NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:925
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Rekan Kerja

Bulan purnama menggantung di langit malam yang dingin. Namun, semua itu sama sekali tidak menarik perhatian Nathan. Ia terus melajukan mobilnya, menyusuri rute yang sama untuk keempat kalinya malam ini.

Setelah menyelesaikan urusannya di kantor dan membelikan pengisi daya ponsel untuk Arin, ia tidak langsung pulang. Tangannya terus memutar setir tanpa tujuan yang pasti, seolah mencari alasan untuk menunda kepulangannya.

Jujur saja, Nathan tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Wanita yang selama ini hanya dikenalnya sebagai rekan kerja kini telah menjadi istrinya. Berbagi tempat tinggal dengannya, lalu pulang ke rumah yang dahulu hanya dihuni seorang diri, sementara kini ada seseorang yang mungkin menunggu kepulangannya, adalah kenyataan yang masih terasa asing baginya.

Seandainya wanita itu adalah Luna, mungkin Nathan tidak akan membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi. Ia telah mengenal Luna selama bertahun-tahun. Namun, Arin berbeda. Mereka bahkan bisa dibilang tidak saling mengenal secara pribadi.

Lamunannya buyar ketika ponselnya berdering. Nama Aldo tertera di layar. Nathan segera mengetuk ikon hijau pada dashboard mobil yang telah terhubung dengan sistem hands-free.

"Kau di apartemenmu?" tanya Luna begitu panggilannya tersambung.

Nathan terdiam sesaat.

"Ada apa?" balasnya, alih-alih menjawab pertanyaan Luna.

"Aku sudah tahu ini akan terjadi," ujar Luna dari seberang telepon. "Kau sedang dimana sekarang?"

"Di dalam mobil," jawab Nathan singkat.

"Datanglah ke The Vault. Kami ada di sini," ujar Aldo yang kini mengambil alih pembicaraan.

"Aku menuju kesana," jawab Nathan sebelum mengakhiri panggilan.

...*****...

Suasana di dalam kafe terasa hangat berkat cahaya lampu-lampu temaram yang menerangi setiap sudut ruangan. Diiringi alunan musik yang lembut, Luna dan Aldo duduk berhadapan, menikmati percakapan ringan yang sesekali diselingi tawa kecil.

"Sayang," panggil Aldo sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Luna.

"Aku juga sudah melihatnya," jawab Luna setelah membaca pengumuman resmi dari Regen Corporation mengenai pernikahan Nathan dan Arin.

Luna terdiam sejenak, seolah memikirkan kemungkinan itu.

"Hmm... kurasa dia masih di kantor. Kemungkinan besar sedang bekerja," jawabnya yakin.

Mendengar jawaban itu, Aldo langsung membuka daftar kontak di ponselnya. Tanpa ragu, ia menekan nama Nathan lalu menghubunginya.

"Dia datang," ucap Luna begitu melihat Nathan yang berjalan mendekati meja mereka.

Nathan segera duduk di samping Aldo. Tanpa banyak bicara ia langsung meraih segelas Macallan yang berada di meja. Namun sebelum sempat meneguknya, Aldo segera menarik gelas itu ketika ujung bibir gelas hampir menyentuh bibir Nathan.

"Sayang sekali kau sedang berkumpul dengan para doktermu," ujar Aldo, disambut senyuman kecil dari Luna.

"Ayolah... aku bukan anak kecil," protes Nathan dengan nada sedikit kesal.

"Tapi kau adalah pasien kami," jawab Luna sambil menggeser segelas chamomile tea ke arah Nathan.

Walaupun tidak puas, Nathan tetap mengambil gelas itu dan meneguknya hingga habis.

"Kau baru saja lari maraton?" tanya Aldo asal.

"Di mana istrimu?" tanya Luna.

Nathan meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Di apartemen."

"Kau meninggalkannya sendirian?" tanya Luna sambil menyesap whisky miliknya.

Mendengar itu, Nathan hanya diam. Ia tahu perkataan Luna benar, tetapi ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Kau bukan tidak menyukainya kan?" tanya Aldo sambil memperhatikan wajah Nathan dengan saksama.

Nathan tetap diam, mendengarkan ucapan Luna dan Aldo secara bergantian.

"Apa masalahnya?" tanya Luna setelah mengubah posisi duduknya menghadap Nathan.

Nathan masih terdiam. Tatapannya bergantian melihat Aldo dan Luna yang kini menunggunya memberikan jawaban.

"Aku tidak tau," jawab Nathan akhirnya.

Ia kembali duduk tegak, lalu mengambil segelas air dingin yang berada di meja dan meminumnya perlahan.

Mendengar jawaban Nathan, Luna dan Aldo tidak lagi memaksanya untuk menjelaskan. Luna tau Nathan bukan tidak ingin bercerita, tetapi ia sendiri belum memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.

"Lihat dia sebagai rekan kerja," ucap Luna setelah beberapa saat.

Nathan langsung menatap Luna.

"Rekan kerja..." ulangnya pelan, seolah mencoba memahami maksud perkataan itu.

"Kau belum bisa menerimanya sebagai istrimu?" tanya Aldo.

"Bukan seperti itu. Kau tidak mengerti," jawab Nathan.

"Karena bagaimanapun juga dia tetap orang asing," sambung Luna. "Benar?"

Nathan tidak menjawab. Namun, diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Melihat itu, Aldo akhirnya mengerti. Ia mengangguk perlahan.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Aldo.

"Aku tidak tau," jawab Nathan cepat.

"Kalian akan bercerai?" tanya Aldo tanpa ragu.

"Dia istriku," jawab Nathan cepat dengan nada sedikit kesal.

"Seperti yang kukatakan, untuk sekarang lihat dia sebagai rekan kerja terlebih dahulu. Kalian akan tinggal serumah dan perlahan saling mengenal. Mungkin itu akan membuat semuanya lebih mudah," ujar Luna.

"Dan Nathan, apa yang kau rasakan saat ini kemungkinan besar juga dirasakan oleh istrimu," lanjut Luna.

Nathan terdiam sejenak. Ia kembali merenungkan perkataan Luna.

Tidak lama kemudian, ia berdiri dan bersiap untuk pergi.

"Kau pergi?" tanya Aldo.

"Iya. Dia sendirian di apartemen. Terima kasih untuk malam ini."

Nathan melirik Luna sekilas sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.

1
Karu
Catatan Kecil: Masih berjuang melawan sakit gigi sambil menulis bab ini. Terima kasih sudah membaca.😭💔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!