Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.
Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.
Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kehangatan Rumah Dan Keadilan yang Nyata
"Cukup! mulai detik ini, kamu dipecat secara tidak hormat!"
Potong Adrian tanpa ampun.
"Dan jangan harap kamu bisa bekerja di perusahaan lain di negara ini, karena aku sendiri yang akan memastikan namamu masuk ke dalam daftar hitam industri!"
Keamanan, seret wanita ini keluar dari gedungku!.
Seluruh karyawan wanita yang selama ini ikut menggosipkan Nala langsung tertunduk ketakutan. mereka menyadari bahwa Adrian tidak pernah main-main jika ada orang yang berani menyakiti Nala.
Satu persatu mereka akhirnya berjalan mendekati meja Nala. dengan wajah penuh penyesalan, membungkuk dalam-dalam, dan meminta maaf atas segala gosip miring yang pernah mereka sebarkan. Nala, dengan kebesaran hatinya, memapkan mereka. lalu berkata; lain kali kalau belum tahu tentang kebenaranya kalian jangan ikut ngegosipin orang yang belum tentu benar!
"Kak kevin memang pernah mengungkapkan perasaanya sama saya. namun saya menolaknya! karena saya tidak mempunyai perasaan cinta terhadap kak Kevin.saya ke sini hanya untuk bekerja dengan profesional, menjual kemampuan saya bukan untuk mencari jodoh atau menggoda laki-laki". kak Kevin pemuda yang baik, ramah dan juga sopan, saya menganggap kak Kevin seperti kakak saya sendiri.
Jadi kalian simpan di pikiran kalian! . karena saya bukan wanita penggoda, atau mau tebar pesona di kantor sini!....jika kak Kevin menjauhi siska itu tidak ada hubungannya dan kaitannya dengan saya. mungkin Kak kevin juga berpikir, dan bisa menilai mana wanita yang baik dan yang tidak apalagi untuk menjalani hubungan bukan, main-main. saya harap kalian paham dengan apa yang saya katakan! dan ini untuk yang terakhir kalinya.
Nala terima kasih. Kamu sudah mau memaapkan kami, dan kami janji tidak akan mengulangi kesalahan lagi!...
Kemudian mereka pergi meninggalkan ruangan Nala!
Hari Sabtu kembali tiba. kali ini, sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa terjadi di kolong jembatan kota.
Nyonya victoria, ibu dari sang CEO kaya raya, kembali mendatangi tempat tersebut. namun kali ini, ia tidak lagi berada dalam mobil mewahnya dengan kaca tertutup.
Victoria turun langsung ke jalanan, mengenakan pakaian olahraga yang sederhana namun tetap rapi. di sampingnya, Nala Putri tersenyum hangat, menyambut kedatangan Ibu bosnya dengan tangan terbuka.
"Nala, Ibu membawakan dua ratus paket sembako premium dan mainan untuk anak-anak ini. apakah ini cukup?" tanya Victoria, suaranya Terdengar sangat antusias.
"Ini lebih dari cukup, Nyonya Victoria. terima kasih banyak atas kebaikan hati anda," jawab Nala tulus.
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Victoria merasakan kebahagiaan sejati yang tidak bisa dibeli dengan uang melimpah di mall mewah. iya ikut berjongkok di samping Nala, membagikan beras, susu, dan mainan kepada anak-anak jalanan dan para pemulung. melihat tawa riang anak-anak itu dan mendengar ucapan terima kasih yang tulus dari orang-orang Pinggiran, hati kaku Victoria meleleh sepenuhnya. sebagai wanita yang hanya memiliki seorang Putra tunggal yang sibuk seperti Adrian, Victoria merasa kesepian hidupnya mendadak sirna. berada di dekat Nala membuatnya merasa memiliki seorang putri kandung yang begitu hangat.
Setelah selesai membagikan sumbangan, Nala mengajak Victoria untuk beristirahat di kontrakan kecilnya. meskipun ruangan itu sangat sempit, namun tertata rapi, dan bersih. victoria duduk di bawah hanya beralaskan tikar serta kipas angin kecil, Victoria sama sekali tidak mengeluh lagi. atau gengsi sosialitanya telah runtuh, digantikan oleh rasa nyamannya.
