NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Pengepungan

"Tidak ada yang tidur setelah mencoba membunuh istriku."

Kalimat Darren menyebar melalui Rumah Besar lebih cepat daripada alarm.

Pukul lima pagi, lampu-lampu utama Wijaya Estate menyala satu per satu. Pelayan berlarian dengan wajah pucat. Pengawal keluarga yang biasanya berjaga di gerbang mendadak mendapati puluhan pria berjas hitam memasuki kompleks dengan mobil tanpa suara. Mereka bukan pengawal cabang keluarga. Mereka orang Darren, dibawa langsung dari Jakarta dan Kota Megah, beberapa bahkan baru turun dari pesawat kecil di lapangan pribadi dekat estate.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, semua gerbang dijaga.

Tidak ada yang keluar.

Tidak ada yang masuk tanpa izin Darren.

Helena muncul di tangga utama dengan jubah tidur sutra, wajahnya marah sekaligus takut. "Apa-apaan ini? Rumah ini bukan markasmu, Darren."

Darren berdiri di aula utama dengan kemeja hitam yang belum sempat diganti sejak perjalanan. Di tangannya ada ponsel, di belakangnya Billy membagikan instruksi pada tim keamanan.

"Malam ini istriku hampir mati di danau rumah ini," jawab Darren. "Jadi untuk sementara, rumah ini berada di bawah pengawasanku."

"Kau tidak punya hak."

"Coba hentikan aku."

Helena terdiam.

Ethan turun dari lantai dua beberapa menit kemudian. Rambutnya rapi, wajahnya tenang, dan sapu tangan abu-abu sudah ada di tangannya. Jika bukan karena waktu yang terlalu pagi, ia bisa terlihat seperti baru bersiap menghadiri rapat.

"Darren," katanya lembut, "aku mengerti kau marah. Tapi mengepung Rumah Besar akan membuat Engkong terganggu."

Darren menoleh perlahan. "Bagus. Berarti semua orang akan tahu ada yang mencoba membunuh Naomi."

Mata Ethan tidak berubah. "Kau punya bukti?"

"Aku punya istriku yang hampir tenggelam, bekas tangan di lehernya, pengawal yang diserang, laporan dokter, sinyal darurat, dan saksi."

Giselle yang berdiri di dekat pintu dengan hoodie kebesaran mengangkat tangan malas. "Saksi basah kuyup hadir."

Helena menatap putrinya dengan wajah kaget. "Giselle, kamu dari mana semalam?"

"Fokus, Ma. Ada orang hampir mati."

Untuk pertama kalinya, Helena kehilangan kata.

Naomi seharusnya tetap di kamar. Dokter melarangnya terlalu banyak bergerak, Darren juga. Namun ketika ia mendengar suara orang-orang berkumpul di aula, ia menolak berbaring seperti korban yang disembunyikan.

Darren menemukannya di ambang pintu kamar tamu, selimut tebal di bahu, leher ditutup syal lembut yang tetap tidak bisa menyembunyikan seluruh bekas merah.

"Nao," katanya, marahnya langsung berubah menjadi cemas. "Kamu harus istirahat."

"Aku harus ada di sana."

"Aku bisa menangani mereka."

"Aku tahu." Naomi menatapnya. Suaranya masih serak. "Tapi yang hampir mati aku. Kalau mereka mau pura-pura ini hanya dramamu, aku akan berdiri di depan mereka."

Darren menutup mata sebentar. Ia ingin mengurungnya di kamar dan melawan seluruh rumah sendirian. Namun aturan mereka kembali berdiri di antara rasa takutnya.

Jangan mengurung.

Akhirnya ia membungkuk, membungkus syal Naomi lebih rapi, lalu mengangkatnya ke gendongan sebelum Naomi sempat protes.

"Darren."

"Kompromi," katanya. "Kamu hadir. Tapi kamu tidak jalan sendiri."

Naomi ingin membantah, tetapi tubuhnya memang masih lemah. Ia hanya memegang bahunya.

Ketika Darren membawa Naomi masuk ke ruang makan utama, semua suara berhenti.

