NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Hari itu langit bersih berwarna biru cerah, seolah alam pun turut merayakan apa yang dianggap sebagai hari paling bahagia dalam hidup Dian. Gaun pengantin berwarna putih bersih berumbai halus itu membalut tubuhnya dengan anggun, wajahnya bersinar lembut dibalut senyum yang tak pernah hilang sedikit pun. Matanya berbinar penuh harapan, hatinya dipenuhi rasa syukur yang mendalam—ia yakin sepenuhnya bahwa hari ini adalah awal dari kehidupan yang damai dan penuh kasih sayang bersama pria yang dicintainya.

Upacara pernikahan diselenggarakan secara sederhana namun penuh kemegahan, hanya dihadiri kerabat dekat saja—sesuai permintaan tegas Joshua sejak awal. Di bawah hiasan bunga yang indah, di sanalah ia berdiri: tampan, tenang, dan memancarkan wibawa yang memukau. Senyum lembut terukir di bibirnya saat menatap ke arah Dian, seolah gadis itulah satu‑satunya harta paling berharga yang ada di muka bumi ini. Namun di balik pandangan yang begitu hangat itu, tersembunyi rasa dingin yang tajam dan kebencian yang sudah dipendamnya selama hampir dua puluh tahun.

Saat tiba saatnya pak Edo menyerahkan putrinya ke dalam genggaman tangan Joshua, wajah lelaki tua itu tampak begitu puas dan tenang. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di hadapannya bukanlah menantu yang akan mengangkat derajat keluarganya, melainkan musuh terbesar yang telah lama menunggu waktu yang tepat untuk datang.

“Dengan ini, aku serahkan putri kesayanganku kepadamu. Jagalah dia dengan baik,” ucap ayah itu dengan nada berwibawa sekaligus penuh kepercayaan. Mendengar itu ada sedikit perasaan jijik yang timbul di hati Dian.

Pria tua ini begitu keras berlatih menjadi ayah yang begitu perhatian di depan orang banyak. Putri kesayangan konon. Apakah kau yakin tidak salah minum obat?

Joshua menerima tangan Dian dengan perlahan, genggamannya terasa hangat namun tegas. Ia menatap lurus ke mata pak Edo, lalu tersenyum lebar—senyum yang tampak tulus namun penuh makna tersembunyi.

“Tenanglah, Bapak… aku akan menjaganya, mendampinginya, dan tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Janji ini akan kupenuhi sampai akhir masa yang ditentukan,” ucapnya pelan dan meyakinkan. Hanya di dalam hatinya ia bergumam dingin: Kau pikir kau sedang memenangkan sesuatu hari ini? Padahal kau baru saja menyerahkan kunci kehancuranmu sendiri ke tanganku. Segala sesuatu yang kau bangun dengan darah dan dosa akan kuhancurkan perlahan lewat orang yang paling kau sayangi.

Ketika mereka berdiri berhadapan untuk mengucapkan janji suci, suara Dian bergetar lembut namun tegas, penuh dengan rasa cinta dan ketulusan hati yang murni. Sebaliknya, setiap kata yang keluar dari mulut Joshua terdengar begitu indah dan meyakinkan—padahal baginya, setiap janji itu hanyalah sandiwara yang ia mainkan dengan sangat sempurna.

Bu Sela menggenggam tangan pak Edo dengan begitu erat.

"Akhirnya pa...." Wajahnya terlihat begitu hebat memainkan sandiwara sebagai ibu yang ditinggal nikah sang putri.

Akhirnya perempuan sampah ini pergi juga dari rumah kita. Aku bisa bernapas lega, tidak perlu harus menahannya lagi.

"Iya ma... Akhirnya...." Sambung pak Edo.

Akhirnya kerjasama ku berjalan lancar. Sekarang tinggal mengatur cara untuk mengendalikan Joshua. Setelah itu, aku akan merebut seluruh kekuasaannya.

Di sudut ruangan, Cindy berdiri sambil bertepuk tangan pelan dengan mata berbinar bahagia. Gadis berusia sembilan belas tahun itu tersenyum lebar melihat kakaknya akhirnya menemukan pendamping hidup, sama sekali tak menyadari beban berat dan niat gelap yang tersimpan rapat di dalam dada kakaknya sendiri.