Nala sibuk di dapur kecilnya, memasak sayur asem rumahan sederhana dan sambal terasi, lengkap dengan lauk tahu dan tempe goreng. aroma masakannya yang harum segera memenuhi ruangan kontrakan yang mungil itu.
"Nyonya, maap hidangannya sangat sederhana. ini hanya masakan rumahan biasa," ucap Nala agak sungkan saat menghidangkan makanan di atas meja kayu kecil.
Victoria tersenyum manis, mengelengkan kepalanya. Ia menyuap makanan itu ke dalam mulutnya dan matanya langsung berbinar kagum."luar biasa enak. Nala! sudah lama sekali Ibu tidak makan masakan sehat ini. di rumah mewah ibu, masakan koki bintang lima pun rasanya hambar karena ibu selalu makan sendirian."
Victoria menatap Nala dengan pandangan mata yang berkaca-kaca penuh kasih sayang. ia meraih jemari lentik Nala dan menggenggamnya erat.
"Nala...mulai hari ini, jangan panggil ibu dengan sebutan 'Nyonya' lagi jika di luar kantor. Panggil ibu....'atau mama' ya? ibu sudah menganggapmu seperti putri kandung ibu sendiri."
Nala tertegun, matanya mulai berkaca-kaca mendengar ketulusan dari ibu Adrian.
Di balik dinding kontrakan yang sempit dan Sederhana itu, sebuah ikatan keluarga yang baru dan suci telah tercipta_sebuah ikatan yang akan menjadi benteng terkuat bagi hubungan Nala dan Adrian di masa depan.
Di ambang pintu yang sedikit terbuka, ada yang berdiri mematung. langkah kakinya yang hendak masuk seketika terhenti, matanya yang biasa menatap dunia dengan tajam, dingin, dan penuh keangkuhan seorang pengusaha bisnis, kini tampak berkaca-kaca. dada CEO muda itu bergemuruh hebat. Perasaan haru menjalar ke seluruh relung hatinya. Selama bertahun-tahun, Adrian selalu merasa terombang-ambing di antara dua kutub; wanita yang teramat dicintainya dan ibu kandung yang melahirkannya. namun malam ini, di depan matanya sendiri, kedua kutub itu akhirnya menyatu.
"Terima kasih, Mah...terima kasih sudah mau menerima Nala, "bisik Nala dengan suara bergetar. Air matanya menetes pelan, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga.
Victoria melepaskan pelukannya perlahan. dia memegang kedua pundak Nala, menatap lekat- lekat manik mata gadis di hadapannya itu. senyum lembut yang jarang sekali perlihatkan Victoria kepada orang asing kini terkembang tulus.
"Ibu yang seharusnya berterima kasih kepadamu, Nala, "ujar Victoria dengan suara yang bergetar menahan tangis. "selama beberapa minggu ini, sejak ibu diam-diam ikut bersamamu turun langsung ke jalanan, membagikan sembako untuk anak-anak jalanan, para pemulung, dan lansia terlantar, mata ibu yang buta ini akhirnya terbuka.
'Kamu mengajarkan ibu arti ketulusan yang sebenarnya. di saat wanita-wanita di luar sana hanya untuk mendekati kami karena kilau harta, kamu justru membagikan apa yang kamu punya dengan tanganmu sendiri.'
Adrian akhirnya melangkah masuk. sepatu pantofelnya menimbulkan ketukan pelan di lantai semen kontrakan. senyum lebar yang amat jarang ia perlihatkan kini menghiasi wajah tampannya. "kalian berdua sengaja berpelukan seperti ini hanya untuk membuatku terasingkan, ya?"
Victoria menoleh ke arah putranya lalu terkekeh pelan sembari mengusap sisa air mata di pipinya. "Adrian, dengar mama baik-baik. mulai hari ini, jaga sekretaris pribadimu ini dengan taruhan nyawamu. jika kamu Sampai berani menyakitinya atau membuatnya menangis, kamu tidak hanya berhadapan dengan hukum, tapi kamu harus berhadapan dengan mama sebagai musuh utamamu."
