NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Bryan melangkah keluar dari rumah megah itu dengan langkah gontai, membawa beban berat di hatinya.

Begitu sampai di halaman, ia segera menaiki motornya dan memacu kendaraan itu secepat yang ia bisa, menembus kepadatan jalanan menuju kontrakan Hakam.

Pikirannya hanya satu: menyelamatkan Nyonya Fatma.

Tak berselang lama, Bryan sampai di depan rumah kontrakan Hakam.

Ia turun dengan napas terengah-engah dan langsung menggedor pintu dengan panik.

Hakam yang saat itu sedang bersantai di ruang tengah terkejut melihat Bryan muncul dengan wajah kacau.

"Bryan? Ada apa?" tanya Hakam heran.

Bryan tidak membuang waktu. Ia mencengkeram bahu Hakam dengan napas yang masih memburu.

"Tolong kakak iparmu, Hakam! Sekarang juga! Dia dalam bahaya besar. Tuan Adrian, dia benar-benar sudah kesetanan. Dia menyiksa Nyonya Fatma habis-habisan, dan aku sudah dipecat karena mencoba melindunginya!"

Mendengar penjelasan Bryan, wajah Hakam berubah pucat pasi.

Tanpa sepatah kata pun, ia segera menyambar kunci mobilnya di atas meja.

Rasa cemas dan amarah mendidih di dalam dirinya saat membayangkan sang kakak ipar yang lembut itu berada dalam cengkeraman Adrian yang sedang hilang akal.

Mereka berdua bergegas menuju mobil Hakam. Begitu mesin menyala, Hakam menginjak pedal gas dalam-dalam.

Mobil itu melesat cepat, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.

Hakam terus memacu laju mobilnya seolah ingin menembus batas waktu, karena ia tahu setiap detik yang berlalu adalah pertaruhan nyawa bagi Fatma di tangan kakaknya sendiri.

Di dalam rumah yang temaram, Adrian duduk bersandar di sofa ruang kerjanya, di kelilingi botol-botol minuman keras yang sudah kosong.

Matanya merah, tatapannya kosong namun liar. Tangannya meremas sisa robekan buku harian Jamie.

"Liana tidak mungkin melakukan hal itu. Wanita rendahan itu pasti yang menulis semuanya..." gumam Adrian dengan tawa yang pecah, terdengar sumbang dan mengerikan.

"Aku yakin itu. Semuanya bohong!"

Tiba-tiba, deru mesin mobil yang berhenti dengan kasar di halaman memecah kesunyian.

Tak lama kemudian, pintu utama didobrak dengan keras.

Hakam melangkah masuk dengan napas memburu, matanya berkilat amarah.

"Mas!! Keluar kamu!!" teriak Hakam menggema ke seluruh ruangan.

"Apa yang kamu lakukan kepada Mbak Fatma?!"

Ceklek!

Adrian menekan saklar lampu dan keluar dari ruang kerjanya.

Cahaya yang tiba-tiba menyilaukan membuat Hakam menyipitkan mata.

Adrian menatap adik kandungnya dengan pandangan merendahkan.

"Adikku yang biasanya pendiam, mengapa ribut sekali?" Adrian berdiri dengan sempoyongan, bibirnya menyeringai.

"Kamu mencari istriku? Memang ada hubungan apa kamu dengannya sampai sebegitu khawatirnya?"

"Mas, di mana dia?! Apa yang kamu lakukan?!"

Hakam mengabaikan sindiran itu dan langsung berlari menaiki tangga menuju lantai atas, mengabaikan teriakan Adrian di belakangnya.

Hakam mendobrak pintu kamar isolasi. Matanya membelalak, dadanya terasa nyeri saat melihat kondisi Fatma.

Istri kakaknya itu tergeletak tak berdaya di lantai dengan tangan terikat erat dan mulut tersumpal kain.

"Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan, Mas?!" seru Hakam histeris.

Ia segera berlutut, melepaskan ikatan di pergelangan tangan Fatma dan menarik kain penyumpal mulutnya dengan hati-hati.

"LEPASKAN ISTRIKU!!" Adrian tiba-tiba muncul di ambang pintu, matanya melotot tajam.

Fatma, yang kini setengah sadar, merintih pelan. Dengan suara yang sangat lemah, ia justru menatap Hakam dengan penuh permohonan.

"Hakam... tolong... pergi dari sini... tinggalkan aku..."

"Mbak, kamu disiksa seperti ini! Ayo, Mbak, kita keluar sekarang!" Hakam berusaha memapah Fatma berdiri.

Namun, sebelum langkah mereka sampai ke pintu, suara berat Adrian menghentikan mereka. Adrian berdiri di depan pintu dengan tatapan penuh ancaman.

"Fatma!! Ingat perjanjian kita," ancam Adrian dengan suara dingin yang mematikan.

"Atau kamu mau melihat Abahmu menangis melihat pondok pesantren kesayangannya rata dengan tanah besok pagi?"

Fatma membeku. Wajahnya yang pucat pasi semakin terlihat putus asa.

Ia menatap Hakam dengan mata yang berkaca-kaca, dilema antara rasa sakit di tubuhnya dan nasib pesantren yang kini benar-benar menjadi senjata bagi Adrian untuk mengurungnya dalam neraka ini.