Meja panjang yang biasanya dipenuhi hidangan kini hanya berisi beberapa teko teh, gelas, dan botol wine yang belum sempat dirapikan dari makan malam sebelumnya. Keluarga besar dipaksa berkumpul dalam keadaan setengah siap. Helena duduk dengan wajah kaku. Felicia memeluk lengan sendiri. Bryan mengantuk tetapi takut. Ethan duduk tenang di sisi lain meja. Giselle berdiri di dekat jendela, menolak duduk meski rambutnya masih basah.

Kursi Engkong tetap kosong. Seorang pelayan membisikkan bahwa Engkong sedang diperiksa perawat dan belum bisa turun.

Darren meletakkan Naomi di kursi di sebelahnya dengan sangat hati-hati, lalu berdiri.

"Semalam," katanya, suaranya rendah, "istriku menerima pesan palsu bahwa Natalia sakit. Dia keluar dengan pengawal. Pengawalnya diserang. Naomi dicekik, didorong ke danau, dan hampir tenggelam."

Felicia menutup mulut.

Helena berkata cepat, "Itu tuduhan serius. Bisa saja kecelakaan."

Giselle tertawa kasar. "Kecelakaan kok ada orang cekik lehernya dulu?"

Helena menatapnya. "Diam."

"Nggak mau."

Darren tidak melihat mereka. Matanya tertuju pada seluruh meja. "Aku tidak peduli siapa yang bersembunyi di balik tangan pelaksana. Aku mau nama."

Ia mengangkat dua jari.

Para pengawal Darren bergerak serentak. Dalam hitungan detik, semua pintu ruang makan dijaga. Dua orang mulai mengumpulkan ponsel dari meja dan tangan para pelayan yang bertugas semalam. Felicia langsung memeluk ponselnya.

"Ini privasi!" protesnya.

Darren menatapnya. "Istriku hampir mati di danau keluarga ini. Privasimu bisa menunggu."

Bryan menyerahkan ponselnya tanpa diminta. "Gue nggak mau ikut drama lebih dalam."

Helena tampak ingin memaki, tetapi dua pengawal sudah berdiri di belakang kursinya dengan sopan. Mereka tidak menyentuh siapa pun. Justru karena tidak menyentuh, tekanan itu terasa lebih dingin.

Billy masuk membawa tablet. "Bos, rekaman CCTV taman belakang mati selama sebelas menit. Pintu barat terbuka pakai kartu akses pelayan. Nama aksesnya Lila."

Seorang pelayan muda dibawa masuk dari pintu samping. Wajahnya pucat, lututnya hampir lemas. Begitu melihat Naomi, ia langsung menunduk sambil menangis.

"Saya tidak tahu Nyonya akan didorong ke danau," katanya terbata. "Saya hanya disuruh bilang Nyonya Natalia sakit."

Helena berdiri setengah. "Siapa yang menyuruhmu bicara begitu di depan keluarga?"

Darren tidak berkedip. "Duduk."

Satu kata itu membuat Helena berhenti.

Darren menatap Lila. "Siapa yang menyuruhmu?"

Lila menangis semakin keras. "Saya tidak lihat wajahnya. Pesannya masuk lewat nomor baru. Katanya kalau saya tidak melakukan, ibu saya yang bekerja di dapur akan dipecat. Saya hanya harus membawa Nyonya Naomi ke gazebo. Saya benar-benar tidak tahu..."

Naomi menahan napas. Ia marah, tetapi melihat Lila gemetar membuat amarah itu punya bentuk lain. Gadis itu bersalah, tetapi ia bukan otak di balik semua ini.

"Simpan ponselnya," kata Darren pada Billy. "Cari sumber nomor itu."

"Sudah diproses, Bos."

Arman kemudian dibawa masuk dengan perban di kepala. Ia menolak duduk meski jelas pusing.

"Saya gagal menjaga Nyonya," katanya, suara serak.

"Kamu diserang," kata Naomi.

Arman menunduk lebih dalam. "Lampu padam. Ada orang dari sisi kiri. Saya sempat melihat sarung tangan hitam, tapi tidak wajahnya."