Adrian berjalan mendekat, lalu dengan lembut merangkul pundak Nala. tatapannya beralih pada gadis desa yang kini telah bertransformasi menjadi sosok yang luar biasa. sejak Nala diangkat menjadi sekretaris pribadinya di PT. Dirgantara megah utama, gadis itu tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.
Dibalik kesederhanaan pakaiannya, Nala adalah wanita yang cerdas, cekatan, dan memiliki ketegasan yang luar biasa. dia bukan lagi Nala yang pemalu dan mudah ditindas; dia kini menjadi benteng utama yang mengelola seluruh agenda rumit negosiasi bisnis di raksasa perusahaan Dirgantara tersebut.
"Keesokan harinya, dinamika di kantor PT Dirgantara megah utama kembali memanas. Sebagai perusahaan raksasa yang bergerak di bidang industri Dirgantara dan investasi Mega, kantor Adrian tidak pernah sepi dari para konglomerat yang ingin menancapkan saham bisnis mereka. namun belakangan ini, ada satu agenda luar yang sangat mengganggu profesionalitas kerja."
Tuan bramantara, salah satu rekan bisnis terbesar yang memegang saham minoritas di anak perusahaan Adrian, sengaja memanpaatkan kerjasama ini untuk tujuan pribadi. siang itu, pintu ruang kerja Adrian terbuka tanpa ketukan yang sopan.
Seorang wanita muda dengan gaun mini yang mencolok dan riasan tebal melangkah masuk dengan gaya yang dibuat manis. dia adalah Clarissa, Putri Tunggal tuan bramantara.
"Adrian, sayang !kamu sibuk sekali, sih? Aku membawakan makan siang dari restoran bintang lima terbaik di kota ini," seru Clarissa dengan suara manja yang melengking, langsung berjalan menuju meja kerja Adrian dan mencoba bergelayut dilengan pria itu.
Adrian yang sedang memeriksa berkas langsung menarik
tangannya dengan gerakan kasar dan dingin .wajahnya mengeras . "Clarissa, sudah berapa kali kubilang? ini adalah ruang kerja CEO Pt. Dirgantara megah utama, bukan tempat bersantai. dan jangan panggil aku dengan sebutan menjijikan seperti itu."
Sebelum Clarissa sempat merengek, pintu ruangan terbuka penuh. Nala masuk membawa beberapa map dokumen penting.
Langkahnya tegap, tatapan matanya tenang namun memancarkan Aura otoritas yang kuat sebagai sekretaris pribadi yang profesional.
"Maaf mengganggu, pak Adrian. ini adalah dokumen revisi kontrak kerja sama dengan bramantara Group yang harus segera Anda tanda tangani, "ucap Nala dengan suara formal dan tegas. dia sama sekali tidak melirik Clarissa yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan.
"Hei, sekretaris desa!" bentak Clarissa, berdiri menghalangi jalan Nala. "kamu tidak punya tata krama, ya? tidak lihat aku sedang berbicara penting dengan calon suamiku? Keluar kamu!"
Nala tidak mundur selangkah pun. dia menatap langsung ke mata Clarissa tanpa ada rasa takut sedikitpun. Sifat tegas Nala yang berpendidikan dan mandiri kini keluar sepenuhnya. "Mohon maaf," ibu clarissa yang terhormat. berdasarkan peraturan perusahaan PT. Dirgantara megah utama pasal 14, kunjungan pribadi non -bisnis tanpa janji temu resmi dilarang keras mengganggu jam kerja CEO.
Tugas saya sebagai sekretaris pribadi adalah memastikan waktu pak Adrian tidak terbuang sia-sia oleh hal-hal yang tidak produktif bagi perusahaan. jadi, jika anda tidak memiliki kepentingan bisnis, silahkan anda yang keluar."
"kamu ....berani-beraninya kamu mengusirku ?!":Pekik Clarissa meradang, wajahnya memerah karena malu di hadapan Adrian.
