NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persahabatan yang Tak Terpisahkan

Yan Xumin sudah sering berada di kediaman keluarga Duan sejak usianya masih sangat muda. Ia hafal setiap sudut bangunan, mengetahui seluk-beluk setiap ruangan, jalur taman, hingga kebiasaan para penghuninya. Bahkan lebih dari itu, hampir seluruh pelayan, penjaga gerbang, dan pengawal yang bertugas di kediaman ini sudah mengenalnya dengan baik. Selain memiliki paras yang cantik dan sikap yang halus, ia juga dikenal sebagai seorang nona muda yang ramah, murah hati, dan tidak pernah bersikap sombong meski posisinya kini sudah jauh berbeda.

Suasana di dalam ruangan masih terasa hangat dan penuh tawa saat tiba-tiba Li Xia melangkah masuk dengan langkah tenang. Ia baru saja menerima pesan dari pelayan yang bertugas di bagian dapur, lalu segera mendekati kedua wanita yang sedang asyik mengobrol itu.

“Nona, Nyonya Duan memanggil. Beliau mengundang Anda dan tamu untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah disiapkan di ruang makan utama,” lapor Li Xia dengan nada sopan.

Mendengar kabar itu, Yanfei menoleh ke arah sahabatnya sambil tersenyum lebar. “Lihatlah, kita terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu. Ternyata sudah tiba saatnya makan siang. Kau tentu tidak akan menolak untuk ikut makan bersama kami, bukan?”

Yan Xumin segera mengangguk dengan senyum yang tak kalah lebar. “Bagaimana bisa aku menolak? Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Bibi Duan dan seluruh keluarga. Aku pun sudah merindukan mereka semua.”

“Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang,” ajak Yanfei sambil berdiri, dan keduanya pun melangkah beriringan meninggalkan ruangan itu menuju aula utama ruang makan yang disediakan khusus untuk keluarga besar.

Begitu mereka tiba di ambang pintu ruang makan, suasana langsung berubah menjadi lebih khidmat namun tetap hangat. Begitu melihat kedatangan Yan Xumin, seluruh anggota keluarga Duan yang sudah berkumpul segera berdiri sedikit dan memberi penghormatan.

“Kami menyapa Putri Qingyan!”

“Selamat datang, Putri Qingyan!”

Sapaan itu terdengar serentak, penuh rasa hormat dan penghargaan sesuai dengan kedudukan yang kini disandang Xumin.

Namun, Yan Xumin segera melambaikan tangan dan melangkah mendekat dengan wajah yang santai, seolah tidak ingin ada jarak di antara mereka. “Nenek, Bibi, Paman sekalian, janganlah terlalu sungkan dan menggunakan panggilan resmi seperti itu. Di sini, aku tetaplah Xumin yang dulu sering bermain dan belajar bersama Fei Fei. Panggil saja aku seperti biasa, jangan anggap aku sebagai orang asing atau tamu istimewa.”

Memang, sejak diangkat menjadi teman belajar Yanfei, ia sudah menghabiskan sebagian besar masa mudanya di kediaman ini. Nenek, bibi, paman, dan semua kerabat keluarga Duan telah melihatnya tumbuh dewasa. Di antara mereka telah terjalin ikatan kasih sayang yang cukup dalam, melebihi sekadar hubungan kenalan biasa.

“Tetap saja, etika dan tata krama tidak boleh dilupakan begitu saja,” ujar Nyonya Duan dengan nada lembut namun tegas. Ia menatap gadis di hadapannya dengan pandangan penuh kebanggaan. Sudah bertahun-tahun ia melihatnya tumbuh dari seorang gadis kecil yang pemalu menjadi wanita yang bijaksana dan berwibawa. Ketika mendengar kabar bahwa Xumin diangkat menjadi Putri Qingyan oleh Kaisar sendiri, ia pun merasa sangat bangga, seolah itu adalah keberhasilan putrinya sendiri.

“Nenek yang terhormat, janganlah memperlakukanku seperti orang luar. Rasanya sungguh tidak nyaman dan membuatku merasa terpisah dari keluarga ini,” kata Xumin dengan nada yang sedikit manja, persis seperti cara ia berbicara saat masih kecil.

Mendengar nada bicara itu, wajah Nyonya tua yang duduk di kursi utama segera melembut, lalu tersenyum lebar hingga terlihat kerutan halus di sudut matanya. “Anak ini, benar-benar tidak berubah. Baiklah, kalau begitu kita lupakan saja gelar itu. Di sini, kau tetaplah A Min yang baik hati dan perhatian. Keluarga Duan tidak pernah memandang latar belakangmu di masa lalu, dan hingga saat ini pun, kau tetaplah bagian dari keluarga kita. Kau tidak pernah mengecewakan kami, dan meski kini sudah memiliki kedudukan yang mulia, hatimu tetap sama seperti saat kau masih kecil.”

“Benar sekali, A Min memang anak yang sangat baik hati dan pengertian,” tambah Nyonya tua sambil mengangguk puas.