Fatma memejamkan matanya rapat-rapat. Air matanya menetes melewati pipinya yang lebam, mengalir bersama rasa perih yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.

Ancaman Adrian tentang Abah dan pesantren adalah dinding tebal yang meruntuhkan sisa keberaniannya.

Ia tidak boleh egois. Jika ia pergi, ratusan santri dan keluarganya yang akan menanggung akibatnya.

Dengan napas yang tersengal dan suara yang nyaris habis, Fatma mencengkeram lengan baju Hakam.

"Hakam, aku tidak apa-apa. Pulanglah..." lirihnya, memohon dengan sangat melalui tatapan matanya yang sayu.

"Tapi, Mbak!! Dia bisa membunuhmu kalau Mbak tetap di sini!"

Hakam menolak keras, hatinya tidak tega melihat kakak iparnya diperlakukan lebih rendah dari binatang.

Sebelum Hakam sempat menarik Fatma lebih jauh, Adrian maju dengan langkah besar.

Wajahnya yang merah karena pengaruh alkohol dan amarah tampak begitu mengerikan.

Dengan kasar, Adrian mencengkeram kerah kemeja Hakam dan menarik tangan adiknya itu menjauh dari Fatma.

"Keluar kamu dari sini!" bentak Adrian.

Adrian menyeret Hakam menuruni anak tangga dengan paksa.

Hakam mencoba memberontak, namun cengkeraman Adrian yang kalap membuat tubuhnya terdorong ke bawah.

Begitu sampai di lantai dasar, Adrian mendorong tubuh Hakam dengan sekuat tenaga ke arah pintu luar hingga Hakam terhuyung dan jatuh di lantai teras.

Brak!

Adrian membanting pintu utama rumah itu dengan keras, lalu menguncinya dari dalam. Dari balik jendela, ia menatap Hakam yang masih berusaha berdiri dengan emosi yang meluap-luap.

"Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi!!" teriak Adrian menggelegar, suaranya menembus dinding pintu.

Ia memperingatkan adik kandungnya sendiri agar tidak lagi mencampuri urusan rumah tangganya yang berdarah.

Adrian melangkah kembali ke kamar isolasi di lantai atas dengan tatapan mata yang sudah kehilangan akal sehat.

Pengaruh minuman keras yang dikonsumsinya berbaur dengan kepedihan ego yang hancur setelah membaca kebenaran yang ditolaknya.

Di atas lantai, ia mendapati Fatma sedang bertumpu pada kedua tangannya yang gemetar, mencoba dengan susah payah untuk bangkit berdiri.

"Sepertinya kamu memang ingin menguji batas kesabaranku, Fatma," bisik Adrian.

Suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, membawa hawa yang mencekam.

Tanpa memedulikan rintihan kesakitan istrinya, Adrian kembali mencengkeram lengan Fatma dengan kasar.

Ia menyeret wanita itu keluar dari kamar isolasi dan membawanya menuju kamar tidur utama mereka. Fatma yang sudah kehabisan tenaga hanya bisa pasrah ditarik, meninggalkan jejak air mata di sepanjang koridor rumah.

Bruk!

Adrian melempar tubuh ringkih Fatma ke atas tempat tidur berukuran besar di tengah ruangan.

Benturan itu membuat luka-luka di punggung Fatma berdenyut luar biasa nyeri.

Dalam kondisi mabuk parah dan emosi yang tidak terkendali, Adrian mulai melepaskan pakaiannya sendiri dengan gerakan yang kalap.

Logikanya benar-benar telah mati, tertutup oleh delusi dendam untuk menaklukkan wanita yang ia anggap telah merusak hidupnya.

Menyadari apa yang akan terjadi, mata Fatma membelalak sempurna di balik rasa sakitnya.

Ketakutan yang teramat sangat menyergap hatinya. Ia mencoba merangkak mundur, menjauh ke sudut ranjang.

"K-kamu tidak boleh melakukannya, Mas! Tidak, Mas!!! Jangan!!!" jerit Fatma parau, menggelengkan kepalanya dengan histeris seraya mendekap pakaiannya yang kusut.

Namun, semua penolakan dan tangisan itu tidak berarti apa-apa bagi Adrian.

Dengan sisa kekuatan fisiknya yang jauh lebih besar, Adrian mencengkeram kedua pergelangan tangan Fatma, mengunci pergerakannya, dan melakukan hubungan intim secara paksa tanpa memedulikan jeritan pilu istrinya yang meminta ampun.

Malam itu, di bawah temaramnya lampu kamar, air mata Fatma tidak henti-hentinya mengalir deras membasahi bantal.

Setiap detik yang berlalu terasa bagai siksaan yang tak berujung.

Rasa sakit fisik di tubuhnya tidak sebanding dengan hancurnya jiwa dan martabatnya saat ini.

Fatma merasa terhina sedalam-dalamnya atas pemaksaan yang dilakukan oleh suaminya sendiri di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempat ketenangan.

Di tengah kepasrahan dan penderitaannya yang begitu kelam, Fatma memejamkan mata rapat-rapat, meratapi nasibnya dalam hati.

‘Abah... Umi... maafkan Fatma...’ bisik hatinya pilu, memanggil kedua orang tuanya di pesantren dalam kesunyian malam yang teramat panjang.

1
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!