yang menjawab.

Nadia melihat wajah Bella. Bahkan sekarang, yang lebih dulu ia pikirkan tetap bagaimana orang melihat acara mereka. Bukan nama Raka. Bukan tanda tangan palsu. Bukan koperasi yang mungkin mengejar orang salah.

"Pengajian bisa sederhana," kata Nadia. "Tidak semua malu harus dibayar dengan utang."

Bella menatapnya dengan kebencian lama.

"Mudah bagimu bicara. Sekarang kamu punya rumah sendiri, punya Mas Raka yang membelamu."

"Aku punya itu karena malam itu kamu mengambil pilihan lain."

Bella terdiam.

Arman membanting pena ke meja.

"Cukup! Semua orang bicara seolah aku penjahat. Aku cuma butuh uang sebentar."

Raka menatapnya. "Kalau sebentar, kenapa memakai namaku?"

Arman tidak punya jawaban yang layak.

Raka menatap kakaknya.

Pak Hendra tidak menatap balik. Mungkin malu. Mungkin baru sadar bahwa selama ini ia terlalu sering menyebut Raka sebagai adik saat menceritakan pengorbanan keluarga, tapi lupa memperlakukannya sebagai orang yang harus dilindungi dari anaknya sendiri.

Bella mulai menangis.

"Pak, kalau Mas Arman dipermalukan seperti ini, bagaimana nanti keluarga saya melihat kami? Semua orang sudah bilang aku merebut. Kalau setelah menikah kami tinggal di kontrakan jelek dan dikejar utang, mereka akan menertawakan aku."

Nadia menjawab datar, "Kamu takut ditertawakan setelah mengambil laki-laki orang?"

Bella menatapnya dengan mata merah.

"Kak, aku sudah minta maaf."

"Tidak. Kamu hanya minta orang berhenti membahasnya."

Arman mendekati Bella. "Sudah, jangan menangis."

Nadia melihat gerakan tangan Arman di punggung Bella. Lembut di depan keluarga. Dulu tangan yang sama pernah menarik rambutnya di dapur karena nasi terlalu lembek.

Bella mengira kelembutan itu miliknya.

Nadia tidak perlu merebut apa pun. Waktu akan bekerja.

Pak Hendra memanggil pembantu rumah untuk mengambil kertas bermeterai. Bu Lilis menatap suaminya seperti ingin menolak, tapi Pak Hendra sudah mengambil keputusan.

Arman menandatangani dengan rahang mengeras.

Raka juga diminta menulis satu kalimat: ia tidak pernah memberi persetujuan menjadi penjamin.

Tangannya sedikit bergetar. Nadia menahan kertas agar tidak bergeser.

Arman melihat itu dan tertawa sinis.

"Sekarang Om juga harus dipegangi?"

Nadia menatapnya.

"Setidaknya tangan Mas Raka bergetar karena sakit, bukan karena ketahuan memalsukan nama orang."

Bu Lilis menutup mata.

Pak Hendra berkata, "Cukup."

Tapi cukup tidak pernah datang tepat waktu dalam keluarga seperti itu.

Bella menarik lengan Arman pelan.

"Mas, tanda tangan saja. Nanti kita cari cara."

Arman menepisnya.

"Kamu diam. Sejak kamu masuk, semuanya tambah berat."

Bella seperti tersiram air dingin.

Bu Lilis langsung berkata, "Arman, jangan bicara begitu pada istrimu."

Arman tertawa hambar. "Ibu sendiri yang terus bilang aku harus bertanggung jawab. Sekarang tanggung jawab itu makan uang, semua orang menyalahkan aku."

Nadia melihat Bella menunduk. Itu baru retak kecil. Belum cukup untuk membuatnya pergi. Tapi cukup untuk membuat dongeng "cinta sejati" mulai kehilangan warna di depan keluarganya sendiri.

Raka melihatnya juga. Matanya tidak puas, hanya letih, seolah akhirnya paham bahwa kerusakan keluarga tidak pernah datang sendirian.

Bel pintu berbunyi.

Seorang laki-laki berbatik dari koperasi berdiri di depan rumah bersama dua orang lain. Wajahnya sopan, tapi suaranya keras agar semua orang di ruang tamu mendengar.

"Maaf, Pak Hendra. Kami datang karena tagihan atas nama Mas Arman sudah jatuh tempo. Katanya dijamin Pak Raka?"

Tetangga depan rumah sudah mulai melirik dari pagar.

Wajah Bu Lilis memucat.

Arman berdiri kaku.

Nadia menatap surat di meja, lalu menatap Bella yang tiba-tiba berhenti menangis.

Retak pertama keluarga Wiratmaja bukan suara piring pecah.

Ia berbentuk pertanyaan sopan di depan pintu, didengar tetangga, dan tidak bisa lagi disembunyikan di bawah karpet ruang tamu.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!