"Cukup, CLarissa!" suara bariton Adrian menggelegar, membuat clarissa langsung terbungkam.
"Apa yang dikatakan Nala adalah mutlak perintahku. Keluar dari ruanganku sekarang sebelum aku meminta tim keamanan menyeretmu dan membatalkan seluruh pas masukmu ke gedung ini!"
Dengan menghentakan kakinya yang menggunakan high heels mahal, Clarissa keluar dari ruangan sambil membanting pintu dengan keras! Nala hanya menghela napas pelan lalu menyerahkan dokumen kepada Adrian, yang disambut Adrian dengan tatapan penuh kekaguman atas ketegasan sekretaris pribadinya itu.
"Konflik mencapai puncaknya beberapa hari kemudian pada acara pesta gala tahunan para pelaku bisnis elit yang diadakan di hotel mewah milik Pt. Dirgantara megah utama. Pesta tersebut dihadiri oleh ratusan pengusaha kelas atas, termasuk tuan bramantara dan Clarissa yang masih menyimpan dendam kesumat".
Adrian hadir dengan setelan tukedo hitam yang membuatnya tampak sangat gagah dan berwibawa sebagai raksasa bisnis baru yang ditakuti. di sampingnya, victoria berjalan dengan anggun, dan di sebelah Victoria, Nala mendampingi dengan gaun malam berwarna biru tua yang elegan namun tetap bersahaja.
Kemunculan Nala yang bersanding sejajar dengan keluarga Dirgantara tentu saja memicu bisik-bisik miring dari kalangan sosialita yang merasa status sosial Nala tidak setara.
Saat sedang berbincang dengan beberapa menteri, sebuah interupsi kasar terjadi. tuan bramanntara melangkah maju bersama Clarissa, disusul oleh seorang wanita paruh baya berwajah sinis yang mengenakan perhiasan berlian berlebihan. Wanita itu adalah nyonya Ratna- ibu kandung dari Marisa.
Melihat nyonya Ratna, rahang Adrian seketika mengeras, ingatannya Berputar Ke massa empat tahun yang lalu. Masa-masa di mana Adrian belum menjadi siapa-siapa, masa di mana ia merintis PT. Dirgantara megah utama dari nol, tidur di lantai kantor yang dingin, dan kehabisan modal.
Di saat-saat tersulit itu, ayahnya yang bangkrut, perusahaan yang ditipu oleh kepercayaannya sendiri yang mengalihkan aset perusahaannya, sehingga membuat ayahnya jatuh sakit dan meninggal dunia!.
Marisa- wanita yang dikasihinya selama bertahun-tahun, apa yang diinginkan Marisa berlian, barang branded yang harganya mewah serta mobil Adrian berikan. " di saat sedang terpuruk bukannya Marisa membantu atau memberi dukungan kepada Adrian justru mencampakkannya dan berselingkuh dengan seorang lelaki tua bangka yang kaya raya.
Pengkhianatan Marisa, itulah yang sempat membuat Adrian menutup hatinya dan menjadi sosok CEO yang arogan serta dingin, sebelum akhirnya kehangatan dan ketulusan menyembuhkan luka tersebut.
Kini, Marisa telah mendekam di penjara akibat kejahatan sabotase perusahaan Adrian yang ia lakukan bersama viona mantan sekertaris senior, dan ayahnya Marisa juga melakukan penggelapan perusahaan Proyek besar milik Adrian 2 tahun yang lalu.
"Wah,wah,.... lihat siapa yang berdiri di sini," ucap Nyonya Ratna dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh seluruh tamu pesta. "victoria, aku benar-benar kasihan melihatmu.
Mengapa kamu mau membawa sampah jalanan ini ke acara terhormat seperti ini apakah matamu sudah buta?
Suasana diruang pesta mewah itu mendadak hening. ratusan pasang mata kini tertuju pada panggung drama keluarga tersebut.
"Ratna, jaga bicaramu di pesta Gala perusahaan putraku!" sahut victoria, suaranya terdengar dingin dan tajam bagai silet.