Suasana makan siang pun berlangsung sangat meriah dan hangat. Yan Xumin dengan mudahnya membaur bersama seluruh anggota keluarga, tidak ada rasa canggung atau kaku sedikit pun. Ia mengobrol dengan setiap orang, mendengarkan cerita mereka, dan menjawab pertanyaan dengan sopan namun akrab. Semuanya berjalan seolah mereka adalah satu keluarga besar yang utuh, harmonis, dan penuh kebahagiaan.

Di tengah hidangan, Xumin mengambil kesempatan untuk menyampaikan perhatiannya. “Nenek, usia sudah semakin lanjut, tolong jaga kesehatan diri dengan baik. Jangan terlalu banyak bekerja atau menerima tamu jika tubuh terasa lelah. Dan Bibi, aku tahu kau sering mengalami kesulitan untuk tidur nyenyak. Oleh karena itu, aku membawa akar ginseng berusia sekitar lima puluh tahun ini. Tubuh Bibi tidak terlalu kuat, jadi jika menggunakan obat-obatan keras, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak buruk di kemudian hari. Semoga ini bisa membantu memulihkan tenaga dan membuat tidurmu lebih nyenyak. Bibi harus selalu menjaga kesehatan dengan baik.”

Setiap beberapa bulan sekali, Yan Xumin selalu meluangkan waktu untuk datang berkunjung ke kediaman ini. Ia menemani Nyonya tua mengobrol hingga larut, mendengarkan nasihatnya, dan terkadang juga mendampingi Nyonya Duan menghadiri acara jamuan resmi agar tidak merasa kesepian. Hubungan mereka memang terjalin sangat baik dan tulus, tanpa ada kepentingan tersembunyi di baliknya.

Mendengar ucapan itu, Nyonya Duan tersenyum senang, hatinya terasa hangat disentuh oleh ketulusan gadis ini. “A Min, kau sungguh sangat perhatian. Jangan terlalu cemas tentang kami. Yang paling penting bagi kami adalah kesehatan dan kebahagiaanmu sendiri. Pastikan setiap harimu dijalani dengan rasa syukur dan kebahagiaan.”

Ia menatap Xumin dengan pandangan penuh kasih sayang. Selama bertahun-tahun, gadis ini telah tumbuh dan berkembang di bawah pengawasan mereka. Kini ia telah berdiri tegak dengan gelar Putri, memiliki wilayah kekuasaan sendiri—meskipun hanya sebuah kota kabupaten yang tidak terlalu luas—namun bagi mereka yang benar-benar tulus menyayanginya, ukuran kekuasaan tidaklah penting. Yang membanggakan adalah bagaimana ia tetap memegang teguh kebaikan hati dan kejujuran yang diajarkan sejak kecil.

“Bibi, aku sungguh enggan untuk berpisah dan pulang lagi,” kata Xumin dengan nada sedikit sedih.

Nyonya Duan tertawa pelan sambil menepuk punggung tangan Xumin. “Anak ini, kita masih berada di kota yang sama, bukan di ujung dunia. Jika kapan saja kau merindukan kami, cukup katakan saja dan datanglah. Pintu gerbang kediaman keluarga Duan ini selalu terbuka lebar untukmu, kapan pun dan dalam keadaan apa pun.”

“Benarkah? Berarti Bibi adalah orang yang paling menyayangiku di dunia ini,” kata Xumin sambil tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kegembiraan.

“Dasar anak manja. Aku sudah melihatmu tumbuh sejak masih kecil, jadi rasa sayangku padamu sama besarnya dengan rasa sayangku pada Fei Fei sendiri. Kalian berdua sama-sama berharga bagiku,” jawab Nyonya Duan dengan tulus.

Mendengar itu, Yanfei yang duduk di sampingnya langsung mendesis sambil tersenyum mengejek. “Wah, dengarkan itu! Jangan terlalu percaya diri dulu ya, A Min. Ibu pasti tetap menyayangiku lebih banyak lagi, kan?”

Seluruh ruangan pun langsung riuh dengan tawa mendengar candaan itu. Nyonya Duan hanya menggeleng pelan sambil tersenyum melihat kelakuan kedua sahabat itu yang tak pernah berubah meski usia mereka sudah semakin dewasa.

Setelah makan siang selesai dan mengobrol cukup lama, tibalah saatnya bagi Yan Xumin untuk berpamitan pulang. Ia mengucapkan salam dan terima kasih kepada seluruh anggota keluarga satu per satu, menerima doa dan harapan baik dari mereka.

Dengan langkah yang tenang namun penuh perasaan, ia melangkah keluar menuju halaman depan tempat kereta kuda sudah siap menunggu. Begitu ia naik ke dalam kereta dan pintunya ditutup, terdengar suara derap langkah kuda yang mulai bergerak perlahan, membawa tubuhnya kembali menuju kediamannya sendiri. Namun, di dalam hatinya, ia merasa pulang dengan perasaan yang tenang dan bahagia, membawa serta kenangan manis dan kasih sayang yang tak akan pernah pudar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!