Darren menggenggam stik golf yang masih berada di dalam tas panjang, belum dikeluarkan. "Berapa orang?"

"Minimal dua. Satu mengalihkan saya. Satu menyerang Nyonya."

Ruangan makin sunyi.

Darren akhirnya menatap Ethan. "Masih mau bicara soal prosedur?"

Tidak ada yang bicara.

Ethan mengangkat cangkir teh. "Darren, kemarahanmu bisa dimengerti. Tapi menekan semua orang tanpa prosedur hanya akan membuat kebenaran makin sulit ditemukan."

"Prosedur?" Darren tersenyum tipis.

Billy masuk membawa sebuah tas panjang. Wajahnya tegang ketika menyerahkannya pada Darren.

Naomi mengenali bentuk tas itu dari daftar benda penting Darren.

Stik golf.

Darren membuka ritsleting tas, mengeluarkan sebuah stik golf hitam mengilap. Gerakannya tidak terburu-buru. Justru ketenangan itu membuat beberapa pelayan mundur selangkah.

Helena berdiri. "Kau mau apa?"

Darren berjalan ke sisi meja tempat enam botol red wine berjajar di nampan perak.

"Memberi prosedur yang bisa dipahami semua orang."

Stik golf terangkat.

Benturan pertama menghantam botol paling kiri.

Kaca pecah dengan suara tajam. Wine merah menyembur ke taplak putih seperti darah. Felicia menjerit. Bryan melompat dari kursinya. Pelayan di dekat dinding menutup mulut.

Darren tidak berhenti.

Botol kedua pecah.

Ketiga.

Keempat.

Setiap hantaman terdengar seperti palu di ruang pengadilan. Wine merah mengalir di meja, menetes ke lantai marmer, menyebarkan aroma pahit yang memualkan.

Helena berteriak, "Darren!"

Stik golf menghantam botol kelima sampai pecahannya memantul ke piring kosong.

Botol keenam hancur.

Ruangan menjadi sunyi total.

Darren berdiri di ujung meja, stik golf masih di tangannya, napasnya tenang tetapi matanya tidak. Ia tidak terlihat seperti orang kehilangan kendali. Ia terlihat seperti orang yang memilih untuk menunjukkan bahwa kendali itu bisa ia lepaskan kapan saja.

Naomi menatapnya, dadanya sakit karena takut dan hangat sekaligus. Ia tidak takut pada Darren. Ia takut pada seberapa jauh rumah ini memaksanya pergi.

Darren meletakkan ujung stik golf di lantai marmer.

"Sekarang," katanya pelan, "kita mulai lagi."

Matanya menyapu Helena, Felicia, Bryan, lalu berhenti pada Ethan.

"Siapa yang memberi perintah?"

Ethan menatapnya balik, wajahnya tetap lembut.

Tidak ada yang menjawab.

Darren mengangguk sekali, seolah jawaban sunyi itu sudah ia perkirakan. "Mulai detik ini, semua akses keluar masuk Rumah Besar dibekukan. Kamar pelayan, ruang servis, garasi, gudang taman, semua diperiksa. Tidak ada mobil keluar dari estate. Tidak ada rekaman dihapus. Tidak ada ponsel kembali sebelum tim digitalku selesai menyalin data."

Helena memucat. "Kau memperlakukan keluarga sendiri seperti kriminal."

"Seseorang di keluarga ini memperlakukan istriku seperti sesuatu yang bisa dibuang ke danau."

Tidak ada yang berani membalas.

Darren melirik Billy. "Hubungi pengacara. Siapkan laporan polisi, tapi tunggu perintahku. Aku mau tahu siapa yang akan mencoba menghapus jejak dulu."

Billy mengangguk cepat. "Baik, Bos."

Naomi menahan syalnya, merasakan bekas di lehernya berdenyut setiap kali Darren menyebut kata danau itu di depan semua orang.

Darren memiringkan kepala, senyumnya dingin.

"Baik. Kalau tidak ada yang mau bicara, aku akan membuat seluruh Rumah Besar ini bicara."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!