NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pohon Kehidupan di Lembah Damai

Setelah turun dari puncak Bukit Berbisik, Cepot dan Dawala melanjutkan perjalanan menuju arah yang ditunjukkan oleh Cermin Kenangan. Jalan yang mereka lalui kini menurun secara perlahan, melewati lereng yang tertutup semak berbunga, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan hijau dan terasa sangat terlindung.

Namun, begitu memasuki lembah itu, mereka segera merasakan ada yang tidak beres. Udara yang seharusnya segar dan harum justru terasa agak hambar, dan tanaman-tanaman di sepanjang jalan terlihat tidak tumbuh sekuat biasanya. Semakin mendekati pusat lembah, suasana terasa semakin sunyi, seolah ada beban berat yang menekan seluruh tempat itu.

“Kang, lihatlah ke depan!” seru Dawala sambil menunjuk ke arah tengah lembah. “Itu pasti Pohon Kehidupan yang diceritakan tadi.”

Di hadapan mereka berdiri sebuah pohon raksasa yang tingginya menjulang hingga menembus awan, dengan batang sebesar rumah dan dahan yang membentang luas menaungi hampir separuh wilayah lembah. Namun, meski wujudnya masih kokoh, daun-daunnya yang tadinya hijau berkilau kini tampak pucat dan mulai menguning, serta tidak lagi memancarkan cahaya lembut seperti yang seharusnya. Dari akarnya terlihat aliran energi yang perlahan menyusut, seolah tersedot keluar tanpa henti.

“Benar, ini dia sumber kehidupan bagi seluruh wilayah ini,” gumam Cepot sambil mendekat dengan hati-hati. “Tapi energinya sedang dikuras habis. Jika dibiarkan, tidak lama lagi pohon ini akan mati, dan seluruh lembah berikut segala makhluk hidup di dalamnya akan ikut layu.”

Belum sempat mereka melangkah lebih dekat, tiba-tiba dari balik dahan yang rindang muncul sesosok makhluk berwujud rusa dengan tanduk yang menjulur seperti akar pohon, namun tubuhnya tampak lemah dan bulunya tidak lagi bersinar. Ia adalah penjaga setia Pohon Kehidupan ini.

“Siapa kalian yang berani mendekat? Tempat ini sedang dalam bahaya, dan aku tidak bisa membiarkan siapa pun mendekat tanpa mengetahui niatnya,” katanya dengan suara yang lemah namun tetap tegas.

“Kami datang bukan untuk menyakiti atau mengambil apa pun, melainkan ingin membantu,” jawab Cepot dengan nada lembut dan hormat. “Kami melihat pohon ini semakin lemah, dan seluruh lembah di sekitarnya ikut merasakan dampaknya. Bolehkah kami tahu apa yang sebenarnya terjadi?”

Penjaga pohon itu menghela napas panjang, lalu menceritakan apa yang dialaminya. “Beberapa minggu yang lalu, datanglah seorang lelaki bernama Ki Nala. Ia mengaku ingin mempelajari rahasia umur panjang yang tersimpan di dalam pohon ini. Tanpa sepengetahuan kami, ia menanamkan akar gaib dari tumbuhan pengisap energi di dekat pangkal batang. Sejak itu, akar itu terus menembus masuk, menyedot sari dan kekuatan pohon ini sedikit demi sedikit untuk diperuntukkan bagi dirinya sendiri.”

“Kini, kekuatanku semakin menipis dan aku tidak mampu mencabut akar itu sendirian. Jika terus berlanjut, dalam waktu singkat pohon ini akan mati, dan keseimbangan alam di seluruh wilayah ini akan hancur,” lanjutnya dengan nada sedih.

Mendengar penjelasan itu, Dawala mengertakkan gigi. “Lagi-lagi keserakahan manusia yang merusak apa yang seharusnya dijaga bersama! Apakah Ki Nala masih sering datang ke sini?”

“Ia datang secara berkala untuk mengambil energi yang sudah diserap oleh akar gaib itu,” jawab sang penjaga. “Bahkan saat ini, ia sedang berada di tempat persembunyiannya tidak jauh dari sini, menunggu kekuatannya bertambah banyak.”

Cepot dan Dawala segera menyusuri pinggiran lembah, mengikuti jejak energi asing yang terasa mengganggu. Tidak lama kemudian, mereka menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik tebing tertutup tanaman merambat. Dari dalamnya keluar cahaya keunguan yang redup, disertai hawa yang terasa berat dan tidak alami.

Begitu masuk, mereka melihat Ki Nala sedang duduk bersila di atas tikar dari daun kering, dengan kedua tangannya terulur ke arah seberkas cahaya yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Wajahnya terlihat sedikit lebih segar dan awet muda, namun matanya memancarkan sifat tamak yang semakin kuat.

