Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMATAHKAN HUKUM ELEMEN
Aroma pasir besi dan energi ozon yang pekat langsung menyambut Arkan begitu dia melangkah masuk ke dalam Arena Simulasi 3. Ruangan itu sangat luas, menyerupai koloseum modern dengan lantai yang dilapisi oleh ubin beton khusus yang diperkuat oleh energi spiritual tipe Tanah agar tidak mudah hancur. Di sekeliling arena, dinding-dinding kaca antipeluru berdiri kokoh, memisahkan area bertarung dengan tribun tempat para murid Kelas 1-A duduk bersila.
Volt duduk dengan tenang di atas pundak kiri Arkan. Telinga kecilnya sesekali bergerak-gerak, dan matanya yang sebiru langit malam menatap waspada ke arah sekeliling ruangan. Luka di punggungnya sudah jauh lebih membaik berkat ramuan salep murah yang dibeli Arkan kemarin malam, meskipun bulu birunya masih menyisakan sedikit bekas kebotakan kecil.
"Kamu gugup, Arkan?" tanya Sky yang berjalan di sebelahnya. Gadis itu sedang memegang sebuah kipas lipat kecil bermotif awan, yang sebenarnya merupakan media spiritual untuk memicu energi Angin miliknya nanti.
Arkan melirik Sky lalu tersenyum tipis, menepuk kepala Volt dengan ujung jarinya. "Sedikit. Tapi melihat Volt sekondisi ini, rasanya rasa gugupku kalah sama rasa penasaran. Aku ingin tahu seberapa jauh insting liar yang dia punya bisa bertahan di arena formal seperti ini."
"Kalian semua, berkumpul di tengah!" suara menggelegar Pak Guntur memotong obrolan mereka. Pria paruh baya itu berdiri di tengah arena dengan tangan bersedekap di dada, jubah jabatannya berkibar pelan ditiup angin buatan dari sistem ventilasi.
Setelah seluruh murid berbaris rapi di hadapannya, Pak Guntur menjentikkan jarinya ke udara. Seketika itu juga, sebuah bagan holografis raksasa berbentuk heptagon—tujuh sudut—muncul mengambang di atas kepala mereka. Tujuh ikon elemen menyala dengan warna yang kontras.
"Hari ini adalah kelas praktik pertama kalian," buka Pak Guntur, matanya menyapu tajam barisan murid. "Sebelum kalian melepaskan Astra kalian di arena ini, kalian harus memahami Hukum Interaksi Elemen. Di bumi ini, ketujuh elemen tidak berdiri sendiri. Mereka saling mengunci satu sama lain dalam rantai keunggulan mutlak."
Pak Guntur menunjuk ikon Air yang terhubung dengan garis panah merah menuju ikon Api. "Air memadamkan Api. Api membakar Angin. Angin mengikis Tanah. Tanah meredam Petir. Petir menembus Air. Sementara Cahaya dan Kegelapan berada dalam lingkaran pertentangan abadi yang saling memurnikan sekaligus menelan satu sama lain. Ini adalah hukum dasar. Jika Astra-mu memiliki keunggulan elemen atas lawanmu, kamu secara otomatis mengantongi tiga puluh persen peluang kemenangan lebih tinggi."
Seorang murid bertubuh jangkung dengan potongan rambut rapi, bernama Kevin, mengangkat tangannya dengan ekspresi angkuh. "Pak Guntur, saya mau bertanya. Jika hukum elemen ini mutlak, apakah artinya seorang Kontraktor dengan elemen yang kalah tidak akan pernah bisa menang?"
Pak Guntur tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar berat. "Pertanyaan bagus, Kevin. Jawabannya adalah: Tentu saja tidak. Hukum elemen ini hanya berlaku jika level kedua Astra yang bertarung berada di rentang yang sama atau berdekatan. Jika perbedaan level antara dua Astra sudah terlalu signifikan, hukum elemen ini menjadi sampah yang tidak berguna! Seekor Astra Api Level 40 bisa dengan mudah menguapkan Astra Air Level 10 dalam sekali serang tanpa memberi kesempatan untuk memadamkannya. Level adalah segalanya di fase awal hingga menengah."
Pak Guntur menjeda kalimatnya, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat serius, bahkan ada sedikit kilat ngeri di matanya yang dalam.
