saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. kesepakatan 2 keluarga
Sejak hari Ayah dan Ibu Zahra memberikan kepercayaan penuh kepada Rendra, suasana di kedua rumah menjadi lebih hangat dan penuh harapan. Tak ada lagi rasa canggung atau ragu. Langkah selanjutnya yang paling penting pun akhirnya ditentukan mengundang keluarga besar Rendra untuk datang berkunjung ke rumah orang tua Zahra, guna membicarakan secara resmi rencana menyatukan kedua anak mereka dalam ikatan pernikahan. Hari itu disepakati datang pada hari Minggu, waktu yang dianggap baik dan memungkinkan seluruh kerabat inti bisa hadir.
Kedua belah pihak mempersiapkan segalanya dengan sederhana namun penuh penghormatan. Keluarga Rendra menyiapkan seserahan pertunangan yang isinya bukan barang mewah semata, melainkan hal-hal yang bermanfaat dan disesuaikan dengan kebutuhan Zahra sebagai tanda kesungguhan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kelak. Sementara di rumah Zahra, Ibu dan kerabat perempuan sibuk menyiapkan hidangan kesukaan tamu, serta merapikan tempat duduk agar suasana berbicara terasa nyaman dan tertib.
Malam sebelumnya, Rendra berdoa panjang di sudut kamarnya. Ia memohon agar segala urusan dipermudah, agar hati semua orang ditenangkan, dan agar ia senantiasa diberi kekuatan untuk memikul tanggung jawab besar ini. Di sisi lain, Zahra pun tak bisa memejamkan mata lelap. Ia teringat perjalanan panjang yang mereka lalui dari persahabatan, rahasia, luka, perpisahan, hingga akhirnya sampai di titik ini. Hatinya penuh rasa syukur bercampur harap yang meluap-luap.
“Semoga semuanya berjalan lancar, Mas,” bisiknya pelan saat mengirim pesan singkat terakhir sebelum tidur.
Balasan Rendra datang seketika, tenang dan menenangkan “Amin. Tidurlah yang nyenyak, sayang. Besok adalah awal dari perjalanan kita yang sesungguhnya.”
Pagi itu, suasana desa terasa begitu cerah. Tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan yang berhenti di depan rumah. Ibu Rendra turun lebih dulu, diikuti paman, bibi, dan kerabat dekat lainnya yang membawa bingkisan seserahan dengan rapi. Rendra berjalan di belakang, mengenakan pakaian yang sopan dan rapi, wajahnya tampak tenang namun matanya bersinar penuh semangat.
Ayah dan Ibu Zahra menyambut mereka di depan pintu dengan senyum tulus. Canggung yang dulu pernah ada kini sudah hilang sepenuhnya, digantikan oleh rasa hormat dan penerimaan yang tulus.
“Selamat datang, silakan masuk,” sapa Ayah Zahra dengan suara yang hangat. “Kami senang sekali akhirnya bisa berkumpul bersama keluarga Bapak dan Ibu sekalian.”
“Terima kasih, Pak, Bu. Maaf jika kami merepotkan,” jawab Ibu Rendra sopan. “Kami datang membawa niat baik, untuk menyatukan nasib kedua anak kita.”
Mereka pun duduk melingkar di ruang tamu yang sudah disiapkan. Suasana hening sejenak, penuh penghormatan, sebelum akhirnya pembicaraan yang paling utama dimulai.
Sebagai perwakilan keluarga Rendra, Paman Rendra yang paling tua mengambil kata pertama.
“Hadirin sekalian, Bapak dan Ibu sekalian yang kami muliakan. Kami datang ke sini bukan untuk menawar atau mencari keuntungan, melainkan untuk menyampaikan niat putra kami, Rendra. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Rendra mencintai putri Bapak dan Ibu, Zahra, dengan sepenuh hati. Dan ia berniat menjadikannya istri yang sah, untuk mendampingi hidupnya sampai akhir masa.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Ayah Zahra dengan penuh penghormatan
“Kami tahu, perjalanan menuju keputusan ini tidaklah mudah. Ada banyak cobaan dan kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu. Namun kami melihat bagaimana kesungguhan Rendra, dan bagaimana Zahra pun menerima dengan hati yang terbuka. Oleh karena itu, kami memohon kerelaan hati Bapak dan Ibu untuk merestui niat ini, dan menerima kami sebagai keluarga.”
Ayah Zahra mendengarkan dengan saksama. Setelah itu, ia menatap Rendra yang duduk dengan sikap sangat rendah hati.
“Kami mengerti niat baik keluarga Bapak sekalian. Dan jujur saja, kami sudah lama melihat perubahan pada Rendra. Kami melihat ketulusannya, kesabarannya, dan tanggung jawab yang ia tunjukkan selama ini. Awalnya kami ragu, namun waktu telah menjawab segalanya. Kami tidak menolak, melainkan dengan hati yang lapang kami menerima niat ini.”
