NovelToon NovelToon
Cleaning The Thorne'S Empire

Cleaning The Thorne'S Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chi Chi chantika

Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.

Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debaran jantung yang tidak teratur

Sloane Sterling terbangun dengan perasaan seolah-olah kepalanya baru saja ditabrak oleh truk bermuatan deterjen. Pandangannya kabur, namun ia mengenali aroma yang sangat familiar—campuran aroma mesiu, hutan pinus, dan kemeja mahal yang disetrika dengan kaku.

Aroma Alistair Thorne.

Sloane mencoba duduk, namun kepalanya berdenyut. Ia menyadari dirinya berada di sebuah ruang medis darurat di dalam teater tua tersebut. Ruangan itu sangat bersih—setidaknya menurut standar Alistair—namun di mata Sloane, sudut-sudut mesin oksigen itu masih memiliki jejak sidik jari yang mengganggu.

"Nona Sterling. Harap tetap dalam posisi horizontal. Secara administratif, sistem kesadaran Anda baru saja mengalami crash total," suara berat Alistair terdengar dari samping tempat tidur.

Sloane menoleh dan melihat Alistair duduk di kursi lipat, masih mengenakan kemeja hitam yang kini sudah bersih dari noda darah. Pria itu menatapnya dengan intensitas yang sama dengan saat ia menciumnya tadi.

Mengingat ciuman itu, wajah Sloane mendadak berubah menjadi merah padam seperti botol saus tomat. "K-kau! Tuan Kaku! Kau... kau menciumku di depan Pak Luka, Elena, dan dewi perak itu?! Kau sudah gila ya secara operasional?!"

Alistair berdeham kaku, ia menyesuaikan posisi jam tangannya yang sebenarnya sudah sempurna. "Itu adalah tindakan korektif untuk memastikan Anda memahami posisi Anda dalam hierarki emosional saya. Saya tidak suka melihat Anda menganggap diri Anda sebagai 'sampah' atau 'noda'. Itu adalah penghinaan terhadap pilihan saya."

Sloane ingin membalas dengan omelan panjang, namun hatinya terasa begitu penuh. Ia menatap tangannya yang kini digenggam erat oleh Alistair. "Tapi... Isabella. Dia sangat sempurna, Alistair. Dia punya pasukan, dia punya gaun taktis, dia punya rambut yang tidak pernah berantakan. Sedangkan aku hanya punya kemoceng dan sabun pel."

"Isabella adalah aliansi strategis," jawab Alistair datar. "Tapi Anda adalah... rumah saya. Seseorang tidak akan mau pulang ke sebuah aliansi strategis, Sloane. Seseorang ingin pulang ke tempat di mana ia dimarahi karena meletakkan jas di atas kursi makan."

Sloane tersenyum kecil, air mata kebahagiaan hampir menetes, namun ia segera menghapusnya dan bangkit berdiri dengan tiba-tiba.

"A-aduh!" Sloane terhuyung, namun Alistair segera menangkapnya.

"Nona Sterling! Saya sudah bilang tetap horizontal!"

"Tidak bisa! Lihat itu!" Sloane menunjuk ke arah monitor jantung di sampingnya. "Ada bekas sidik jari di layarnya! Bagaimana kau bisa membiarkanku tidur di ruangan yang penuh bakteri tangan ini?! Berikan aku alkohol pembersih sekarang!"

Alistair memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang yang penuh kesabaran. "Sloane, kita sedang merencanakan infiltrasi ke markas pusat ayah saya. Bisakah Anda menunda audit sidik jari Anda selama dua belas jam?"

"Tidak! Satu menit bakteri itu menempel, mereka akan beranak-pinak! Menyingkir, Tuan Kaku!" Sloane mencoba merangkak keluar dari tempat tidur, membuat Alistair terpaksa harus terus menahannya.

Tiba-tiba, pintu ruang medis terbuka. Isabella melangkah masuk dengan anggun, memegang sebuah tablet taktis. Ia berhenti sejenak melihat Alistair yang sedang bergulat dengan Sloane agar gadis itu tidak turun dari kasur.

