NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Ia tidak dimarahi, tidak dilarang secara kasar, tidak pernah mendengar kata-kata kasar dari mulut Joshua. Namun setiap kata, setiap sikap, dan setiap keheningan suaminya perlahan mengajarkannya satu hal yang menyakitkan: ia tidak berhak menuntut kasih sayang, tidak berhak merasa aman, dan tidak berhak meminta kehadiran orang yang berdiri tepat di sebelahnya.

Dan jauh di dalam ruang kerjanya, Joshua menatap layar komputer yang menampilkan grafik kerugian perusahaan ayah angkat Dian yang terus menurun tajam tanpa henti. Sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyum puas. Ia tahu betul: menghancurkan dunianya perlahan dari luar, dan menghancurkan hatinya pelan dari dalam—adalah cara yang paling sempurna dan menyakitkan untuk melaksanakan balas dendamnya.

Beberapa malam terakhir, tidur Dian tak lagi tenang. Ia selalu terjaga dengan napas terengah-engah dan keringat dingin membasahi pelipis, terbayang-bayang oleh mimpi buruk yang sama namun tak pernah sepenuhnya bisa ia ingat bentuknya. Hanya tersisa sisa perasaan yang menyayat: tangisan yang memecah kesunyian, bayangan seorang wanita yang berlari menjauh sambil menutup wajahnya, dan suara tawa dingin yang perlahan berubah menjadi teriakan meminta keadilan yang tak pernah didengar.

Suatu pagi, saat mereka duduk berdua di ruang tengah, Dian memberanikan diri menceritakan hal itu dengan suara yang masih bergetar pelan. “Aku bermimpi aneh lagi semalam… rasanya seperti ada orang yang menanggung kesalahan besar, dan aku seolah ikut merasakan beban itu di pundakku. Aku tidak mengerti kenapa hal-hal seperti ini terus menghantuiku.”

Joshua diam sejenak, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan sebelum tersenyum tipis—senyum yang tak sampai ke matanya. “Itu bukan sekadar mimpi, Dian. Itu adalah cerminan dari apa yang tersembunyi di dalam hatimu sendiri. Mungkin di tempat paling dalam jiwamu, kau sudah mulai sadar bahwa ada sesuatu yang seharusnya kau pertanggungjawabi, sesuatu yang tak bisa sekadar dilupakan atau dibiarkan berlalu begitu saja.”

Kalimat itu menggantung berat di udara, menembus langsung ke lubuk hati Dian yang paling rapuh. Ia tak pernah merasa berbuat salah pada siapa pun, namun kata-kata suaminya perlahan menanamkan benih keraguan yang menakutkan: Apakah aku memang menyembunyikan dosa yang tak kusadari? Apakah aku memang pantas dihantui rasa bersalah seperti ini?

Belum sempat pikirannya tenang, hari itu pula terjadi hal yang tak disengaja. Saat ia hendak menuangkan air ke dalam gelas kristal yang indah di meja makan, tangannya tiba-tiba tergelincir karena masih terpikir perkataan Joshua tadi. Gelas itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping dengan suara yang nyaring memecah keheningan ruangan.

Dian langsung terpaku, wajahnya seketika pucat pasi. Ia segera berlutut hendak membersihkannya, namun tangan Joshua lebih dulu menahannya. Ia tidak berteriak, tidak memarahi, bahkan tidak mengubah nada bicaranya sedikit pun. Hanya saja, matanya menatap pecahan kaca itu dengan sorot kekecewaan yang begitu dalam, seolah benda yang hancur itu adalah bagian dari dirinya sendiri.

“Tidak apa-apa,” ucapnya pelan, namun setiap kata terasa begitu berat. “Kau tidak terluka kan? Biarkan pelayan yang membereskannya. Hanya saja… semua barang di rumah ini bukan sekadar benda mati. Masing-masing menyimpan kenangan, harapan, dan sisa-sisa perasaan yang sudah lama hilang. Setiap kali ada yang rusak seperti ini, rasanya seolah satu lagi potongan ingatan yang tak bisa dikembalikan utuh. Sudahlah, lupakan saja. Tidak ada gunanya menyesali hal yang sudah terjadi.”

