Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28
Adista menatap layar ponselnya yang menyala terang, memancarkan cahaya putih yang kontras dengan kegelapan ruang tengah. Jarinya sudah gemetar di atas tombol panggil khalayak darurat. Detak jantungnya berdentum begitu keras di dalam dada, berpacu dengan suara detak jarum jam dinding yang terasa seperti hitungan mundur menuju kehancurannya sendiri. Namun, tepat sebelum ia menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilan, seluruh tubuhnya mendadak kaku, membeku di tempat seperti dialiri segerombolan es. Sebuah pikiran mengerikan tiba-tiba melintas di kepalanya dan langsung mencengkeram logikanya dengan sangat kuat.
Kalau aku menelepon polisi sekarang, apa yang harus aku katakan kepada mereka?
Napas Adista kembali memburu, kali ini bukan lagi karena rasa takut pada hantu wanita bergaun putih itu, melainkan karena kepanikan yang luar biasa akan realita dunia nyata yang ada di depannya. Pikirannya berputar dengan sangat cepat, membayangkan skenario terburuk yang bisa terjadi jika ia gegabah.
Jika polisi datang, mereka akan langsung menerobos masuk ke rumah ini. Mereka akan menyalakan lampu senter besar, lalu menemukan mayat Rian yang dadanya bolong, rusuknya patah, dan jantungnya hilang secara mengenaskan tepat di bawah reruntuhan besi lampu gantung. Lalu, penyelidikan pasti akan dimulai. Tim forensik akan menggeledah setiap sudut tempat ini. Dan hal itu memicu ketakutan yang jauh lebih besar di dalam jiwa Adista.
Bagaimana dengan Ronald? Bagaimana dengan Bram?
Jika polisi menyelidiki rumah ini secara menyeluruh, menginterogasi tetangga, dan membongkar jejak digital, bukan tidak mungkin rahasia kematian Ronald dan Bram yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat akan terbongkar ke permukaan. Tiga orang laki-laki tewas mengenaskan di dalam rumah yang sama, dalam waktu yang berdekatan, dan semuanya memiliki hubungan dekat dengan Adista. Ronald adalah kakaknya, Bram adalah sepupunya, dan Rian adalah mantan pacarnya. Semua petunjuk di dunia nyata akan mengarah langsung kepadanya.
"Tidak, tidak... tidak bisa. Mereka pasti akan menuduhku sebagai pembunuhnya," bisik Adista dengan suara yang nyaris habis, tersendat di tenggorokan. Air mata barunya kembali luruh, meratapi nasibnya yang semakin hari semakin tersudut tanpa jalan keluar.
Logika polisi dan hukum tidak akan pernah menerima cerita takhayul. Polisi tidak akan pernah percaya kalau pelakunya adalah sesosok hantu wanita yang keluar dari dalam lukisan berdarah, lalu merogoh dada korban dan memakan jantungnya dengan lahap. Jika Adista menceritakan kenyataan itu, mereka hanya akan menganggapnya sebagai seorang pembunuh berdarah dingin yang sudah gila dan sedang mengarang cerita fiksi untuk lolos dari hukuman mati.
Adista menurunkan ponselnya dengan tangan yang lemas tak bertenaga. Ia membatalkan niatnya untuk menghubungi pihak kepolisian maupun ambulans. Ponsel itu ia letakkan begitu saja di atas sofa dengan layar yang perlahan meredup lalu mati, menyisakan kegelapan yang kembali menguasai ruang tengah. Pikirannya benar-benar buntu, sekusut benang yang tidak bisa diurai lagi. Ia bingung, kalut, dan tidak tahu harus mengambil langkah apa selanjutnya.
Jiwanya benar-benar terguncang hebat; di satu sisi ada mayat mantan pacarnya yang mengerikan dan berbau anyir di dalam kegelapan ruang tengah, di sisi lain ada bayangan jeruji besi penjara yang seolah-olah sudah siap menjemput dan menghancurkan masa depannya jika ia salah mengambil tindakan. Rasa frustrasi itu mencekik lehernya, membuat dada Adista terasa sangat sesak seolah kehabisan oksigen.
Bik Sumi yang duduk di sampingnya hanya bisa menatap Adista dengan pandangan kosong yang dipenuhi rasa iba mendalam. Cahaya remang-remang dari koridor depan dan dapur hanya mampu menerangi sebagian wajah tua itu yang tampak sangat kuyu dan lelah. Wanita tua itu terlalu polos, terlalu sederhana untuk memahami bagaimana rumitnya hukum dan proses penyelidikan kepolisian. Namun, sebagai sesama wanita, ia bisa melihat dengan sangat jelas beban berat yang luar biasa, yang sedang menghimpit pundak majikannya hingga membuat Adista tampak begitu rapuh.
Kesunyian di ruang tengah itu terasa semakin menekan. Bau anyir darah Rian yang mengalir di lantai kayu perlahan mulai menyebar lagi, bercampur dengan kelembapan udara malam setelah hujan. Setiap embusan angin yang masuk dari celah jendela terasa seperti bisikan maut yang mengingatkan Adista bahwa waktu terus berjalan, dan mayat di depannya tidak akan selamanya bisa berdiam di sana tanpa membusuk.
"Non Adista... kita harus bagaimana? Apa kita biarkan saja Aden Rian di situ?" tanya Bik Sumi akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar sangat pelan, bergetar, seolah takut jika ia berbicara terlalu keras, suara itu akan mengundang kembali makhluk gaib penghuni lukisan maut di dinding untuk keluar dan membuat kekacauan baru.
Adista tidak langsung menjawab. Ia memeluk lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di sana. Tubuhnya berguncang hebat seiring dengan suara tangisnya yang coba ia tahan agar tidak menjerit histeris. Seluruh keberanian yang ia kumpulkan selama sebulan ini runtuh dalam satu malam karena kedatangan Rian yang arogan.
"Aku tidak tahu, Bik... aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi," tangis Adista akhirnya pecah lagi, terdengar sangat pilu di dalam kegelapan. "Kalau aku lapor, aku yang akan dipenjara. Tapi kalau tidak lapor, bagaimana dengan tubuh Rian? Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang, Bik. Otakku rasanya mau pecah."
Bik Sumi tidak tahu harus merespons apa. Ia hanya bisa mengusap-ngusap punggung Adista dengan tangannya yang kasar, mencoba memberikan sedikit kehangatan di tengah hawa dingin ruang tengah yang belum sepenuhnya hilang. Mereka berdua terdiam dalam kekalutan masing-masing.
Ruang tengah itu tetap tinggal dalam kegelapan yang sunyi dan mencekam, menjadi saksi bisu atas sebuah tragedi berdarah yang tak tersampaikan kepada dunia luar. Cahaya terang dari ruangan lain di rumah mewah itu seolah-olah menjadi pembatas yang tegas antara dunia luar yang normal dan sudut terkutuk tempat mereka berada saat ini. Adista hanya bisa terus meratapi nasibnya yang malang, terjebak di dalam rumah mewahnya sendiri bersama seonggok mayat tanpa jantung, memikul rahasia kelam yang sangat berat, sementara sesosok makhluk ghaib terus mengintai pergerakan mereka dalam diam dari balik kegelapan kanvas lukisan.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki