NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:41.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33 - Harga Membesarkan Anak Orang

Tari datang ke kantor Ratna tanpa janji.

Ia tidak datang sendiri. Reno, anak kandungnya yang selama ini hidup sebagai adik Bagas, ikut dengan wajah menantang. Usianya dua puluh dua, rambut dicat cokelat, sandal mahal, dan cara bicara seperti orang yang terbiasa dilayani Bagas.

Resepsionis Wijaya Group menahan mereka di lobi, tapi Tari berteriak cukup keras hingga beberapa karyawan menoleh.

"Panggil Ratna! Dia pikir bisa ambil anak orang lalu pergi begitu saja?"

Ratna turun bersama Hanif, bukan Arga. Ia tahu kalau Arga yang turun, Tari akan menggunakan itu untuk membuat drama orang kaya menindas keluarga kecil.

"Kita bicara di ruang tamu lobi," kata Ratna.

"Tidak. Di sini saja. Biar semua orang dengar."

Reno menyeringai. "Iya, Tante. Biar orang tahu Tante kaya raya setelah anak dibesarkan ibu saya."

Ratna menatapnya. "Panggil saya Ratna."

Reno terdiam sedikit, mungkin tidak menyangka perempuan seusia ibunya tidak goyah oleh panggilan Tante yang dibuat mengejek.

Tari mengeluarkan map lusuh dari tas. "Ini daftar biaya Bagas dari kecil. Makan, sekolah, obat, baju. Kalau kamu mau mengaku ibu kandung, bayar dulu."

Hanif mengerutkan kening. Beberapa karyawan berbisik.

Ratna mengambil map itu. Isinya tulisan tangan kasar dengan angka-angka tidak masuk akal. Biaya susu ditulis seolah Bagas minum susu impor setiap bulan. Biaya sekolah ditulis sampai kuliah, padahal Bagas bahkan tidak menyelesaikan SMK.

"Kamu lupa menulis biaya sabuk yang kamu pakai memukul dia," kata Ratna.

Wajah Tari mengeras. "Jangan fitnah."

"Ada hasil pemeriksaan dokter."

Reno maju. "Hei, jangan sok suci. Bagas juga bukan malaikat. Dia sering melawan."

"Melawan karena dipukul?"

"Karena dia memang keras kepala."

Ratna menatap pemuda itu. "Kamu tahu dia bukan kakak kandungmu?"

Reno diam.

"Kamu tahu dari kapan?"

Tari langsung menyela, "Anak saya tidak tahu apa-apa."

Reno terlalu lambat menunduk.

Ratna melihat jawabannya.

"Jadi bukan hanya orang tua. Kamu juga ikut menikmati rahasia."

"Saya cuma anak kecil waktu dengar!" Reno membentak.

"Dan setelah dewasa?"

Reno tidak punya jawaban.

Tari kembali menyerang. "Jangan putar balik. Saya menuntut ganti rugi. Kalau tidak, saya lapor media. Saya bilang keluarga Wijaya menculik anak orang miskin."

Saat nama Wijaya dibawa, Arga akhirnya muncul dari lift.

Ia berjalan pelan, wajah dingin. Semua karyawan langsung memberi jalan.

"Silakan lapor media," katanya. "Kami akan lampirkan hasil DNA, keterangan Bu Nanik, catatan klinik, dan laporan medis kekerasan terhadap Bagas."

Tari mundur setengah langkah.

Ratna menoleh kepada Arga. "Aku bisa tangani."

"Aku tahu." Arga berhenti di sampingnya, tapi tidak mengambil alih. "Aku hanya memastikan mereka tahu kantor ini punya CCTV."

Hanif menambahkan datar, "Audio juga terekam di area lobi."

Reno pucat.

Tari masih mencoba bertahan. "Saya tetap ibunya secara hukum."

Siska yang baru tiba dari pintu utama menjawab, "Itu sebabnya kami akan tempuh jalur hukum untuk pembetulan data dan pertanggungjawaban pidana. Terima kasih sudah datang membawa motif pemerasan secara sukarela."

Tari membuka mulut, lalu menutupnya.

Ratna mengembalikan map lusuh itu.

"Saya tidak akan membayar kamu untuk luka Bagas. Tapi semua kebutuhan Bagas mulai sekarang akan saya urus langsung dengannya, bukan lewat kamu."

"Dia tidak akan mau kamu urus."

"Itu keputusan Bagas, bukan keputusanmu."

Seolah dipanggil, Bagas masuk dari pintu lobi.

Ia datang dengan pakaian kerja bengkel, tangan masih ada bekas oli. Wajahnya tegang. Rupanya Hanif menghubunginya saat Tari muncul.