Suasana ruangan seketika terasa lebih lega. Senyum mengembang di wajah semua orang. Namun Ayah Zahra melanjutkan perkataannya dengan nada yang penuh nasihat:
“Namun sebelum kita sepakati hal-hal lain, izinkan saya berpesan satu hal kepada Rendra. Mulai saat ini, kau bukan lagi pemuda yang bebas berjalan sendiri. Kau akan menjadi pemimpin bagi rumah tanggamu nanti. Jika kau bahagia, maka Zahra pun akan bahagia. Jika kau teguh, maka ia pun akan merasa aman. Jagalah kehormatannya sebagaimana kau menjaga kehormatanmu sendiri. Jangan pernah biarkan ia menyesal telah memilihmu.”
Rendra bangkit berdiri perlahan, lalu menundukkan kepala dengan penuh hormat.
“Terima kasih, Bapak. Pesan Bapak akan saya tanamkan dalam hati dan saya laksanakan dengan sekuat tenaga. Saya berjanji akan menjaga, menghormati, dan mencintai putri Bapak seumur hidup saya. Saya tidak akan pernah menyia-nyiakannya.”
Setelah pembicaraan inti selesai dan disepakati bersama, tibalah momen penyerahan seserahan pertunangan. Ibu Rendra menyerahkan bingkisan itu kepada Ibu Zahra dengan tangan bergetar haru.
“Ini hanyalah simbol kesungguhan kami, Bu. Tidak seberapa nilainya, namun semoga bisa bermanfaat bagi Zahra sebagai bekal persiapan hidup barunya.”
“Terima kasih banyak, Bu. Ini sudah lebih dari cukup bagi kami,” jawab Ibu Zahra menerima dengan senyum bahagia. “Kami tahu, yang paling berharga bukanlah barangnya, melainkan niat baik dan kasih sayang yang terselip di dalamnya.”
Zahra yang sedari tadi duduk di samping ibunya dengan wajah malu namun berseri, kini menerima langsung satu per satu bingkisan itu. Saat tangannya menyentuh pemberian dari Rendra, matanya bertemu dengan tatapan lelaki itu tatapan yang penuh janji, penuh rindu, dan penuh keyakinan bahwa takdir mereka kini telah tertulis indah.
Pembicaraan kemudian berlanjut menentukan waktu pelaksanaan. Kedua keluarga sepakat tidak ingin berlama-lama, namun juga tidak ingin terburu-buru sehingga persiapannya kurang matang. Setelah berdiskusi dan merujuk pada hari baik yang biasa berlaku di daerah mereka, akhirnya disepakati:
Pertunangan resmi akan dilaksanakan dua minggu setelah hari itu, secara sederhana namun dihadiri kerabat dekat dan tetangga terdekat. Sedangkan untuk acara pernikahan, disepakati dilaksanakan tiga bulan setelah pertunangan memberi waktu cukup bagi kedua belah pihak untuk mempersiapkan segala hal dengan tenang, serta memberi kesempatan bagi kerabat yang tinggal jauh untuk bisa hadir.
“Kami tidak menginginkan pesta yang mewah, Pak, Bu,” ujar Rendra mewakili keinginan mereka berdua. “Cukup sederhana, yang penting sah, diberkati, dan bisa mengundang orang-orang yang benar-benar tulus mendoakan kita.”
“Kami setuju,” sahut Ayah Zahra. “Kemewahan itu hanya sementara, tapi keberkahan rumah tangga itulah yang kita cari. Yang penting niat kita lurus dan tulus.”
Pertemuan itu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk kelancaran acara, melainkan untuk kekuatan hati kedua mempelai, keharmonisan keluarga besar, dan agar rumah tangga yang akan dibangun nanti menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Saat keluarga Rendra berpamitan pulang, suasana terasa begitu hangat. Dulu mungkin ada rasa canggung, beda pendapat, atau luka yang terselip. Namun hari itu, semua itu luruh menjadi satu rasa persaudaraan yang utuh.
Di perjalanan pulang, Ibu Rendra menepuk bahu putranya dengan bangga. “Kau sudah melakukannya dengan baik, Nak. Ibu sangat bangga padamu. Jaga dia baik-baik, dia adalah anugerah yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi hidupmu.”
Sementara itu di rumah Zahra, gadis itu masih duduk termenung memegang cincin sederhana yang baru saja Rendra selipkan di jari manisnya. Cincin itu terasa begitu berat maknanya tanda bahwa ia kini telah resmi menjadi milik seseorang, seseorang yang berjuang sekuat tenaga untuk memilikinya dengan cara yang benar.
“Akhirnya, Mas... kita akan segera bersatu,” bisiknya pelan sambil menatap jendela ke arah jalan yang dilalui rombongan Rendra.
Masa depan yang dulu kelabu dan penuh teka-teki kini terbentang cerah. Dua hati yang sempat terhalang dinding tinggi, kini telah menyatu dalam ikatan yang disepakati oleh kedua keluarga, direstui oleh orang tua, dan dikuatkan oleh keyakinan kepada Tuhan. Langkah selanjutnya tinggal menuju hari bahagia yang paling dinanti hari di mana mereka akan berjanji setia sehidup semati di hadapan Tuhan dan manusia.