"Alistair, aku sudah menyiapkan koordinat... oh, apakah aku mengganggu momen 'pembersihan' kalian?" Isabella tersenyum tipis, tidak ada kebencian di matanya, hanya rasa geli yang murni.

Alistair segera melepaskan Sloane dan berdiri tegak, merapikan kemejanya yang berantakan karena ulah Sloane. "Nona Sterling hanya sedang melakukan... kontrol kualitas terhadap fasilitas medis kita."

Isabella menoleh ke arah Sloane. "Nona Sterling, aku harus mengakui, kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Alistair Thorne terlihat seperti manusia biasa yang frustrasi. Itu adalah bakat yang luar biasa."

Sloane mengerucutkan bibirnya, kecemburuannya sedikit mereda melihat sikap Isabella yang dewasa. "Yah, seseorang harus memastikan bos kaku ini tidak berkarat karena terlalu banyak diam."

Isabella tertawa kecil, lalu wajahnya berubah menjadi serius. "Alistair, Silas sudah memperkuat pertahanan di Obsidian Tower. Dia tahu kita akan datang. Dia tidak hanya membawa pengawal, tapi dia juga menyewa tentara bayaran dari faksi Timur. Ini bukan lagi sekadar urusan keluarga. Ini adalah pembersihan total."

Alistair menatap peta digital yang disodorkan Isabella. Matanya berubah menjadi sedingin es. "Dia ingin membersihkan saya? Mari kita tunjukkan padanya bagaimana cara melakukan pembersihan yang sesungguhnya."

Alistair menoleh pada Sloane. "Sloane, Anda akan tetap di sini bersama unit perlindungan Marcus. Jangan keluar dari ruangan ini."

"Apa?! Kau mau meninggalkan aku lagi?!" Sloane protes.

"Kali ini berbeda, Sloane. Secara operasional, markas pusat adalah zona maut. Saya tidak akan bisa bertempur jika saya terus memikirkan keselamatan Anda di tengah hujan peluru," suara Alistair melunak, tangannya mengusap pipi Sloane. "Tunggu saya di sini. Setelah ini selesai, saya sendiri yang akan membawakan semua stok sabun terbaik di Eropa untuk Anda."

Sloane menatap mata Alistair. Ia tahu kali ini ia tidak bisa memaksa ikut. Ia menghela napas, lalu menyambar jaket jas Alistair yang digantung di dekat kasur. Ia mulai merapikan kerahnya dan menepuk-nepuk debu imajiner di bahunya.

"Baiklah. Tapi kau harus kembali dengan jas yang utuh! Jika ada satu saja sobekan di jas ini, aku akan merendammu di bak mandi berisi pemutih!" ancam Sloane dengan mata berkaca-kaca.

Alistair tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh janji. "Saya akan menaati protokol Anda, Nona Sterling."

Alistair melangkah keluar ruangan. Di lorong, Marcus dan para pengawal lainnya sudah berdiri tegak. Begitu Alistair lewat, mereka secara serentak menatap langit-langit atau pura-pura memeriksa senjata mereka masing-masing.

"Tuan Thorne, apakah... asisten medis kita sudah sadar?" tanya Marcus tanpa berani menatap mata Alistair.

"Sudah. Dan dia sudah mulai mengkritik kebersihan monitor jantung," jawab Alistair kaku.

"Syukurlah. Secara administratif, rumah ini terasa hampa tanpa teriakan soal debu," gumam Marcus yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alistair.

Alistair Thorne melangkah menuju pintu keluar teater, diiringi oleh Isabella dan pasukan gabungan mereka. Perang terakhir untuk merebut kembali kebebasannya dan melindungi mawar jalanannya baru saja dimulai. Di dalam dadanya, detak jantung Alistair kini bukan lagi berdegup untuk kekuasaan, melainkan untuk sebuah kepulangan ke pelukan gadis yang paling berisik di dunia.

To be continued.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!