“Berhentilah, Ki Nala!” seru Cepot dengan suara lantang. “Apa yang kau lakukan ini adalah perbuatan yang sangat merugikan. Energi yang kau hisap itu bukan milikmu, melainkan sumber kehidupan bagi ribuan makhluk hidup di lembah ini.”

Ki Nala terkejut dan segera membuka matanya. Ia berdiri dengan cepat, lalu menatap kedua bersaudara itu dengan pandangan tajam. “Siapa kalian yang berani mengganggu usahaku? Dengan kekuatan ini, aku bisa hidup berumur panjang dan memiliki kebijaksanaan yang tiada tara! Mengapa harus dibagikan kepada semua orang jika bisa dinikmati sendiri?”

“Karena segala sesuatu di alam ini saling terhubung dan saling membutuhkan,” jawab Cepot tenang. “Jika kau mengambil lebih dari yang seharusnya, maka keseimbangan akan rusak. Umur panjang yang didapat dengan mengorbankan kehidupan makhluk lain tidak akan membawa kebahagiaan, melainkan hanya rasa takut dan penyesalan yang abadi.”

Ki Nala tidak mau mendengarkan nasihat itu. Ia segera mengeluarkan sebilah tongkat yang berkilau keunguan, lalu mengarahkan semburan energi gelap ke arah mereka. “Kalau begitu, rasakanlah kekuatan yang telah aku kumpulkan!”

Namun, begitu energi itu melesat mendekat, Cepot segera mengangkat Golek Pancasona. Cahaya putih keemasan memancar terang, langsung menahan dan menetralkan serangan itu, bahkan mendorongnya kembali ke arah Ki Nala. Ia terhuyung mundur, merasakan energi yang ia kumpulkan justru bergetar tidak stabil dan menyakitkan tubuhnya sendiri.

“Kekuatan yang didapatkan secara paksa tidak pernah menjadi milik sejati,” kata Cepot sambil melangkah mendekat. “Sekarang, kembalikanlah apa yang telah kau ambil dan cabutlah akar gaib itu, sebelum semuanya terlambat.”

Melihat kekuatannya tidak berdaya, Ki Nala menjadi panik. Ia mencoba melarikan diri, namun tubuhnya terasa lemas karena energi yang ia serap mulai berbalik melawannya. Akhirnya, ia menyerah dan mengikuti permintaan mereka.

Kembali ke tempat Pohon Kehidupan, Ki Nala dengan tangan gemetar mencabut akar gaib yang menancap kuat di pangkal batang. Begitu akar itu terlepas, cahaya keunguan yang keluar darinya segera menghilang, dan digantikan oleh aliran energi yang mengalir kembali masuk ke dalam pohon.

Cepot lalu mengarahkan cahaya dari Golek Pancasona ke seluruh bagian pohon itu. “Wahai sumber kehidupan, terimalah kembali kekuatan yang menjadi hakmu sendiri! Pulihkanlah dirimu dan kembalikanlah keseimbangan yang sempat terganggu!”

Seketika itu juga, daun-daun yang menguning perlahan berubah kembali menjadi hijau segar, dan cahaya lembut yang sempat hilang mulai memancar lagi dari seluruh dahan dan batang. Udara di lembah itu kembali terasa segar dan harum, suara burung dan hewan hutan pun mulai terdengar kembali, menandakan bahwa kehidupan telah pulih sepenuhnya.

Penjaga pohon itu berdiri tegak dengan kekuatan yang telah kembali, bulunya bersinar indah seperti sedia kala. “Terima kasih banyak, kalian telah menyelamatkan nyawa pohon ini dan seluruh lembah. Sebagai tanda rasa terima kasih, ambillah satu butir daun yang baru tumbuh. Ia akan melindungi kalian dari hawa buruk dan membantu memulihkan tenaga kapan pun kalian membutuhkannya.”

Cepot menerima daun itu dengan rasa hormat dan menyimpannya dengan hati-hati. Sedangkan Ki Nala, yang kini sadar akan kesalahannya, memohon maaf dan berjanji akan mengabdikan sisa hidupnya untuk merawat lembah itu sebagai penebus kesalahan yang telah diperbuatnya.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Dawala menatap pohon raksasa itu dengan pandangan kagum. “Sekarang aku mengerti, Kang. Semua yang ada di dunia ini memiliki tugasnya masing-masing. Tidak ada yang boleh mengambil kelebihan untuk diri sendiri, karena semuanya saling bergantung.”

“Benar sekali, Da,” jawab Cepot sambil melangkah maju. “Keseimbangan itu ibarat jembatan: jika satu sisi terbebani terlalu berat, maka jembatan itu akan runtuh. Kita harus selalu menjaga agar tidak melampaui batas yang telah ditetapkan alam.”

Dengan hati yang tenang dan membawa pelajaran berharga, mereka pun melangkah keluar dari Lembah Damai, siap menghadapi apa pun yang menanti di perjalanan selanjutnya.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!