"Bu," katanya kepada Ratna, lalu menatap Tari. "Pulang."

Tari langsung berubah nada. "Gas, kamu harus tahu diri. Ibu membesarkan kamu."

"Ibu membesarkan Reno. Saya membantu Ibu membesarkan Reno."

Reno membentak, "Jaga mulutmu."

Bagas menatapnya. "Kamu mau pukul saya di depan CCTV juga?"

Reno mundur.

Tari menangis tiba-tiba. Tangis yang dulu mungkin membuat Bagas luluh. "Kamu tega, Gas? Setelah semua tahun itu?"

Bagas terlihat goyah. Ratna menahan diri untuk tidak ikut bicara.

Bagas menarik napas. "Saya tidak tahu apakah saya bisa membenci Ibu. Tapi saya tahu saya tidak mau pulang."

Tari berhenti menangis.

"Kalau kamu pergi, jangan harap dapat warisan apa pun."

Bagas tertawa pelan. "Rumah kontrakan bocor itu bukan warisan."

Beberapa karyawan menunduk menahan reaksi.

Tari malu. Malu membuat orang makin kejam.

"Dasar anak tidak tahu diri. Pantas saja dari kecil bikin sial."

Ratna bergerak, tapi Bagas lebih dulu menjawab.

"Kalau saya memang bikin sial, kenapa Ibu takut kehilangan saya?"

Tari tidak bisa berkata apa-apa.

Security mengantar Tari dan Reno keluar setelah Siska memberi peringatan resmi. Lobi kembali pelan-pelan bernapas.

Bagas berdiri kaku. Ia melihat orang-orang kantor yang mencoba pura-pura sibuk.

"Maaf, Bu Ratna. Saya membuat keributan di kantor."

Ratna mendekat. "Kamu tidak membuat keributan. Orang yang melukaimu yang membawanya ke sini."

Bagas menunduk. "Tapi saya malu."

"Aku juga sering malu untuk hal yang bukan salahku." Ratna berhenti, lalu memperbaiki ucapannya. "Saya sedang belajar tidak begitu. Kamu boleh ikut belajar."

Bagas melihatnya. Kata saya dan aku yang bercampur itu membuat hubungan mereka terasa masih mencari bentuk, tapi tidak palsu.

Arga berkata kepada Hanif, "Siapkan ruang rapat kecil. Biarkan Bagas cuci tangan dan makan."

Bagas cepat menolak. "Tidak usah, Pak."

Arga menjawab, "Namaku Arga. Kalau kamu nyaman, panggil begitu."

Bagas bingung, lalu mengangguk pelan. "Baik... Arga."

Ratna melihat itu dan menyadari sesuatu. Arga tidak hanya mengubah cara ia memanggil Ratna. Ia juga sedang membuka ruang agar orang-orang yang dekat dengannya tidak merasa kecil.

Di ruang rapat, Bagas makan nasi kotak dengan lahap tapi malu-malu. Raka datang setengah jam kemudian setelah mendengar kabar dari Maya.

"Aku telat?" tanya Raka.

Bagas mengangkat bahu. "Keributannya sudah selesai."

"Sayang. Aku ingin lihat Reno diceramahi."

Bagas menatapnya, lalu tiba-tiba tersenyum sedikit.

Senyum kecil itu membuat Ratna hampir menangis lagi.

Namun ponsel Siska bergetar. Ia keluar sebentar, lalu kembali dengan wajah serius.

"Ratna, Clara minta bertemu."

Ratna mengerutkan kening. "Untuk apa lagi?"

"Dia bilang Hendra tahu dia memberi petunjuk soal Bu Nanik. Dia takut."

Raka langsung berdiri. "Papa ngapain?"

Siska menatap mereka satu per satu.

"Clara bilang kalau malam ini dia hilang, cari dokumen vendor fiktif di apartemennya."

Ratna memegang tepi meja. Nama Clara masih meninggalkan rasa pahit di lidahnya. Perempuan itu pernah berdiri di depan rumahnya dengan senyum menang, pernah membuat Hendra merasa punya alasan untuk merendahkan istri sendiri. Tetapi kalimat Siska bukan lagi soal memaafkan Clara.

Ini soal Hendra yang mulai memakai ketakutan sebagai senjata.

Bagas menatap Ratna. "Ibu mau menolong dia?"

Ratna menjawab setelah beberapa detik. "Aku tidak tahu apakah itu menolong. Tapi kalau dia punya bukti dan sedang diancam, kita tidak bisa pura-pura tidak dengar."

Raka mengusap wajah. "Papa benar-benar akan sejauh itu?"

Tidak ada yang menjawab.

Justru karena tidak ada yang bisa menjawab, ruangan menjadi lebih dingin.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!