NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

‎Wajah Raga seketika berubah tegang. Senyum percaya dirinya luntur seketika, digantikan raut tidak nyaman yang berusaha ia tutupi. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram pinggang Amelia lebih erat.

‎‎"Maksudmu apa bicara begitu? Kami tidak perlu mengecek apa-apa! Jelas-jelas kamulah yang bermasalah, bukan aku!" bantahnya cepat, suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.

‎‎Amelia pun terlihat tersinggung, menatap Risa dengan pandangan marah. "Kamu hanya iri dan berusaha menakut-nakuti kami saja! Aku sehat sempurna, tidak ada masalah apapun. Kenapa harus takut?"

‎‎Risa tetap tersenyum tenang, tidak tergoyahkan sedikit pun oleh kemarahan mereka. Ia melangkah sedikit mendekat, suaranya pelan namun terdengar sangat jelas di telinga keduanya.

‎"Memang benar, dulu ada hasil tertulis yang mengatakan begitu. Tapi hasil pemeriksaan bisa saja salah atau ditafsirkan dengan cara yang berbeda. Lebih baik memastikan lagi sekarang, daripada nanti menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tapi kehamilan tidak kunjung datang, lalu saling menyalahkan satu sama lain."

‎‎Ia melirik wajah Raga yang terlihat mulai pucat, lalu melanjutkan, "Kalau kalian yakin benar-benar sehat, apa ruginya diperiksa lagi? Makin pasti, bukankah hati kalian makin tenang. Atau… kalian memang takut jika hasilnya tidak sesuai seperti yang kalian harapkan?"

‎‎Raga menelan ludah, rahangnya mengeras. "Cukup! Hasil pemeriksaan itu resmi, dikeluarkan dokter terpercaya. Tidak mungkin salah! Aku tidak akan membuang waktu dan biaya untuk memeriksa lagi hanya karena omong kosongmu itu!"

‎‎Amelia ikut menegakkan tubuhnya, wajahnya memerah karena kesal. "Benar kata Mas Raga! Kamu hanya ingin membuat kami gelisah dan saling meragukan. Begitu kami resmi menikah, aku pasti akan segera hamil, dan nanti kita lihat siapa yang akan tertawa!"

‎‎Risa hanya mengangkat kedua bahunya seolah menyerah, senyumnya tetap tenang tanpa ada rasa dendam sedikitpun.

‎‎"Baiklah, kalau itu keputusan kalian. Aku hanya menyarankan, bukan memaksa. Cuma satu hal yang ingin aku ingatkan sekali lagi, kebenaran tidak akan berubah hanya karena kalian menolaknya. Suatu hari nanti, jika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kalian yakini, jangan lupa kata-kataku hari ini."

‎‎Ia melangkah mundur perlahan, memberi jalan agar mereka bisa lewat. "Sebaiknya kalian pulang saja dan tidak perlu repot-repot menjenguk ibuku. Karena kalau kondisinya semakin memburuk setelah melihat wajah kalian berdua, kalian berdua yang akan aku tuntut."

‎‎Mendengar ucapan itu, wajah Raga semakin memerah menahan amarah. Ia merasa dipermalukan di tempat umum. "Baiklah! Kami pergi! Jangan harap kami akan datang lagi!"

‎‎Amelia menarik lengan Raga dengan cepat, juga merasa tidak nyaman dan malu. "Sudah, Mas. Pergi saja dari sini. Tidak perlu buang waktu lebih lama dengan dia," desaknya sambil menyeret Raga menjauh.

‎‎Mereka berjalan tergesa-gesa meninggalkan koridor, namun suasana di antara keduanya sudah tidak lagi setenang saat datang. Raga berjalan dengan langkah kaku, pikirannya terus dipenuhi kata-kata Risa yang terasa menusuk hingga ke dalam hatinya.

‎‎Begitu keduanya menghilang dari pandangan, senyum Risa perlahan memudar. Ia menghela napas panjang, seolah melepaskan sisa ketegangan yang menumpuk di dadanya. Ia tahu, apa yang baru saja ia katakan bukanlah untuk menyakiti, melainkan untuk membangunkan kesadaran, meski saat ini mereka masih menolaknya.

‎Risa berbalik dan melanjutkan perjalanan menuju kamar rawat ibunya. Begitu membuka pintu, ia disambut senyum hangat Mama Hana yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur.

‎‎"Siapa tadi yang bicara di luar? Suaranya terdengar agak keras," tanya Mama Hana lembut.

‎‎Risa mendekat, meletakkan keranjang buah di meja samping tempat tidur, lalu menjawab tenang, "Tidak ada apa-apa, Ma. Hanya orang yang lewat. Sudah, kita bersiap saja untuk pulang. Sebentar lagi Dika akan datang untuk menjemput Mama."

‎‎Ia memilih tidak menceritakan secara mendetail demi menjaga ketenangan hati ibunya. Untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan sesuai jalannya, dan biarkan waktu yang menjadi saksi paling jujur.