"Namun, aturan level ini berubah total ketika kalian memasuki Fase Kontraktor Nirwana, yaitu di rentang Level 91 hingga 99. Dengarkan ini baik-baik agar kalian tidak bertindak bodoh jika suatu hari nanti bertemu dengan para tetua di tingkat itu. Di Fase Nirwana, setiap perbedaan satu level saja memiliki jarak kekuatan yang setara dengan sepuluh level di fase biasa! Perbedaan antara Kontraktor Nirwana Level 91 dengan Level 92 adalah jurang pemisah yang sangat mengerikan, seperti membandingkan bukit kecil dengan gunung berapi. Itulah alasan mengapa di Indonesia tidak sampai empat orang yang bisa mencapai fase ini, dan level tertinggi di negara kita hanya mentok di angka sembilan puluh lima. Mereka sudah seperti dewa berjalan."
Seisi ruangan mendadak senyap. Angka-angka itu terasa begitu jauh dan mistis bagi para remaja berumur lima belas tahun yang bahkan belum menyentuh Level 11 tersebut. Arkan mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. Satu level setara sepuluh level biasa... pikirnya, merasa darahnya berdesir kencang karena tertantang.
"Cukup untuk teorinya," Pak Guntur menepuk tangannya keras-keras, membuyarkan lamunan semua orang. "Sekarang, kita lakukan simulasi duel satu lawan satu untuk melihat kemampuan dasar Astra kalian. Kevin! Maju ke depan!"
Kevin melangkah maju dengan penuh percaya diri. Dari penampilannya yang rapi, semua orang tahu dia berasal dari keluarga kelas menengah ke atas yang mampu membelikan fasilitas terbaik. Kevin mengeluarkan sebuah perangkat cincin dari sakunya, dan sesosok makhluk bertubuh kekar seperti trenggiling raksasa berlapis lempengan batu muncul di depannya.
"Ini Rock-Scale, Astra tipe Tanah murni milikku. Saat ini dia sudah berada di Level 4 berkat suplemen Inti Elemen yang dikonsumsinya sejak menetas kemarin," ucap Kevin dengan nada bangga.
Pak Guntur mengangguk pelan, lalu matanya berputar dan berhenti tepat di wajah Arkan. "Arkan! Bawa serigala kecilmu itu dan maju ke depan sebagai lawan Kevin!"
Sky langsung menoleh ke arah Arkan dengan cemas. "Arkan... Tanah meredam Petir. Secara elemen, kamu kalah telak. Ditambah lagi, Volt sepertinya baru Level 0 atau Level 1, kan? Levelnya kalah, elemennya juga kalah."
Arkan menepuk bahu Sky pelan, mencoba menenangkannya. "Tenang saja, Sky. Seperti kata Pak Guntur tadi... hukum elemen baru bekerja kalau lawannya tahu cara menggunakannya dengan benar."
Arkan berjalan mantap ke tengah arena, berhadapan dengan Kevin yang langsung tersenyum meremehkan saat melihat Volt melompat turun dari pundak Arkan ke atas lantai beton. Volt memasang posisi rendah, bulu birunya mulai memercikkan aliran listrik statis yang mengeluarkan suara kletek-kletek kecil.
"Pertarungan dimulai! Gunakan perintah verbal kalian dengan bijak!" seru Pak Guntur sambil mundur ke tepi garis arena.
"Kevin, serang duluan! Tunjukkan pada anak jalanan ini bagaimana hukum elemen bekerja!" teriak salah satu teman Kevin dari tribun.
"Hancurkan dia, Rock-Scale! Gunakan tabrakan pelindung!" perintah Kevin dengan lantang.
Astra trenggiling batu itu menggeram basah, lalu menggulung tubuhnya menjadi sebuah bola batu raksasa yang berputar cepat di atas lantai beton. Makhluk itu meluncur deras ke arah Volt, menciptakan suara deru yang cukup keras seiring serpihan debu batu yang berterbangan.
"Volt, jangan menghindar ke samping! Lompat ke atas dinding!" seru Arkan dengan tenang.
Volt, yang memiliki insting bertahan hidup yang sangat tinggi hasil dari kerasnya kehidupan di Sektor Liar, tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Alih-alih panik seperti Astra penangkaran biasa, dia menunggu hingga bola batu itu berada hanya setengah meter di depannya sebelum akhirnya melompat tinggi ke udara, memanfaatkan momentum kecepatan lawan. Kaki-kaki kecilnya menumpu pada tiang beton di sisi arena, lalu memantul kembali ke udara dengan lincah.
BOOM!