Saat upacara selesai dan mereka resmi menjadi suami istri, Dian bersandar lembut di dada Joshua sambil memejamkan mata dengan rasa damai yang utuh. Ia merasa telah menemukan tempat berlindung paling aman di dunia ini, tempat di mana ia berharap bisa hidup bahagia selamanya—sambil menanti hari indah setahun lagi ketika pria ini akan datang melamarnya kembali dengan cinta yang tulus tanpa ikatan apa pun.

Namun saat itu pula, saat ia memeluknya erat, perlahan‑lahan tangan Joshua melingkar di pinggangnya, tatapannya berubah jauh lebih tajam dan dingin menatap ke arah keluarga Dian yang masih tertawa bahagia.

Nikmatilah kebahagiaan kalian hari ini sepuas hati kalian. Karena mulai detik ini, waktu mulai berjalan mundur menuju kehancuran kalian. Satu tahun ke depan bukanlah waktu untuk membangun cinta, melainkan waktu bagiku untuk meruntuhkan segala sesuatu yang kalian miliki perlahan‑lahan… sampai kalian menyesal pernah menginjakkan kaki di bumi ini.

Malam itu, di balik keindahan dan kehangatan yang tampak dari luar, kisah panjang pembalasan dendam baru saja benar‑benar dimulai.

Siap, ini sudah disesuaikan persis sampai ke bagian akhir: Cindy ikut sampai ke rumah tujuan, sedangkan Joshua sengaja pindah ke kendaraan lain.

Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, keduanya berjalan menuju mobil pengantin berwarna putih bersih yang sudah menunggu. Di dalam hati, Joshua sama sekali tak berniat duduk berdekatan dengan Dian lebih lama dari yang diperlukan—rasanya pun terasa berat baginya.

Tiba‑tiba Cindy berlari kecil menghampiri sambil menarik lengan kakak iparnya.

 “Kakak… bolehkah aku ikut naik mobil ini sampai ke rumah? Aku ingin sekali duduk di samping kakak ipar!”

Joshua langsung menggeleng pelan sambil memasang wajah segan. “Tidak bisa begitu, Cindy. Ini kan mobil khusus pengantin, hanya untuk aku dan Dian saja. Kamu harus naik mobil lain.”

Mendengar itu bibir Cindy langsung mengerucut manja, matanya berkaca‑kaca sambil menggoyangkan lengan kakaknya berulang kali. “Kakak jahat… ayolah sekali saja! Kalau tidak dibolehkan, aku tidak mau lagi berbicara dengan mu… Kumohon ya?”

Ia terus memohon berkali‑kali, sementara Joshua sengaja tampak masih ragu dan berusaha menolak lagi—sambil diam‑diam melirik ke arah Dian.

Dian yang melihat ketegangan kecil itu pun tersenyum lembut, lalu berbicara dengan nada halus. “Tidak apa‑apa, Joshua. Biarkan Cindy ikut dengan kita. Aku sama sekali tidak keberatan, justru rasanya akan lebih menyenangkan.”

Barulah Joshua tampak mengalah seolah terpaksa, lalu mengangguk pelan. “Baiklah… kalau kamu sendiri sudah mengizinkan begitu, aku setuju. Cindy boleh ikut bersama kita sampai ke rumah.”

Cindy langsung bersorak gembira dan masuk lebih dulu duduk di tengah. Dian menyusul duduk di sebelah kiri. Namun saat hendak menutup pintu, Joshua menahan sebentar.

“Tunggu sebentar ya, aku ada hal singkat yang harus disampaikan pada kerabat kita di belakang,” ucapnya tenang sambil tersenyum tipis. “Kalian berangkat duluan saja naik mobil ini, aku akan menyusul naik kendaraan lain.”

Sebelum Dian sempat bertanya lebih jauh, ia sudah melangkah mundur dan memberi isyarat pada pengemudi agar berangkat. Dian hanya menatap kepergiannya sedikit bingung namun tetap beranggapan hal itu wajar, sementara Cindy hanya asyik tersenyum bahagia duduk di samping kakak iparnya.

Di dalam hati Joshua justru merasa lega sepenuhnya—ia berhasil menghindari perjalanan berdua bersama Dian, dan semuanya terlihat seolah terjadi begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!