-

-

-

‎Perjalanan pulang terasa sunyi dan kaku. Di dalam mobil hanya terdengar suara mesin yang berjalan halus. Amelia sesekali melirik ke arah Raga yang menyetir dengan wajah tegang, rahangnya terus mengeras seolah sedang memendam sesuatu yang berat.

‎‎"Mas, kenapa diam saja? Jangan dipikirkan omongan dia tadi. Dia cuma ingin membuat kita gelisah saja," ujar Amelia mencoba memecah keheningan, suaranya terdengar agak ragu.

‎‎Raga hanya mengangguk samar, tapi matanya tetap fokus ke jalan tanpa benar-benar melihatnya. Di kepalanya, kata-kata Risa terus berputar berulang-ulang.

"Kalau kalian yakin benar-benar sehat, apa ruginya diperiksa lagi? Makin pasti, bukankah hati kalian makin tenang. Atau… kalian memang takut jika hasilnya tidak sesuai seperti yang kalian harapkan?"

‎‎Ia berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri.

‎‎"Tidak mungkin, itu hasil resmi. Dokter Arif yang menangani, pasti benar. Yang bermasalah adalah dia, bukan aku," batinnya berulang kali. Namun rasa takut yang dulu pernah ia rasakan tiga tahun silam perlahan mulai merayap kembali, membuat dadanya terasa sesak.

‎‎Sesampainya di kantor, Raga langsung melangkah masuk ke ruang kerja dan menutup pintu rapat-rapat. Ia duduk di kursi, menyandarkan kepalanya ke sandaran, lalu menutup matanya. Bayangan hari itu terlintas jelas, saat ia dan Risa melakukan pemeriksaan. Namun saat dokter akan membacakan hasilnya, tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari kantor hingga dia hanya mendengar hasilnya dari Risa setelah tiba dirumah.

‎‎Amelia mengikuti dari belakang, berdiri di ambang pintu dengan rasa khawatir yang makin tumbuh.

‎‎"Mas… kamu kenapa sih? Kamu tidak terpengaruh dengan kata-kata Mba Risa tadi kan? Dia hanya ingin menghancurkan hubungan kita, Mas, kamu jangan sampai terpengaruh begini."

‎‎Raga membuka matanya perlahan, tatapannya terasa kosong seolah sedang menggali ingatan yang sudah lama ia kubur. Ia menatap Amelia yang berdiri di ambang pintu, lalu menghela napas panjang yang terasa berat di dadanya.

‎‎"Aku tahu… aku tahu dia hanya ingin mengganggu," jawabnya pelan, tapi suaranya tidak lagi setegas biasanya. "Hanya saja… tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sudah lama tidak kupikirkan."

‎‎Amelia melangkah masuk mendekat, berdiri disamping Raga dan merangkul bahunya dengan mesra.

‎‎"Sudahlah, Mas, ini hanya karena Mba Risa iri saja melihat kita begitu bahagia dan akan segera menikah. Jangan berpikir terlalu berat, lebih baik sekarang kita pilih gaun untuk pernikahan kita," lanjut Amelia, berusaha mengalihkan perhatian agar suasana menjadi lebih ringan.

‎‎Ia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto dan situs referensi, lalu menunjukkannya di hadapan Raga. "Lihat, ada banyak pilihan model yang bagus. Aku ingin yang sederhana tapi tetap terlihat mewah, sesuai dengan seleramu juga nanti. Kita juga harus menentukan tempat resepsi dan mengundang kerabat dekat, kan?"

‎‎Raga menatap layar ponsel itu sekilas, lalu perlahan mengangguk. Ia berusaha menyingkirkan segala keraguan yang memenuhi pikirannya, meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Mungkin memang benar, kata-kata Risa hanyalah cara untuk mengganggu dan membuatnya tidak tenang.

‎‎"Baiklah… kamu benar," jawabnya dengan nada yang berusaha terdengar lebih tegas. "Jangan dipikirkan lagi ucapan dia. Kita fokus saja pada persiapan pernikahan kita. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik, mulai dari tempat, undangan, hingga semua kebutuhan yang diperlukan. Kamu hanya perlu memilih apa yang kamu sukai, nanti aku yang mengurus sisanya."

‎‎Mendengar jawaban itu, wajah Amelia kembali berseri-seri. Ia tersenyum lebar dan mencium pipi Raga sekilas. "Baguslah kalau begitu. Aku percaya padamu, Mas. Semuanya pasti akan berjalan lancar, dan nanti kita akan membangun keluarga yang bahagia seperti yang kita impikan."

‎‎Namun meski ia sudah berkata demikian, di dalam hati Raga masih menyimpan rasa gelisah yang tak sepenuhnya hilang. Ia tersenyum membalas, tapi matanya sesekali kembali kosong seolah masih terjebak dalam pertanyaan yang belum terjawab.

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
Anonim
JONTOL
vj'z tri
bagaimana caraaaa nya untukk kau bisa mengerti bahwa aku iriiii 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
jika Oma sama ibu tahu siapa yang lagi di Pepet icik bos pasti girang 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
vj'z tri
eeeeeeeaaaaaaa ee ee eaaaaaa eeeeeaaaaa 🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
gak say biar icik bos yang langsung turun tangan 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!