Rock-Scale menghantam lantai kosong dengan keras, menciptakan retakan kecil di beton, namun tubuhnya yang berat membuatnya tidak bisa berbalik arah dengan cepat. Tubuhnya yang bergulung membutuhkan waktu beberapa detik untuk terbuka kembali.
"Sekarang, Volt! Turun tepat di atas bagian perutnya yang tidak terlapis batu!" perintah Arkan, matanya berkilat tajam melihat celah tersebut.
"Apa?! Bagaimana kamu tahu?!" Kevin terkejut, wajahnya mendadak pucat. Dia lupa bahwa Astra liar seperti Volt terbiasa mencari titik lemah musuh demi bisa makan setiap hari di luar sana.
Volt menukik tajam dari udara. Di saat yang sama, seluruh energi spiritual di dalam tubuh Arkan berdenyut hebat, mengalirkan daya tambahan langsung ke dalam saku jiwa kontraknya. Sinyal spiritual di pergelangan tangan Arkan bersinar keperakan. Volt merasakan lonjakan energi yang luar biasa itu. Seluruh percikan listrik statis di bulu birunya mendadak berkumpul di ujung cakar depannya, membentuk sebuah bola petir kecil yang berderit nyaring.
CRASH!
Cakar petir Volt menghantam telak bagian bawah perut Rock-Scale yang lunak. Meskipun elemen Tanah kebal terhadap petir jika mengenai pelindung batunya, serangan yang langsung menghantam daging bagian dalam ini tetap memberikan efek kejut listrik yang luar biasa. Rock-Scale menjerit kesakitan, tubuh kekarnya gemetar hebat akibat sengatan listrik murni yang mengacaukan sistem sarafnya, sebelum akhirnya ambruk dan pingsan di atas lantai arena.
"Astra Kevin tidak mampu melanjutkan pertarungan! Pemenangnya, Arkan!" seru Pak Guntur, matanya memancarkan rasa tidak percaya sekaligus kekaguman yang mendalam pada ketenangan remaja berumur lima belas tahun di depannya itu.
Seluruh tribun langsung senyap seketika. Kevin terduduk lemas sambil buru-buru menarik kembali Astranya yang pingsan ke dalam perangkat cincinnya dengan wajah merah padam karena malu. Sementara di tribun, Sky langsung berdiri dan bertepuk tangan dengan heboh sambil berseru gembira memanggil nama Arkan.
Tepat setelah kata kemenangan diumumkan, lingkaran sihir di pergelangan tangan Arkan mendadak menyala dengan sangat terang. Aliran energi murni yang hangat meluap keluar, membungkus tubuh Volt. Tingkat pertumbuhan Volt melonjak drastis setelah memenangkan pertarungan melawan musuh yang levelnya lebih tinggi. Di atas kepala Volt, sebuah angka holografis digital berkedip dan berubah.
[ LEVEL 1 -> LEVEL 2 ]
Bersamaan dengan kenaikan level tersebut, sebuah fenomena magis terjadi di depan mata Arkan. Dua buah teks holografis berwarna biru yang tiba-tiba muncul mengambang di udara, hanya bisa dilihat oleh Arkan sebagai pemilik kontrak. Ini adalah Sistem Pilihan Jurus.
Pilihan 1: Volt Drive (Aktif) - Mengumpulkan seluruh elemen petir di kaki belakang untuk melakukan pergerakan instan secepat kilat dalam jarak pendek.
Pilihan 2: Thunder Bark (Aktif) - Mengeluarkan lolongan berfrekuensi tinggi yang dilapisi getaran listrik untuk memberikan efek pusing dan pembatalan skill pada lawan di sekitar.
Arkan memperhatikan kedua pilihan itu dengan saksama. Di dunia ini, setiap Astra memiliki kebebasan untuk memberikan opsi jurus baru yang paling sesuai dengan kebutuhan kontraktornya, dengan batas maksimal tiga jurus aktif.
Sambil berjalan kembali ke arah tribun di mana Sky sudah menunggunya dengan wajah berseri-seri, Arkan tersenyum tipis dalam hati, menatap Volt yang kini kembali melompat ke pundaknya sambil menjilati cakarnya yang masih menyisakan sedikit aroma petir. Langkah pertamanya untuk membuktikan bahwa anomali Sektor Liar mampu menghancurkan hukum mutlak dunia urban ini, baru saja terbukti dengan sangat manis di hari pertama mereka.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!