Ia berjalan pergi perlahan, meninggalkan Dian yang masih terdiam kaku di tempatnya. Hati wanita itu terasa diremas kuat—ia tahu Joshua tidak memarahinya, namun tatapan kecewa dan kata-kata yang diucapkannya terasa jauh lebih menyakitkan daripada amarah sekeras apa pun. Ia merasa seolah-olah telah merusak sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar gelas, sesuatu yang tak akan pernah bisa ia ganti atau perbaiki.

Sejak saat itu, Dian bergerak semakin hati-hati, semakin menunduk, dan semakin takut salah. Ia berjanji dalam hati untuk tidak menyentuh apa pun tanpa izin, untuk tidak bergerak sembarangan, dan untuk menekan setiap keinginan yang ada di hatinya—karena ia kini yakin: keberadaannya di sini saja sudah seperti kesalahan yang tak terampuni, dan satu gerakan kecil saja bisa membuatnya semakin terlihat tak berharga di mata orang yang paling ia cintai.

Dan di balik pintu ruang kerjanya, Joshua tersenyum tipis melihat perubahan sikap istrinya yang semakin menunduk. Itulah yang ia inginkan: membuat Dian sendiri yang mengurung dirinya dalam rasa bersalah, tanpa pernah menyadari bahwa semua itu hanyalah jebakan yang disusun pelan-pelan untuk menghancurkan jiwanya.

Saat itu, telepon berdering lagi, kali ini suara ayah angkatnya terdengar bergetar penuh harap dan mendesak dari seberang garis. Ia mulai menagih janji yang pernah Dian ucapkan dulu—janji untuk membantu menyokong perusahaan keluarga saat mereka sedang dalam kesulitan besar.

Namun Dian hanya mendengarkannya dengan wajah datar, tak ada sedikit pun rasa iba atau kecemasan yang muncul di matanya. Ia bahkan tidak menunggu ayahnya selesai berbicara, langsung memotong dengan nada yang dingin dan tak peduli:

“Perusahaan itu bukan milikku, Ayah. Selama ini kalian hanya memberiku tempat tinggal dan makan, tapi tak pernah benar-benar menganggapku bagian dari keluarga. Jadi jika sekarang sedang ada masalah, atau bahkan sampai hancur sekalipun, itu bukan urusanku. Aku sudah menjadi istri Joshua, dan aku tidak punya kewajiban apa pun lagi pada tempat itu.”

Ayahnya terdiam terpaku sejenak, tak percaya mendengar kata-kata tajam itu keluar dari mulut anak yang dulu ia besarkan. “Dian… bagaimana bisa kau bicara begitu? Bukankah dulu kau berjanji akan membalas kebaikan kami?”

“Kebaikan?” Dian tertawa kecil tanpa senyum, suara itu terdengar begitu hampa. “Aku sudah membayarnya dengan bekerja siang malam, menahan lapar dan lelah, serta menuruti semua keinginan kalian tanpa pernah menolak. Sekarang giliran kalian menghadapi akibatnya sendiri. Aku tidak peduli lagi.”

Ia langsung mematikan sambungan telepon itu dengan kasar, meletakkan ponsel di atas meja seolah baru saja membuang sesuatu yang menjijikkan. Ia sama sekali tidak merasa bersalah, tidak merasa kehilangan—hanya ada rasa lega karena akhirnya tak lagi terikat pada orang-orang yang dulu sering memperlakukannya layaknya beban.

Namun di balik tiang pintu yang tertutup sebagian, Joshua berdiri diam mendengar semuanya dari awal hingga akhir. Matanya menatap Dian lekat-lekat, dan seketika itu pula rasa kasihan yang sempat ia simpan sedikit untuk gadis itu lenyap sepenuhnya. Dendam yang tadinya ditujukan hanya pada ayahnya, kini terasa makin dalam dan tajam.

Ternyata kau sama saja dengan mereka, batinnya menggerutu dingin. Sama egois, sama tak punya hati, sama tak peduli pada orang yang pernah memberimu tempat berteduh. Kau bicara soal pembayaran seolah semua itu hanya transaksi mati. Baiklah… jika kau begitu, maka hukuman yang akan kuberikan padamu pun takkan pernah ada ampun.

Ia tidak masuk ke ruangan itu, tidak menampakkan dirinya. Ia hanya berbalik perlahan, melangkah pergi dengan tekad yang makin bulat: ia takkan berhenti sebelum seluruh dunia yang Dian kenal hancur lebur, dan ia melihat sendiri betapa hancurnya wanita yang kini terlihat begitu angkuh dan tak tersentuh itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!